JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 23


...🔥 INDIGO 🔥...


Reno mengajak Gio dan Gilang untuk makan bersamanya, Dinda, dan Lisa. Mereka sampai di cafe yang nyaman untuk berbincang bersama. Tak disangka, cafe itu juga tempat Susan dan Nindy menghabiskan waktu.


Setelah memesan makanan dan minuman, Reno pun kembali memulai pembicaraan. "Terima kasih, ya. Kalau tidak ada kalian, aku pasti bingung mencari anakku ini," kata Reno menatap dua pemuda di hadapannya.


"Sama-sama, Mas. Sebenarnya kami jadi nggak enak ini. Dapat traktiran seperti ini," jawab Gilang yang sungkan dengan Reno.


"Tak apa, anggap saja perkenalan. Kalian sudah membantu Lisa bertemu denganku. Itu sudah hal yang membuatku sangat bersyukur," ucap Reno bersemangat.


Mereka pun berbincang banyak hal. Namun, aura gaib Gilang dan Gio bergesekan dengan Dinda. Membuat sebuah gesekan yang makin lama semakin membara.


"Papa, Kakak-kakak itu bisa mimisan kalau Tante Dinda terus di sini," lirih Lisa sambil menarik lengan kemeja Reno.


"Lisa ngomong apa? Kak Gilang dan Kak Gio baik-baik saja. Tante Dinda juga tak ada masalah." Reno menghabiskan santap malamnya tanpa peduli perkataan Lisa.


Lisa yang marah pun turun dari kursi dan menghampiri Gilang dan Gio. "Kak, ayo keluar dulu. Kalian mulai pucat," ucap Lisa yang kemudian menarik tangan Gilang dan Gio untuk keluar cafe sejenak. Mereka tak menolak karena memang rasa pening di kepala sudah semakin mendesak kesadaran mereka.


"Dik, terima kasih, ya." Gilang mengusap kepala Lisa.


"Terima kasih untuk apa, Kak?" tanya Lisa dengan polos.


"Terima kasih sudah mengajak kita pergi dari sana sebelum kami pingsan," kata Gio yang kemudian tertawa.


"Iya, Kak. Kalian juga tak suka Tante Dinda, ya?" tanya Lisa.


"Bukannya tak suka, tapi ... Lisa indigo, ya?" Gilang berjongkok untuk menyamakan tinggi tubuhnya dengan Lisa.


"Indigo itu apa, Kak?"


"Lisa lihat kalau Tante Dinda punya tanduk dua?" tanya Gio mempermudah pertanyaan Gilang.


"Iya. Tante Dinda punya tanduk dua. Lisa nggak suka," kata gadis itu sambil cemberut.


"Iya, kami juga tak suka."


Mereka pun berbincang beberapa hal yang ringan untuk menggali informasi. Sedangkan di dalam cafe, Reno dan Dinda pun semakin akrab berbincang berdua.


Tiba-tiba ... Nindy yang hendak keluar cafe dengan Susan merasa panas karena melihat Reno dan Dinda berudaan. Tidak perlu waktu lama, Nindy langsung melabrak suaminya. Dia salah paham dan sudah terlanjur terbakar api cemburu.


"Papa! Oh, begini kalian, ya!" seru Nindy yang kemudian mengambil segelas minuman di hadapan Reno dan menyiramnya ke arah Reno dan Dinda.


"Mama? Apa-apaan ini? Jangan salah paham dulu." kata Reno yang tak enak hati dibuatnya.


Dinda pun marah dan menatap Nindy penuh dendam. "Kamu kenapa seenaknya nyiram!" gertak Dinda.


"Dasar pelakor tak tahu malu!" Nindy hampir menampar wajah Dinda. Reno justru mencegah dan memegang erat tangan Nindy hingga terasa sakit.


"Nindy, pulang sana! Kamu ini buat malu saja," bentak Reno pada istrinya. Terlihat pengunjung cafe melihat mereka seakan tontonan gratis.


Susan pun menarik tangan Nindy dan mengajaknya pulang terlebih dahulu. "Nin, pulang aja dulu."


Reno segera mengambil tisu untuk mengelap Dinda. Dinda tak mau dan memilih pergi. Reno pun bingung. Dia segera mencari Lisa di luar cafe setelah membayar makan malam mereka yang kacau.


"Lisa, ayo pulang." kata Reno menghampiri Lisa dengan dua pemuda tadi.


"Iya, Pa. Tante Dinda udah menghilang ya, Pa?" tanya Lisa dengan polos.


"Pergi karena marah. Tadi Mama juga kesini. Ayo pulang dulu," bujuk Reno yang kemudian mengajak Lisa berpanitan dengan Gio dan Gilang. Mereka pun berpisah dengan segala pemikiran masing-masing.


Dalam perjalanan pulang, Gio dan Gilang sudah tahu permasalahan yang terjadi. Mereka tidak bisa berbuat banyak karena makhluk itu sudah menyetorkan jiwa pengikut serta tumbalnya ke tuannya.


"Gio, kali ini risikonya tinggi. Makhluk tadi yang disebut iblis. Belum mampu kita melawan. Doakan saja kawanmu dan ibunya yang sudah meninggal agar tenang di sana," kata Gilang yang menerawang kemungkinan yang ada sangat tipis untuk menyelamatkan jiwa yang sudah diambil Dinda.


"Terus gimana?" tanya Gio sambil menatap kawannya.


"Ya, nggak gimana-gimana. Udah pulang aja sekarang. Kita tidur nyenyak dan besok kerja. Gitu aja," ucap Gilang sambil tertawa. Mereka pun pulang ke kontrakan.


"Aku harus gimana, ya?" gumam Gio.


Dia pun berdoa. Meminta petunjuk pada Sang Kuasa agar menunjukkan jalan baginya. Dia pun segera terlelap dalam alam mimpi yang telah menunghunya datang. Mimpi yang mengerikan. Gio bertemu dengan Lukas, Angel, dan Tante Fani. Bahkan, Bella dan Papa Lukas ada di sana. Gio sedih melihat mereka kesakitan dan meminta tolong. Namun, Gio bisa apa?


Sedangkan Gilang, dalam kamar dia langsung bersila dan mencari ketenangan untuk menembus penerawangan lebih lagi. Dia tahu bahwa banyak manusia yang tersesat dan mengikuti perjanjian dengan Iblis. Apa pun bentuknya, mereka akan berakhir dengan mengerikan. Gilang pun melihat jika anak kecil tadi akan berada dalam masalah. Lisa sedang dalam incaran makhluk gaib yang ingin menguasai tubuhnya.


Lisa yang masih kecil, belum paham apa yang dia miliki menjadi incaran makhluk gaib. Kemampuannya membuat Lisa diincar untuk dijadikan wadah untuk Iblis menjadi manusia sempurna dan bisa melukai banyak orang lagi. Gilang pun langsung tersadar dari penerawangannya. Hidung gilang berdarah.


"Kurang ajar! Kalau begini caranya, tetap harus melawan. Kasihan anak kecil itu. Dia belum paham apa-apa," gumam Gilang sambil mengelap darah yang mengalir dari hidungnya.


...****************...


Sepanjang perjalanan, Susan makin memprovokasi Nindy agar melakukan apa yang dia sarankan. "Udah, kedukun aja. Atau ke tempat cenayang yang ajakin aku buat perjanjian itu. Lihat buktinya, suamiku nggak berani selingkuh lagi. Karena tiap dia selingkuh, pacarnya langsung meninggal, dan aku dapat harta. Lumayan, kan?" kata Susan sambil menyetir mobil.


"Susan, aku mau ikutan seperti kamu. Bawa aku ke cenayang itu. Udah, aku nggak peduli lagi. Kalau Reno sampai selingkuh beneran biar aja pacarnya mati!" ucap Nindy yang penuh dengan emosi saat mebgambil keputusan.


Susan tersenyum penuh kemenangan. Dia pun membawa Nindy ke cenayang yang dimaksud. Sesungguhnya, dia bukan ingin melakukan hal yang sama untuk Nindy. Justru Susan ingin menyesatkan Nindy agar terpikat dengan lelaki iblis yang akan membayangi langkah Reno seperti yang dikatakan cenayang. Susan merencanakan itu untuk menghancurkan keluarga Nindy dan membuat bisnis Reno rubuh. Dia tak suka karena Reno membuat suaminya kalah dalam perjanjian bisnis dengan investor asing.


"Aku akan menghancurkanmu, Nindy. Kau dan keluargamu tak pantas menikmati semua kemewahan itu!" batin Susan dipenuhi rasa dendam.


Sifat jahat manusia yang pada akhirnya membinasakan orang lain. Membuat orang lain masuk dalam dosa dan kesalahan. Lantas, apakah JERAT IBLIS itu murni kesalahan penghuni neraka? Manusia ikut andil di dalamnya!


Sesampainya di tempat cenayang, Susan pun mengajak Nindy masuk. "Ayo, masuk!" ajak Susan pada kawannya.


"I-iya, Susan," jawab Nindy agak ragu.


"Susan, kau kembali dengan orang yang dahulu kau ceritakan?" ucap cenayang yang serba tahu membuat Nindy terkejut.


"Susan ... aku takut," bisik Nindy ke kawannya yang justru menatapnya dengan mata melotot.


"Duduk saja dulu, aku siapkan semuanya," kata cenayang sambil tersenyum mengerikan.


Nindy terlanjur di sana. Emosinya mendorong dia menjauh dari perintah agama dan memilih jalan sesat bersama hal gaib. Nindy tak tahu jika risiko yang diambil tak sepadan dengan apa yang akan dilakukannya.


Cenayang itu sudah melakukan perjanjian sebelumnya dengan Susan. Susan yang licik dan penuh intrik pun menjebak Nindy. Dia sudah memperkirakan semuanya.


Nindy pun mengikuti ritual dengan cenayang itu. Dengan bodohnya, dia melakukan perjanjian dengan iblis tanpa tahu apa yang dia sepakati. Dia hanya menginginkan suaminya setia dan tidak ada wanita yang bisa mendekatinya.


"Itu hal mudah. Zatan akan membantumu. Dia akan membuat suamimu terbayang-bayang dirimu selalu. Namun, kau harus memberinya darah dan melayaninya setiap purnama. Atau ... kau harus mencari pengganti wanita yang akan melayani Zatan." kata cenayang itu setelah menyelesaikan ritual.


"Apa? Da-darah? Me-melayani? Bisakah syarat lain?" ucap Nindy yang kebingungan dan takut.


"Ada. Nyawamu!" sahut Susan yang sebal dengan Nindy. Dia akhirnya bebas dari Zatan karena bisa mencari pengganti. Dia bisa menikmati harta dari kematian setiap pacar suaminya. Lalu, kini Nindy yang harus menanggung semua itu.


"Jangan bunuh aku. Lisa masih kecil. Dia butuh aku. Aku juga mencintai Reno." ucap Nindy yang takut.


"Kalau begitu, jalankan saja peraturannya!" gertak cenayang dan Susan bersamaan.


Nindy hanya bisa terdiam karena tahu dia dalam masalah besar jika melawan. Dia pun berpamit dan membayar cenayang itu. Lalu pulang bersama Susan.


Malam itu, Nindy diantar Susan pulang sekitar tengah malam sampai rumah. Reno sudah tidur di kamar Lisa. Memeluk buah cinta mereka. Nindy pun masuk ke kamar dan mandi. Menyegarkan tubuhnya dengan air hangat, lalu segera mengenakan pakaian tidur. Dia merebahkan tubuh di ranjang yang empuk dan membayangkan masa-masa yang dia lewati bersama Reno.


"Aku mencintaimu, Reno," lirih Nindy menatap langit-langit.


"Benarkah? Kalau cinta, kenapa mengikat perjanjian denganku?" Suara misterius membuat Nindy terkejut dan menoleh ke samping.


Betapa Nindy ketakutan. Zatan, iblis dari neraka lapis keenam, anak buah dari Tuan Asmodeus yang menguasai dosa hawa nafsu, sudah berada di samping Nindy dengan seringai menakutkan.


"Aaaaa!" teriak Nindy kemudian pingsan. Semua gelap. Dia tak sadarkan diri.


"Ini baru awal jumpa. Tenang saja," lirih Zatan sambil mengelus Nindy dan kemudian menghilang ketika Reno datang.


"Nindy ... ada apa, Nindy?" Reno mencoba mengguncang tubuh Nindy yang lemas karena tak sadarkan diri. Reno tak tahu jika kali ini, JERAT IBLIS mencengkeram hidupnya dan keluarganya.