
Rumah sakit terlihat ramai. Pasien dan petugas medis terlihat keluar masuk di lorong panjang. Terlebih di ruang ICU. Pasien yang koma panjang akhirnya ada respon kehidupan.
Sugeng menggerakkan jari jemarinya. Dia mulai tersadar dari koma panjangnya.
"Dokter, pasien atas nama Tuan Sugeng sudah ada respon," ucap suster.
"Baik. Mari kita cek kondisinya," jawab dokter menuju ke ruang ICU.
"A... aku dimana?" Sugeng bingung melihat kondisi di kamar ICU.
Tangannya masih diinfus. Beberapa peralatan medis masih terpasang di tubuhnya.
"Tenang, Tuan Sugeng. Anda berada di ICU selama beberapa waktu ini. Saat ini Anda akan diperiksa menyeluruh," jelas dokter.
Sugeng menjalani pemeriksaan. Setelah kondisinya membaik, Sugeng pindah ke bangsal biasa. Dua hari di sana, dia sudah mendapatkan informasi selama dia koma.
Kondisinya jauh lebih baik meski luka bakar di seluruh tubuhnya permanen, sudah menjadi aib yang tak bisa dihilangkan. Dia geram ketika mengetahui Satria terluka parah, terkapar di ICU sejak operasi patah tulang dua hari yang lalu.
"Kepar*t! Wanita iblis itu harus kubunuh segera! Anakku terlalu bodoh menganggapnya tak berbahaya," geram Sugeng.
Sugeng memang selalu menjaga image di depan publik. Namun, sesungguhnya dia seorang lelaki breng*ek dan kejam. Dia tak segan-segan memusnahkan orang yang membuat hidupnya terganggu. Entah lelaki atau perempuan, jika membuatnya tak suka, pasti segera dibereskan. Dia selalu berlaku seperti malaikat di depan banyak orang, dan berubah menjadi iblis nan kejam di balik mereka.
Sugeng bergegas pergi dari rumah sakit setelah dokter mengijinkannya pulang. Tak lupa dia menyuruh kaki tangannya membereskan semua administrasi, serta dia menghubungi beberapa orang suruhannya.
"Kalian tahu di mana wanita itu?"
"Kami tidak tahu, Bos. Dia lari dengan sebuah mobil sebelum Tuan Satria terjatuh dari balkon."
"Kalian tidak menahannya? Siapa pelakunya?"
"Polisi tidak menemukan jejak apa pun. Jadi untuk sementara kasus ini diangkap percobaan bunuh diri."
"Anj*ng! Mana mungkin anakku bunuh diri! Ini pasti perbuatan Iblis itu!"
"Maaf, Bos."
Sugeng mengepalkan kedua tangannya dan bersumpah dalam hati akan menghabisi nyawa Ningsih. Dia memberi tugas kepada suruhannya untuk mencari wanita itu dan mencelakainya.
"Bagi yang berhasil membunuh wanita Iblis itu akan kuberi imbalan besar, seratus juta rupiah. Sebarkan info itu!" gertak Sugeng pada bawahannya.
"Baik, Bos!"
Hal itu membuat semua penjahat kota dan pembunuh bayaran berlomba mencari keberadaan Ningsih. Tentu saja tak disadari oleh Ningsih jika nyawanya terancam.
****
"Mama.... mama.... Bangun, Ma...." Anak balita itu mencoba membangunkan ibunya yang pingsan.
Seketika banyak orang menghampiri mobil Ningsih dan membuka pintu untuk menolong. Wahyu sangat ketakutan melihat keramaian.
Ningsih pun tersadar saat mendengar jerit anak semata wayangnya.
"Jangan! Nggak boleh bawa Mamaku!"
Ningsih membuka mata. Dia digendong seorang tak dikenal. Sesaat sebelum dia hendak dimasukkan ke mobil, Ningsih meronta.
"Tolong! Tolong!"
Warga yang dengar pun berlari ke arah Ningsih. Orang misterius yang menggendong Ningsih pun panik dan melepaskannya. Lantas mobil Van itu pun menerobos keramaian jalan dan pergi.
"Bu, Anda tidak apa-apa?"
"Piye, nggak opo-opo kah?"
"Ada apa ini? Hampir diculik ya?"
Suara orang bersahutan membuat Ningsih pusing dan bingung. Dia berjalan tertatih ke arah anaknya di mobil. Tak berani menengok ke belakang tempat orang-orang korban kecelakaan sedang dikerumuni warga sekitar dan polisi serta ambulance mulai berdatangan.
"Nak, kamu nggak apa kan?" Ningsih mengulurkan tangan ke putranya.
Tangis pun terdengar. Putranya sangat ketakutan. Ningsih sadar betul ada hal tak beres di sini. Dia memutuskan segera ke Salatiga. Dia mengambil tas dan barang berharga miliknya. Lalu meninggalkan mobil, yang entah milik siapa, berlalu mencari taksi.
'Bima.... Kamu dimana? Mengapa seperti ini? Bantu aku....' batin Ningsih mencoba menghubungi Bima dan lagi-lagi tak ada jawaban.
"Ma... kenapa mobilnya ditinggal?"
"Sayang, itu bukan mobil kita. Kita naik taksi saja ya."
Ningsih menggendong putranya dan melambaikan tangan ke arah taksi yang melaju lambat. Taksi berhenti. Ningsih segera masuk.
"Pak, ke Salatiga ya," jelas Ningsih.
"Baik, Nyonya Satria," ucap pengemudi yang langsung mengunci pintu taksi.
Ningsih terkejut melihat pantulan wajah lelaki yang menggunakan topi itu. Keluar dari mulut singa masuk dalam mulut buaya. Ningsih dalam keadaan bahaya, lagi!