Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 134 - Hati Selaras Pedang


"Bai'er," panggil seorang lelaki tua berusia 127 tahun, rambutnya telah memutih akibat penuaan memiliki janggut panjang. Dalam posisi bersila dia memejamkan mata. Pagi itu si anak kecil yang dipanggil dengan nama Bai'er baru saja berhenti berlatih setelah satu minggu. Dia terlihat compang-camping penuh bekas luka, melihat itu Gurunya prihatin.


"Sebagai seorang pendekar, kau tahu apa yang lebih hebat daripada pedang?"


Anak kecil berusia 12 tahun itu menggelengkan kepala. "Tidak tahu, Guru."


Kemudian bola mata putih pucat itu terbuka segera menatap lembut kepada muridnya sembari menunjuk dada anak itu, "Hati manusia."


Sontak jawaban tersebut membuat alis anak kecil itu bertaut, mata sipitnya bergerak-gerak berusaha mengamati gurunya lebih dekat. "Tapi ... Guru bilang hati adalah kelemahan seorang manusia."


Senyum mengembang di kedua sudut bibir lelaki sepuh itu.


"Hati itu ibarat sebuah besi, Bai'er." Dia menepuk kepala muridnya dengan kasih sayang. "Saat kau menempanya, dia akan sekuat pedang. Namun jika kau membiarkannya tumpul dan berkarat, dia hanyalah barang tak berguna."


"Sebenarnya apa yang sedang Guru bicarakan? Guru tahu aku benci dengan perandaian, puisi dan basa-basi. Ini membuat kepalaku sakit. Lebih baik aku berlatih berbulan-bulan daripada memahami maksud perkataan Guru yang berbelit."


Terdengar tawa kecil setelahnya. "Nak, kau akan mengerti suatu saat nanti ..." Dia menatap jauh ke pintu di mana dedaunan musim gugur berjatuhan di atas halaman perguruan Gunung Pohon Seribu dengan begitu indahnya.


"Saat bertemu dengan seseorang yang memiliki hati yang lebih kuat daripada pedang. Dia adalah sosok yang istimewa. Saat kau menatap matanya kau akan melihat sebuah keyakinan besar, saat kau berbicara dengannya kau merasa dia berbeda, dan saat kau melihatnya bertarung ..."


Anak kecil itu mengernyit, sementara gurunya kembali menatap bola matanya dalam-dalam.


"Kau akan melihat seseorang yang bertarung dengan cara yang sungguh berbeda. Hati dan Pedangnya sejalan, dia mampu melakukan apa yang orang lain tak bisa lakukan. Aku melihatnya pada dirimu, Xiang Yi Bai. Orang tersebut ada dalam dirimu."


"Bagaimana Guru bisa yakin dengan hal itu?"


"Saat kau menjadi Guru dan melihatnya sendiri, kau pasti akan merasakan apa yang kurasakan saat ini."


Sepintas Xiang Yi Bai hampir mengingat wajah lelaki itu namun sayang ketika dia mencoba mengingat wajah tersebut seperti ditutupi oleh cahaya. Suara lelaki itu terdengar menggema dalam pikirannya.


Akhirnya Xiang Yi Bai mengerti setelah ratusan tahun lamanya, makna kalimat tersebut memiliki arti yang mendalam. Bibir tipisnya ikut tersenyum saat suara menggelegar terdengar seisi Jurang Penyesalan.


"Enam Metode Pembunuh!"


Energi kekuatan murni yang dahsyat melonjak membuat tanah di tempat Xue Zhan berdiri retak melambung ke atas. Bebatuan tersebut menghalangi pandangan selama lima detik lamanya, Hantu Sebelas Jari bertahan di pijakannya sambil melihat ke segala sisi dengan teliti. Sekilas terlihat beberapa gerakan sekaligus, Teknik Angin Membalikkan Awan membuat bebatuan terlempar ke satu titik di mana musuh berdiri.


Perputaran arus angin berubah ganjil, Hantu Sebelas Jari memotong puluhan batu yang terlempar ke arahnya dengan pedang. Dalam keadaan tanpa tangan dia masih mampu serangan bertubi-tubi, Hantu Sebelas Jari membaca pergerakan tepat di belakang.


"Dapat kau, bocah!" teriaknya menggelegar, tapi siapa sangka dalam detik berikutnya batu-batu di sekitarnya menghimpit tubuh Hantu Sebelas Jari. Seakan-akan ditarik oleh magnet yang kuat. Xue Zhan mengibaskan pedang dan bersiap untuk menggunakan teknik selanjutnya.


Dengan teknik Musang Berlari Xue Zhan memutari musuh yang dikunci oleh bebatuan. Sayatan pedang melintas di seluruh batu tersebut, bayangan putih dari tebasan pedang yang melingkar dapat terlihat selama dua detik hingga akhirnya Xue Zhan menghentikan langkahnya dan memasukkan pedang ke dalam sarung.


Saat Xue Zhan membalikkan badan sebuah kepala terlempar ke arahnya kemudian menggelinding di bawah kakinya. Batu yang terpecah bercampur dengan potongan tubuh manusia. Mata Hantu Sebelas Jari masih terbelalak lebar-lebar, tak percaya kematian benar-benar menjemput dengan begitu cepat. Xue Zhan membuatnya terkurung di dalam kungkungan batu, teknik itu hampir sama dengan teknik Tikus Tanah Penghancur.


Selain itu Xue Zhan memperlihatkan enam gerakan sekaligus dalam jurus Enam Metode Pembunuh, gerakan tebasan terakhir adalah perpaduan antara jurus Tarian Pedang Angin dan Musang Berlari. Dalam beberapa saat Xiang Yi Bai tak bisa berkata-kata. Itu adalah jurus terkuat Xue Zhan saat ini.


"Benar-benar iblis ..." Mata tersebut menatap seram pada Xue Zhan yang hanya berdiri tak bergeming di depannya. Hingga akhirnya mata itu tak lagi bergerak, Hantu Sebelas Jari telah mati.


Xue Zhan langsung mengejar ke arah para pasukan Taring Merah, nafsu membunuh dari pemuda itu terasa semakin besar setelah dia membunuh pemimpin pasukan tersebut, Xiang Yi Bai bisa merasakannya dengan jelas.


Ketakjubannya berubah menjadi kekhawatiran. Keinginan membunuh yang kuat adalah salah satu cara untuk melemahkan segel di dalam tubuh Xue Zhan. Dia tak bisa menghentikan Xue Zhan dari membantai ratusan manusia di depannya. Fenghuang telah membunuh lebih dari seratus dan kini Xue Zhan juga melakukan hal yang sama.


Kini sungai jernih yang mengalir di sepanjang Jurang Penyesalan tak ubahnya genangan darah raksasa. Beberapa mayat mengambang tak bernyawa, lengkingan sekarat terus mewarnai situasi berdarah di malam itu. Malam mencekam yang telah lama tak pernah Xiang Yi Bai saksikan di saat manusia saling membunuh satu sama lain.


Xue Zhan memenggal dua orang dalam satu kali ayunan pedang, mata merah nyalang miliknya terus memburu musuh. Hingga tiba-tiba tangan seseorang menyentuh pundak dan menghentikannya.


"Tidak perlu menghabisi mereka semua."


"Tapi Guru-!" Xue Zhan ingin membantah.


"Yang Guru di sini siapa? Aku atau kau?"


"Tentu saja Guru Xiang." Xue Zhan menunduk menahan rasa malu. Diam-diam melirik ke belakang di mana puluhan orang-orang dari Taring Merah masih selamat. Fenghuang ikut berhenti ketika Xiang Yi Bai mengangkat sebelah tangan.


"Mengotori tanganmu dengan darah orang tak bersalah hanya akan membawa bala," jelas Xiang Yi Bai.


"Orang tidak bersalah? Jelas-jelas mereka berasal dari Taring Merah, mereka sudah pasti jabat."


"Apakah mereka melukaimu?"


Xue Zhan menjawab setengah hati.


"Tidak."


"Lalu tanyakan pada mereka, apa mereka masih ingin hidup?"


Xue Zhan menatap sekitar 48 orang yang masih hidup dari pihak Taring Merah, mencoba tidak melawan gurunya. Padahal Xiang Yi Bai adalah orang yang kejam tanpa belas kasih, Xue Zhan tak percaya laki-laki itu akan membela musuh yang tadi ingin membunuhnya.


"Kalian masih ingin hidup?"