Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 212 - Hilangnya Batu Es


Malam melewati waktu larutnya, dalam beberapa jam lagi matahari akan naik. Kediaman Qi Zhang tenang seperti biasa, cahaya temaram dari luar mulai masuk melalui kisi-kisi jendela.


Mereka berdua duduk di meja kayu yang terletak di tengah ruangan yang dipenuhi oleh tumpukan kertas gulungan dengan berkas-berkas.


Xue Zhan melihat ke arah Qi Zhang dengan penuh terima kasih. "Terima kasih atas segala bantuannya, Qi Zhang," ucapnya dengan nada rendah. "Kau memberikan informasi lebih dari yang kuminta, aku sangat menghargai itu."


Qi Zhang tersenyum hangat. "Aku juga menghargai usahamu dan berharap kau tidak menemui kebuntuan sepertiku, Xue Zhan. Semoga kau berhasil mencapai tujuanmu dan menemukan apa yang kau cari."


Akhirnya, Xue Zhan bangkit dari tempat duduknya. Dia mengulurkan tangan ke arah Qi Zhang. "Sampai jumpa lagi."


Qi Zhang menyambut uluran tangan itu dengan hangat. "Sampai jumpa, Xue Zhan. Jangan ragu untuk menghubungiku jika kau membutuhkan bantuan di masa depan. Aku akan selalu siap membantu."


Dia menjeda kalimatnya tiga detik sebelum menyampaikan pesan terakhirnya,


"Dan jika kau mencari Taring Merah, pergilah mengikuti orang-orang dengan tudung hitam."


Xue Zhan mengangguk dan meninggalkan tempat tinggal laki-laki itu, menyusuri jalan lengang di tepi pelabuhan, melihat senyapnya suasana dini hari dengan pikiran kacau.


Antara bahagia akan kabar tentang Kang Jian dan kecewa atas apa yang dilakukan Jiazhen Yan. Dia memilih duduk di tepi pelabuhan sembari merenung. Memikirkan percakapannya dengan Qi Zhang, dia tidak bisa berlama-lama di rumah laki-laki itu karena takutnya menghadirkan kecurigaan. Tidak ada jaminan dirinya tidak dimata-matai.


Xue Zhan menghela napas berat.


Qi Zhang hanya memberikan peringatan untuk menghindari orang dengan tudung hitam, sama seperti pesan yang disampaikan Nona Wen. Hanya saja dia tidak tahu ke mana orang-orang dengan tudung merah itu berada.


Pagi hari saat terik matahari mulai membakar, Xue Zhan memutuskan melanjutkan perjalanannya sendirian kembali ke Kekaisaran Diqiu.


Namun langkahnya tertahan sesaat ketika melihat kerumunan masyarakat bercerita heboh di pinggir jalan, puluhan orang berkumpul mendengar laki-laki yang berdiri di depan.


Di pelabuhan kapal yang ramai, suasana heboh dan kegelisahan melanda masyarakat.


"Batu Es telah dicuri! Batu Elemen Penguasa Bumi telah berada di tangan Taring Merah! Ini adalah bencana, Kekaisaran Bing dibantai habis-habisan dan keempat Kekaisaran akan hancur!"


Para nelayan dan pelaut bergegas dari sana ke mari, saling berbicara dengan penuh kekhawatiran setelah mendapat informasi dari kota. Suara riuh rendah mengisi udara, menciptakan suasana yang tegang. Beberapa orang menceritakan kisah kekuatan legendaris yang dimiliki oleh Batu Es, sementara yang lain berdiskusi tentang kemungkinan konsekuensi kehilangannya yang kini jatuh ke tangan yang salah.


Kabar tentang serangan Taring Merah ke Kekaisaran Bing menyebar dengan cepat, membawa gelombang kepanikan dan kecemasan yang melanda seluruh wilayah kekaisaran.


Peristiwa tersebut pertanda dimulainya periode kehancuran dan perang berskala besar yang mengancam keberlangsungan hidup empat Kekaisaran.


Serangan itu tidak hanya menyebabkan kehancuran yang meluas, tetapi juga mengancam nyawa Kaisar yang dihormati oleh rakyatnya. Kaisar adalah simbol kekuatan dan kesatuan kekaisaran, dan ancaman terhadap nyawanya mengguncang fondasi kestabilan dan kepercayaan rakyat.


Wilayah Kekaisaran Bing yang dahulu makmur dan harmonis kini terperosok ke dalam kekacauan dan ketidakpastian. Penduduk hidup dalam ketakutan dan kecemasan akan serangan-serangan berikutnya, sementara pasukan Kekaisaran Bing berjuang mati-matian untuk melindungi wilayah mereka dari invasi Taring Merah.


Dikabarkan perang itu memakan banyak korban jiwa dan merusak infrastruktur penting. Desa-desa dan kota-kota yang dulu ramai kini menjadi reruntuhan yang terbakar dan hancur. Pendekar-pendekar terbaik Kekaisaran Bing berjuang sekuat tenaga untuk melawan serangan Taring Merah, tetapi kekuatan musuh yang dahsyat dan licik membuat mereka kesulitan mempertahankan wilayah mereka. Musuh memiliki kemampuan unik yang disebut perpindahan ruang dimensi. Kekuatan mutlak yang dapat menghancurkan dengan mudah.


Peristiwa ini menjadi titik balik dalam sejarah Kekaisaran Bing. Kekuatan dan reputasi mereka teruji dalam perang yang tak terduga ini, sementara nyawa Kaisar tetap tergantung pada keberhasilan para prajurit dan pendekar dalam menghadapi Taring Merah.


Dalam menghadapi serangan Taring Merah yang mengancam nyawa Kaisar dan kehancuran kekaisaran, Kaisar dan para menteri harus mengambil langkah-langkah taktis untuk melawan Taring Merah.


Namun, pertempuran melawan Taring Merah tidaklah mudah. Keberanian dan pengorbanan diperlukan untuk melawan kekuatan jahat ini dan mempertahankan kekaisaran. Nasib Kekaisaran Bing bergantung pada bagaimana mereka mampu mengatasi serangan Taring Merah dan menjaga nyawa Kaisar yang sangat dihormati.


Sementara itu suasana di pelabuhan Kekaisaran Feng bertambah ricuh.


"Bagaimana ini? Apa saja yang dilakukan para pendekar tak berguna itu?! Di mana Kaisar dan pejabat-pejabat semuanya?!"


Para penduduk mengerubungi pelaut yang membawa kabar. Di sekitar pelabuhan, deretan kapal yang berjejer di dermaga dan masih menunda keberangkatan pagi itu.


"Mereka hanya ongkang-ongkang kaki di singgasana, urusan begini saja langsung tutup telinga!" sambut yang lain emosi.


Seruan terakhir itu membuat semua orang menahan napas dalam ketakutan, saling memandang satu sama lain dengan kecemasan tak berkesudahan.


Ketika kabar tentang kemungkinan pecahnya perang di Kekaisaran menyebar, rasa ketakutan dan kecemasan melanda seluruh warga. Mereka teringat dengan jelas bagaimana perang sebelumnya telah menghancurkan sebagian besar kekaisaran, meninggalkan luka yang dalam dan kehilangan yang tak tergantikan.


Warga, terutama mereka yang telah mengalami langsung penderitaan perang sebelumnya, merasakan beban berat di pundak mereka. Mereka telah melihat bagaimana desa-desa mereka dihancurkan, orang-orang tercinta mereka kehilangan nyawa, dan kehidupan mereka berubah menjadi kekacauan. Ingatan akan penderitaan itu membuat mereka merasa takut dan enggan menghadapi ancaman perang sekali lagi.


Namun, di tengah rasa ketakutan itu, ada juga warga yang menyadari bahwa ketakutan itu harus diatasi dengan tindakan, dan mereka berusaha untuk mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan perang yang akan datang.


Sebagian besar merasa putus asa dan kehilangan harapan saat mengetahui perang akan kembali terjadi. Mereka terbebani oleh perasaan bahwa mereka tak dapat mengubah nasib mereka dan bahwa kembali ke masa-masa kelam perang adalah tak terhindarkan. Rasa putus asa ini menyelimuti pikiran dan hati mereka, mengurangi semangat dan motivasi untuk bertahan. Bahkan banyak dari mereka menelantarkan pekerjaan pagi itu setelah mendengar desas-desus tersebut.


Mereka menyuarakan keinginan mereka untuk menghindari perang yang merusak dan meminta negosiasi dilakukan untuk mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan bagi semua pihak. Terutama kepada Taring Merah meskipun terdengar tidak mungkin.


Apakah dengan menyerahkan Batu Elemen Penguasa Bumi perang dapat dihindari? Beberapa orang berpikir demikian tapi banyak pula yang menentang mereka untuk menyerahkan pusaka langit itu karena tahu kehancuran lain yang akan terjadi.


Xue Zhan tersentak, bayangannya kembali tertuju pada gadis topeng silang putih yang ditemuinya waktu itu.


"Jangan bilang saat aku bertemu dengannya dia baru saja mendapatkan batu itu?"


Xue Zhan mengalihkan perhatiannya ke samping, melihat banyaknya orang berkerumun, ketakutan semakin menyebar di seluruh penjuru. Isu tersebut telah menggemparkan Kekaisaran Feng, lalu bagaimana dengan Kekaisaran Diqiu?


Xue Zhan terdiam.


"Hanya dua batu saja mereka bisa membangkitkan seperempat kekuatan pusaka matahari ..." Dia menggeram kesal. "Ini tidak bisa dibiarkan."


Langkahnya semakin dipercepat membelah kerumunan yang memadati jalan, Beberapa orang tersentak mundur melihatnya lewat serampangan.


Xue Zhan menatap lurus ke depan, kekacauan semakin nyata di depannya. Secepat apa pun Xue Zhan mengejar langkah mereka selalu saja Taring Merah bergerak lebih cepat.


"Jika begitu mereka pasti akan mengincar satu dari tiga batu lainnya. Apa Guru baik-baik saja?" Ucapnya dalam hati. Teringat akan serangan Hantu Penggerogot yang terakhir kali. Xiang Yi Bai mungkin saja menjadi incaran, itu akan terjadi jika identitasnya telah terbongkar.


Di balik kerumunan penduduk Xue Zhan terus menerobos maju, meninggalkan keramaian dengan tergesa-gesa. Itu membuat senyum sosok dengan jubah hitam terkembang lebar dengan puas.


"Kau terlihat begitu panik, hm?" Dari atap bangunan paviliun laki-laki itu mengintai targetnya, sepasang mata yang tajam dan penuh kebencian memancarkan sinar yang nyalang saat dia mengintai Xue Zhan di tengah keramaian di bawahnya. Suara riuh rendah dari kerumunan di bawah terdengar samar-samar, sosok misterius itu mengintai di sana, tersembunyi di balik bayang-bayang, tanpa ada satu pun yang menyadari kehadirannya.


Laki-laki itu terus memperhatikan dengan cermat. Dia mengawasi setiap gerak-gerik Xue Zhan, mata yang tajam itu tak pernah lepas dari sosok pemuda itu di tengah kerumunan.


Terdengar tawa singkat yang sinis.


"Sayangnya waktumu tidak lama lagi, iblis kecil. Gurumu, temanmu, orang-orang yang kau sayangi ... Semuanya akan kuhancurkan tanpa terkecuali."


Xue Zhan mengerutkan alis dan membalikkan badannya tiba-tiba, perasaan buruk mengintainya dan membuatnya terganggu dalam beberapa saat. Namun ketika dia membalikkan badan tidak ada siapa pun yang mencurigakan di sana. Dia mencoba menepis firasat buruk itu dan melanjutkan perjalanannya secepat mungkin untuk menemukan Xiang Yi Bai.


*


Derasnya aliran sungai menimbulkan gema di jurang, kekuatan besar berdesir hebat di dalam tempat yang telah dikepung oleh ribuan pendekar dengan topeng silang hitam. Terlihat dua orang wanita cantik di sana berhadapan dengan sosok berjubah putih yang terpojokkan kembali oleh keadaan.


"Di sini kau ternyata, Batara Pedang Suci. Temanku tidak kembali setelah menjemputmu. Sepertinya dia sudah mati duluan. Tidak akan ku biarkan kau bisa keluar hidup-hidup," ucap wanita itu, Hantu Mawar Duri. Dia memang sudah menebak apa yang akan terjadi pada Hantu Penggerogot, tapi yang membuatnya tak percaya adalah tidak ada satu pun dari 200 orang yang turun ke Jurang Penyesalan yang selamat.


Lalu sosok dengan Topeng Silang Putih tersenyum miring.


"Namamu yang besar telah tercoreng, kau adalah pengecut sekaligus pendosa di mata semua orang tapi masih berusaha melindungi batu itu demi alasan kebajikan. Hahahah." Tawa mengolok menggema dari mulutnya, wanita itu adalah satu dari Enam Cahaya Taring Merah.


"Sekuat apa pun kau, kau tak akan mampu menghadapi ribuan musuh sekaligus."