JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
Pernikahan Wahyu dan Gladys (Ending)


Ningsih, Alex, dan Lisa pun terkejut mendengar suara Wahyu yang sudah berdiri di depan pintu rumah dengan ekspresi yang tak suka dengan pembahasan itu. Gladys merasa malu dan sedih. Dia merasa keluarga Wahyu tak menyukai dirinya. Meski dahulu dia banyak salah, tetapi sekarang dia sudah berubah.


"Wah-Wahyu ...." lirih Ningsih yang tak tahu harus berkata apa lagi.


"Mama ... Alex ... Lisa ... aku mohon. Kita sudah membahas hal ini. Aku tetap akan menikahi Gladys. Maafkan aku. Gladys tidak seperti yang kalian pikirkan. Dia sudah berbeda dengan Gladys yang dahulu," ujar Wahyu membela calon istrinya.


"Maaf, Kak. Aku dan Lisa tak bermaksud seperti itu," kata Alex yang tak enak hati.


"Wahyu, udah nggak apa. Aku tak apa. Tante Ningsih, Alex, dan Lisa ... aku minta maaf atas semua hal buruk yang pernah aku lakukan dahulu. Maaf, ya. A-aku ... sungguh menyesal atas hal itu," kata Gladys yang hampir menangis karena merasa tertolak.


Melihat Gladys seperti itu membuat hati Ningsih, Alex, dan Lisa makin tak enak. "Maafkan kami, Kak Gladys. Iya ... mungkin benar Kak Gladys sudah berubah." Lisa pun menyesal sudah


Hari itu ... keluarga Wahyu menerima Gladys sepenuhnya. Wahyu bersyukur dia mendengar pendapat keluarganya dan mampu meyakinkan mereka bahwa Gladys sudah berubah.


Setelah berbincang banyak hal, Gladys pun pamit pulang diantar oleh Wahyu. Mereka sudah menceritakan semua rencana pernikahan kepada keluarganya dan Ningsih menyetujui hal itu demi kebahagiaan putranya.


...****************...


Hari pernikahan pun tiba ....


Akad nikah pun berlangsung dengan khidmat. Setelah semua orang berdiri dan memberi selamat pada mempelai, Cahaya membisikkan sesuatu di telinga ibunya. "Ma ... Om itu datang lagi. Mama mau ketemu?"


"Mana, Sayang?" Ningsih bertanya-tanya apa benar itu Bima.


"Ayo ikut Aya, Ma."


Cahaya menuntun Mamanya ke arah belakang, di mana Bima berjalan ke sana. Sedangkan yang lain memberi selamat kepada Wahyu yang sudah mengucapkan ijab qobul dan semua menjawab SAH.


Bima tahu jika dirinya diikuti. Tempat belakang cukup sepi, dia pun berhenti. Tubuhnya seakan berat untuk berbalik. Namun hatinya masih ingin melihat wanita yang selama ini dia cintai.


"Bi-Bima??" lirih Ningsih yang tubuhnya langsung gemetar melihat lelaki itu.


"Ningsih ... sudah sekian lam-" Bima terdiam menatap gadis kecil di samping Ningsih.


Cahaya menatap lelaki dewasa itu tanpa berkedip. Ternyata selama ini, Cahaya sering melihat Bima berada di sekitar mereka.


"Bima ... ini Cahaya. Dia sudah besar. Bukan bayi kecil lagi," ujar Ningsih menahan air mata.


"Iya, Om. Om siapa namanya?" tanya Cahaya yang belum tahu siapa Bima.


Ningsih menatap Bima, lalu menatap Cahaya. Rasanya sangat sedih dan tak bisa mengungkapkan. Bima pun harus mengatakan hal itu. Sebuah kebohongan demi kebaikan.


"Om teman Mamamu. Om mau pergi dulu. Setelah akad nikah, Kakakmu akan resepsi, bukan? Kalian ganti pakaian juga, pasti cantik sekali." Bima terpaksa berbohong. Jika dia mengatakan dirinya adalah ayah Cahaya, pasti akan sulit bagi mereka terpisah dan tak bersama.


"Oh, iya. Baik, Om. Ayo, Ma. Kita ganti gaun. Tadi Kakak bilang begitu, kan?" Cahaya menarik tangan Ningsih untuk kembali ke dalam gedung.


Ningsih menatap Bima dengan mata berkaca-kaca. "Bima ...."


Bima tersenyum. Dia berharap Ningsih tahu apa yang dia rasakan. "Ningsih ... aku akan selalu bersamamu, meski berbeda dunia. Terima kasih sudah menjaga anak-anak kita. I love you," bisik Bima yang kemudian menghilang.


Cahaya tidak menatap Bima dan itu kesempatan Bima untuk menghilang. Ningsih sangat senang dan sedih dalam waktu bersamaan. Dia tak bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan. Wanita itu pun mengikuti putrinya untuk masuk ke gedung kembali.


Wahyu mengenakan jas hitam, sedangkan Gladys mengenakan gaun putih nan indah untuk melanjutkan resepsi setelah selesai akad nikah tadi. Mereka terlihat bahagia dan serasi.


Resepsi berjalan dengan lancar dan sangat meriah. Mereka berbahagia di hari itu. Sepeti Bima yang bahagia bisa melihat keluarganya walau sekejap saja.


...****************...


Cinta adalah bagian kebahagiaan yang dicari setiap manusia. Bukan hanya soal cinta sepasang kekasih, tetapi juga cinta terhadap keluarga, anak, atau kepada Tuhan. Rasa cinta itu yang membuat manusia semakin menyadari hidupnya sangat berarti.


Bima dan Ningsih akan tetap mencintai meski berbeda dunia. Cahaya pun sangat senang hidup bersama ibunya. Reno pun mencintai hidupnya yang seorang diri dan tetap mengenang Nindy di hatinya. Santi dan Budi berbahagia selalu bersama Syafira. Alex dan Lisa? Mereka pun berbahagia meski tak bisa memiliki keturunan, Lisa lemah kandungan. Wahyu dan Gladys sangat amat bahagia dan mereka pun dikaruniai sepasang anak kembar yang menggemaskan.


Kisah JERAT IBLIS sampai di sini. Tidak selamanya hitam itu gelap dan putih itu terang. Selalu ada dua sisi dalam segala hal di dunia. Percaya atau tidak, mereka ada di sekitar kita. Iblis sesungguhnya dan iblis dalam wujud manusia. Ya, manusia yang iri dengki, manusia yang serakah, manusia yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.


Jika dunia semakin menua dan manusia tak lagi bersahabat, akankah Iblis lepas tangan dari segala kejahatan manusia? Mungkin ... tanpa iblis pun manusia sudah lihay berbuat kejahatan.


...****************...


...Sekian dari Rens09 terima kasih banyak untuk dukungan, doa, dan segala komentar positif nya. Semoga kisah ini menghibur dan menjadi cerminan diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya. Ini sudah benar-benar tamat, ya. Buat semua yang suka cerita dari Rens bisa melanjutkan baca The Hunter dan EXORCISM. Thank you ❤️...