JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 109


πŸ€ MUSNAH πŸ€


Hartono ketakutan dan berlari secepat mungkin menuju hotel tempatnya bersembunyi dengan Alex. Mendengar suara tembakan dan gertakan polisi, tentunya membuat lelaki berusia 41 tahun itu gemetar.


"Apes sekali! Alex pasti ketangkap tuh. Belom ngicipin si Ningsih malah kena siaal," gerutu Hartono yang berjalan grusah grusuh.


Sesampainya di hotel, Hartono langsung menuju lift dan bergegas ke kamarnya. Kamar nomor 733. Sesampainya di lantai 7, Hartono berjalan cepat ke kamarnya sambil menengok kanan dan kiri.


"Kalau Alex sudah tertangkap pasti sebentar lagi ada polisi ke sini mencariku. Dari pada mendekam di penjara, lebih baik aku bawa kabur saja uang di koper. Mumpung masih ada waktu," lirih Hartono berbicara dengan dirinya sendiri.


Bima yang geram dengan kelakuannya pun mengubah bentuk ke wujud asli Iblis dan menggertak Hartono.


"DASAR MANUSIA SERAKAH! BEROTAK MESUM! TAK TAHU MALU!"


Hartono tersentak kaget dan melangkah mundur ketakutan. "Si ... siapa k-kau?"


"HA HA HA HA ... MANUSIA TAK BERMORAL SEPERTIMU BISA-BISANYA TAKUT MELIHAT IBLIS. BUKANNYA KAU DAN REKANMU ADALAH IBLIS BERWUJUD MANUSIA?" suara Bima menggetarkan seisi ruangan kamar.


Hartono semakin gemetar ketakutan. Bima mendekat hendak mencekik leher Hartono. Lelaki yang ketakutan itu berlari ke balkon luar kamar. Bima mengejarnya dan secara tetiba, Hartono justru melompat dari balkon hotel lantai tujuh. Bima menyeringai, tertawa senang. Membunuh orang berdosa yang jiwanya akan dipersembahkan untuk Tuan Chernobog.


Hartono jatuh dengan membawa satu koper berisi uang ratusan juta yang akhirnya berhamburan seperti hujan uang. Orang-orang yang melihat hal itu kaget, takut, sekaligus senang berbebut ribuan lembar uang seratus ribu yang berceceran terbang hingga jauh.


Hartono jatuh dan tubuhnya remuk dengan noda darah yang menempel ke mana-mana sedangkan beberapa bagian badannya pun terlempar agak jauh. Bukannya menolong atau memanggil ambulance, orang yang berkerumun justru berebut uang yang jatuh terbang. Tubuh Hartono yang sudah tak bernyawa justru terinjak-injak kerumunan orang.


"SUDAH SEHARUSNYA LELAKI PENIPU, PENIKMAT KEPUASAN DUNIAWI, DAN ORANG LICIK SERTA KORUPSI SEPERTIMU MATI DENGAN CARA HINA SEPERTI INI!" ucap Bima yang kemudian menghilang.


Hartono sudah dimusnahkan. Sekarang giliran Bima mendatangi Alex. Alex dibawa ke kantor polisi oleh pihak kepolisian dengan menjalani pengobatan terlebih dahulu di klinik karena kakinya yang tertembak saat hendak kabur. Sedangkan Ningsih, Budi, dan Mbak Rahma dibawa ke rumah sakit demi pemiriksaan dan perawatan. Joko menelepon Nindy untuk membawa Wahyu pulang ke rumah Ibu dan Abah sementara waktu.


Joko bergegas ke rumah sakit menyusul Ningsih. Tak lupa dia memberi tahu kejadian ini ke Santi. Namun dia tak menjelaskan secara detail kejadian itu. Berharap tak menambah beban pikiran Santi.


Bima sudah sampai di ruangan tempat Alex diinterograsi. Ada seorang pihak polisi yang terus mengajukan pertanyaan tetapi Alex menjawab dengan dusta. Sedangkan empat orang sewaan Hartono sudah diletakan di dalam sel tahanan.


Saat polisi itu pergi dari ruangan penyelidikan dan meninggalkan Alex seorang diri dalam keadaan kaki tak bisa berjalan dan tangan diborgol pada kursi, Bima datang.


"MANUSIA LAKNAT! BERANINYA KAU MENYENTUH NINGSIH!" gertak Bima mengagetkan Alex dan jelas membuatnya ketakutan setengah mati.


"Ma-makhluk apa kamu? Mengapa kamu menggangguku?" tanya Alex ketakutan.


"KAU ITU YANG MAKHLUK APA! TAK PANTAS DISEBUT MANUSIA!" Bima pun menyerang Alex dan membuat luka berkali-kali di tubuh Alex.


Alex menggelepar dan tak bisa mengelak karena borgol di tangannya terkait kursi. Bina mencabik-cabik tubuh Alex dan berhenti saat polisi masuk kembali ke ruangan.


"Apa-apaan ini? Tim medis! Saya butuh bantuan!" teriak polisi yang melihat kondisi Alex mengenaskan.


Petugas medis yang datang pun berteriak bahkan ada yang pingsan. Tubuh Alex dicabik menjadi potongan kecil dan tercerai berai dengan darah di mana-mana. Bima sangat marah dan membuat kematian Alex dan Hartono sedemikian menyeramkan.


Bima tersenyum puas dan menghilang. Dia mencemaskan kondisi Ningsih.


Disaat yang sama, di rumah sakit ....


"Joko, terima kasih banyak sudah menyelamatkanku," lirih Ningsih yang berbaring di ranjang pasien dengan infus terpasang di tangannya.


"Iya, Bu. Sama-sama. Semoga lekas membaik," ucap Joko sambil mengusap lembut tangan Ningsih.


"Kok panggilnya Bu? Ini kan sudah bukan jam kerja."


"Oh, iya. Maaf Ningsih. Sudah kebiasaan soalnya. Aku mau menengok Budi dahulu," ucap Joko berpamit.


Melihat Ningsih sakit dan tek berdaya membuat Joko merasakan sesuatu yang mengganjal. Tak ingin terlarut perasaan, Joko menghindar dengan pergi ke ruangan Budi di rawat.


"Bro Bud, sudah membaik kah?" tanya Joko pada kawan sepekerjaannya yang baru sadar dari pengaruh obat bius.


"Jok ... Joko, gimana kondisi Nyonya?" tanya Budi sambil mencoba duduk tapi rasa pening kembali menyerang.


"Tenang aja. Semua aman terkendali. Bu Ningsih sudah dirawat di kamar VIP. Sekarang lekas sembuh saja kamu." kata Joko menenangkan Budi.


"Wahyu sudah sama Nindy di rumahku. Kalau Mbak Rahma dirawat juga di sini. Budi, kamu nggak usah khawatir. Semua akan baik-baik saja. Lagi pula polisi sudah menangkap pelakunya."


Budi merasa bersalah tak bisa menjaga Ningsih, Mbak Rahma, dan Wahyu. Kejadiannya terasa begitu cepat. Seharusnya dia mampu mengalahkan penjahat-penjahat itu jika berduel wajar.


"Bang Jok, aku sedih dan malu sudah lalai tugas," kata Budi tertunduk.


"Nggak, Bro! Kamu nggak lalai. Justru kamu sudah berusaha sebaik mungkin. Pas waktu kamu berantem dengan enam orang, pas aku mau ke sana ambil handphone ketinggalan di pos jaga. Aku aja yang penakut, nggak langsung bantu kamu. Jadi aku telepon polisi dulu," jelas Joko.


"Enam? Sepertinya cuma 5 orang yang bermasker itu. Apa tamunya Bu Ningsih juga ...."


"Iya, Bud. Alex dalangnya. Katanya sama temen satu lagi namanya Hartono."


Budi mengangguk paham. Hanya rasa bersalah itu hinggap tak mau pergi.


"Aku ke Mbak Rahma dulu, ya. Lalu mau balik ke Bu Ningsih," ucap Joko meninggalkan Budi yang masih lemas.


"Ok. Terima kasih."


Joko berjalan ke bangsal Mbak Rahma lalu masuk ke kamarnya. Melihat wanita itu matanya sembab hasil tangis.


"Mbak Rahma ... ada apa kok menangis?"


"Nggak apa, Mas. Cuma rasanya aku mau mati saja. Hartono memang dulu pacarku. Tapi setelah aku tahu dia hidung belang dan punya banyak istri. aku ninggalin dia. Tapi sekarang ... d-dia ...." tak kuasa menahan tangis, Mbak Rahma kembali dalam isak haru.


"Sabar, Mbak. Tenang dulu." Joko jadi bingung dan serba salah.


Kemudian, orang tua Mbak Rahma datang ke bangsal setelah pihak kepolisian dan rumah sakit menghubungi.


"Rahma! Astafirullah, Neng kok bisa begini," ucap Ibunhya Rahma panik.


Joko yang tak mau terlibat dengan masalah itu pun pamit pergi. "Mbak, saya ke tempat Nyonya dulu, ya."


Mbak Rahma hanya mengangguk. Ibu dan Bapak Mbak Rahma pun menanyai Rahma apa yang terjadi. Joko berlalu pergi kembali ke ruangan Ningsih.


"Joko ... gimana keadaan Mbak Rahma dan Budi?" tanya Ningsih.


"Tenang saja, Bu. Eh, Ningsih. Sudah yang penting kamu sembuh dulu," lirih Joko.


"Joko, terima kasih sudah menolongku." Ningsih berucap perlahan. "Kalau tak ada kamu, mungkin nasibku bisa seperti Mbak Rahma ... aku nggak menyangka kalau Alex dan Hartono tega melakukan itu. Padahal semua harta sudah kuserahkan agar mereka tidak mengganggu lagi."


Ningsih menangis sesenggukan. Joko yang tak tega pun mengelus punggung Ningsih dan memeluknya. Ningsih menangis di pelukan Joko.


Bima sudah sampai ke rumah sakit dalam bentuk manusia. Dia berjalan cepat menuju bangsal di mana Ningsih dirawat. Rasa khawatir menyeruak di benak Bima. Terlebih karena kelalaiannya tak bisa menembus pagar gaib yang dibuat Budi justru membahayakan istrinya.


Saat sampai kamar Ningsih, Bima terkejut. Ningsih dalam pelukan Joko. Bima mendengar saat Ningsih berucap.


"Joko, andai kamu selalu tinggal di rumahku. Aku dan Wahyu butuh seseorang yang ada setiap saat dan melindungi kami," lirih Ningsih disela isak tangis.


"Ningsih, dahulu aku memang menyukaimu. Tapi statusku ini membuatku minder. Lalu Santi datang mengunjungimu, maka dari itu aku menanggapinya," kata Joko membuat Ningsih terkejut.


Ningsih mendongak ke arah wajah Joko. Masih dalam pelukan lelaki berwajah timur tengah dengan hidung mancung itu. Saat mereka hendak bertaut bibir. Bima tak kuasa untuk mencegahnya.


"Ningsih!" kata Bima membuat Ningsih dan Joko terkejut.


Joko langsung melepas pelukannya. Lalu pamit keluar untuk ke kamar Budi.


Bersambung ....


****


Duh kok bersambung ya? Ningsih nyebelin banget kok malah baper ama Joko πŸ˜‘ Kasihan Bima. Yaudah yuk daftar jadi istrinya Bima πŸ˜‚ Nantikan kisah selanjutnya ya ...


Hai readers JERAT IBLIS semoga terhibur dengan bab kali ini ya. Kalau kalian ingin mendukung Author bekarya, silahkan bantu Vote, Like, Koment, dan juga share agar semakin banyak pembaca menikmati JERAT IBLIS^^ terima kasih.