
π HUKUMAN USAI π
Seminggu perjuangan Bima akhirnya menujuk titik hukuman usai. Dia menahan dingin dan sakit, akhirnya membuahkan hasil. Dua penjaga utusan Tuan Chernobog datang ke Kutub Utara membawa kembali Bima ke alam Neraka lapis ke tujuh.
"Tuanku Chernobog, ini Bima dengan masa hukuman telah usai. Silahkan, Tuanku," kata salah satu penjaga Neraka.
"KUBEBASKAN KAU DARI BEKU ES! BANGUN WAHAI PENGIKUTKU YANG KURANG SETIA!" gertak Tuan Chernobog dengan suara tinggi dan menggema ke seluruh penjuru.
Perlahan es yang membuat tubuh Bima membeku mulai mencair. Perlahan tubuh Bima bisa digerakan, tetapi rasa sakit di sekujur anggota tubuhnya terasa menusuk hingga untuk berdiri pun susah payah dia lakukan.
"TUAN... TERIMA KASIH TELAH MEMBEBASKANKU. AKU AKAN BERUSAHA LEBIH BAIK LAGI." kata Bima dengan nada bergetar. Gemeretak gigi yang beradu terdengar dari mulut Bima yang berdarah. Entah karena masih kedinginan atau karena menahan sakit di punggung akibat seribu kali cambukan.
"KAU SUDAH PAHAM KESALAHANMU? AKU TAK AKAN MENGULANGI UNTUK MEMPERINGATKAN! SEMINGGU INI SUDAH BANYAK HAL TERJADI DI BUMI. KEMBALILAH KE SANA DAN HAMBATLAH ASMODEUS MENGAMBIL JIWA-JIWA BERDOSA. DIA MENGINGINKAN JIWA WANITA YANG MEMBUATMU BODOH. DOSANYA TERLALU NIKMAT UNTUK DICIUM PARA IBLIS NERAKA!" perintah Tuan Chernobog membuat Bima lekas bangkit berdiri.
Ningsih dalam bahaya! Hanya itu dalam pikiran Bima. Dia lekas berpamit dan kembali ke Bumi.
"HAMBA MOHON UNDUR DIRI DAN KEMBALI KE BUMI, WAHAI TUAN CHERNOBOG NAN AGUNG."
Bima sadar jika kekuatan Dinda tak akan mampu melawan Iblis sederajat Tuannya. Bahkan Bima pun tak yakin bisa menghadapi sendirian. Namun, Bima sudah mempunyai siasat tersendiri. Dia pasti akan berjuang melindungi yang dicintainya.
Saat itu....
Dinda sedang melawan seorang wanita misterius yang hendak membunuh Ningsih. Ningsih memang sudah berkumpul kembali dengan keluarganya. Namun, saat pergi ke mall, dia dihadang seorang wanita mengenakan jubah panjang berwarna hitam. Dinda yang mengikuti Ningsih, bergerak cepat melindunginya.
"Ningsih... jika aku tak mampu menghalaunya, lekas lari! Wanita ini bukan manusia biasa," kata Dinda menahan serangan wanita berjubah itu.
"Tidak! Bertahanlah, Dinda!" jawab Ningsih masih di samping adik Bima.
Sekuat tenaga Dinda menghalunya hingga wanita itu terpental dan jatuh. Jubah yang menutupi kepalanya tersingkap.
"Lily?" lirih Ningsih menatap wanita itu. Seorang bodyguard wanita pilihan Lee untuk menjaga Ningsih sewaktu di Singapura. Apakah dia yang Bima khawatirkan akan mengganggu hidup Ningsih?
"Ternyata masih ingat dengan wajahku, ha? Wanita Iblis! Karenamu Tuan Lee mati sia-sia!" ungkap Lily sambil berdiri.
"Bukan salahku!" jerit Ningsih mengelak.
"Dia orang dari negara seberang?" tanya Dinda sambil berpikir.
"Iya... tapi bukannya kamu sudah ma...ti?" gumam Ningsih teringat berita beberapa waktu yang lalu di televisi.
Lily tersenyum, lalu tertawa terbahak-bahak. Dia mulai terlihat menakutkan.
"Baru sadar, ya? Kamu penyebab semua ini! Oleh karena itu aku akan membawamu ke Tuanku! Gara-gara kehadiranmu... hidup yang semulanya sulit menjadi makin rumit! Bahkan kini kehidupan itu sudah sirna dari kamusku. Dasar wanita Iblis!" Lily menyerang Ningsih kembali, tetapi dengan sigab Dinda menangkis serangannya.
Pertempuran pun tak bisa dihindari. Ningsih bingung dengan apa yang terjadi. Namun dia bersyukur tak membawa keluarganya saat pergi dan menghadapi serangan ini.
Saat Dinda terpojok dan Lily hampir melukai Ningsih... Bima datang.
"PERGI KAU MANUSIA RENDAHAN PENGABDI IBLIS! JIKA TIDAK, AKU MUSNAHKAN JIWAMU YANG SUDAH BERHUTANG SERATUS JIWA KEPADA TUANMU!" gertak Bima pada Lily sambil menyambarkan lecut api.
Lily ketakutan dan lekas lari. Dia tak tahu jika Ningsih memiliki bala bantuan Iblis sekuat Tuan Asmodeus, baginya. Lily tak berani mengambil resiko meski nyawa Ningsih sama dengan lima ratus jiwa berdosa karena sudah menumbalkan dan membuat susah banyak orang.
"Cuih! Kalau tahu penjaganya sekuat itu, lebih baik aku berburu jiwa orang biasa saja!" batin Lily sambil meninggalkan Ningsih bersama Dinda dan Bima.
"Bi... Bima..." lirih Ningsih berusaha berdiri. Dia terjatuh karena serangan Lily.
"YA... AKU DI SINI. BUKANKAH AKU SUDAH BILANG HANYA SEMINGGU BERPISAH?" kata Bima, dia mengulurkan tangannya yang kekar ke arah Ningsih.
Meski dalam wujud Iblis, Ningsih tak takut dan justru terharu dan bahagia bisa melihatnya lagi. Ningsih segera meraih tangan Bima dan masuk dalam pelukan suami gaibnya.
"Bima... Bima... aku... aku tak tahu harus berkata apa. Terima kasih sudah kembali," gumam Ningsih sambil memeluk tubuh Bima yang penuh luka.
Bima menahan sakit saat lukanya tersentuh Ningsih. "JANGAN KHAWATIR. AKU TIDAJ AKAN PERGI LAGI. DINDA, TERIMA KASIH SUDAH MENJAGA NINGSIH. KAMU BOLEH ISTIRAHAT."
"Dinda... terima kasih!" seru Ningsih melihat Dinda menghilang.
Lalu... kedua pasang mata itu saling menatap. Ningsih dan Bima terpaku sejenak sampai mereka sadar ini masih di depan umum. Bima pun mengajak Ningsih untuk pergi sejenak ke dunia lain.
"PEJAMKAN MATAMU SEJENAK. AKU AJAK KAU KE SUATU TEMPAT..." ajak Bima pada istrinya.
Ningsih menutup mata menurut perintah Bima. Beberapa detik kemudian, Bima memintanya membuka mata. Ningsih terkejut di depan matanya tersaji hamparan taman bunga nan luas. Banyak bunga beraneka warna di sana. Bima pun sudah berubah wujud layaknya manusia.
"KAU SUKA?"
"Ya... aku suka sekali. Sudah lama aku tak pernah melihat bunga sebanyak ini. Secantik dan seharum ini. Terima kasih, suamiku," jawab Ningsih memeluk erat tubuh Bima.
"INI HADIAH UNTUKMU YANG MAU MENUNGGUKU DENGAN SABAR. AKU MERINDUKANMU, NINGSIH. SANGAT MERINDUKANMU." Bima pun mengecup bibir Ningsih dengan lembut. Lalu memetik sebuah bunga berwarna biru. "BUNGA INI MENARIK DAN HANYA ADA SATU DI TAMAN INI. DARI SEKIAN BUNGA YANG ADA, HANYA BUNGA INI YANG KUINGINKAN UNTUK KUBERIKAN PADAMU. SEPERTI DIRIMU... DARI SEKIAN BANYAK WANITA YANG BERANEKA GENERASI BERSEKUTU DENGANKU, HANYA KAMU YANG MAMPU MEMBUATKU MERASA MEMILIKI HATI, LAGI."
Perkataan Bima membuat Ningsih terharu. Matanya berkaca-kaca, tangannya menerima bunga biru nan langka itu. Dia tak mampu mengungkapkan kalimat indah untuk membalas perkataan suaminya.
"Bima... aku tak tahu harus berkata apa... yang jelas, aku mencintaimu. Bukan karena harta atau tahta, tetapi dari hati."
Mereka pun memadu kasih di taman berbunga itu. Dimensi lain yang Bima ciptakan untuk menikmati waktu spesial bersama Ningsih. Tempat yang tak bisa diganggu atau diusik orang lain.
***
Lidah ini kelu saat melihat parasmu
Bahkan untuk sekedar menyanjung pun tak mampu
Bukan karena tak bisa berkata...
Namun semua kalimat indah tak mungkin cukup...
Mengungkapkan semua rasa di dalam dada
Indah... rasa ini terlalu indah untuk terluapkan
Rasa yang makin dalam dan kuat...
Rasa yang melebihi sekedar kata cinta manusia...
Mungkinkah takdir memang membawa kita bersatu?
Atau semata direka-rekakan untuk bersama?
Mungkinkah semua akan memahami?
Bahwa dinding penghalang bukan suatu alasan untuk tak bisa bersama
Rasaku... rasamu... bukan lagi suatu hal yang beda...
Semua menjadi kesatuan yang membahana
Melawan ruang dan waktu
Melawan segala perbedaan
Cinta dua dunia yang berbeda
By Ningsih SukmaSari
***
Bersambung....