Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 88 - Kabar yang Menyebar II


Li Jia Xing duduk di singgasana dengan sikap arogan yang sudah melekat pada dirinya, hal itu juga menjadi penyebab mengapa wanita itu sangat disegani oleh semua orang di Kekaisaran Feng. Keadaan di Kekaisaran Feng mulai membaik akhir-akhir, setelah penyerangan terakhir Taring Merah yang membuat ratusan nyawa di Sungai Ning melayang, dia mengadakan pengawasan ketat disertai penjagaan 24 jam untuk menjamin keselamatan penduduknya.


Alhasil tindakannya mendapatkan banyak pujian terutama dari para pejabat penting, seperti biasa wanita itu selalu memperhatikan hal sekecil apa pun. Dia adalah Kaisar yang patut diteladani. Baginya semua masyarakatnya adalah keluarganya meski Li Jia Xing tidak pernah segan berlaku kejam jika merasa peraturannya telah dilanggar.


Selama semua berjalan sesuai kehendaknya, wanita itu akan berlaku seperti malaikat bersayap. Tapi sekali saja seseorang membangkang padanya, dia akan berubah menjadi malaikat kematian. Namun sekarang guncangan dari Kekaisaran Diqiu terasa sampai ke Kekaisaran Feng. Hal itu telah menuai banyak dukungan, polemik dan kritik.


Wanita itu mulai pusing menghadapi satu per satu persoalan yang datang ditambah tamu-tamu terus berdatangan dan dia harus mengurus satu demi satu urusan yang tidak pernah habis di Kekaisaran Feng.


Tak disangka mereka kedatangan seorang tamu tak diundang. Bukan Li Jia Xing, tepatnya Xiao Rong yang saat ini telah menjadi bagian dari pengawal Kaisar yang ditunjuk Li Jia Xing secara pribadi. Terlepas dari pembelotan yang dilakukannya tempo lalu, Li Jia Xing telah memberikan hukuman setimpal dan membebaskannya.


Seorang gadis kecil bertenaga badak merengek tanpa henti, rupanya kabar itu sudah terdengar hingga ke Kekaisaran Guang. Xiao Rong mengibaskan jubahnya dan berlalu begitu saja tanpa menanggapi gadis itu, sudah satu jam lamanya dia berusaha membuka mulut Xiao Rong tapi percuma.


Li Jia Xing turun dari singgasana menuju ke tempat Lun Ning ditinggalkan oleh Xiao Rong.


Lun Ning membalikkan badan mendapati Kaisar Li sudah berada di belakangnya.


"Percuma mengajaknya berbicara, kemarin dia hanya sedikit cuek. Sekarang sudah kehilangan kemampuan untuk berbicara."


Lun Ning tidak mengerti apa yang tengah disampaikan wanita itu, segera mungkin dia berkata, "Aku mendengar tentang kabar kematian rivalku dari mata-mata Kekaisaran Guang. Saat sampai di sini untuk misi kebetulan aku mengenal salah seorang kenalan dekatnya. Tapi dia sama sekali tidak mau berbicara denganku."


Kepalanya tertekuk dalam memperlihatkan kekhawatirannya, Li Jia Xing menepuk pundak gadis itu pelan.


"Jadi, kau juga teman dekatnya?"


Mata Lun Ning berkaca-kaca. "Be-benar Yang Mulia, bahkan aku menganggapnya sebagai rivalku. Kabar kematiannya membuatku terkejut. Aku tidak percaya tentang rumor yang beredar dan datang ke sini untuk memastikan secara langsung," jujurnya.


Li Jia Xing mengembuskan napas, "Hah ... Aku juga tidak habis pikir dengan sesuatu yang terjadi di sana. Bukan hanya dia, gurunya juga dikabarkan melakukan bunuh diri. Ada banyak hal ganjil yang tidak mempunyai titik temu."


Sehabis itu Li Jia Xing mengatakan pada Lun Ning untuk menjumpainya sebentar lagi usai menyelesaikan beberapa pekerjaannya.


Li Jia Xing menjelaskan semua yang dia tahu pada Lun Ning dan itu membuat Lun Ning hanya diam. Wajah berapi-api itu tampak murung tidak seperti biasanya. Kaisar Li sangat mengenal gadis periang itu karena Lun Ning sering berkunjung untuk kepentingan misi. Bisa dibilang gadis itu paling bisa diandalkan untuk menangani misi di luar Kekaisaran.


"Aku merasa itu bukan perbuatannya," suara Li Jia Xing kecil, dia menyatukan kedua tangan di atas meja nampak sedang berpikir keras.


Lun Ning juga mengiyakan di dalam hati, kemudian Li Jia Xing menjabarkan kembali.


"Lalu apa yang akan Anda lakukan, Yang Mulia?"


"Ini mungkin bisa menjadi bahaya untuk tiga Kekaisaran lain. Jika Xue Zhan hanyalah umpan, aku bisa menjamin kelompok penjahat ini memiliki niat busuk."


Kaisar Li mengetahui banyak hal yang tidak diketahui pemimpin lain. Bahkan saat sedang tertidur pun dia masih sempat-sempatnya memikirkan persoalan di sekitarnya.


Taring Merah tak akan mungkin membunuh Xue Zhan, jika itu adalah Menara Giok Hantu maka tindakan ini sudah terlalu jauh. Bahkan terlalu rapi untuk penjahat kelas menengah seperti mereka.


Beberapa anggota Menara Giok Hantu yang ditemukan mati di dekat rumah singgah Istana Kaisar telah diinvestigasi dan nyatanya orang-orang itu bukan berasal dari Menara Giok Hantu itu sendiri. Fakta mengejutkan itu disusul banyak kemungkinan lain, Li Jia Xing berpikir ada kelompok penjahat yang mungkin sama berbahayanya dengan Taring Merah.


Namun dugaannya masih abu-abu.


Di sisi lain Racun Kembang Seribu yang ditemukan di tubuh Yin Jiao berasal dari Kekaisaran Guang, itu sudah menjelaskan bahwa pelaku kejahatan ini kemungkinan besar berasal dari kelompok Taring Merah yang memang berawal dari Negara Api, Kekaisaran Guang. Menara Giok Hantu adalah sekelompok penjahat dari Kekaisaran Feng yang telah jatuh setelah kepala ketua mereka dipenggal hidup-hidup oleh Enam Cahaya dari Taring Merah.


Kepala Lun Ning seperti berasap akibat terlalu keras berpikir, Li Jia Xing tetap tidak berhenti berbicara dan terus menjelaskan semua kemungkinan dari ujung ke ujung. Isi kepalanya lebih besar dari bentuk kepalanya sendiri. Setelah ini Lun Ning tak akan berani bertanya lagi pada wanita itu, dia memiliki segudang jawaban yang jika didengarkan bisa sehari semalaman.


"Tapi Yang Mulia," sela Lun Ning mengacaukan konsentrasi Li Jia Xing. Wanita itu mengangkat wajah kurang senang omongannya dipotong.


"Aku pernah mendengar tentang sebuah jarum kecil yang bisa membunuh seperti sengatan, sama seperti Racun Kembang Seribu, senjata rahasia itu berasal dari tempat yang sama, Kekaisaran Guang."


Ekspresi wajah wanita itu berubah. "Katakan lebih detail lagi."


Lun Ning lahir di sebuah Kekaisaran di mana mereka memiliki segudang informasi dan memiliki cara hidup yang berbeda dari ketiga Kekaisaran lain. Jika seseorang menatap ke langit dan sepintas melihat bayangan burung, mereka akan menyebut itu burung.


Namun mereka berbeda, mereka akan menjelaskan dari mana burung itu berasal, alasannya bermigrasi dan jenisnya hingga ke akar. Tidak bisa dibohongi, orang Kekaisaran Guang memiliki akal cerdik dan kemampuan bela diri yang bagus.


"Ada satu mata-mata Kaisar An yang mencoba mencari tahu tentang identitas pemilik Racun Kembang Seribu ini, lalu Yang Mulia tahu apa yang terjadi?."


Li Jia Xing berubah serius.


"Orang itu mati ditelanjangi dan digantung di sebuah pilar halaman Istana Kaisar. Wajahnya tak berbentuk lagi, hancur lebur. Dan di dahinya tergores sebuah sayatan dengan sebuah pesan, 'MATI'."