
Dia menyepak tubuh lawannya agar bisa terbaring telentang, sebelah kakinya bergerak hendak melepaskan topeng yang menutupi wajah pemuda itu.
"Mari kita lihat bajingan kecil mana yang bisa membuatku kerepotan, hm?" Nada bicaranya seperti mengejek karena begitu puasnya melihat musuh berada di bawah kakinya.
Angin tipis melesat dan mengenai pipinya yang mulai meneteskan darah.
Dia membuka mata lebar-lebar. Terasa perubahan kekuatan yang begitu besar, tubuh lawannya masih terkunci seperti semula dan dia telah memastikan tak akan ada satu pun jurus yang mematahkan jurus ilusinya.
Namun tampaknya itu tidak berlaku untuk kekuatan yang dimiliki pemuda itu.
Tubuhnya masih berada di tempat yang sama tapi bedanya kini kekuatan semerah darah yang pekat mengerubungi seluruh tubuhnya. Wanita itu mundur sembari mengelap pipinya, tidak bisa melakukan apapun selain melihat bagaimana kekuatan itu tumbuh dan mengamuk.
"Ada apa dengannya?" gumam wanita itu setelah beberapa detik memperhatikan, merasa ada yang tidak beres dia segera mengambil langkah mundur.
Seketika hantaman besar terjadi dan segera memburu kepalanya,
Xue Zhan melesat di udara dengan kekuatan yang jauh berbeda.
"Kekuatan iblis-!?" jerit wanita itu ketika dia terpental jauh, melihat pemuda itu mengejarnya semakin cepat. Dia menggerakkan kekuatan air dari bawah tanah yang kini mencuat ke atas dan menyerang pemuda itu dari bawah.
Aliran air itu melingkar dan membentuk serangan dari bawah tanah, siap menyerang pemuda itu dengan kejutan yang tak terduga.
Lawan melihat dengan cepat bahwa serangan baru ini datang dari bawah. Tanah di bawah kakinya bergetar dan pecahan batu mulai terangkat ke udara. Dalam sekejap, aliran air yang ganas meluncur dengan kecepatan tinggi, melingkupi pemuda itu dalam serangan yang mematikan. Dalam seketika, ia melompat tinggi ke udara, menghindari serangan air yang membahayakan.
Wanita pengendali air itu terkejut melihat pemuda itu mampu menghindari serangannya. Kekhawatirannya semakin bertambah saat pemuda itu kembali meluncur ke arahnya dengan kecepatan yang semakin meningkat
Wanita pengendali air itu dengan cekatan menciptakan gelang-gelang air raksasa yang berputar di atas udara. Dengan gerakan yang lincah, gelang-gelang air tersebut mulai menyerang Xue Zhan secara bertubi-tubi. Setiap gelang air meluncur dengan kecepatan yang mengejutkan, membentuk serangan yang mematikan. Mereka berputar dengan gesit dan terus menghantam Xue Zhan dari berbagai arah. Suara desingan dan hantaman air terdengar mengiringi serangan itu.
Xue Zhan melompat, bergerak dengan gesit, dan menggunakan pedangnya untuk mempertahankan diri. Setiap serangan gelang air berhasil dia hindari dengan gerakan yang cepat dan tangkas.
Wanita pengendali air itu belum mau berhenti. Dia terus mengendalikan gelang-gelang air tersebut, menyerang Xue Zhan tanpa henti. Gelang-gelang air berputar dengan kecepatan yang semakin meningkat, menciptakan tekanan yang menghimpit Xue Zhan. Namun tetap saja semua serangan itu bisa dielakkannya.
Semua serangan yang digencarkan wanita itu diabaikannya, Xue Zhan melesat kian cepat dan setelahnya hantaman kembali terjadi. Kali ini benar-benar mengenai sang pengendali ilusi hingga dirinya masuk ke dalam lubang yang disebabkan oleh hantaman tersebut. Sebagian tulangnya seperti berbunyi patah, wanita itu berusaha untuk berdiri namun pada akhirnya tubuhnya menolak bergerak dan kembali terbaring tak berdaya.
Sebuah bilah pedang mengarah ke wajahnya, pandangannya tertutup oleh darah yang mengalir melewati kelopak matanya. Namun hanya dengan kekuatan itu, wanita tersebut sudah tahu musuh akan segera mengakhiri hidupnya.
"Hahaha ... Aku terlambat menyadarinya. Melihat jurus dan teknik yang kau gunakan, ku kira kau adalah Batara Pedang Suci. Tebakanku meleset." Dia tersedak darah yang menggumpal di dalam tenggorokannya sendiri. "Kau hanyalah manusia setengah iblis itu. Tapi tidak kusangka pada akhirnya aku kalah semenyedihkan ini. Tahu dari awal aku tidak akan ikut campur urusan ini."
Xue Zhan sedikit heran setelah membaca keadaan lawannya dan segera bersuara. "Hanya beberapa bagian tulangmu yang patah. Dalam keadaan begini walaupun kau tidak bisa menang kau masih bisa kabur. Kaki dan pergelangan tanganmu masih bisa digunakan."
"Kau mau melepaskanku?" Dia tertawa hingga dadanya naik turun. Terus menatap langit tanpa arah tujuan.
"Mau kabur ke mana? Satu-satunya rumahku adalah di sini. Aku tak pernah ragu untuk mengorbankan segalanya demi Taring Merah."
"Kau dibutakan oleh mereka."
"Orang baik sepertimu tidak pantas mengatur ke mana aku harus bersumpah setia."
"Aku menemukan orang jahat yang mau menerimaku tanpa melihat kesalahan apa yang telah kulakukan. Mereka adalah orang baik untukku."
Xue Zhan mendekat ketika melihat wanita itu mengeluarkan sebuah belati dari balik jubahnya dan langsung memotong lidahnya. Tubuh Xue Zhan membeku beberapa detik. Tidak hanya sampai di sana, wanita itu menikam jantungnya sendiri dan mati dengan senyuman mengembang di kedua sudut bibirnya.
Ketika Xue Zhan melihat lebih dekat wanita itu benar-benar telah mati. Dia mengantisipasi adanya orang-orang yang kelak membangkitkannya dan mencari informasi tentang Taring Merah dengan memotong lidahnya dan langsung membunuh dirinya sendiri karena tahu Xue Zhan menginginkan informasi darinya.
Di kelompok penjahat, kesetiaan dan pengabdian bawahan terhadap tuannya adalah suatu hal yang sangat dijunjung tinggi. Mereka hidup dengan prinsip bahwa keberhasilan kelompok mereka tergantung pada kesetiaan mereka terhadap pemimpin mereka. Wanita itu tidak ragu untuk mengorbankan nyawanya sendiri demi melindungi rahasia Taring Merah.
Sering terjadi dan juga Xue Zhan pernah melihatnya beberapa kali. Dalam kehidupan mereka yang penuh dengan kejahatan dan pertempuran, kelompok penjahat sering kali menaruh kepercayaan yang besar pada pemimpin mereka. Mereka menjunjung tinggi kode etik yang mengharuskan mereka untuk setia sampai titik pengorbanan. Ketika dihadapkan pada situasi di mana informasi yang sangat berharga seperti Taring Merah mungkin terungkap, anggota kelompok penjahat yang setia tidak akan ragu untuk melindungi rahasia tersebut dengan nyawa mereka sendiri.
Tindakan seperti memotong lidah sendiri dan mengakhiri hidup dengan cepat adalah bukti nyata dari kesetiaan mereka yang tak tergoyahkan. Mereka menganggapnya sebagai pengorbanan yang layak demi melindungi tuan mereka dan menjaga identitas kelompok penjahat.
Salah satunya wanita ini, dia benar-benar setia kepada Taring Merah. Xue Zhan mengepalkan tangannya erat.
"Seberapa banyak orang sepertimu yang rela mengorbankan segalanya demi mereka? Mereka sama sekali tidak peduli denganmu. Mereka hanya peduli dengan kekuatanmu dan menggunakanmu sebagai alat. Ck." Dia mendecakkan lidah sambil menghembuskan napas berat.
Tak lama Xue Zhan menatap tangannya sendiri, dia menyalurkan kekuatan yang kini telah bercampur dengan merah pekat.
Wanita itu sempat mengatakannya sebagai kekuatan iblis. Xue Zhan sudah tahu akan hal itu.
Di sinilah semuanya dimulai, kekuatan itu perlahan-lahan menggerogoti tubuhnya dan menyatu bersama darahnya. Xue Zhan tidak memiliki cara untuk menghentikannya, dia harus selalu menggunakan kekuatan. Namun semakin banyak dia menggunakannya, semakin besar pula kekuatan iblis yang muncul.
Iblis Dosa terlintas di bayangannya. Dia menginginkan kebangkitan. Sementara itu di depan matanya Taring Merah akan menciptakan senjata yang menghancurkan semua Kekaisaran. Musuhnya tak hanya di luar, melainkan di dalam dirinya sendiri.
Pandangannya kembali pada jasad yang terbaring tak bernyawa itu. Sekali lagi bersyukur. Dia tidak memiliki keberuntungan seperti dilahirkan ke dalam keluarga utuh, mendapatkan banyak teman dan hidup damai. Namun setidaknya dia bertemu dengan orang baik yang menerimanya dengan tulus. Xiang Yi Bai, Kang Jian, Jiazhen Yan.
Hanya saja kini dia harus terpisah dengan mereka semua. Xue Zhan harus menyelesaikan tugasnya.
Dalam langkah yang berderap pelan menuju air terjun, terdengar samar bunyi angin yang mengikuti langkahnya.
Xue Zhan berhenti tepat di depan air terjun. Air terjun itu tampak menjulang tinggi di tengah-tengah hutan belantara, menjadi pintu masuk ke dalam markas lama Taring Merah. Derasnya air terjun tersebut menciptakan dentuman yang menggema di sekitarnya, mengisi udara dengan semburan kabut air di mana-mana. Air terjun itu terlihat seperti sebuah tirai air yang menuruni tebing curam, di dalamnya terdapat pintu masuk yang menjadi jalan ke dalam markas lama Taring Merah.
satu langkah lagi dia bisa langsung memasuki markas Taring Merah. Namun dia terpaksa menahannya karena sesuatu yang menganggu. Terdengar dia berbicara,
"Akhirnya kita bertemu kembali," ucap Xue Zhan.
Xue Zhan membalikkan badan, dan benar seperti dugaannya, seseorang berdiri di sana sambil menenteng senjata yang sama seperti yang dilihatnya di perguruan Naga Emas.
Terdengar cekikikan dari wanita itu begitu intens. Dia sudah menantikan dengan hati yang menggebu-gebu akan kehadiran pemuda itu dan tak pernah menyangka dia benar-benar datang ke tempat di mana dirinya berada.
"Kau pasti sangat merindukanku, huh? Sampai-sampai mengejarku ke sini?!"
Chao Mi membelalakkan matanya sambil menyeringai lebar. Rambut putih panjangnya bergerak mengikuti angin yang berputar di sekitarnya. Tato putih di beberapa bagian tubuhnya bersinar terang.
Sejenak Xue Zhan tertawa, "Mengejarmu untuk apa? Aku tidak tertarik dengan kipas busuk itu."
Sebenarnya hanya sebuah kebetulan kembali dipertemukan dengan Cahaya Kelima. Terhitung ketiga kalinya mereka bertemu dan kali ini Xue Zhan tak akan melepaskannya. Begitu pun dengan Chao Mi.
"Aku masih begitu mengingat matamu yang indah itu ... Mata yang sulit untuk ditebak. Kau sangat keras kepala dan sulit dibujuk walaupun kau hanyalah bocah ingusan. Kuakui pendirianmu, bocah iblis." Chao Mi menarik kipasnya ke atas. Pakaiannya terkibar kencang. "Kali ini aku tak akan segan-segan membunuhmu. Mayatmu yang akan kuseret ke hadapan Ketua."
"Berhenti memanggilku bocah, nenek sihir. Aku tidak percaya nenek sihir sepertimu masih memiliki murid. Tidak kau racuni dia dengan masakan terkutukmu, bukan?"
Chao Mi menjawab bengis. "Kalau aku mau sudah kutikam seluruh tubuhnya dan kuberikan kepada burung pemakan bangkai."
"Dia begitu bodoh sampai mau menerima guru sepertimu."
"Kalian sama bodoh dan menjengkelkannya. Berhenti mengoceh dan lawan aku! Kuhabisi kau kali ini!"
Kekuatan Cahaya terasa menggetarkan udara selama lima detik lamanya. Xue Zhan melihat keseriusan di mata Chao Mi, dia sudah bersiap untuk menyerangnya dalam kekuatan penuh. Xue Zhan yakin wanita itu akan mencari segala cara untuk membunuhnya.
Sayangnya dia juga sudah berencana untuk membunuh wanita itu bagaimana pun caranya.
"Setelah kau, aku juga akan menghabisi muridmu."
Chao Mi melebarkan matanya. "kau gila-?" Dia menahan napasnya beberapa detik.
"Dia mengatakan suatu saat kami akan kembali bertarung. Saat itu tiba, aku akan membunuhnya dengan pedangku."
Chao Mi mengeratkan pegangannya pada senjata. "Tidak akan kubiarkan kau melangkahi mayatku."