
Ningsih mulai mundur dari tempat duduknya semula, "Jangan berpikir macam-macam Bendot. Bima tahu aku di sini."
"Hahahaha.... mana mungkin aku macam-macam. Maaf, aku hanya menggodamu saja. Oke begini, jual rumahmu di Kudus segera. Aku akan siapkan semuanya di Jakarta dan Yogyakarta. Urusan Satria, sudah ditangani Bima," jelasnya sambil tertawa.
"Syukurlah .... Lantas, kenapa aku harus ke sini menemuimu?" selidikku pada lelaki yang seharusnya sudah tua ini.
"Kamu harus menerima sesuatu untuk menjagamu. Aku pun begitu. Jika tidak, pasti sudah menua dan mudah dibunuh oleh musuh-musuhku," jawab Bendot sambil tertawa penuh percaya diri.
"Menerima apa?" tanya Ningsih yang masih mencerna perkataan Bendot.
"Ini kuberikan separuh milikku."
Bendot memegang tangan Ningsih. Dia mengalirkan sesuatu dalam dirinya ke wanita di hadapannya. Ningsih terkejut menerima suatu yang belum pernah dia rasakan.
"Kekuatan apa ini, Bima?' batin Ningsih berkomunikasi dengan suaminya.
"AKU PERNAH MENYELAMATKAN LELAKI TUA ITU SAAT MASIH KECIL. DIA MENDAPAT SEDIKIT KEKUATANKU DAN MENDAPATKAN FISIK YANG KUAT SERTA BEBERAPA KEMAMPUAN LEBIH. INI SAATNYA DIA MENGEMBALIKAN PADAKU. TERIMALAH NINGSIH. KAU BERHAK HIDUP BERSANDING DENGANKU" jawab Bima dengan suara yang menggelegar.
"Benar kata Bima. Kukembalikan semuanya. Waktuku tak lama lagi di dunia ini. Namun, semua akan kutepati untuk melindungi istri Bima yang berharga," lirih Bendot yang mulai melemas, kehilangan tenaganya.
"Ka... kamu bisa mendengar suara Bima? Kenapa tubuhku terasa panas?"
Bendot hanya tersenyum. Dia melepas tangan Ningsih, "Sudah selesai. Pulanglah."
"Tapi... bagaimana denganmu?"
"PULANGLAH! Setelah ini ikuti semua kata-kataku. Aku akan mengirimkan pesan ke nomermu apa yang harus kau lakukan selanjutnya. Sekarang, pergilah."
Ningsih pun mengangguk. Dia pergi meninggalkan Bendot yang memegang dada dan terbatuk-batuk.
Ningsih melangkah pergi dari rumah Bendot. Lalu dia membuka pintu mobil dengan tangan gemetar.
"Tante baik-baik saja?" tanya Santi melihat wajah Ningsih yang memerah dan tangannya yang gemetar.
"Santi bisakah kamu menyetir mobilnya? Tante merasa tak enak badan," lirih Ningsih.
"Ya, Tante. Tante duduk di sini saja."
Santi keluar dari mobil, mempersilahkan Ningsih duduk di kursi samping. Dia bergegas pindah dan melaju dengan kecepatan sedang kembali ke Salatiga.
"San... Kenapa rasanya panas dingin begini?"
"Emang apa yang Tante makan atau minum tadi?"
"Nggak ada San... Tante tidur dulu ya," bisik Ningsih dengan suara yang makin samar sambil menurunkan sandaran kursi untuk berbaring.
"Ya, Tante. Istirahat dulu..."
Santi terlihat khawatir dengan sahabat ibunya. Namun rasa penasaran dan curiga juga hinggap di benaknya.
****
"Dokter.... Pasien atas nama Satria menghilang dari ruang ICU," kata suster dan beberapa petugas medis yang mulai panik.
"Apa? Keadaannya koma. Tak mungkin jika pergi."
"Kami sedang cek ke bagian keamanan dan melihat CCTV yang ada, Dok."
"Lantas apa kata security?"
Keadaan rumah sakit menjadi ramai karena hilangnya pasien ICU secara tiba-tiba. Satria yang sedang menjalani perawatan intensif, didatangi oleh Bima dengan wujud aslinya.
Dia mengambil Satria karena sudah menikahi dab meniduri Ningsih sebagaimana perjanjian terkutuk itu dijalankan. Bima mendapatkan kekuatan besar.
Pada waktu yang sama....
Hotel dan Resto milik Satria mengalami kebakaran. Menggemparkan searea Semarang. Termasuk salah satu kebakaran terbesar dalam beberapa waktu ini. Semua ludes terbakar dan hancur hingga puing-puing saja yang selamat. Padahal petugas pemadam kebakaran sudah berusaha semaksimal mungkin menghalau api. Namun seperti disiram bensin, api itu justru makin besar dan menghabiskan gedung megah itu.
Semua kekayaan, keluarga, kenangan, dan hal yang berkaitan dengan Sugeng dan Satria seketika hilang. Bima dengan mudah melenyapkan musuhnya.
Iblis memang kejam dan jahat, lantas manusia macam apa Sugeng dan Satria itu? Bahkan neraka pun sudah berpesta menyambut kedatangan dua orang itu. Bima melemparkan mereka ke dalam gelapnya Neraka.
Ningsih masih belum sadar perbuatannya membawa dampak yang besar bagi semua orang yang berurusan dengannya. Bima terlihat baik untuknya, tapi bukan untuk orang lain.
****
Seminggu kemudian....
"Silahkan, Nyonya. Ini kunci rumah Anda," kata lelaki berjas biru tua itu.
"Baik. Kerja yang memuaskan. Terima kasih," jawab Ningsih sambil membuka pintu rumah barunya.
Kehidupan baru didapatkannya dengan mudah. Bendot berkata benar! Jakarta adalah pilihan terbaik untuk memulai bisnis serta kehidupan baru. Ningsih yang sekarang berbeda dengan yang dahulu.
Bima sangat baik. Memberi Ningsih kelebihan untuk membaca pikiran dan fisik yang lebih kuat. Dia sadar betul bisnis di Jakarta akan lebih rumit dan penuh intrik. Janda beranak satu ini sudah siap menghadapinya.
"Nyonya, apa langkah selanjutnya?" tanya kaki tangan Ningsih.
"Tempat yang kemarin kulihat, jadikan toko fashion. Aku sudah menghubungi pihak terkait. Semua ada didata ini," jawab Ningsih sambil menyerahkan beberapa berkas yang harus dikerjakan Purna.
Purna adalah kaki tangan Bendot. Orang kepercayaan yang bisa diandalkan. Bendot memberikan segala kemudahan untuk Ningsih memulai hidup baru.
"Mak Sri..."
"Ya, Bu."
"Apa Mak Sri ada kenalan untuk bekerja di sini? Aku butuh tenaga bantuan, sopir pribadi dan tukang kebun. Kalau kebersihan rumah, nanti ada yang datang dua hari sekali membersihkan hanya beberapa jam agar Mak Sri tidak keberatan tugas," jelas Ningsih.
"Nanti saya kabari ya, Bu. Keponakan saya ada yang mencari pekerjaan. Terima kasih banyak, Bu sudah memikirkan saya."
"Mak Sri nggak perlu sungkan. Aku sudah percaya dengan Mak Sri seperti keluarga sendiri. Oiya Wahyu sangat senang dengan rumah baru ini. Mak Sri ajak dia memilih kamar ya."
"Baik, Bu."
Ningsih pun berlalu menuju kamar khusus yang dia siapkan sebelumnya. Masuk ke kamar bernuansa putih itu. Lalu menghempaskan tubuhnya ke ranjang yang dipenuhi bunga mawar.
"Ah, Bima... kamu tahu mawar adalah kesukaanku. Terima kasih."
Ningsih menghirup wangi mawar yang dipegangnya. Merasa semua sudah usai. Tak ada permasalahan lagi. Santi dan Reno juga kembali ke Yogyakarta dengan aman.
Semua kejadian tragis Satria dan Sugeng tertutup public. Bahkan puing-puing sisa kebakaran itu saat ini sudah diratakan. Rencana akan dibuat taman kota karena pemilih bangunan menghilang serta tak ada pewaris yang ditunjuk.
Ningsih tersenyum puas. Manusia yang merasa berada di puncak kejayaan dengan mudah dia hancurkan. Tentunya suami tercinta selalu membantu. Bima, sang Iblis yang Ningsih cintai. Bahkan waktu yang bergulir dan segala hal yang terjadi membuatnya semakin mencintai Bima. Bukan hanya demi uang dan harta. Tetapi lebih ke personal dan hati.
Akankah semua berjalan sesuai harapan Ningsih? Hidup tenang dan bahagia di Jakarta. Menjadi pengusaha sukses dan tidak menikah lagi dengan manusia.
Bersambung....