Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 100 - 20 Tahun Kehampaan


Bunyi ranting dilalap api menjadi satu-satunya suara di dasar Jurang Penyesalan, dinginnya udara mulai membuat Xue Zhan terbiasa walaupun kadang bulu mata dan alisnya membeku saat terbangun pagi. Xiang Yi Bai membalikkan ikan beberapa kali untuk memastikannya masak dengan sempurna. Dia menyodorkan pada Xue Zhan setengah hati.


"Latihanmu masih belum cukup memuaskan. Kau baru bisa makan banyak setelah kau melakukan seribu gerakan lagi."


Walaupun Monster Tua itu terkadang suka marah-marah, setidaknya dia masih memiliki sedikit kebaikan. Xue Zhan menerimanya sambil berterima kasih.


"Tetua Xiang," panggilnya di sela makan. Xiang Yi Bai yang masih membakar dua ikan lagi menoleh ke arahnya dengan muka terusik.


"Apa?"


"Tetua Xiang masih belum menjawab pertanyaanku. Ini sangat aneh bagiku, aku sudah menceritakan semua yang terjadi padaku sebelum jatuh ke jurang ini. Tentang guru, keluarga dan teman-temanku, tapi aku sama sekali tidak tahu tentang siapa Tetua Xiang sebenarnya."


Xiang Yi Bai mengerutkan dahi, "Oh, satu bocah penasaran. Kau mau tahu tentangku?"


"Tentu, Tetua Xiang."


Xiang Yi Bai menarik senyum mengejek. "Tanyakan pada buyutmu di kuburannya. Mungkin mereka tahu."


"Mereka semua sudah ke akhirat, Tetua Xiang," sahut Xue Zhan dongkol.


"Pergi ke akhirat sana dan tanya pada mereka."


"Yang benar saja, kau menyuruhku mati hanya untuk mengetahui siapa dirimu, Tetua Xiang." Xue Zhan membuang napas panjang, percuma saja, dia sudah menanyakan ini sepuluh kali dan monster tua itu tidak berminat menjawab pertanyaannya. Dia masih menyembunyikan identitasnya.


Xue Zhan mencoba mengerti pilihan Xiang Yi Bai, tapi ada rasa penasaran yang kuat. Siapa Xiang Yi Bai sebenarnya, mengapa dia berakhir di Jurang Penyesalan sendirian padahal dia memiliki kekuatan yang luar biasa. Lalu di dinding tebing batu jurang sendiri terdapat banyak ukiran kata yang mungkin dibuat oleh Xiang Yi Bai sendiri. Kata itu berisi; ambisi, keserakahan, manusia, egoisme.


Jika Xue Zhan menjadi Xiang Yi Bai mungkin dia akan segera kembali ke dunia manusia, dengan kekuatan itu dia bisa menjadi pendekar terkuat yang dihormati semua orang.


Namun dia melihat cara berpikir Xiang Yi Bai jauh berbeda dari cara berpikir manusia. Dia sama sekali tidak tertarik dengan hal-hal berbau duniawi. Dunia, kekuasaan, harta, wanita. Semua itu sama sekali tidak menarik perhatiannya. Lelaki itu lebih senang menghabiskan waktunya untuk meminum arak dan tinggal di pondok reyot sendirian, berbicara dengan batu dan pohon atau memancing ikan dan malah yang terpancing raksasa belut.


Lelaki itu memiliki wajah tampan namun juga palsu. Saat dia tertawa, kulitnya benar-benar kaku. Xue Zhan masih terus menatap wajah lelaki itu sampai akhirnya Xiang Yi Bai terganggu.


"Apa? Apa? Melihatku terus. Oi, bocah busuk, sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan?"


"Itu ... Tetua Xiang, aku tidak tahu berapa lama aku berada di sini. Mungkin aku akan berlatih lebih keras lagi sebelum kembali ke dunia luar. Apa Tetua Xiang tidak berniat keluar dari Jurang ini?"


Gerakannya terhenti. Xiang Yi Bai berkedip dua kali seperti sudah lama tidak mendengar pertanyaan tersebut, dia menerawang sekitar dan tak bisa membayangkan waktu di mana dirinya kehilangan tempat tenang dan nyaman di tempat ini.


"Aku tidak akan keluar ke mana-mana."


"Tapi Tetua Xiang-"


Lelaki itu membuka kendi arak dan menenggak kasar, terlihat kerumitan di wajahnya sejenak.


Xue Zhan membalas balik, "Aku hanya merasa perlu menyelesaikan apa yang telah menjadi tugasku. Aku memiliki sumpah pada Guruku dan tujuan yang belum tercapai."


"Ya sudah. Pergi saja sana. Kita lihat. Apakah kejadian yang sama akan menimpamu. Manusia-manusia itu akan memojokkanmu dan membunuhmu."


Lagi dan lagi Xue Zhan menyangkal, "Aku tidak akan pergi ke mana-mana jika Tetua Xiang masih tetap di sini."


Sesaat Xiang Yi Bai terdiam dan langsung mengarahkan mata sipitnya menoleh Xue Zhan, alisnya menyatu.


"Kenapa denganmu? Kalau mau keluar dari jurang ini pergilah sendiri, itu pun kalau kau mampu mendaki ketinggian ini tanpa mati. Jangan menjadikanku sebagai alasan, kupecahkan kendi ini ke kepalamu." Ancamannya disertai dengkusan kasar dari lelaki itu.


"Tetua Xiang, aku tadi pergi ke muara sungai tak jauh dari sini dan melihat sebuah ukiran tulisan di batu dasar sungai. Walaupun tertutupi oleh aliran air deras aku masih bisa melihatnya ... Kesedihanmu dan dua orang yang berharga bagimu ..." Suara Xue Zhan pelan. Dia membacakan kalimat yang dituliskan di batu sungai tersebut.


"Jika aku adalah seonggok daging berbalut kulit, maka mereka berdua adalah jiwaku. Aku adalah kekosongan yang tak diizinkan berakhir sampai aku merindukan kematian."


Wajah putih Xiang Yi Bai terlihat jelas menghindar dari Xue Zhan. Dia mencebik kesal,


"Bocah busuk. Dulu waktu pertama kali bicara denganku kau sangat dungu dan bodoh. Sekarang mengapa kau seperti monyet?"


"Aku mengkhawatirkanmu, Tetua Xiang. Kita sama-sama dua orang yang terbuang di Jurang Penyesalan dan menanggung penyesalan selama di dunia."


"Tahu apa kau soal penyesalan?" Xiang Yi Bai mengujinya, Xue Zhan tak mau menjawab karena setiap kali dia membahas tentang hal ini laki-laki itu selalu memasang wajah tak enak.


Di Jurang Penyesalan ini hanya ada mereka berdua, Xue Zhan tahu dalam waktu yang lama Xiang Yi Bai memendam penyesalan itu sendirian tanpa satu pun tempat untuk berbagi. Semua itu berat, meskipun begitu Xiang Yi Bai tidak pernah keberatan untuk mendengar ceritanya.


Xue Zhan tak ingin lelaki itu menanggung kesedihannya sendirian.


"Dasar kekanakan." Omel Xiang Yi Bai pada akhirnya, dia seperti kehabisan kata-kata. Seperti biasa bocah itu selalu punya jurus jitu untuk menjawabnya dan membuat tensinya naik.


"Lebih baik anak-anak seperti anak-anak, dari pada anak-anak seperti orang tua."


"Kau—" Xiang Yi Bai hampir menjungkirbalikkan anak itu, dia membuang napas kasar. Xiang Yi Bai mendecakkan lidah berulang kali, bocah itu benar-benar gigih membuat pendiriannya runtuh. Untuk beberapa alasan ada hal yang tidak bisa diberitahukannya pada Xue Zhan, sejak awal Xiang Yi Bai tak berniat membuka identitasnya pada pemuda itu. Tapi apa boleh dibuat, Xue Zhan berhasil membuatnya berubah pikiran.


Perlahan-lahan tatapannya berubah, Xue Zhan mengikuti perubahan itu dalam diam hingga akhirnya Xiang Yi Bai memutuskan untuk bercerita.


"Dua puluh tahun yang lalu aku kehilangan murid dan seorang teman yang begitu berarti untukku. Mengorbankan segalanya, kehormatan, jabatan, harta dan segalanya, demi kebaikan manusia. Menghilang dari peradaban dan berakhir menyedihkan di tempat ini. Aku meninggalkan hal-hal berbau duniawi hingga akhirnya terbiasa dengan kekosongan. Tidak terlalu buruk juga."