
Dua hari semenjak babak penyisihan pertama telah berakhir kini babak selanjutnya telah dimulai dengan suasana yang jauh berbeda dari babak pertama, persaingan semakin intens dan lawan yang dihadapi juga bertambah semakin sulit.
Ada gosip yang mengatakan bahwa ada satu peserta yang bahkan telah menginjak usia 30 tahun dan sampai saat ini masih terjebak dalam Ujian Pendekar Menengah, tentu buka kabar baik bagi Xue Zhan yang mulai gugup melihat keadaan di sekitarnya.
Seorang laki-laki berdiri di atas panggung paling depan dengan kedua tangan di belakang, menatap hormat ke segala penjuru seraya memberikan salam serta sambutan kepada peserta yang hadir.
"Selamat karena kalian telah berhasil melewati babak penyisihan pertama, tapi jangan merasa puas dulu! Masih ada dua babak penyisihan yang tingkat kesulitannya lebih tinggi. Apakah kalian siap untuk babak selanjutnya?!"
Suaranya yang kencang terdengar menggema ke seluruh penjuru, seluruh peserta kompak menjawab.
"Siap!"
"Semangat yang bagus!"
Lelaki itu turun dari atas panggung digantikan seorang wanita dalam pakaian formal panitia pelaksana Ujian Pendekar Menengah ini, dia menjelaskan pembagian kelompok dan arahan pada peserta sebelum memberitahu bagaimana babak penyisihan kedua dilakukan.
Xue Zhan mencari stan di mana nama-nama anggota kelompok akan diumumkan.
Cukup lama menunggu hingga nomornya di sebutkan bersama nama-nama yang cukup dikenalnya. Itu membuat Xue Zhan terkejut, lima nama tersebut berada dalam satu kelompok, dia tidak bisa membayangkan kerja sama seperti apa yang bisa dilakukan dengan mereka; Lao Bao Li, Lun Ning, Xiao Rong, Xian Shen dan dirinya sendiri.
Masih terasa betul kemarahan di wajah Lao Bao Li setelah terakhir kali Xue Zhan melukai kedua tangannya, begitupun Xian Shen yang kalah ketika berduel satu lawan satu dengannya, Xue Zhan mati kutu di tempat.
Kelima anggota kelompok tersebut berdiri sejajar. Panitia pelaksana memberikan nama kelompok mereka sebagai Kelompok Harimau.
Setelah kelompok terbentuk barulah wanita yang tadi menjelaskan alur pertarungan yang akan mereka hadapi, peraturan, syarat serta lainnya.
"Untuk ujian kali ini kalian akan ditempatkan di sebuah hutan raksasa di mana kalian bebas menyerang dengan cara apa pun. Hukum rimba berlaku; yang menang berkuasa di atas yang kalah."
Wanita itu kembali menjelaskan detailnya. "Untuk penentuan tetap seperti pertarungan sebelumnya, kalian akan ditempatkan di satu markas dan mengumpulkan poin dalam pertarungan kerja sama tim ini. Satu teman mati kehilangan 50 poin dan tim lawan yang membunuhnya mendapatkan 50 poin. Markas hancur dikurangi 100 poin, musuh mendapatkan sebaliknya. Kehilangan satu telur dikurangi 150 poin."
"Kalian harus menjaga tiga telur dan memastikannya tetap utuh. Bisa merebut telur kelompok lain juga untuk menambah poin. Jika satu tim memiliki telur kurang dari tiga otomatis dinyatakan gugur. Dan syarat terakhir minimal 450 poin untuk dinyatakan lolos dalam babak ini."
Dia membuang napas, "Semoga beruntung," tandasnya. Para peserta dibawa ke tempat di mana ujian akan dilangsungkan. Benar saja, mereka di tempatkan di sebuah hutan terbesar yang ada di pusat Kekaisaran Diqiu yang dikhususkan untuk latihan atau ujian besar-besaran. Ada begitu banyak siluman dan hewan buas di dalamnya. Para panitia juga tak segan-segan mengatakan bahwa mereka bisa saja mati dalam ujian kali ini jika tidak berhati-hati.
Semua konsekuensi ditanggung peserta, karena untuk itulah Ujian Pendekar Menengah dilakukan-agar peserta melihat situasi sebenarnya di Medan pertempuran. Ada banyak marabahaya mengintai, maut, serta serangan tak terduga dan dalam beberapa alasan pula mereka dibagi ke dalam tim untuk melihat seberapa jauh peserta bisa saling bekerja sama dengan orang yang belum mereka kenal dengan baik.
Tapi Xue Zhan mengakui bahwa rekan timnya adalah para peserta yang cukup kuat, dilihat dari poin yang mereka kumpulkan serta kemampuan individu masing-masing. Dia mulai mempertanyakan bagaimana bisa panitia membuatnya masuk ke dalam sebuah tim ini.
Siang menjelang mereka sampai di markas masing-masing, panitia memberikan waktu setengah jam untuk mereka berunding satu sama lain. Setiap tim memiliki pemimpin yang dipilih secara acak oleh pelaksana, Xue Zhan memimpin timnya saat ini.
Mereka berkumpul di tengah markas berukuran sedang. Wajah keempat orang itu terlihat tak begitu akrab satu sama lain, Xue Zhan angkat bicara.
"Seperti peraturan yang sudah dijelaskan panitia, kita harus menjaga tiga telur ini," kata Xue Zhan memperlihatkan tiga telur yang berikan beragam warna. Merah, kuning, putih. "Ada saran tentang siapa-siapa saja yang akan menjaganya? Atau tiga dari kita menjaga masing-masing satu telur ini?"
Lun Ning menjawab seperti sedang menjerit, "Biar aku!!"
Xiao Rong yang paling muda di antara mereka mendengkus. "Jangan berikan ke perempuan bertenaga badak ini, bukan musuh pecahkan telurnya, dia yang malah memecahkannya sendiri."
Lao Bao Li dan Xian Shen tertawa mendengar ejekan Xiao Rong. Seperti biasa, selain pendiam sekalinya Xiao Rong bicara kata-katanya sangat menyakitkan. Lun Ning bersorak marah.
"Tahu apa kau? Cih, kalau kau masih dendam setelah aku kalahkan kemarin bilang saja!" Jarinya menunjuk Xiao Rong kesal.
"Kalah darimu? Bukankah kau yang terlalu takut kalah dariku dan menggunakan seluruh kekuatan dengan gegabah dan berakhir merusak gedung arena?" Pemuda itu melipat kedua tangan di dada sambil berucap sinis. Hal itu memancing emosi Lun Ning.
"Kau-?!"
Keduanya kelihatan ingin bertarung, Xue Zhan tidak berminat mendamaikan dan justru membawa tongkat, kayu serta besi.
"Nah siapa yang mau perang? Perlu apa? Batu? Kayu? Tongkat besi?"
Emosi keduanya hilang tiba-tiba. Xue Zhan mendengkus.
"Jika begini terus waktu akan habis."
Lao Bao Li menyuarakan pendapatnya meskipun enggan.
"Bagaimana jika telur itu kita letakkan di suatu tempat tersembunyi di markas. Tiga orang tetap di sini mempertahankan markas dua lainnya mengumpulkan poin dan menyerang markas lawan?"
"Siapa yang ingin tinggal di sini?"
Keempatnya mengangkat tangan membuat Xue Zhan heran, tapi bukan tanpa alasan mereka main aman sebab dari kelompok lain pun pasti memakai strategi yang sama. Bedanya mereka mengirimkan orang-orang terkuat untuk berkeliaran, jika Xue Zhan bertemu dengan mereka sudah pasti dibunuh agar dia mendapat 50 poin secara cuma-cuma.
"Selain aku tidak ada lagi yang bergabung untuk mengumpulkan poin di luar?"
Xiao Rong memejamkan mata, dia mengangkat tangan tapi juga mengajukan sebuah syarat.
"Aku ikut tapi kita berdua tidak berpencar. Tiga teman kita berjaga di sini memastikan telur dan markas aman."
Xue Zhan mengangguk mengiyakan.
"Semua setuju?"
"Setuju."
Bunyi lonceng yang begitu besar dari luar hutan menjadi pertanda bahwa babak penyisihan kedua telah dimulai.
"Semuanya, lakukan yang terbaik, kita pasti bisa!"
Meski Lao Bao Li, Xian Shen, Xiao Rong terlihat enggan namun tetap saja mereka berkumpul, menyatukan tangan di tengah sambil bersorak. Lalu berpencar melakukan tugas masing-masing.