
π KETAKUTAN π
Ningsih mengajak keluarganya pindah ke Pantai Depok saja. Tak ada yang mempermasalahkan itu kecuali Reno. Saat Ningsih melihat kerumunan orang di Pantai Parangtritis, tak sengaja Reno melihat kalau ada seorang lelaki mirip dengan Lee atau justru malah Lee si orang Singapura yang mengejar-ngejar Ningsih dan sempat membuat Reno cemburu.
Sesampainya di Pantai Depok pun gelagat Tante Ningsih makin mencurigakan bagi Reno. Seperti was-was atau khawatir. Reno pun mendekati tantenya yang duduk sendiri sambil melihat Wahyu bermain di pasir pantai.
"Tante ... ada masalah apa?"
"Oh, Reno, nggak ada apa-apa kok. Gimana?" Ningsih masih mencoba menutupi dengan senyum di wajahnya. Tapi Reno tak mudah dibodohi terlebih dia sudah melihat Lee di pantai tadi.
"Tante musuhan sama Om Lee? Kok tadi lihat di Parangtritis malah menghindar?" selidik Reno yang belum tahu Lee meninggal.
"A ... apa maksudmu? Reno lihat juga?"
"Ya lihat dong! Cowok itu nyebelin, bikin Tante pergi seminggu dan ninggalin aku yang panas hati. Ada apa denganya, Tan? Kok Tante jadi pucat gitu?" Rasa penasaran semakin mengganggu pikiran Reno.
"Reno ... kalau Tante cerita si Lee udah meninggal beberapa waktu lalu pas Tante akhirnya pulang ke Indonesia, kamu percaya nggak? Terus orang yang tadi di Pantai mirip banget sama Lee. Otomatis Tante bingung, 'kan?" bisik Ningsib bercerita sambil menengok kanan kiri memastikan tak ada yang curi dengar.
"Hah? Serius Tante? Meninggal karena apa?"
"Bunuh diri ... ya kali itu orang mirip. Tapi misal itu Lee sungguhan, emang ada mayat hidup? Tadi lihat orang itu, Tante langsung merinding. Takut." jelas Ningsih pada Reno yang menyimak dengan serius.
"Wah, kalau gitu ceritanya. Mending ayo ke sana kita pastikan dia Lee beneran atau bukan. Reno jadi penasaran juga. Ayo Tante kita lihat ke sana," ajak Reno dengan semangat kepada Tantenya.
"Apaan sih? Dah dibilang Tante takut kok. Habis makan pulang aja ya. Atau main ke mana gitu jangan di pantai. Iya kalau itu cuma orang mirip, kalau Lee beneran? Serem!"
"Hla Tante itu aneh banget. Kalau nggak yakin mending tengok aja sama Reno. Daripada takut sama hal yang nggak pasti, iya kan?"
Ningsih pun termangu, diam sejenak. Antara penasaran dan takut jika kenyataan Lee asli. Apakah Bima tidak jadi membunuhnya? Ningsih pun berusaha berkomunikasi dengan Bima dalam hati, "Bima ... Bima ... apakah Lee sudah mati? Tadi aku melihatnya di Pantai Parangtritis. Siapakah dia? Aku takut."
Belum ada jawaban dari Bima, Ningsih pun meminta Reno merahasiakan hal ini. "Reno, jangan ember lagi ya. Kamu simpan saja cerita ini. Tante nggak mau Bapak Ibu tambah beban pikiran."
Reno pun mengangguk. "Sebenernya Reno nggak ember, cuma aneh aja soal Om Bima kenapa Uti Kakung nggak tahu? Tante, orang tua itu terpenting. Kalau ada apa-apa mending cerita dulu. Yaudah Reno mau pesan makan siang untuk kita. Tante nggak usah takut andai kata itu Lee beneran, Reno siap nonjok mukanya. Enak aja main pura-pura mati biar Tanteku pulang Indo!" kata Reno sambil mengepalkan tangan.
Ningsih hanya tersenyum. Reno tak tahu yang sebenarnya terjadi dan Ningsih pun tak bisa menceritakannya. Reno pun masuk ke salah satu tempat makan di pinggir pantai. Memesan semua menu yang ada untuk makan siang bersama.
Seketika Ningsih terkejut melihat dua orang yang dikenalnya mendekat. "Bima! Dinda!"
Kakak beradik itu tersenyum menatap Ningsih. Tangan Bima terbuka saat Ningsih berdiri dan berlari ke arahnya. Sebuah pelukan hangat membuat keresahan hati Ningsih hilang seketika.
"Dari mana aja sih? Aku panggil nggak jawab malah tahu-tahu ke sini," ucap Ningsih kesal kepada suami gaibnya. Tangan Ningsih mencubit perut berotot milik Bima.
"Aw ... sakit, sayang. Kamu lupa ya dengan tubuh seperti ini aku bisa merasakan sakit," kata Bima kaget dicubit Ningsih.
"Sebel sih ... oiya, Dinda welcome yaa ... itu dicari Reno."
"Iya Kak. Nih suamimu yang super iseng tolong dijewer ya. Nggak bisa lihat adiknya seneng, main ganggu aja. Yaudah aku ke sana dulu biar kalian bisa menikmati pantai dengan mesra. Bye," cicit Dinda dengan sedikit manyun lalu berlari kecil ke arah Reno memesan makanan.
Bima yang masih memeluk Ningsih pun mengusap kepala istrinya, "Nggak usah takut. Ada aku di sini. Iya, dia Lee tapi bukan asli. Saingan Tuan Chernobog memanfaatkan Lily untuk membangkitkan salah satu kaumnya dari Neraka. Nah, wujudnya serupa Lee karena Lily menginginkan Lee bangkit lagi."
Ningsih mendongakan wajahnya ke arah suaminya yang berbicara. Dia pun makin penasaran, "Lily jadi abdi Iblis? Terus kenapa saingan Tuanmu ikut-ikutan ke dunia? Terus Lee palsu itu tahu tentanggku nggak?"
Bima ******* bibir merah Ningsih dengan perlahan lalu mulai menggigit bagian bawah bibirnya. Menghentikan semua pertanyaan Ningsih, kecupan itu membuat Ningsih makin merindukan sentuhan Bima. Lalu Ningsih teringat orang tuanya, "Bim ... enough. Berhenti dulu. Ada orang tuaku kan di sana. Takut lihat. Malu kan."
Bima melepaskan tautan bibirnya. Lalu tersenyum melihat Ningsih yang pipinya memerah. "Iya, sayang. Aku lupa kalau ini di pantai. Kita kan kalau bertemu di kamar terus. Ha ha ha," ledek Bima membuat Ningsih makin malu.
"Awas ya ... aku mau mogok kasih itu kalau nakal ngledekin mulu. Dah Bim jelasin soal Lee dong. Aku penasaran, mumpung lainnya belom balik ke sini masih main pasir and air laut," pinta Ningsih.
Bima pun mengajak Ningsih berjalan ke arah yang sepi sambil menceritakan soal Lee. Tangan Bima menggenggam erat tangan Ningsih.
"Begini, aku mempunyai musuh di Neraka. Evan, namanya. Mengabdikan diri pada Asmodeus Sang Penguasa hawa nafsu yang berada di Neraka Lapis Enam. Tuanku Chernobog sudah sejak lama berlomba mengumpulkan jiwa orang berdosa demi memenuhi kuota dan memperlebar Neraka Lapis Tujuh. Oleh sebab itu persaingan mereka semakin sengit. Sepertinya Asmodeus sudah mempengaruhi Lily yang sejak awal menaruh hati pada Lee. Dia sakit hati karena Lee menikahimu. Hal itu yang dimanfaatkan Asmodeus mengelabui Lily agar mau mengabdikan diri dan membawa jiwa berdosa lainnya untuk membangkitkan Lee palsu. Lily tak tahu jika lelaki yang bersamanya adalah Evan yang sama sepertiku."
Bima berhenti saat di bibir gua, "Di sini, manusia banyak memuja. Mereka yang bersemayam tak ingin aku masuk gua. Kita jalan ke tepi pantai lagi saja."
Mereka memutar arah jalan. Lalu Bima melanjutkan cerita karena Ningsih menyimak dengan baik seperti anak kecil yang dibacakan dongeng.
"Jadi Lee jejadian itu bersama Lily membantu Asmodeus mengumpulkan jiwa manusia yang terjerat hawa nafsu. Hal ini termasuk mengibarkan bendera perang pada Tuanku Chernobog. Oleh sebab itu aku datang untuk menemani dan melindungimu, Ningsih."
Ningsih pun bertanya, "Apa hubungannya denganku, Bima?"
Bima menatap Ningsih dengan tajam, "Asmodeus menginginkanmu. Aura dosamu sangat menyengat dan menggairahkan bagi bangsa iblis. Asmodeus ingin mendapatkanmu. Namun dia tak bisa secara langsung mengambilmu kecuali kamu menginginkannya. Begitulah jalan kerja Iblis."
Ningsih merinding seketika. Mereka pun berjalan ke tempat makan siang. Di sana sudah berkumpul keluarga Ningsih menunggu. Dinda pun membantu menyiapkan makanan yang disajikan ke meja.
"Selamat siang Bapak dan Ibu Udin selaku orang tua Ningsih. Perkenalkan nama saya Bima Prawisnu," kata Bima sambil mengulurkan tangan kekarnya ke Bapak dan Ibunya Ningsih.
Jelas Ningsih kaget dengan keberanian Bima. Dia terlihat mantab memperkenalkan diri. Bapak menjabat tangan Bima sambil berdiri.
"Salam kenal, Nak. Jadi ini yang Reno bilang suaminya Ningsih?" pertanyaan Bapak di jawab dengan sangat baik oleh Bima.
"Benar, Pak. Mohon maaf saya baru bisa memperkenalkan diri karena banyak pekerjaan di dalam maupun luar negeri. Saat ini saya secara resmi memperkenalkan diri dan memohon restu."
Bapak mempersilahkan Bima duduk. Tentunya Bima duduk di samping Ningsih. Mereka makan siang dan berbincang-bincang bersama. Terlihat Bima langsung akrab dengan Bapak dan Ibu. Setelah selesai, mereka pun pulang ke rumah. Bima dan Dinda mengikuti dengan mobil yang dikendarainya sendiri.
Ningsih merasa senang dan lega saat Bapak dan Ibu bisa menerima Bima dan Dinda dengan baik. Bahkan mereka tidak banyak mempermasalahkan ini itu. Terasa sudah cocok satu dengan yang lainnya.
Ningsih pun tenang dalam perjalanan pulang rumah. Tak bertemu Lee jadi-jadian maupun Lily si bodyguard yang gila cinta pada Lee. Ningsih pun paham kenapa Lee selalu memerintahkan Lily bersamanya dengan alasan menjaga Ningsih. Semua sudah terungkap bahkan skandal mereka.
***
"Lee, ayo pulang. Aku sudah jenuh melayani foto dengan lelaki udik seperti itu. Apa kamu nggak bosan ama wanita seperti itu?" gerutu Lily pada lelaki yang sedang dikeroyok para wnaita lokal.
"Iya, sayang. Ayo balik ke hotel saja. Mereka lucu sekali menganggapku artis korea. Apa aku semirip itu dengan pemeran The Legend of The Blue Sea? Kalau aku mirip, kamu jadi puteri duyungnya ya? Ha ha ha ...." Lee justru meledek Lily yang kesal melihat lelaki yang dicintainya berfoto dengan banyak orang bergantian.
"Nyebelin ya! Sini aku kelitik!" teriak Lily sambil mengejar Lee yang lari di sepanjang pesisir pantai. Mereka kejar-kejaran seakan tak ada pengunjung lainnya.
Lee mulai merasakan hal berbeda dengan Lily. Meski dia sadar kalau Lily akan marah jika tahu Lee yang sebenarnya bukan dirinya. Sebisa mungkin rahasia itu disimpan rapat agar Lily tetap mesra dan perhatian seperti ini. Hal yang selalu Lee (Evan) inginkan selama hidup dahulu adalah merasa dicintai, diinginkan dan dihargai. Hal itu tak didapatkan Evan karena dia lahir dengan keterbatasan fisik. Sakit hati dan fisik membuat Evan mengabdikan diri pada Iblis.
Bersambung....