
...🔥Dunia Bawah Sadar🔥...
Ningsih merasa tubuhnya ringan melayang tanpa arah. Dia berada di dunia bawah sadar. Terasa banyak suara bersautan tak tentu arah. Ningsih membuka mata dan terkejut melihat dunia yang berbeda.
"A-aku di mana?" gumamnya ketakutan.
Suara berbisik itu semakin terdengar jelas dan dari segala arah. Seakan ingin membuat Ningsih semakin ragu dan bingung.
"Ningsih ...."
"Ke sini ... lewat sini, Ningsih ...."
"Mama ... ke sini ...."
"Ningsih ... Ningsih ...."
Karena ketakutan, Ningsih pun menutup telinganya dan berteriak. "Jangan ganggu aku! Bima ... Alex ... apakah ada kalian di sini? Tolong!" seru Ningsuh sambil memejamkan matanya.
Tak selang beberapa lama, suara berbisik itu tak terdengar kembali. Saat Ningsih tertunduk ketakutan sambil menutup kedua telinganya, ada sosok di hadapannya. Berdiri dan mengulurkan tangannya. Terdengar suara yang tak asing lagi di telinga. Ningsih segera melepaskan tangannya dari telinga, lalu mendongak ke arah suara itu.
"Ningsih ... berdirilah ... jangan takut. Aku di sini."
Ningsih seakan tak percaya apa yang dilihat dengan kedua matanya. "Bi-Bima? Bima? I-itukah kau?" tanya Ningsih dengan terbata.
Sosok itu tersenyum manis. Seperti saat terakhir mereka berjumpa. Senyumannya masih sama, hanya saja pakaian dan gundukan otot di lengannya bertambah kekar. "Iya. Ini aku, Bima. Berdirilah."
Bima langsung menarik tangan istrinya dan membuatnya berdiri tegap dan berhadapan. Tubuh kekar itu segera memeluk kekasih hatinya. "Ningsih ... aku senang dan sedih. Senang bisa melihatmu lagi dan sedih mengetahui kau ada di sini," bisik Bima menahan tangis.
Ningsih tak bisa berkata apa-apa. Dia sangat senang melihat suaminya berada di hadapannya bahkan saat ini memeluk erat tubuhnya. Bukan hal mimpi, ini semua terjadi di dunia bawah sadar. Saat tubuh Ningsih terbaring lemah di meja operasi dan kemudian belum sadar, saat itu roh Ningsih berada di dunia bawah sadar.
Bima mengetahui hal itu saat Ningsih tertusuk. Jelas saja hal itu membuat Bima dan Alex meminta kebijakan dari Penguasa Neraka untuk menolong. Namun, karena kejadian begitu cepat dan makhluk hitam yang membuat onar sudah dimusnahkan oleh Wahyu, Tuan Lucifer mengizinkan Bima dan Alex membantu Ningsih keluar dari dunia bawah sadar agar segera terbangun dari koma.
"Sesuai janjiku, aku akan menjamin kehidupan keluargamu. Ningsih tidak akan mati saat ini. Selamatkan dia. Dia masih bisa kembali ke tubuhnya dengan bantuanmu dan Alex." Begitulah perintah dari Tuan Lucifer Sang Penguasa Neraka yang jauh lebih bijaksana daripada para panglima neraka di lapisan bagian neraka.
Bima dan Alex langsung menyusul di mana Ningsih berada. Ya, seperti saat ini Bima sudah memeluk istrinya dengan erat. Alex pun terenyuh. Akhirnya bisa melihat ibu yang sangat dia rindukan. Meski hanya sekejab saja.
"Mama ...." lirih Alex membuat Ningsih melepaskan pelukkan dari tubuh Bima. Lalu melihat ke arah anaknya.
"Alex sayang! Mama sangat rindu!" seru Ningsih yang kemudian memeluk tubuh anaknya yang berhambur ke arahnya.
Satu sisi, mereka bersedih karena Ningsih berada di tempat yang tal seharusnya. Satu sisi yang lain, mereka bersyukur karena bisa bertemu dan berkumpul lagi meski tak bisa lama.
"Ningsih, kau akan segera bangun. Kami akan membawamu kembali ke dunia manusia," kata Bima mengikuti perintah Penguasa Neraka.
"Ti-tidak ... kita baru saja bertemu, Bima. Aku tak ingin kembali sekarang," tolak Ningsih pada tawaran suaminya.
"Ningsih, jangan seperti itu. Ini hal yang terbaik untukmu. Aku juga merindukanmu, tetapi saat ini kamu masih hidup dan harus kembali ke sana. Wahyu pasti khawatir dengan kondisimu," jelas Bima pada istrinya secara logika.
Ningsih tertunduk perlahan. Meski dia masih ingin bersama Bima dan Alex, tetapi memang tak bisa dipungkiri mereka berbeda dunia dan tak mungkin bersama lagi. Membayangkan Wahyu yabg pasti sedih dan khawatir membuat Ningsih bimbang. Jika dia berlama-lama di dunia bawah sadar, bisa-bisa Wahyu makin bersedih.
"Mama ... Alex memang rindu dengan Mama. Kadang Alex datang ke rumah hanya untuk melihat Mama. Mama jangan bersedih lagi. Kami baik-baik saja di sini," kata Alex agar ibunya tidak khawatir.
Ningsih pun tersenyum menatap anak bungsunya itu. Lalu matanya terarah kembali pada suami gaib yang selama ini menyiksa batinnya. "Bi-Bima ... aku ingin kuta bersama lebih lama jika bisa." Ningsih meraba wajah suaminya. Masih teringat dengan jelas hal terakhir yang mereka lakukan untuk menghabiskan waktu bersama.
"Sayang, aku selalu ada di hatimu. Aku bangga kau sudah melakukan nasehat terakhirku. Aku bangga dengan perubahanmu saat ini. Aku mengamatimu dari jauh seperti kamu menatapku saat langit malam penuh bintang," ujar Bima sambil bergantian mengelus wajah istrinya.
"Iya. Kita menatap langit dan bintang yang sama. Meski beda dimensi, aku selalu melihatmu. Jadi, jangan bersedih lagi. Aku menyayangimu, Ningsih." Bima pun mengecup mesra bibir istrinya yang sudah lama tak lagi dia sesap.
Alex tersenyum, lalu melihat ke arah lain seakan tak mau mengganggu kemesraan kedua orang tuanya yang sudah berbulan-bulan terpisah.
Bima dan Ningsih berpagut mesra. Seakan menyesap madu cinta yang terpisah beberapa bulan. Mereka saling memeluk erat dan seakan tak ingin berpisah. Setelah cukup lama saling bertukar perasaan dengan belitan lidah, mereka pun terhenti. Bima menatap mata Ningsih dengan dalam.
Apa yang mereka rasakan, apa yang mereka alami, menyita banyak waktu di dunia nyata. Mungkin di dunia bawah sadar hanya satu jam, tetapi di dunia nyata bisa satu minggu lamanya. Tubuh Ningsih yang koma masih dijaga oleh Wahyu tanpa henti berdoa.
...🎶 Banyak kata ... yang tak mampu kuucapkan kepada dirimu .......
...Aku ingin engkau s'lalu hadir dan temani aku ... disetiap langkah yang meyakiniku, kau tercipta untukku .......
...Meski waktu akan mampu ... mengambil s'luruh ragaku .......
...Kuingin kau tahu ... kus'lalu milikmu dan mencintaimu ... s'panjang hidupku .......
...Sungguh hanyalah dirimu yang aku cintai ... dan sungguh, hanyalah dirimu hingga kumati ....🎶...
Bima dan Ningsih saling mengerti dalam tatapan. Meski mereka tak ingin berpisah, tetap saja takdir berkata berbeda. Ningsih yang harusnya meninggal, mendapat kesempatan hidup kembali dan bangun dari koma. Bima dan Alex mau tak mau harus mengikhlaskan Ningsih kembali ke tubuhnya sebelum waktu semakin habis. Ya, dunia bawah sadar dengan dunia nyata memiliki rentang waktu yang berbeda.
"Ningsih, aku dan Alex akan mengantarmu kembali ke tubuhmu. Wahyu sudah menunggu di sana dan tak berhenti berdoa. Jaga dia baik-baik. Aku juga akan menjaga Alex sebaik mungkin. Kami mencintaimu," kata Bima melepaskan pelukkannya.
Alex dan Bima pun membawa Ningsih ke alam manusia. Tepat saat sampai di tubuh Ningsih yang tergeletak tak berdaya dengan selang dan alat medis menempel di hidung, tangan, dan juga dada. Melihat kondisi istrinya koma, Bima pun tak berdaya. Tetap harus merelakannya pulang.
"Bi-Bima ... Alex ...." lirih Ningsih yang masih ragu-ragu.
"Dah, Mama. Kami menyayangimu. Titip salam untuk Kak Wahyu."
"Sampai jumpa Ningsih. Kami mencintaimu." Bima dan Alex pun menghilang bersamaan dengan Ningsih masuk ke tubuhnya.
Tit ... tit ... tit .... (Suara alat denyut jantung mulai meninggi)
Wahyu terbangun dan melihat kondisi ibunya yang mulai membuka mata. "Ma ... Mama?" Wahyu langsung berlari keluar dari kamar ICU dan mencari dokter atau perawat yang berjaga malam.
"Dokter! Suster! Mamaku sadar. Di ruang ICU tiga. Tolong segera cek Mamaku," seru Wahyu dengan penuh harap. Setelah seminggu Ningsih tak sadarkan diri di dunia manusia, akhirnya Wahyu sangat senang melihat ibunya sadar.
Setelah dokter dan perawat masuk ke ruang ICU dsn membantu segalanya terkait Ningsih sadar dari koma seminggu lamanya, akhirnya dokter keluar dan memberi selamat pada Wahyu. "Selamat, Nak. Ibumu sudah melewati masa kritis dan koma. Kondisinya akan segera membaik. Kami akan lakukan pengamatan dan observasi secara rutin, jika sudah memungkinkan akan dipindah ke bangsal rawat inap biasa. Terima kasih," jelas Dokter yang kemudian pergi.
Wahyu langsung masuk kembali ke ruangan. "Mama ... akhirnya Mama sadar. Alhamdulilah ya Allah," gumam Wahyu yang kemudian langsung bersujud sembah syukur kepada Sang Pencipta karena ibunya sudah selamat dari koma selama seminggu.
Hanya Wahyu yang selalu menemani ibunya saat kritis. Gio sibuk mengurus kesembuhan Gilang. Sedangkan Reno akhirnya menggantikan Nindy untuk menjalani hukuman karena terbukti menusuk Ningsih secara sengaja. Nindy masih dirawat di bangsal rawat inap dengan luka cukup serius. Patah tulang di tangan kiri, kaki, dan luka berat di kepala serta tangan kanan. Nindy sungguh terpuruk. Suaminya harus menanggung akibat tangan kotornya. Selama di rumah sakit hanya Bibi dan Lisa serta Pak Sopir yang menemani Nindy.
Reno berkorban untuk istrinya tercinta. Penyelidikan dan hukuman, semua Reno jalani dengan ikhlas. Meski dari pihak Ningsih, Wahyu tidak menuntut, polisi tetap menahan Reno sebagai penjamin Nindy sampai Ningsih bangun dan memutuskan akan menuntut atau tidak.
"Wa-Wahyu ... ba-bagaimana kondisi Nindy?" lirih Ningsih yang susah payah berucap karena lidahnya kelu dan sulit digunakan.
"Mama tenang dulu. Terpenting Mama sehat. Kak Nindy baik-baik saja," ucap Wahyu menenangkan ibunya meski dia tahu Nindy seperti orang stress dan tertekan karena kejadian ini.
Bagaimana mungkin dia mampu menjalani hidup sebagai tersangka penusukan berencana? Nindy tiga hari yang lalu hendak mengakhiri hidupnya, tetapi gagal karena ada perawat yang bertugas keliling melihatnya mendorong kursi roda ke arah balkon. Mulai saat itu, Reno memerintahkan Bibi dua puluh empat jam menjaga Nindy. Dia takut jika Nindy mengulangi perbuatannya yang sudah putus asa. Bagaimanapun, Reno tetap mencintai istrinya. Dia berkorban menyelamatakan istrinya dari hukuman penjara sementara penyelidikan berlangsung.
...****************...
...Jangan lupa baca karya Author Rens09 berjudul The Hunter (Gambar Lee Min Ho) khusus untuk DEWASA ya karena 21++ ada adegan hot dan bunuh-bunuhan. Terima kasih^^...