
Empat jam dalam pertarungan mematikan, Xue Zhan berulang kali mendapatkan luka berat. Jiazhen Yan memiliki kekuatan yang luar biasa hebat ditambah lagi pengalaman bertarung yang lebih banyak darinya.
Kali ini Jiazhen Yan menghilang begitu cepat dan sekalinya menampakkan diri dia telah berada di atas kepala Xue Zhan. Sebuah bola api dalam ukuran yang lebih besar dari yang pernah dilihatnya muncul dan tidak menunggu waktu lama jurus itu jatuh mengenainya telak.
Terdengar batuk kesakitan untuk yang kesekian kalinya.
Jiazhen Yan yang tahu Xue Zhan dapat membaca pola serangannya menggunakan cara cerdik. Dia mempercepat setiap serangan dan langkahnya dan tidak membiarkan Xue Zhan untuk berpikir sama sekali.
Bahkan untuk berkedip saja Xue Zhan harus berpikir dua kali, karena dalam satu detik itu Jiazhen Yan bisa langsung menghabisi nyawanya tanpa ampun.
"Teman kita Xian Shen kehilangan kedua orang tuanya dan hidupnya hancur. Lalu Xiao Rong, dia sama sekali tidak ingin kembali ke Kekaisaran Diqiu dan berubah dingin. Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada kalian ... Tapi kematian ku bukan salah siapa pun. Itu ... Karena aku belum cukup kuat untuk menghadapi musuhku sendiri."
Kata-kata itu adalah kata-kata yang sejak dulu ingin disampaikannya kepada teman-temannya. Mengingat seberapa baiknya mereka, Xue Zhan merasa kehadirannya berharga. Dia tidak ingin mereka menghancurkan diri sendiri karena rasa bersalah seperti yang kini terjadi pada Jiazhen Yan.
"Tutup mulutmu, aku tidak sudi mendengar omong kosongmu."
Lawannya mulai kepanasan. Pertarungan ini tidak disangka menjadi lebih lama dan sengit. Bukan karena lawannya bisa mengimbangi kekuatannya, tapi karena Xue Zhan sengaja mengulur waktu dan hanya bertahan tanpa melakukan perlawanan berarti. Jelas itu membuat uratnya naik.
Namun lambat laun posisi Xue Zhan mulai terpojokkan.
Tetes demi tetes darah merah berjatuhan di atas pasir, Xue Zhan mengelap sudut bibir dengan punggung tangan tanpa melepaskan pandangan dari sesosok berkekuatan api yang berdiri tegap di hadapannya.
Nyala api berkobar hebat di sekitarnya membawa angin panas yang bertambah panas setiap menitnya.
Jiazhen Yan maju kembali dan pertarungan antara hidup dan mati akan menemui akhirnya. Xue Zhan mencengkram erat pedangnya, melepaskan Jurus Tapak Dewa Penghancur yang hanya mengenai angin.
Langkah setipis angin berada tepat di di depannya, Xue Zhan mengepalkan tinju yang mengenai tepat di dada Jiazhen Yan sambil menyengir bodoh.
"Kena kau, sialan."
Dia sedikit limbung, mulutnya mulai mengeluarkan darah kental yang mengotori pundak Jiazhen Yan. Terdengar suara parau dari pemuda itu.
"Aku tidak bisa menganggapmu sebagai musuhku, bodoh." Dia menurunkan kepalan tinjunya, sepasang mata merah itu mulai pias saat melanjutkan ucapannya.
"Di saat semua orang membenciku, kau tetap membelaku. Meskipun aku adalah orang yang membunuh ibumu."
Xue Zhan memegang gagang pedang merah milik Jiazhen Yan, bilah pedang itu telah menembus perutnya dan rasa sakit mulai terasa di sekujur tubuhnya.
Jiazhen Yan membuka mata lebar-lebar, tanpa disadarinya tangannya gemetar tanpa sebab. Sekelebat ingatan dan kekosongan yang selama ini menghantuinya mulai timbul ke permukaan. Dia menatap Xue Zhan yang ambruk ke tanah dengan pedang masih di perutnya, genangan darah diserap oleh pasir kering, mulut Xue Zhan yang berdarah masih berusaha untuk berbicara walau sakit.
"... Karena kita adalah teman."
***
Seorang pemuda kurus berdiri di depan kediaman klan, rambutnya yang memanjang mencapai selehernya. Dia menatap hampa ke arah aliran air hujan yang turun dari atap.
Angin berhembus lembut, membawa aroma tanah basah dan kemenyan dari altar yang terletak di dalam kediaman.
Daun-daun pohon di sekitar bergetar dengan lembut, menari-nari menemani irama hujan yang mengalir dari atap dan jatuh ke tanah dengan suara lembut.
Suasana di sekitar kediaman klan begitu tenang dan sunyi. Meskipun hujan turun, tetapi langit sudah mulai terang, menyinari kediaman dan mengusir bayangan gelap yang sebelumnya mengisi udara.
Cahaya redup memantul dari dinding-dinding bangunan, menciptakan suasana yang menenangkan.
Kediaman klan itu terlihat kokoh, dengan lantai yang terbuat dari batu alam yang telah berabad-abad bertahan. Dindingnya dihiasi dengan ukiran-ukiran halus yang menggambarkan sejarah klan dan kejayaan mereka. Atapnya yang terbuat dari genting melengkung dengan elegan.
Di dalam kediaman klan, ruangan-ruangan besar dihiasi dengan perabotan yang mewah. Lentera-lentera berwarna merah hangat tergantung di langit-langit, memancarkan cahaya lembut yang memberikan nuansa yang damai dan sejuk.
Suara hujan yang mengalir menjadi irama alami yang mengisi ruang, memberikan ketenangan bagi siapa pun yang berada di dalamnya.
Namun nampaknya tidak akan bisa menenangkan pemuda itu dari gelisah di hatinya.
Pemuda itu terus menatap aliran air hujan, merenung dalam kesendirian dan keheningan.
Pemandangan di sekitar kediaman klan yang begitu indah dan tenang membuatnya merasa seperti melarikan diri dari dunia luar yang penuh dengan keributan dan pertempuran. Dia menghirup udara segar yang terbawa oleh angin, menenangkan pikiran dan membiarkan hujan membasuh hatinya yang kusut.
Tempat itu adalah tempat yang melindungi dan memberikan ketenangan bagi pemuda itu.
Pemuda itu terus merenung dalam keheningan, pikirannya terpaku pada Xue Zhan, teman lamanya yang telah kembali setelah kabar kematian yang menyedihkan. Xue Zhan kini terlibat dalam pertempuran melawan kelompok Taring Merah yang berbahaya dan kejam.
Pemuda itu frustrasi dalam diamnya, terperangkap dalam ketakutan yang seolah menjadi penjara bagi kekhidupannya yang penuh kekosongan setelah kematian kedua orangtuanya. Terutama wanita yang paling dia sayangi, ibunya.
Tetesan air hujan bercampur dengan air matanya.
Meskipun kediaman itu megah dan penuh dengan keindahan, namun pemuda itu merasa terbatas di dalamnya, pamannya tidak mengizinkannya lagi menjadi pendekar setelah reputasinya hancur dalam pertarungan di Jurang Penyesalan dan keadaan tubuhnya juga tidak memungkinkan. Namun xian Shen ingin berjuang bersama teman-temannya melawan musuh di luar sana seperti dulu.
Namun, pemuda itu juga menyadari bahwa setiap orang memiliki peran dan tanggung jawabnya masing-masing. Mungkin saat ini peran dan tanggung jawabnya adalah untuk menjaga dan melindungi dirinya sendiri sebagai penerus asli klan Xian, itulah yang selalu ditekankan pamannya dan harus dipatuhinya karena dia tidak ingin menghancurkan kepercayaan pamannya.
Namun hatinya menolak. Setelah berhari-hari memikirkannya Xian Shen nyaris tidak bisa tidur dan membuat berat badannya semakin menurun drastis.
Mungkin ada sesuatu yang bisa dilakukan, meskipun tidak sebesar pertempuran yang dilakukan Xue Zhan.
Dalam kesendirian dan ketidakberdayaannya, pemuda itu mengumpulkan kekuatan dalam dirinya. Dia memutuskan untuk mencari cara untuk membantu walau sekecil apapun, dalam pertempuran melawan Taring Merah.
Dalam ketenangan dan kesunyian lembah yang berkabut, pikiran pemuda itu mulai kacau hingga terdengar suara yang memanggilnya.
Pemuda itu terkejut ketika mendengar suara yang memanggilnya. Dia membalikkan tubuhnya dan melihat Xian Be, pamannya, berdiri di belakangnya.
Xian Be memandangnya dengan senyum hangat, mencoba menyembunyikan kekacauan yang sedang terjadi di luar sana dengan bersikap biasa saja.
"Kenapa Anda berada di sini, Paman? Bukankah kata bibi kau sedang ada urusan?" tanya pemuda itu, mencoba membaca ekspresi wajah Xian Be.
Xian Be menjawab dengan suara tenang, "Aku ingin memastikan bahwa kau baik-baik saja, Xian Shen. Bagaimana kesehatanmu? Perasaan sendiri sudah membaik? Akhir-akhir ini pelayan bilang kau jarang makan dan tidur larut. Itu membuatku khawatir."
Pemuda itu tersenyum tipis, sadar bahwa pamannya mencoba melindunginya dengan tidak membicarakan situasi yang sebenarnya terjadi di luar sana. Namun, dia tidak ingin membohongi dirinya sendiri. "Aku tahu ada sesuatu yang tidak beres di luar sana, Paman. Aku bisa merasakannya. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Xian Be menghela nafas, mengerti bahwa pemuda itu tidak akan berhenti bertanya. Dia mengangkat tangannya dan mengusap lembut pundak Xian Shen. "Situasi sedang tidak baik. Ada kekacauan di luar sana, konflik yang semakin memanas. Tapi jangan khawatir, kita akan melindungi kediaman klan ini sebaik mungkin."
Pemuda itu mengangguk ragu.
Xian Be menatap Xian Shen dengan serius, menegaskan kalimatnya. "Xian Shen, sekarang waktunya untuk masuk ke dalam dan tidak terus memikirkan hal itu. Pendekar Kekaisaran akan melakukan segala yang mereka bisa untuk melindungi kita dari malapetaka ini. Kita harus mempercayai mereka dan fokus pada apa yang dapat kita lakukan di dalam kediaman klan."
Xian Shen mengangguk, merasakan kepercayaan dan keyakinan dari kata-kata pamannya. Dia tahu bahwa Xian Be tidak akan membiarkannya terlalu lama berada dalam ketakutan dan kecemasan. Dia jauh lebih lembut daripada ayahnya dulu dan itu membuat Xian Shen Sangat bersyukur memiliki paman seperti Xian Be.
Dan dalam keadaan genting seperti ini, mereka harus mengandalkan kekuatan dan keberanian para pendekar Kekaisaran.
"Mari, Xian Shen," kata Xian Be seraya membuka pintu masuk kediaman klan.
Mereka berdua memasuki kediaman klan, menutup pintu di belakang mereka. Xian Shen merasa sedikit lega saat berada di dalam, tempat yang memberikan perlindungan dan rasa aman. Namun, hatinya masih dipenuhi keinginan untuk membantu pertarungan di luar sana.
Dia memasuki kamarnya dan tiba-tiba saja jatuh terperosok ke lantai, jantungnya berdebar hebat hingga membuat beberapa pelayan kaget dan membantunya berdiri
Tiba-tiba saja ketika melihat ruangan gelap dia melihat bayangan mayat ayah ibunya yang berlumuran darah.
Kedua tangan pemuda itu gemetar hebat hingga beberapa lama, para pelayan membantunya untuk tenang dan menyuruhnya meminum air. Pemuda itu masih di batas sadar dan tidak sadar. Ketakutan luar biasa menghantui wajahnya.
"Tidak... Aku tidak bisa diam di sini saja ... Ayah dan ibuku ..."
"Tuan, tenanglah. Kediaman ini akan melindungi anda sehingga anda aman berada di sini."
"Di sini memang aman," ucap Xian Shen menengadah menatap wanita pelayan yang telah berumur 40 tahunan. "Tapi semua itu percuma, aku tidak bisa hidup dengan tenang. Bayangan itu selalu mengejarku. Aku harus menyelesaikan apa yang belum selesai dan mencari jawabannya.... Aku harus membunuh mereka yang membunuh Ayah ibuku."
**
Di tengah malam yang gelap, kediaman klan terhampar dengan tenang. Cahaya remang-remang dari lampu minyak menyala samar-samar di ruangan-ruangan yang sepi. Suasana hening hanya terganggu oleh suara jangkrik yang bersahut-sahutan di kejauhan.
Xian Shen merasa hatinya gelisah. Dalam diam, dia memutuskan untuk melangkah keluar dari kediaman klan tanpa sepengetahuan Xian Be, pamannya yang tengah terlelap. Dia mempersiapkan beberapa barang penting dan menutup pintu dengan hati-hati agar tidak menimbulkan kebisingan yang dapat membangunkan siapa pun.
Melangkah di bawah langit malam yang gelap, Xian Shen menyusuri jalan setapak yang dikelilingi oleh pepohonan. Cahaya bulan hanya menyentuh beberapa bagian kecil di antara celah-celah daun. Kegelapan malam menutupi langkah-langkahnya, membuatnya tampak seperti bayangan yang hilang di dalam hutan.
Dalam diam, Xian Shen melanjutkan perjalanannya, melewati semak-semak yang berduri dengan hati-hati. Suara jangkrik menjadi pengiring setianya, bersahut-sahutan di antara pohon-pohon dengan ritme yang sama.
Dia bergerak cepat dan hati-hati, memastikan jejaknya tidak terlalu mencolok di bawah cahaya redup.
Dengan hati yang tidak tenang, Xian Shen menghilang di tengah hutan yang gelap, meninggalkan kediaman klan dan orang-orang yang sedang tertidur, memulai perjalanannya sendirian.