
Angin bertiup sangat kencang, Mu Rong mengangkat wajah mengamati deru sang angin yang seakan-akan membawa sebuah berita padanya. Angin dari lembah melewati tubuh rentanya, lelaki itu berbalik badan dengan perasaan ganjil. Rasa yang sama ketika penyerangan terjadi di Tanah Leluhur mereka, hatinya was-was.
Langkah gemetarnya mengarah pada sebuah rumah kayu, dia tidak tahu ke mana Kang Jian dan yang lain berada tapi yang pasti mereka sedang tidak ada di tempat.
Cemas tak berkesudahan terjawab ketika derap langkah kaki terburu-buru berlari ke arah perkampungan sembari berteriak, "Segera cari tempat perlindungan! Musuh sebentar lagi akan sampai, berlari lah secepat mungkin atau-"
Xue Zhan berbalik badan tergesa, mata merahnya terbelalak ketika pasukan berisi sepuluh orang itu datang.
Berkat peringatannya puluhan orang sempat diamankan, mereka langsung mengevakuasi diri ke sebuah persembunyian di dalam goa yang terletak di kaki gunung.
Namun dua orang dalam balutan jubah hitam tetap tinggal di sana. Yang satu menggenggam busur panah dan satunya lagi hanya dengan tangan kosong, tapi di balik jubahnya dia memiliki sebuah tas berisi senjata tajam.
"Terima kasih sudah memperingatkan. Mundurlah adik kecil, ini adalah bagian kami."
Ternyata mereka berdua adalah kakak adik kembar. Yang paling tua laki-laki berusia hampir 25 tahun dan adik perempuannya hanya berbeda satu tahun darinya.
Lima orang yang Xue Zhan kenal, mereka berdiri di barisan paling belakang.
Itu artinya lima orang baru itu jauh lebih hebat dibandingkan mereka. Dia hampir tidak berani menatap mata-mata yang amat buas mengincar mangsa itu. Aura yang sangat kejam dan iblis, Mu Rong berdiri di barisan kembar itu. Melepaskan jubahnya, memperlihatkan pakaian bertarungnya. Di balik tubuh tua rentanya ternyata laki-laki itu memiliki tubuh yang bugar, bahkan otot di bahunya masih terlihat menonjol.
"Jangan meremehkan orang tua, anak-anak muda."
"Mulai lagi." Wen Qin memutar bola mata malas, dia mengangkat busur panah. Sementara kakak tertuanya terlihat tidak banyak bicara, dia fokus mengukur kekuatan sepuluh orang di depan.
Tidak, tidak perlu bersepuluh. Hanya berdua saja mereka sudah mampu membunuh lima puluh orang dari mereka.
Kang Jian melompat dari arah tak terduga dan berdiri sejajar dengan Mu Rong, dia sudah merasakan kehadiran musuh dan menebaknya. Benar saja mereka bergerak hari ini.
Tidak ada satu pun di antara musuhnya yang mengenakan simbol identitas Taring Merah.
Hong Yen, target misi mereka kali ini pasti ada bersama mereka. Kang Jian sudah mencarinya ke mana-mana dan beberapa orang kampung mengaku tidak pernah melihat ke mana perginya orang itu. Hanya isu seperti dia mati dimakan hewan buas hutan yang didapatkan, itu jelas bukan hal baik. Karena Kang Jian tidak memiliki bukti valid.
Kebenarannya pun masih dipertanyakan.
"Siapa kalian?"
"Siapa kami? Bukankah sudah jelas?"
"Anak buah Taring Merah." Seseorang yang berdiri paling ujung menjawab congkak. "Tapi hanya anak buahnya bisa menyikat ratusan orang."
"Apa bagusnya? Kalian membunuh orang tidak bersalah yang bahkan tidak tahu cara mempertahankan diri. Lebih terdengar seperti pengecut yang sedang membual dongeng memalukan. Norak."
Xue Zhan tidak tahu orang itu memelototinya penuh amarah, wajahnya padam memerah. Terdengar tawa sinis darinya sesaat sebelum dia menarik pedang.
"Tidak perlu basa-basi lagi, aku akan segera membereskan cecunguk kerdil itu dan menuntaskan misi kami! Serang mereka!"
Derap kaki membelah kepulan debu yang memanas di jalan berbatu, Wen Qing dan Wen Tian mengambil ancang-ancang dan maju kompak.
Kang Jian menahan satu orang yang mengincar Xue Zhan, sayangnya terlepas dan dia justru terpaksa harus berhadapan depan dua orang sekaligus.
Jiazhen Yan muncul ketika lelaki itu mengangkat pedang ke arah Xue Zhan. Dengan tendangan dari atas, tapak kakinya menghantam kepala musuh sampai leher orang itu berbunyi retak. Tinju berapinya muncul dan seketika menghentak tempurung kepala lawan ke tanah.
Jiazhen Yan memasang wajah penuh kesombongan. "Silakan kagum. Waktu dan tempat dipersilakan. Haha."
"Jiazhen Yan juga norak. Mengalahkan satu sampah saja bangga."
Kuping pemuda itu terbakar, api menjalar di sekitarnya. "Satu sampah saja?! Memangnya kau bisa bunuh berapa? Baiklah, kau mengajak bersaing! Aku akan bunuh mereka semua. Lihat baik-baik!"
Wen Qing dan Wen Tian sebenarnya memiliki rekan petarung kurang lebih dua puluh orang, yang paling hebat di kampung tersebut. Namun sayangnya mereka telah tiada akibat serangan terakhir kali.
Dan sekarang, keduanya putus asa. Hanya berdua saja dan ditambah satu orang dewasa serta dua bocah berisik.
Mereka bukan kelahi dengan musuh saja, tapi juga bertengkar satu sama lain sampai musuhnya menganggur.
"Bocah gemblung!!!" teriak musuh yang mengenakan kapak besar, setara dengan tubuhnya yang kekar. "Kalau mau bertengkar di tempat lain sana, di sini bukan tempat main-main!"
"Kau siapa? Ibu kami? Suruh kami berhenti kelahi."
Mulut siapa lagi kalau bukan mulut setan berapi.
"Apaaa kau bilang?!" Lelaki itu menarik kapak di atasnya hendak mengenainya langsung di kepala.
Jiazhen Yan menarik senyum sinis, dia mundur tapi tak menyadari sebuah batu menyandungnya. Kaget, Jiazhen Yan kelimpungan. Konsentrasinya sempat terpecah. Ini adalah kesalahan fatal, seperti yang Kang Jian katakan. Satu kesalahan saja bisa mengantarkan mereka ke liang kubur.
Seharusnya seseorang memberitahu misi rahasia ini adalah misi tingkat tinggi. Mereka sebenarnya hanya ditugaskan untuk mengintai. Tapi jika sudah begini tidak ada pilihan selain bertarung, atau Batu Elemen Penguasa Bumi akan direnggut dari Kekaisaran Feng yang mana masalah ini akan menjadi permasalahan serius.
Bayangan kapak besar menutupi hampir seluruh wajah Jiazhen Yan, dengan keseimbangan yang kacau kekuatan api sekecil pun tidak bisa dia keluarkan sama sekali. Jiazhen Yan mengutuk.
Bunyi pedang terdengar, bunga api terpercik di wajah Jiazhen Yan yang hanya tersisa beberapa jari lagi dari dua senjata tajam tersebut.
Pedang di depan matanya mendorong kapak besar menjauh dari wajah Jiazhen Yan, terdengar suara seseorang setengah mengejek.
"Nanti saja berterima kasihnya."
Musuh sempat termundur saat senjata rahasia Wen Tian terlempar ke arah mereka dan hanya berakhir menancap di batang pohon. Kang Jian mengibaskan pedangnya, kekuatan petir dari tangannya terlihat, cipratan darah mencuat membasahi bajunya. Dua musuh tumbang, dia mengakhiri satu nyawa lagi dalam satu tarikan napas.
Tiga orang dari mereka terbunuh begitu cepat. Wen Qing terpana, "Ternyata mereka cukup kuat juga, aku sempat meragukannya. Si Petir Merah memang tidak bisa diragukan lagi. Tapi dua bocah itu ..."
Iris matanya menatap dua bocah yang sedang bertarung dengan saling membelakangi punggung.
"Si pemilik kekuatan api memang memiliki kekuatan yang hebat. Namun ... Satunya lagi, entah mengapa, aku merasa ada kekuatan yang jauh lebih besar bahkan dibanding si Petir Merah ..."
Wen Tian mundur, dia yang biasanya paling irit bicara mengeluarkan suara beratnya.
"Aku lebih khawatir kalau dia yang menyerang kita."
Jiazhen Yan dan Xue Zhan tetap dalam posisi bertahan. Dari titik buta mereka seorang musuh maju hendak menikam.
"Mati saja kalian berdua!"