
Tapi saat kepala prajurit kota hendak menurunkan pasukannya, dia memutuskan untuk berpikir ulang. Melihat situasi di depannya dia mulai ragu apalagi dengan kemampuan prajurit yang mereka miliki, prajurit kota tidak memiliki kemampuan setara dengan Topeng Silang Hitam. Dan dia tidak ingin pasukannya mengganggu pertarungan Xue Zhan dengan Topeng Silang Hitam.
Kepala prajurit kota itu mengerti betul bahwa pertarungan itu sangatlah beresiko jika dia salah mengambil keputusan. Akan datang bantuan yang lebih banyak setelah ini, dia menahan keinginannya sejenak dan melihat sampai sebatas mana pemuda itu bisa bertarung.
Saat melihat Xue Zhan melancarkan serangan dan menciptakan enam phoenix cahaya yang membelah diri dan menciptakan dua belas phoenix lainnya, kepala prajurit kota itu terkagum-kagum. Dia tidak pernah melihat teknik bertarung sehebat itu sebelumnya.
"Aku begitu penasaran tentang siapa jati diri pemuda itu. Dia benar-benar luar biasa, dia bertarung untuk semua orang."
Kepala prajurit kota itu tidak bisa hanya terkagum-kagum dan terus memperhatikan pertarungan itu tanpa melakukan apa-apa. Dia memerintahkan bawahannya untuk memanggil bantuan darurat dan mendatangkan seseorang yang dianggap mampu mengatasi situasi ini. Lalu menunggu waktu yang tepat untuk melakukan tindakan.
Kepala prajurit kota memperhatikan pertarungan itu dengan penuh perhatian, mengamati setiap gerakan Xue Zhan dan pendekar Topeng Silang Hitam dengan teliti. Dia berharap bisa menemukan informasi tentang kelompok tersebut, kelemahan musuh dan mencari kesempatan untuk mengalahkan mereka.
Pertarungan semakin memanas dan semakin banyak pendekar Topeng Silang Hitam yang terkapar di tanah, kepala prajurit kota itu semakin yakin bahwa Xue Zhan adalah pemuda yang sangat hebat, beruntung dia berpihak kepada mereka.
Sejenak terdengar bunyi tapak kaki berat.
Deng Yuan menghampiri Xue Zhan dengan langkah kasar, melewati jalan yang dipenuhi dengan mayat-mayat anggotanya yang sudah tak bernyawa. Tampaknya laki-laki itu tidak sedikitpun terganggu dengan kematian para pasukannya.
Setelah itu Deng Yuan menatap Xue Zhan dengan tatapan yang menyiratkan bahaya dan ancaman. Mata mereka saling menatap beberapa lama. Mengukur kemampuan lawan dan memandang penuh pertentangan. Xue Zhan merasa aura tajam dan pekat, menandakan bahwa Deng Yuan memang sosok yang berbahaya.
"Kau benar-benar menguji kesabaran ku," ucap Deng Yuan dengan suara yang dingin dan tajam. Xue Zhan merasa ada aura kebencian dan dendam yang terpancar dari wajah laki-laki itu.
Xue Zhan tidak menjawab, tetapi hanya menatap Deng Yuan dengan tatapan yang sama-sama dingin. Kedua belah pihak saling mengamati, menunggu siapa yang akan mengambil langkah pertama. dalam benak Xue Zhan, dia tahu bahwa pertarungan belum berakhir. Laki-laki itu tak akan pernah menarik pasukannya sampai dia mati sekalipun.
Xue Zhan mengamati dengan cermat setiap gerakan dan langkah kaki lawannya. Deng Yuan mengangkat pedangnya yang besar dan bergerigi, yang dihiasi dengan taring merah dari siluman yang telah dibunuhnya. Pedang itu berkilau di bawah sinar matahari dan tampak menyimpan hawa aneh. Deng Yuan menggeram sembari mengangkat senjatanya dan berteriak lantang untuk membangkitkan semangat bertarung pasukannya.
"Habisi dia sampai tidak bersisa!!" serunya.
Lalu, ratusan pendekar di belakangnya maju dan mengejar Xue Zhan secara bersamaan. Suasana menjadi semakin menegangkan, udara terasa terbakar oleh semangat bertarung yang membara. Xue Zhan tidak bergerak untuk beberapa detik, tetapi dia kemudian mulai menata keseimbangan tubuhnya dan mempersiapkan diri untuk bertarung.
Dia menghunus pedangnya dan memandang Deng Yuan dengan tatapan tajam.
Tidak ada suara kecuali teriakan dan dentingan senjata. Deng Yuan tampaknya sangat yakin untuk memenangkan Pertarungan ini. Xue Zhan memilih untuk tidak memperdulikan mereka. Dia fokus pada gerakan lawannya dan mencoba membalas serangan musuh.
Deng Yuan melepaskan serangan berat dari arah bawah, dan Xue Zhan mampu menghindar dengan cepat dan berpindah ke belakangnya. Setelah itu, pertarungan menjadi semakin sengit, dengan Deng Yuan menyerang tak ada habisnya dan Xue Zhan menghindar secepat angin.
Xue Zhan menggunakan teknik Ombak Tujuh Lapis untuk memukul musuhnya dari bawah jembatan, puing kayu serempak beterbangan dan beberapa Pendekar jatuh ke dalam laut. tetapi Deng Yuan terus mengejarnya dengan penuh amarah.
Suasana semakin memanas ketika Xue Zhan terus menghindar serangan musuhnya dan melepaskan tendangan yang membuat lima orang terdorong sekaligus. Meskipun telah bertarung dengan jumlah lawan yang banyak, setiap gerakan dan serangan Xue Zhan masih akurat dan cepat sehingga membuat Deng Yuan mulai kesulitan untuk mengalahkannya.
Deng Yuan masih dalam semangat yang menggebu-gebu. Dia mengeluarkan serangan-serangan yang berbeda-beda, mengincar setiap celah dalam pertahanan Xue Zhan terutama di bagian kepala dan perut. Cukup lama pertarungan terjadi, sinar matahari semakin memanas di atas kepala. Pertarungan terus berlangsung , dan keberhasilan Xue Zhan untuk menang semakin sulit setelah Deng Yuan mulai mempelajari teknik bertarung Xue Zhan.
Deng Yuan melemparkan pedang besarnya ke udara dan menangkapnya dengan tangannya yang satu lagi, menciptakan dentingan yang keras dan tajam saat dia menghentakkan di atas tanah. Dia mulai melangkah cepat menuju Xue Zhan, dan ketika mereka bertemu, Deng Yuan menyerang dengan menyilang miring. Xue Zhan menghindari beberapa pukulan telak dengan gerakan merunduk, namun tidak bisa menghindari satu pukulan yang tepat mengenai dadanya.
Xue Zhan terlempar ke belakang dan hampir jatuh ke air, namun dia berhasil mempertahankan keseimbangannya. Deng Yuan tertawa-tawa dan kembali menyerang. Xue Zhan memberi serangan balasan dan mereka terus saling bertarung dalam pertarungan yang seperti tidak ada hentinya.
Pendekar Topeng Silang Hitam lainnya juga turut membantu Deng Yuan, mengepung Xue Zhan dari segala arah. Xue Zhan kembali menggunakan teknik Ombak Tujuh Lapis untuk memecah formasi lawan. kali ini lebih kuat dan lebih menghancurkan dari sebelumnya. Beberapa pendekar berhasil dia hantam sampai remuk, dan yang lain terpental jauh ke belakang.
Namun, meskipun Xue Zhan berhasil menahan serangan-serangan mereka, dia mulai kelelahan. Setelah beberapa menit bertarung tanpa henti, napasnya semakin sesak dan tangannya semakin gemetar. Deng Yuan melihat kelelahan di wajah Xue Zhan dan mengambil kesempatan untuk menyerang. Dengan satu gerakan lurus, Deng Yuan menyerang dari arah belakang.
Xue Zhan tidak punya waktu untuk menghindarinya. Pukulan kuat itu mengenai dadanya, membuatnya terlempar ke belakang dengan keras. dadanya terasa sakit dan sulit untuk bernapas. Deng Yuan melangkah maju dan siap untuk menghabisi Xue Zhan.
Xue Zhan melompat ke samping dan menghindari pukulan itu dengan selisih waktu yang tipis. nyaris saja dia menemui ajalnya detik itu.
Ketika Deng Yuan kembali menyerang, Xue Zhan dengan cepat mengeluarkan pedangnya dan menghalau serangan itu.. Dalam keadaan yang sangat sulit, Xue Zhan tiba-tiba mengeluarkan sebuah serangan yang sangat fatal menyerbu area vital di dadanya dan Deng Yuan memuntahkan darah lalu terpental menghantam kapal perang yang bersender di tepi jembatan.
Deng Yuan mencoba untuk bangkit kembali, namun Xue Zhan sudah siap dengan serangan terakhirnya yang akan mengakhiri hidup laki-laki itu.
Tiba-tiba satu tangkisan datang dari arah kiri sebelum Xue Zhan berhasil mengenai Deng Yuan. Padahal itu kesempatan terbaik untuk menghabisi Deng Yuan. Xue Zhan melompat mundur saat Deng Yuan melemparkan bom peledak.