
Dia mengeluarkan sebuah pedang dari kertas mantra, menarik tangannya ke belakang untuk menebas kepala Xue Zhan. Pemuda itu segera mengangkat senjata, menghalau besi tipis tajam itu.
Keadaannya semakin sulit. Xue Zhan benar-benar terpojokkan. Ming Dao memiliki kekuatan jauh di atasnya dan ditambah lagi dia bertarung di medan perang yang sulit, bertarung dengan seorang Cahaya Kedua sekaligus berperang dengan badai pasir membuatnya kewalahan dan akhirnya terjatuh seperti yang sekarang terjadi.
Xue Zhan mencoba menangkis, tapi musuh tetap mengeratkan dorongan dan membuatnya tak bisa bergerak ke mana pun.
"Sekarang adalah akhirmu."
Ming Dao bisa mendengar jelas jawaban penuh keyakinan dari mulut pemuda itu.
" ... Masih belum." Suaranya yang samar tertelan oleh bunyi bising badai. Ming Dao menarik senyum singkat. Dia tahu pemuda itu sedang mencari cara untuk melepaskan diri.
Matanya terus terkunci ke Xue Zhan, melihat pemuda itu mulai menunjukkan gerakan dan kekuatan yang amat dikenalinya, satu dari 100 Gerakan Dasar Gunung Pohon Seribu.
"Haha ... Kau benar-benar mempelajari jurus itu? Kurasa si Monster Tua itu sedikit memikirkan masa depan Perguruannya yang telah hancur dan berharap kau bisa meneruskan perguruan itu. Tapi sayang!"
Dorongan senjata Ming Dao semakin keras, dia berteriak garang. "Akan kuhabisi dia sampai sepuluh generasinya!"
Pedang itu membabat miring mengincar kepala Xue Zhan yang mengelak begitu cepat, darah menetes di ujung mata pedang Ming Dao menodai pasir kekuningan di bawah kakinya. Dia mengernyit, Xue Zhan menghilang dari pandangannya.
Dia membalikkan badan, mengikuti aroma darah iblis yang begitu pekat. "Aku tahu kau di mana."
Walau menggunakan serangan tak terduga sekalipun Ming Dao masih dapat mengetahui keberadaannya. Xue Zhan yang sedang mengincarnya dari belakang mau tak mau harus tetap menyerang meski serangannya terbaca.
Sementara Ming Dao telah lebih dulu bersiaga, cahaya terang muncul di telapak tangannya dan sebentar lagi akan mengeluarkan tembakan bertenaga.
Tanpa berpikir panjang Ming Dao langsung menyerang Xue Zhan, tak menyangka sedetik sebelum tembakan cahaya itu melewati musuhnya, Xue Zhan lebih cepat menghilang.
Di belakangnya muncul enam bayangan phoenix hijau cahaya yang melesat dalam kecepatan tinggi ke arah Ming Dao dan segera menerjangnya secara bersamaan. Ming Dao menggerakkan sepuluh Tikus Tanah untuk menghancurkan burung-burung itu sambil menggeram tidak terima. Lagi-lagi dia ditipu oleh pemuda itu
"Bagaimana rasanya dipermainkan seperti orang bodoh?"
Dia mulai tertawa, Xue Zhan mengelap sudut bibirnya yang berdarah dengan wajah puas. Setidaknya dia bisa membalas musuhnya kalau pun dia harus mati hari itu juga.
Ming Dao tertawa sinis-antara menertawakan omongan musuhnya atau dirinya sendiri yang sudah sangat percaya diri bisa membunuh Xue Zhan.
"Oh hahahha. Tunggu saja, akan ku kuliti mulutmu yang sombong itu."
*
Setelah sebelumnya mengacaukan aula istana Kekaisaran Feng dan membuat teror, Fenghuang tertangkap dan dimasukkan ke dalam kandang untuk dibawa ke ruang bawah tanah, dipenjara sebelum menerima hukuman atas perbuatannya.
Burung dengan sayap anggun bercorak merah emas itu mengumpat di dalam hati beribu kali dan mengutuk semua orang yang berada di Kekaisaran Feng. Dia sempat berpikir ada setidaknya satu atau dua orang yang mendengarnya tapi dia salah, tak satupun dari mereka peduli akan apa yang menimpa majikannya.
Dan di disinilah dia sekarang. Dikurung menyedihkan seperti burung peliharaan, menunggu kapan orang-orang di luar akan membebaskannya. Mereka tampak takjub dengan dirinya tapi juga terlihat ketakutan di satu sisi. Mungkin hanya Fenghuang yang tersisa dari antara para Phoenix yang ada.
Fenghuang mencoba menghancurkan segel pengunci di kandang, dia sudah mencobanya ratusan kali tapi hasilnya nihil. Siapa pun yang membuat segel itu pasti memiliki ilmu tingkat tinggi.
Malam turun dengan begitu lambat. Fenghuang berubah gelisah, "Sepertinya perang sudah semakin dekat. Apa yang aku lakukan di sini? Brengsek. Aku akan membunuh wanita itu setelah keluar dari sini."
Umpatannya tidak pernah berhenti semenjak delapan jam yang lalu. Lalu seseorang menanggapinya dengan ketus.
"Kau ingin membunuh Yang Mulia?"
Mata merah burung itu melirik ke arah sesosok yang entah sejak kapan berada di sana. Dia adalah orang yang waktu itu mencekiknya dan membuatnya terkurung di penjara ini. Fenghuang mendekat ke besi kurungan yang rapat, menatap tajam pemuda itu.
"Aku juga akan membunuhmu habis ini," kecamnya.
Tidak terdengar sahutan selain tatapan dingin yang membuat Fenghuang jengkel setengah mati.
"Aku ingin tahu apa yang ingin kau katakan di istana."
Fenghuang menoleh sedikit kaget, lantas dia bertanya balik. "Tapi kau mengurungku ke sini. Apa maksudmu? Kalau kau mau mendengarkan semuanya kau tidak seharusnya menangkap ku dan memasukkan ku ke tempat busuk ini!"
Terjadi hening di ruang bawah tanah yang sepi dan sunyi. Namun Fenghuang dapat merasakan getaran kekuatan misterius dari tubuh pemuda dengan sepasang manik mata hitam pekat itu.
"Aku tidak bisa membiarkan nama Kaisar Li tercoreng oleh fitnah yang tidak berdasar. Seperti yang terjadi pada Kaisar Ziran."
Ucapnya sembari mengungkit permasalahan yang menimpa Ziran Zhao atas tuduhan yang dilancarkan Jiazhen Wu. Laki-laki itu dinyatakan telah tewas menerima hukuman mati. Xiao Rong mewanti-wanti semua kemungkinan buruk dalam situasi kacau seperti sekarang karena memang itu adalah tugasnya.
"Semua ini dimulai tiga puluh tahun yang lalu." Dia mulai bercerita, tidak peduli pemuda itu serius mendengarkan atau tidak. Dia hanya ingin satu orang mengetahui kebenaran yang terjadi setelah dirinya berhasil bebas dari Jurang Penyesalan.
"Dulu aku hidup bersama tuanku, Feng Xu. Dia adalah seorang iblis murni, keturunan bangsawan iblis yang begitu dihormati dan disegani ..."
Xiao Rong sedikit tertegun meski raut wajahnya sama datarnya seperti biasanya, pemuda itu berhenti menempelkan punggungnya di dinding dan mulai berdiri di depan penjara Fenghuang untuk mendengarkan kisahnya.
"Tuanku jatuh cinta pada Nona Li yang ambisius dan anggun. Dia mengorbankan segalanya demi wanita itu, keluarganya, hartanya, kekuasaannya. Manusia bilang, 'Cinta itu buta' dan sepertinya hal itu benar. Tuanku yang begitu kaku berubah semenjak dia bertemu dengan Li Jia Xing."
"Aku ikut bahagia melihatnya selalu tertawa bahagia, dia lebih sering tersenyum. Itu membuatku percaya bahwa Nona Li adalah orang yang tepat untuk seseorang seperti Tuan Feng yang murah hati."
Nada bicaranya berubah pahit, terasa begitu jelas hingga ke telinga Xiao Rong.
"Tuan pernah berkata bahwa cinta membuat hidup lebih berwarna. Tapi Tuan lupa, hitam juga sebuah warna."
Fenghuang melanjutkan, "Setelah perang terjadi di Kerajaan Phoenix dan meruntuhkan satu kerajaan Phoenix, iblis menjadi momok menakutkan bagi manusia. Semua orang memerangi mereka dan bertekad memusnahkan mereka."
"Lalu Tuan Feng dan Nona Li yang terlibat hubungan diam-diam kehabisan cara. Nona Li telah menjadi Kaisar dan harus segera memilih. Antara rakyatnya yang menginginkan musnahnya iblis atau kekasihnya yang merupakan seorang iblis."
**
Di dalam lembah berkabut yang menyimpan aura negatif, ratusan pendekar dengan tudung hitam yang seperti boneka manusia berbaris dengan rapi. Mereka mengenakan topeng rubah yang sama persis.
Di hadapan mereka, terdapat puluhan orang yang berkeliling dan memutari barisan tersebut, sedang melakukan sebuah ritual yang penuh dengan keganjilan dan barang-barang aneh. Bahkan beberapa pusaka langit dari 100 Pusaka Keajaiban Dunia berada di tengah-tengah ritual itu menyalurkan energi yang amat sangat besar
Ritual itu terlihat seperti perpaduan antara gerakan tarian dan mantra yang dipimpin oleh seorang pemimpin spiritual. Mereka membentuk lingkaran dengan langkah yang teratur, mengangkat tangan mereka ke udara dan melantunkan kata-kata yang terdengar asing dan magis. Suara mereka bergabung dengan kabut yang menebal di sekitar lembah, menciptakan atmosfer yang semakin mencekam.
Ritual tersebut membuat para pendekar dengan tudung hitam kejang-kejang dan tidak terkendali untuk beberapa detik, seolah-olah dimasuki oleh kekuatan magis yang tidak dapat mereka kendalikan sepenuhnya. Tubuh-tubuh kosong itu mulai terisi sesuatu.
Beberapa di antara mereka bergerak namun masih terlihat kesulitan dalam mengendalikan pedang mereka, sementara yang lain terlihat kehilangan keseimbangan dan terhuyung-huyung dalam langkah mereka.
Tudung hitam dikuasai oleh kekuatan magis yang lebih kuat di saat ritual semakin jauh. Pemandangan terlihat semakin mengerikan, yang tadinya hanyalah mayat lemah dan tidak berdaya mulai berubah menjadi prajurit bersenjata yang berjumlah ribuan
Di tengah kabut yang menebal dan ritme ritual yang semakin intens, para pendekar dengan tudung hitam terus bergerak dengan kikuk dan tidak beraturan. Mereka mencoba untuk melawan pengaruh magis tersebut, tetapi kekuatan ritual itu terlalu kuat untuk mereka atasi.
Dalam keadaan yang kacau dan penuh kekacauan, suara teriakan dan erangan kebingungan mengisi lembah berkabut. Pendekar dengan tudung hitam yang terlihat lemah kini tangguh dan berbahaya.
Kabut yang tebal semakin menyelimuti lembah.
Pemimpin spiritual yang memimpin ritual terus mengendalikan situasi dengan penuh konsentrasi. Dia melanjutkan melantunkan mantra dan memainkan gerakan tangan yang semakin mengintensifkan pengaruh kekuatannya.
Ritual pemanggilan jiwa ke dalam tubuh mayat dengan tudung merah terus berlanjut, berlangsung dengan intensitas yang semakin tinggi. Para pendekar dengan topeng rubah yang bertindak sebagai pengawas tampak tegang, menyadari bahwa sesuatu yang lebih dahsyat sedang terjadi. Mereka saling berpandangan, mengungkapkan kekhawatiran dan kebingungan mereka dalam ekspresi yang serius.
Ketua kelompok misterius yang memimpin ritual masih tetap tenang dan berfokus. Dia menatap dengan tajam, mengamati setiap detail proses pemanggilan dengan teliti. Dalam hatinya, dia bisa merasakan kekuatan roh jahat yang begitu besar dan kuat, melebihi apa pun yang pernah dia alami sebelumnya.
Kekuatan ini tampaknya mulai memasuki tubuh para mayat yang disiapkan, mengisi mereka dengan kehidupan baru sebagai Prajurit Hantu.
Terdengar suara mantra yang terus bergema di lembah, mengisi udara dengan getaran yang mencekam. Mayat-mayat yang sebelumnya tidak bernyawa mulai bergerak dengan gerakan yang kikuk dan tidak manusiawi. Tubuh mereka yang terbungkus tudung hitam tampaknya dihuni oleh kekuatan jahat yang melampaui dunia kehidupan.
Suasana tegang terus menyelimuti lembah. Para pengawas tahu bahwa Prajurit Hantu yang berasal dari tubuh para mayat ini akan menjadi musuh yang tangguh dan mematikan. Bahkan cukup untuk menghancurkan empat Kekaisaran sekaligus. Ini benar-benar ide tergila yang pernah ada.
Ketua kelompok tersebut tersenyum jahat, melihat bagaimana rencananya berjalan tanpa hambatan yang berarti.
Dia semakin menanti perang yang mendebarkan itu, keempat Kekaisaran akan mengalami kehancuran yang sama dengan yang dialami Kerajaan Phoenix.
Ribuan prajurit hantu yang baru terbentuk bergerak serempak. Mereka berjalan menuju ketua mereka dengan langkah yang tidak manusiawi hingga akhirnya ribuan pasukan itu sujud tunduk di hadapan lelaki tersebut. Pemandangan menakutkan itu menciptakan atmosfer yang menyeramkan di lembah berkabut.
Para prajurit hantu itu terlihat seperti bayangan hitam yang memenuhi lembah. Dalam keheningan, hanya terdengar desiran angin yang menyusup di antara tubuh-tubuh gaib tersebut. Wajah mereka tertutup oleh tudung hitam yang jika dilihat seperti manusia biasa namun kenyataannya mereka sudah bukan manusia hidup.
Suara gemuruh terdengar dari prajurit hantu yang bersujud di hadapannya. Deru bising semakin terasa ketika prajurit hantu itu berdiri kembali, berbaris dengan tertib di belakang ketua mereka dan mengangkat pedang mereka siap bertempur. Satu demi satu, mata mereka yang tertutup oleh topeng rubah terlihat dengan sinar merah yang menyala di balik kegelapan.
Lembah berkabut itu terasa penuh dengan kekuatan jahat yang tidak terlihat namun bisa dirasakan oleh setiap orang yang ada di sana. Setiap langkah para prajurit hantu menghasilkan suara langkah yang samar, menciptakan getaran menakutkan di sekitar dan mayat hidup itu selalu siap untuk melaksanakan perintah ketua mereka.
Di dalam hatinya ketua kelompok itu mulai memprediksi datangnya malapetaka bagi keempat Kekaisaran dan seluruh daratan sambil menyeringai iblis.
"Sebentar lagi ... Sebentar lagi ... Aku akan membuat kalian terkejut sampai mati."