Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 41 - Ujian Pendekar Menengah


"Kau sudah siap?"


"Aku siap seratus persen."


Dua pasang kaki melangkah maju, memasuki sebuah lapangan luas yang didatangi oleh ribuan peserta dari berbagai penjuru dan akan menjadi ajang paling dinanti, Ujian Pendekar Menengah, kali ini Kekaisaran Diqiu menjadi tuan rumahnya. Acara sambutan berlangsung begitu meriah diiringi lagu-lagu tradisional, taburan bunga serta bunyi alat musik yang mengalun pelan. Tempat itu sangat ramai, nyaris tidak terdengar apa pun lagi karena semua suara tenggelam dalam hiruk pikuk.


Seumur hidup Xue Zhan tidak pernah melihat keramaian seperti itu. Di mana ribuan manusia berkumpul dengan bermacam-macam latar belakang, kekuatan dan tempat asal. Mereka tampak sibuk bercengkrama dengan sesamanya, cenderung tidak peduli dengan yang terjadi di sekitar.


Berbeda dengan Xue Zhan yang tidak pernah melepaskan pandangannya, kepalanya menoleh kanan kiri mengikuti keramaian.


"Zhan'er, kau mendengarku?"


Xue Zhan tertegun, dia sama sekali tidak menyimak apa yang diomongkan gurunya.


"Hah ... Aku merasa kau semakin sibuk dengan pikiranmu sendiri. Sampai mengabaikan gurumu yang kesepian ini, sangat kejam."


"Ma-maafkan aku Guru, aku hanya terlalu bersemangat melihat sekitar. Tidak pernah melihat sesuatu yang lebih meriah dari ini sebelumnya."


Kang Jian menarik senyum pahit di wajahnya. Bagaimana tidak, muridnya itu jarang menghabiskan waktu bersamanya akhir-akhir ini, walaupun Kang Jian memiliki jadwal dan rutinitas padat dia tetap berusaha menyempatkan diri untuk melatih Xue Zhan. Namun muridnya itu menolak, dia berlatih sendirian tanpa Kang Jian tahu sudah sejauh mana kemajuannya.


Mata Xue Zhan menangkap satu sosok yang tampak familiar, "Eh, itu si belut!"


"Belut? Makanan?"


"Si setan Jiazhen itu!" pekik Xue Zhan, Kang Jian hampir menepuk jidat. Dia lupa iblis itu berteman dengan setan, kalau keduanya sudah bertemu bisa diguncangnya satu Kekaisaran Diqiu ini.


"Lama tidak bertemu kau semakin pendek, heh? Hahaha aku sudah mencium awan kau masih merangkak di bumi."


Bukan Jiazhen Yan kalau datang-datang tidak meninggi dulu, dia melipat kedua tangannya di depan dada. Lalu seorang laki-laki dengan lambang klan Jiazhen datang ke arah mereka dengan senyum formal yang senantiasa terpampang di wajahnya.


"Bagaimana kabarmu? Kudengar kau melakukan latihan tertutup selama enam bulan." Sapa lelaki itu, Jiazhen Wu, ayah Jiazhen Yan yang datang langsung ke sana untuk melihat putra kesayangannya-dan tentu membuat anaknya berulang kali mengamuk karena diperlakukan seperti anak kecil.


Xue Zhan dalam hati menertawakan Jiazhen Yan. Tatap mata pemuda itu mengincarnya, memberi isyarat akan memukulnya kalau tertawa.


"Bukan latihan khusus, aku hanya melakukan latihan pada umumnya."


Kang Jian menimbrungi, "Dia melakukan yang terbaik untuk mengikuti tes ini."


Jiazhen Wu beralih ke Kang Jian, "Aku mendengar kau juga sangat sibuk, apakah Xue Zhan berlatih dengan mandiri?"


Kang Jian tertawa sambil menjawab seadanya, sementara itu Jiazhen Yan mulai jengah dengan basa-basi mereka dan langsung protes.


"Ayah, sudahlah. Pergi kerjakan kerjaan sendiri sana," usir anaknya tanpa tahu sopan santun, tapi Jiazhen Wu menanggapinya seolah dia telah terbiasa mendapatkan perlakuan seperti itu.


"Dikutuk menjadi jentik-jentik saja kau sialan," balas Xue Zhan yang hampir saja menggaruk wajah anak itu andai dia tidak ingat ayahnya ada di sana.


"Ah, aku juga harus menjumpai beberapa orang. Kurasa aku tidak bisa berlama-lama."


Kang Jian melihat gerak-gerik dua bocah itu, sebelum Jiazhen Wu melihat kebobrokan mereka dia segera berucap. "Tidak apa-apa, sampai jumpa lagi, Senior."


Lelaki itu mengangguk pelan dan berlalu.


"Bagaimana kau bisa di sini?" Pertanyaan dari Xue Zhan membuat lawan bicaranya menukikkan alis, "Kenapa aku di sini? Kau tidak senang?"


"Itu alasan pertama. Alasan kedua karena kudengar kau dalam sebuah misi," jelasnya.


"Dia sudah kembali seminggu sebelumnya," Kang Jian menjelaskan, membuat muridnya heran lagi, "Hah? Kenapa tidak bilang?"


"Oh, sebegitu rindunya dengan temanmu yang hebat ini? Biar kutebak, kau pasti sangat ingin melihat peningkatan kekuatan ku bukan?"


"Air parit di depan rumah Guru sedang meluap, aku kira akan lebih bagus jika mukamu ku cemplung ke sana. Ah, sayangnya, lain kali-"


"Hai teman-teman!!"


Xue Zhan bergidik. Itu Lun Ning, dia masih ingat betapa kuatnya tangan gadis itu menjabatnya sampai tulangnya hampir retak. Ketika melihat ke samping Jiazhen Yan telah menghilang.


"Apa kabar, rivalku! Kau bertambah sedikit kuat, hem? Sayangnya aku masih lebih kuat, hahahah~" Tawa centilnya berdengung di telinga Xue Zhan, dia pasrah saat gadis itu merangkulnya. Kali ini tulang lehernya menjadi sasaran. Tanpa diduga Mu Rong datang, tatapnya tetap sama jutek dan menyebalkan. Tapi remaja itu tetap datang ke arah Xue Zhan, mengatakan sesuatu.


"Senior payah, masih ingat terakhir kali kau pingsan saat musuh menyerang?" ejeknya.


Xue Zhan membalas dongkol. "Kalau tidak pingsan sudah aku sikat semuanya."


"Kau menyikat mereka saat kau tidak sadarkan diri, bodoh," gerutu Mu Rong. Lun Ning terhentak, "Apa?! Rivalku mengalahkan musuh saat tidak sadarkan diri?!"


Di sisi lain puluhan tatap mata menatap ke arah ketiga remaja itu, Jiazhen Yan kembali bergabung dan saling bertukar suara dengan mereka. Kang Jian melihat muridnya itu semakin tumbuh. Menjalin satu per satu pertemanan dengan orang yang ditemuinya. Dia menarik senyum. Sayangnya Kang Jian tidak bisa menemani banyak karena harus menjadi pengawas inti. Karena itu dia berpamitan. Tampaknya Xue Zhan mampu menyesuaikan diri dengan keempat orang itu


Di tengah kegaduhan yang diciptakan mereka, Xue Zhan sempat melihat ke berbagai arah. Yin Jiao, cucu Kaisar Ziran berada di sana. Dia sendirian dan hanya ditemani pelayannya. Wajahnya yang tanpa ekspresi dan sedikit kaku membuat orang lain segan menyapa, apalagi dia adalah cucu dari orang terhormat di Kekaisaran Diqiu.


Lalu di tempat lain, seorang yang kekuatannya terlihat paling kuat di antara lainnya berdiri tegap tanpa memedulikan keramaian di sekitar, dua temannya juga terlihat lebih pendiam dan tak banyak omong seperti peserta-peserta lainnya. Jubah biru muda dan rambut hitam miliknya berterbangan indah saat angin pagi membelai lembut, dia anggun bagaimana berlian di tengah keramaian. Namun begitu dingin bagaikan es. Gadis itu, Yun Mei.


Ada begitu banyak lawan tangguh di tempat itu dan membuat Xue Zhan mulai khawatir. Mereka memiliki kemampuan serta keunikan masing-masing. Saat melihat wajah-wajah yang akan menjadi musuhnya ke depan, Xue Zhan berulang kali berucap dalam hati.


"Kali ini aku tak akan membuat Guru kecewa."