
π DERITA DI NERAKA LAPIS KEENAM π
Ningsih sangat bahagia bertemu Bima dan Alex. Malam itu, mereka habiskan dengan bercerita banyak hal saat mereka berpisah. Ningsih menceritakan apa yang dia alami di ruang gelap, hingga akhirnya dia sadar jika mengandung lalu melahirkan Alex tanpa rasa sakit seperti manusia pada umumnya.
" ... begitulah ceritanya, sayang. Heran saja kenapa aku tak merasakan seperti hamil pada umumnya," kata Ningsih menjelaskan apa yang dia alami.
"Iya, karena Alex dikandung dalam rahim rohmu. Lalu, lahir di ruang gelap yang Laurent buat dengan energi yang luar biasa. Tak heran jika Alex bisa menembus ruang waktu dan menyelamatkanku. Terima kasih, anakku sayang." kata Bima sambil memeluk Alex.
"Ayah, Ibu, kapan kita bertemu Kak Wahyu lagi? Aku senang dengannya. Dia mempunyai aura yang berbeda dengan yang lainnya," ucap Alex yang merindukan kakaknya.
"Sabar, Sayang. Akhir pekan mungkin kita akan ke sana. Tetapi sangat sulit bagi Ayahmu ke sana karena orang-orang akan merasakan hadirnya. Ibu juga bingung kenapa mereka tak bisa merasakan kamu di sana." Ningsih mencoba memberi pengertian.
"Oh, soal itu. Tenang, Bu. Alex bisa membuat Ayah tak diganggu mereka." sahut Alex dengan penuh percaya diri.
"Iya, terima kasih, Sayang. Oh, iya, bagaimana denganmu, Bima. Apa yang kau alami hingga menghilang selama ini?" lirih Ningsih membuat Bima terdiam sejenak.
Bima menerawang jauh ke langit malam yang bertaburan bintang. "Jika aku menceritakan, pasti akan lama dan sangat panjang ceritanya." kata Bima yang sedikit murung.
"Tak apa, Sayang. Aku ingin mengetahui kesusahan apa yang kamu hadapi. Jangan ada yang disembunyikan antara kita," ucap Ningsih yang mengusap punggung suaminya.
Alex pun duduk di samping Bima. Sudah siap menyimak cerita panjang yang akan Bima sampaikan. Bima pun mulai menceritakan semua yang dia alami.
***
Flashback kisah Bima setelah terluka parah saat ruqiyah Ningsih ....
Bima menahan luka yang begitu parah di tubuhnya. Serangan demi serangan yang dia terima, membuatnya semakin lemah. Saat Ningsih di ruqiyah, energi Bima pun semakin tersedot. Bima tahu semua ini bisa saja berakhir dengan buruk. Namun, dia tetap berjuang demi wanita yang dicintai.
Beberapa kali Bima batuk, luka dalam tubuhnya membuat dia muntah darah. Darah Iblis yang berwarna hitam. Saat Bima hendak pergi menemui gadis buta, dia terjatuh.
Bima tumbang. Iblis itu kini tak berdaya. Tak bisa menggerakan tubuhnya yang sudah lemah.
"Jika aku harus musnah, aku ingin kamu tetap bahagia, Ningsih." lirih Bima sebelum akhirnya penglihatannya kabur dan semua menjadi gelap.
Kala itu, salah satu pengabdi Tuan Asmodeus melihat Bima yang terkulai. "Lihat Iblis di sana! Bukankah dia yang menjuarai pertandingan kekuatan? Dia menjadi wakil dari Neraka Lapis Ketujuh," kata seorang Iblis yang mengenali Bima.
"Benarkah? Kita bawa saja ke Tuan Asmodeus. Bukannya dahulu Tuan hendak mengambilnya jadi anak buah?" tanya Iblis lainnya.
Dua Iblis itu pun membawa Bima ke Neraka Lapis Keenam untuk meminta pertimbangan Tuan Asmodeus. "Tuan Asmodeus yang mulia, kami menemukan Iblis ini terkapar dengan penuh luka. Apakah harus kami bawa ke Tuannya di Neraka Lapis Ketujuh?" tanya salah satu Iblis saat sampai di dalam neraka.
"Ha? Itu adalah Bima. Cepat bawa dia masuk! Aku akan buatkan sel khusus untuknya." jawab Tuan Asmodeus yang langsung memiliki siasat licik.
Bima pun dimasukkan ke dalam sel khusus untuk menyedot energinya. Bima yang hampir musnah, dirawat sementara oleh pengawal yang diperintah oleh Tuan Asmodeus. Setelah keadaan Bima membaik, bagaikan sapi perah, mereka memberi rantai pada tangan dan kaki Bima lalu menyedot energi Bima. Menambah kekuatan Tuan Asmodeus yang haus kekuasaan.
Tak jarang, Bima menerima cambukan yang begitu menyakitkan dan juga berbagai kesakitan lainnya. Awalnya, Bima mencoba melawan, tetapi percuma ... dia tak mampu lagi menghadapi siksaan dan ancaman itu.
"Tak usah melawan jika tak ingin wanita yang kau inginkan itu mati di tanganku!" gertak Tuan Asmodeus yang mengancam Bima. Bima pun menyerah dalam ratap.
"Maafkan aku, Ningsih. Aku belum bisa menolongmu. Bahkan menolong diriku sendiri pun aku tak bisa. Aku sangat payah." batin Bima dalam segala tekanan dan ketersiksaannya.
Menjalani cambukan sehari hampir seribu kali. Tak ada waktu baginya untuk menghimpun tenaga untuk melawan. Selalu saja energinya habis diserap Tuan Asmodeus. Bahkan musnah lebih baik dari pada keadaan Bima waktu itu. Menangis pun percuma, Bima hanya bisa meratapi nasibnya. Berharap Ningsih akan baik-baik saja. Meski harus menunggu lama untuk bersatu, Bima yakin suatu nanti mereka akan bertemu lagi dan bisa berbahagia bersama.
Seiring berjalannya waktu, Bima sering dan semakin sering disiksa. Hal itu membuat ingatan Bima mulai memudar. Itulah mengapa Bima hampir tak mengenali anaknya. Bahkan menjawab pertanyaan pun tak bisa. Bima tersiksa dalam derita Neraka Lapis Keenam yang sengaja dibuat oleh Tuan Asmodeus agar Bima tak bisa keluar dari sana.
***
"Iya, Bima. Aku sangat sedih mendengar ceritamu. Betapa banyak kesulitan yang kamu alami demi kita bisa bersama. Maafkan aku, Bima," lirih Ningsih yang menangis. Bima langsung memeluk istrinya.
Alex yang mendengar cerita Ayahnya pun bersedih. Dia merasa iba dengan hal yang dihadapi kedua orang tuanya.
"Ayah, Ibu, sekarang tak perlu khawatir. Alex akan menjaga kalian. Alex sayang kalian. Jangan bersedih lagi." kata Alex yang langsung memeluk Ningsih dan Bima.
Bima dan Ningsih terharu. Anak sekecil itu bisa memahami perasaan orang tuanya. Dalam dunia gaib, umur bukanlah patokan seberapa penampilan dan pemikiran makhluk gaib itu. Jauh berbeda dengan dunia manusia yang harus bertahap dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa, lalu menjadi tua.
***
Neraka Lapis Keenam
Tuan Asmodeus sudah memerintahkan anak buahnya untuk mencari siapa yang melepaskan Bima. Bahkan, Tuan Asmodeus penasaran dengan siapa Iblis yang memiliki kekuatan sebesar itu.
"Jangan sampai hal ini bocor ke penguasa Neraka Lapis lainnya. Jika tidak, bisa terjadi peperangan memperebutkan energi itu," tegas Tuan Asmodeus pada tangan kanannya.
Iblis yang menggantikan Evan menjadi tangan kanannya adalah Iblis yang kejam dan tak kenal ampun. Kali ini, hal buruk tak akan bisa dihindari oleh Ningsih dan Bima.
Tuan Chernobog memang sudah melupakan mereka dan menganggap mereka sudah mati hingga Bima menghadapi semua sendiri tanpa bantuan Tuannya. Namun, jika semua penguasa mengetahui energi yang Alex miliki, apakah mereka akan tinggal diam? Sepertinya tidak.
Neraka Lapis Keenam pun mengerahkan beberapa pasukkan untk menyusuri jejak Bima dan energi kuat itu. Mereka menembus ruang dan waktu. Ada pula yang mencari di dunia manusia meski susah mereka menemukan jejak itu.
Alex sangat pintar meski masih kecil, dia menutupi semuanya dengan baik. Dengan bantuan Laurent, dia menyamarkan aura dan energi Bima menjadi berbeda dari sebelumnya agar tidak mudah dicari oleh Iblis Neraka.
***
Di pesantren ....
Adzan Subuh berkumandang. Wahyu dan Budi sudah mengambil wudu dan segera menunaikan salat. Dalam doanya, Wahyu tak henti-hentinya bersyukur atas rahmat Allah yang menyembuhkan Mama Ningsih dan memberi kesempatan kembali untuk hidup. Meski sesungguhnya Wahyu tahu, Mama Ningsih mencintai Om Bima.
"Ya, Allah. Bebaskanlah Mama Ningsih dari jerat Iblis. Sadarkanlah jika cintanya itu salah dan tidak semestinya. Hanya padaMu hamba berdoa dan berserah. Amin." batin Wahyu sambil mengenadahkan tangannya seusai salat agar tidak didengar Budi.
Setelah selesai salat, Wahyu membantu Budi untuk menyiapkan sarapan para santri. Sedangkan santri yang lain berolah raga senam pagi sebelum akhirnya sarapan.
Wahyu senang menjalani hidup di sana. Semua kegiatan yang rutin mereka lakukan, membuat Wahyu semakin disiplin menjalani kehidupan. Setelah sarapan, mereka pun bersiap mengikuti pelajaran sesuai kelas masing-masing. Ketika Wahyu belajar, Budi mempunyai banyak waktu untuk mengurus segala keperluan pesantren. Budi pun masih teringat oleh Ningsih.
"Semoga kamu bahagia dan benar-benar bertaubat. Aku hanya bisa mendoakan dari sini," gumam Budi saat hatinya mengingat Ningsih. Tak disadari Pak Anwar ada di belakang Budi.
"Nak, apakah kau menyukai wanita itu?" tanya Pak Anwar membuat Budi terkejut.
"Bapak? Oh, tidak, Pak." jawab Budi yang bingung.
"Benarkah? Jika iya, baiknya lupakan saja. Dia tidak akan menerimamu. Jika tidak, alhamdulilah. Sepertinya Nak Santi lebih cocok menjadi pendampingmu," ucap Pak Anwar memberi pendapat.
Budi terdiam dan hanya tersenyum. Dia tak bisa menjawab apa pun karena memang tak ada yang bisa dijawab. Hal apa pun yang akan Budi katakan, pasti Pak Anwar bisa menyanggah atau memberi nasehat agar Budi tak memikirkan Ningsih lagi.
Budi hanya bisa menyimpan rasanya dalam hati. Hanya bisa mempertemukan rasa itu dalam doa. Meski memang benar kata Pak Anwar, bahwa Santi perempuan soleha yang cocok menjadi pendamping Budi dan menjadi menantu Kyai Anwar yang terkenal. Namun, salahkah Budi jika menyimpan rasa pada Ningsih?
Tanpa disadari segala hal yang Budi usahakan untuk melindungi Ningsih, bukan hanya bertuk dari perlindungannya terhadap Mak Sri. Justru Budi berusaha untuk melindungi Ningsih dan membebaskannya dari segala jerat iblis. Budi meyakini bahwa semua rasa yang Ningsih alami adalah tipu daya Iblis semata. Bukan karena kesungguhan Ningsih mencintai Iblis itu.
Pak Anwar berharap Budi bisa bersanding dengan Santi. Karena selama ini Pak Anwar mengamati Santi yang soleha, tak pernah terlambat salat lima waktu, serta kepeduliannya luar biasa terhadap Ningsih yang ternyata bukan tante kandungnya.
Pak Anwar memang selama ini mencoba menjodohkan Budi dengan wanita soleha lainnya, tetapi selalu saja Budi menolak. Berbagai alasan Budi ucapkan dengan dalih masih ingin sendiri. Namun, Pak Anwar tak percaya begitu saja. Dia curiga jika Budi sudah memilih wanita yang akan mengisi relung hatinya. Hal itu yang membuat Pak Anwar waspada karena takut anaknya bersama orang yang tak tepat.