Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 138 - Melewati Empat Musim III


Pagi menjelang, semburat jingga menyebar di atas langit pagi yang hanya terlihat sedikit dari bawah jurang. Burung melintas di atas kepala tanpa berniat singgah di tempat dengan suhu yang dingin tersebut.


Sungai es retak, beberapa ekor ikan dapat bergerak namun sayangnya saat kepingan es mulai menyebar Fenghuang menangkap ikan-ikan tersebut dan membawanya ke dekat Xiang Yi Bai yang seperti biasa, memasak makanan.


Xue Zhan sendiri sebenarnya bisa memasak tapi terakhir kali dia keracunan karena beberapa ikan di tempat ini memiliki racun. Jika tidak memasaknya dengan benar bisa berbahaya. Oleh karena itu Xiang Yi Bai tak mengizinkannya memasak lagi.


Sebelum makan, Xiang Yi Bai menyuruh Xue Zhan untuk segera bersiap mempraktekkan seratus gerakan sekaligus dengan sempurna. Tentu ini adalah saat-saat yang dinantikan Fenghuang. Xue Zhan sedikit gugup walaupun dia sudah menghafal dan memahami setiap gerakan.


Namun sejenak hatinya kembali gelisah. Jika benar setelah ini mereka akan berpisah, Xue Zhan ingin menghargai waktu yang mereka miliki bersama. Xiang Yi Bai menyadari perubahan wajah Xue Zhan tetapi tidak mengatakan apa-apa.


Xue Zhan tak bisa fokus, dia memilih membantu Xiang Yi Bai menyiapkan api.


"Biar aku saja, Guru."


Muridnya beralih menyiapkan api, Xiang Yi Bai membiarkannya mengerjakan. Fenghuang masih mengumpulkan ikan dari sungai. Terdengar suara dari pemuda itu, sedikit parau, "Guru ... Kalau aku tidak ada di sini, bagaimana denganmu? Kau akan baik-baik saja kan?"


Terdengar jawaban singkat, Lelaki itu tak membalas tatapannya karena sibuk. "Aku sudah dua puluh tahun lebih tinggal sendirian di sini. Kau terlalu berlebihan."


Pandangan Xue Zhan jatuh ke dalam bara api yang hampir mati berkali-kali akibat suhu dingin. "Aku ingin bertemu dengan Kaisar Ziran untuk membicarakan ini semua. Tapi jika tanpa saksi, semua orang akan menganggapku berbohong."


Monster Tua menyela, "Jangan mencoba-coba membujukku bocah busuk. Seperti hatiku akan goyah saja dengan rengekan kekanakanmu. Manja sekali, padahal aku yang tinggal di sini tapi kau yang menangis."


"H-hah? Guru tahu dari mana aku menangis semalam?"


"Itu kau yang bilang sendiri."


Xue Zhan mendecakkan lidah, terlihat kesal tapi juga menahan malu, dia tak mau terlihat cengeng di depan Gurunya.


Sepintas Xiang Yi Bai menarik senyum tipis.


"Kau begitu kehilangan? Bukankah kau masih mempunyai Guru selain aku? Carilah dia, aku yakin dia juga masih hidup."


"Guru Kang mungkin masih hidup setelah insiden hari itu, tapi aku tak yakin dia bisa bertahan hidup lebih lama dengan penyakitnya ..." Sesal di kedua bola matanya terpampang jelas. Kerlap-kerlip merah terpantul di bola mata Xue Zhan, api mulai menghangatkan udara di sekitar.


"Awalnya aku juga ingin mengajak Guru keluar agar bisa bertemu dengan Guru Kang. Aku yakin sudah menceritakannya ribuan kali pada Guru. Guru Kang telah menyelamatkan hidupku dua kali, dia juga adalah orang pertama yang menerima keberadaanku selain kakek dan adikku. Aku sama sekali tak bisa membalas jasanya dan justru menyebabkan masalah. Dia kehilangan nama baiknya karenaku ..." Sampai titik itu Xue Zhan sudah tidak sanggup lagi menceritakan kepahitan yang dialaminya.


"Kau bisa kembali ke sini, kenapa sedih seperti itu?"


Mata Xue Zhan berkaca-kaca, bukan jawaban itu yang dia mau.


"Aku ingin melihat Guru menyaksikan festival rakyat, menikmati aroma teh bunga di kedai, atau membeli arak mahal. Aku sering membayangkannya. Hari di mana Guru bisa bahagia tanpa harus memasang wajah palsu yang menyembunyikan penyesalan."


Xiang Yi Bai tertawa, walaupun yang terdengar hanya suara yang perih. Dia membuka mulut tapi kehilangan kata-kata untuk membalas, Xue Zhan membuatnya tak mampu berbicara selain mendikte kembali penyesalan itu di dalam otaknya.


"Aku sudah berjanji akan menjaga Batu Tanah sampai akhir hayatku."


"Tidak ada tapi-tapi. Habiskan makananmu setelah itu aku akan melihat hasil latihanmu selama empat tahun lebih di sini. Kau bisa membawa Fenghuang keluar jika kau berhasil."


Xiang Yi Bai berjalan membelakangi Xue Zhan yang langsung menyerobot bicara dengan nada yang lantang. "Tapi Guru pernah bilang, Guru memang akan tinggal di sini selamanya dan hanya akan keluar ketika Batu Elemen Penguasa Bumi berada dalam bahaya!"


Dia mendekati Xiang Yi Bai. "Guru, kau tidak akan pernah menarik kata-katamu kan?"


Xiang Yi Bai berbalik badan. Namun tak kunjung terdengar balasan darinya. Hingga akhirnya lelaki itu melanjutkan perjalanannya. Raut wajahnya terlihat lebih gusar dari sebelumnya.


Beberapa saat berlalu sampai Xue Zhan siap untuk ujiannya yang mungkin adalah pertama dan terakhir. Pemuda itu berdiri di atas batu tepat di pinggir sungai. Fenghuang berdiri di sebelah Xiang Yi Bai yang sejak tadi sudah menunggu muridnya. Bai Ye sendiri menonton dari kejauhan dalam diam.


Hingga akhirnya Xue Zhan mengeluarkan pedang dari sarung dan memulai gerakan pertama dengan cepat dan tangkas.


"Gerakan Menangkap Kelinci!"


"Musang Berlari!"


"Harimau Memburu Kijang!"


Dalam kurun waktu kurang sepuluh detik Xue Zhan mempraktekkan tiga gerakan sekaligus begitu lihai, tanpa ada celah, Xiang Yi Bai mengakui pertumbuhan kekuatan Xue Zhan amatlah cepat. Dia memiliki potensi besar, sayang sekali tak bisa mendidiknya lebih jauh. Xiang Yi Bai hanya bisa berharap Xue Zhan bertemu dengan Guru lamanya dan mendapatkan didikan yang lebih baik.


Karena setelah mendengar dari cerita Xue Zhan, sosok bernama Kang Jian itu adalah orang baik yang memang tulus mendidik muridnya.


Masih terdengar suara tebasan pedang, Xue Zhan berteriak sambil memusatkan tenaga. "Angin Membalikkan Awan!"


Dia memutar tubuh dan tanah di sekitar batu mulai berderak. "Tikus Tanah Penghancur."


"Cakaran Melintang!"


Setiap gerakannya hanya dia berikan jeda satu detik, Xiang Yi Bai mengangguk puas berkali-kali. Dia sampai tersenyum tanpa sadar, ini adalah pertama kalinya Xue Zhan menunjukkan semua hasil latihannya dan Xiang Yi Bai merasa tak sia-sia mendidiknya.


Keringat bercucuran di wajah Xue Zhan saat mencapai gerakan ke 46, setiap gerakan itu membutuhkan jumlah tenaga dalam berdasarkan urutannya. Semakin tinggi maka semakin banyak tenaga yang dibutuhkan. Napas Xue Zhan ngos-ngosan, tetesan keringat jatuh di atas batu tempatnya berdiri. Sedangkan di sekitarnya, bebatuan hancur dan retak.


"Pukulan Tangan Besi!"


Gerakan ke-85 Xue Zhan mulai mengeluarkan darah dari mulut, dia mulai mendekati ambang batas penggunaan kekuatan. Sementara teknik berikutnya membutuhkan kekuatan yang lebih besar. Dia mulai merasakan rasa sakit menjalar dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, membakar tubuh dan menimbulkan denyut perih di beberapa titik vital.


Darah berjatuhan ke lantai batu, Xue Zhan muntah darah untuk kelima kali. Fenghuang dan Xiang Yi Bai menyaksikan Xue Zhan menghadapi ambang batasnya. Yakin pemuda itu dapat melakukannya karena Xue Zhan bahkan telah melalui yang lebih pedih dari ini semua.


Tangan Xue Zhan terangkat, dia menghadapkan telapak tangannya ke dinding yang berada di belakang.


"Tapak Dewa Penghancur!"