JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 99


πŸ€ DENDAM MASA LALU πŸ€


Suasana di hotel seketika menjadi mencekam. Lee sadar ada suatu yang tak beres.


"Lily, keluar dari kamar. Pergilah dan jangan kembali ke hotel jika aku belum menghubungimu," ucap Lee seketika membuat Lily bingung.


"Ada apa, Lee? Apa yang terjadi? Aku tak mau. Aku akan di sini bersamamu dan membantumu," jawab Lily yang khawatir.


"Tidak. Cepat pergi sebelum Bima menemukanku. Dia sudah merambat ke gedung ini dengan dimensi lain. Pergilah, kumohon. Aku tak ingin kamu terluka," tegas Lee kepada Lily yang menatapnya sedih.


"Baik, tapi segera hubungi aku ..."


"Semoga. Jaga diri baik-baik."


Berat hati Lily meninggalkan Lee yang masih berada di dalam kamar hotel. Benar yang Lee katakan, saat Lily membuka pintu kamar, rasa pening yang teramat sangat menyerang. Sesuatu yang penuh amarah berusaha menguasai gedung dengan kekuatan gaib.


Seketika ruangan menjadi hening. Lee tahu Bima sudah menemukannya. Lee bersiap menghadapi amarah Bima. Dia mengubah wujud aslinya Evan Sang Iblis kaki tangan Tuan Asmodeus.


"EVAN! BERANINYA KAU MELUKAI NINGSIHKU!" bentak Bima pada Evan yang sudah mengubah dirinya.


"Ha ha ha ha ... bukankah aku sepertimu? Mengikuti perkataan Tuan saja? Lantas, mengapa kau mengistimewakan wanita itu?" jawab Evan dengan pongah.


"BANYAK CAKAP KAMU! BERANINYA MENGGANGGU ISTRIKU. HADAPI AKU SEKARANG!" tetiba Bima menyerang ke arah Evan.


Evan menangkis dengan gesit. Pertempuran sengit pun tak terelakan. Mungkinkah kejadian masa lalu terulang? Padahal, dahulu kala mereka adalah kawan.


***


Evan bersekutu dengan Tuan Asmodeus karena kejahatan manusia di zamannya. Dia merasa tak diterima oleh lingkungannya. Bahkan Ibu, satu-satunya orang yang mencintai dan mau bersama Evan yang dahulu terlahir tanpa kaki.


Sedangkan Bima bersekutu dengan Tuan Chernobog karena dendam akan kejahatan Ayahnya yang membuat penderitaan di hidupnya dan ibu serta adiknya. Kesamaan ketersiksaan hidup menderita membuat hubungan Evan dan Bima baik di Neraka. Pada awalnya.


Sebelum ada perselisihan antara Tuan Chernobog dan Tuan Asmodeus, Evan dan Bima berteman akrab. Bahkan mereka sering berkeliling neraka bersama.


"Bagaimana pekerjaanmu? Kau menyukaiya?" tanya Bima.


"Lumayan lah. Banyak manusia yang tak perlu dijerumuskan sudah diperbudak kesenangan hawa nafsu. Ha ha ha ... mempermudah pekerjaanku. Bagaimana denganmu?"


"Sama kalau begitu. Manusia serakah yang ingin hidup mudah dan cepat kaya membuatku tak sulit melaksanakan pekerjaan. Ternyata manusia lebih suka berlomba ke Neraka," jawab Bima.


Mereka tertawa bersama. Dua lelaki yang dahulu manusia biasa hingga akhirnya putus asa dan menerima uluran tangan iblis penguasa Neraka. Mereka sama-sama menjadi iblis yang hidup ratusan bahkan ribuan tahun demi menyesatkan manusia dan mengumpulkan jiwa berdosa.


Bima dan Evan merupakan tangan kanan dari tuannya. Dua tuan yang berbeda dari Tujuh Lapisan Neraka dengan Tujuh Penguasa yang berbeda. Neraka yang dulunya tidak ada gesekan, akhirnya memanas karena Yang Mulia Lucifer mengadakan pertandingan untuk mendapatkan kekuatan tambahan yang hanya boleh diikuti tangan kanan penguasa lapisan Neraka. Termasuk Bima dan Evan.


Pertempuran dalam pertandingan itu membuat Bima dan Evan terpaksa bertarung. Mereka sama-sama tak ingin mengecewakan tuannya. Hingga saling melukai satu dengan yang lain.


"Maaf, Evan. Aku terpaksa menyerangmu. Tuan Chernobog tak ingin aku kalah," lirih Bima saat mengeluarkan jurus pamungkasnya.


Evan terpental jatuh dan terguling. Semua teriakan penghuni Neraka berseru menyoraki kemenangan Bima. Evan yang setengah sekarat, justru hampir dibunuh oleh Tuan Asmodeus karena malu mengakui kekalahan.


"YA! PEMENANGNYA ADALAH BIMA DARI NERAKA LAPIS TUJUS DENGAN TUAN CHERNOBOG!" ucap pemandu acara membuat pertandingan berakhir dengan kemenangan Bima.


Sorak sorai para penghuni Neraka membuat ramai keadaan. Sedangkan hal itu membuat Asmodeus semakin meradang.


"Dasar tak berguna! Kumusnahkan saja kau!" gertak Asmosdus pada Evan yang sudah sekarat.


"Jangan! Jangan bunuh Evan. Tuan Chernobog, tolong hamba membantunya. Hamba sudah menang, bukan?" kata Bima meminta Tuannya menolong kawannya.


Chernobog tersenyum dan menghalau Asmodeus. "JANGAN KAU BUNUH DIA! AKU AKAN MENUNGGU PERTANDINGAN BERIKUTNYA. KAU PERSIAPKAN SAJA DIA MELAWAN ANAK BUAHKU LAGI." kata Tuan Chernobog dengan bijak.


Asmodeus pun mengurungkan niatnya untuk membunuh Evan. Bima langsung berlari ke arah Evan dan membantunya. Namun, bukannya Evan senang, justru tangan Bima dihempaskan oleh Evan yang merasa merasa marah dan dikhianati.


"Ta-tapi Evan ... maaf. Aku tidak bermaksud begitu. Kita ini kawan, bukan?" Bima tetap mencoba menolong.


"Mulai saat ini, kita bukan lagi kawan," pungkas evan mengakhiri pembicaraan.


"SILAHKAN PEMENANG MENGHADAP YANG MULIA UNTUK MENDAPATKAN HADIAH KEKUATAN DARI YANG MULIA LUCIFER."


Saat itu, Evan sangat marah dan menyendiri selama bertahun-tahun untuk memulihkan kondisi kekalahan battle dengan Bima. Mereka pun tak pernah berbicara lagi. Tiap Bima mendekat dan mencoba berkomunikasi, Evan diam dan menyingkir.


Evan menyimpan dendam kesumat pada Bima. Dia merasa dipermalukan dan hampir kehilangan kepercayaan Tuannya. Evan sudah tak bisa percaya kepada siapa pun. Iya, siapa pun kecuali saat dia kenal Lily dan menjalani hidup seperti manusia bersamanya. Meski dengan wujud rupa Lee, Evan sudah merasa bahagia.


***


Pertempuran Bima dan Evan tak bisa dielakan. Evan menangkis setiap serangan Bima dan mencoba membalasnya. Bima mendominasi peperangan itu terlebih kekuatannya bertambah sejak kemenangan dan diberi kemampuan lebih oleh Lucifer.


"MENGAPA KAMU MELUKAI NINGSIH? MASIH MENGUNGKIT SOAL MASA LALU?" tanya Bima pada Evan yang dicengkram begitu kuat dengan tangan kanannya.


"Tidak. Aku tidak akan membahas hal itu. Aku hendak mengambilnya untuk Tuan Asmodeus." jawab Evan yang tersudut.


Seketika Bima mengingat kejadian masa lalu dan melepaskan cengkramannya. "AKU TIDAK AKAN MENGULANGI KESALAHAN DI MASA LALU. LEBIH BAIK URUNGKAN NIATMU MENGAMBIL NINGSIH JIKA TAK INGIN SEPERTI DULU. DIA ... ISTRIKU. BUKAN BUDAK SIAPA PUN!"


Evan mengernyitkan dahi tak mengerti maksud Bima. "Kau?"


"YA. AKU TAK BERMAKSUD MENYERAHKAN NINGSIH PADA SIAPA PUN. AKU MENCINTAINYA."


Seketika Evan terdiam. Soal rasa kemanusiaan yang sudah lama hilang, bukan hanya Bima yang merasakan pun juga Evan.


"Baik. Kita berdamai." lirih Evan.


Seketika keadaan hotel kembali normal. Nuansa mencekam menghilang seketika. Bima mengubah wujud menjadi manusia. Begitu pun Evan.


"Baik mari kita bicara," tegas Bima.


"Aku tak tahu jika kau mencintai wanita itu. Kukira dia hanya pengikutmu saja. Aku tak akan mengganggunya. Asal, jangan kau lukai Lily."


Bima menatap tajam Evan, "Kau menyukai Lily? Bukankah dia sudah menjadi iblis? Dia tak tahu jika kau ini bukan Lee."


"Ceritanya panjang dan rumit. Aku tak bisa menjelaskannya. Namun, aku tak bisa kembali ke Neraka dengan tangan hampa. Aku akan di sini mencari ganti jiwa untuk Tuanku Asmodeus," jelas Evan menerawang jauh.


"Baik. Cukup sampai di sini pertengkaran kita. Aku akan menjaga milikku dan kau perjuangkan milikmu. Jangan mengganggu lagi."


Bima pun pergi menghilang. Evan masih terdiam. Dia tahu jika melawan Bima tak akan menang. Hal ini adalah siasat tepat untuk menghindar dari kekalahan.


"Aku akan temukan celah untuk menghancurkanmu di hadapan seluruh penghuni Neraka. Tunggu, Bima! Masalah dahulu tak akan berakhir semudah ini," batin Evan sambil menyeringai.


Dia pun mengambil gawai dan menghubungi Lily.


Evan: "Lily, kita pergi sekarang. Ada suatu yang harus kita beli dan persiapkan."


Lily: "Baik, Lee. Apa rencanamu?"


Evan: "Membuat Ningsih koma selamanya dan mencuri rohnya."


Bersambung ....


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hai guys! Gimana masih seru menyimak 'kan?


Jangan lupa like, share, Vote dan juga beri bintang 5 ya dipenilaian pada beranda JERAT IBLIS^^ Terima kasih