JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 28


...🔥 ZATAN & ANCAMAN BAHAYA 🔥...


Zatan merupakan iblis andalan di neraka lapis keenam setelah Tuan Asmodeus menendang Evan dan Lily dari neraka. Mereka menjadi Iblis buangan karena kalah dari pertandingan dengan Bima. Tuan Asmodeus terkenal kejam dan tidak pandang bulu. Dia juga tidak mengenal ampun atau kesempatan kedua. Sekali gagal, maka iblis itu akan dibuang atau dimusnahkan.


Oleh karena itu, zatan berusaha yang terbaik dalam menjerat kehidupan manusia. Menguasai dosa hawa nafsu merupakan hal yang mudah untuk membinasakan manusia dalam ikatan dosa yang tak bekesudahan. Seperti tugas Evan dan Lily, Zatan melakukan hal yang sama untuk menuai jiwa-jiwa berdosa.


"Nindy ... kau manusia lemah dan mudah ditipu daya. Sebentar lagi aku akan mengambil Lisa untuk perantara kehidupanku di dunia."


Sejak awal, Zatan memang mengincar tubuh Lisa untuk dijadikan perantara masuk ke dunia manusia. Zatan merupakan iblis murni sehingga tidak mempunyai wujud raga manusia. Dia memerlukan tubuh seorang yang memiliki indera keenam untuk dijadikan jempatan bebas mengganggu dunia manusia.


Zatan mengikuti Nindy ke bank dan melihat wanita itu menyelesaikan transaksi menabung uang hasil bersekutu dengan Zatan. Iblis itu tersenyum. "Kena kau, Nindy! Semakin kau mengikuti alur ini, semakin besar kesempatanku mendapatkan tubuh Lisa."


Nindy segera pergi setelah menyelesaikan menabung di bank. Dia pulang untuk mengajak Abah dan Ibu pergi berjalan-jalan. Mereka jarang diajak pergi karena Abah dan Ibu malu dengan Reno. Meski Reno mengajak pergi, hanya beberapa kali mereka mau dalam setahun.


Setelah perjalanan dengan taksi online, Nindy pun sampai di rumah. Dia segera menghampiri Abah dan Ibu yang berada di taman belakang rumah. Sedang bersantai duduk di bangku ditemani bibi.


"Abah ... Ibu ... Nindy mau ajak jalan-jalan bertiga. Abah dan Ibu mau, ya?" ucap Nindy yang menghampiri orang tuanya.


"Tumben, Nindy. Apa Reno dan Lisa pulang awal?" tanya Ibu kepada Nindy yang tersenyum penuh arti.


"Nggak, Bu. Nindy cuma ingin pergi bertiga. Abah dan Ibu pasti tak nyaman jika pergi dengan Reno. Nindy tahu, kok. Ini Nindy ada rezeki, bisa ajak Abah dan Ibu jalan-jalan."


"Alhamdulilah kalau ada rezeki lebih. Abah minta Nindy tabung saja. Walau kamu itu isteri dari pengusaha sukses, harus punya uang tabungan pribadi juga," kata Abah mengingatkan anaknya. Dia tak ingin kejadian seperti Joko terjadi lagi.


"Iya, Abah, Ibu. Insyaallah Nindy akan menabung dan membahagiakan kalian. Ayo kita pergi. Pakai taksi online aja. Bibi, kalau Lisa dan Reno datang, tolong bilang kami sedang pergi jalan-jalan, ya."


"Baik, Nyonya." jawab bibi yang kemudian pergi meninggalkan taman belakang rumah.


Abah dan Ibu segera bersiap untuk pergi bersama Nindy. Mereka ingin menghabiskan waktu bersama bertiga saja. Setelah kepergian Joko dan menikahnya Nindy, mereka jarang memiliki waktu hanya bertiga saja. Sejujurnya Abah dan Ibu merasa tak enak di rumah bersama Reno. Semua Reno yang mencukupi sedangkan mereka merasa terbebani dan hutang budi. Padahal Reno ikhlas melakukan itu sebagai kewajiban.


Mereka pun segera pergi meninggalkan rumah setelah taksi online datang menjemput. Nindy tak tahu jika Zatan mengikutinya ke mana pun dia pergi karena ada hal yang akan dia lakukan terhadap hidup Nindy.


Nindy terlalu bodoh untuk bisa mencerna semua keganjilan yang ada. Padahal jerat iblis itu nyata dan bisa melukai siapa saja yang masuk dalam tipu dayanya.


...****************...


Perjalanan yang cukup melelahkan dari pesantren ke rumah Ningsih. Meski begitu, Wahyu dan Alex tetap berbincang hangat sepanjang perjalanan. Hingga akhirnya rombongan Ningsih sudah sampai di rumahnya. Wahyu pun turun dari mobil diikuti Alex dan yang lainnya. Wahyu melihat rumah ibunya dengan takjub sekaligus curiga. Dia takut jika rumah ini hasil pesugihan seperti dahulu saat dia kecil.


Wahyu menatap dari depan pintu gerbang hingga melihat segala properti mahal yang dibuat orang tuanya. Jelas saja hal itu menimbulkan curiga. Sembilan tahun cukup lama bagi Wahyu tak melihat kehidupan ibunya.


"Kak, tenang saja. Ini hasil kerja Mama Papa jualan kelontong hingga bisa buka beberapa minimarket. Bukan hasil bunuh orang, kok," bisik Alex yang tahu pemikiran kakaknya. Dia tak ingin papa mamanya sedih jika tahu apa yang dipikirkan Wahyu. Tentu saja hal itu bisa membuat Ningsih dan Bima terluka.


"Alhamdulilah, bagus kalau begitu. Jadi, kamu memang bisa diandalkan, ya?" jawab Wahyu sambil mengacak rambut adiknya yang tersenyum girang. Mereka banyak menyimpan rahasia hanya berdua dengan baik. Bahkan Wahyu merasa adiknya memang manusia, meski kenyataannya mereka berbeda dunia.


Ningsih dan Bima pun senang melihat kedua puteranya akur. Mereka merasa lega jika Wahyu mau menerima keadaan mereka yang berada dalam dua dunia berbeda, terutama tentang Alex. Setelah masuk ke rumah dan beristirahat sebentar, Wahyu pun hendak menceritakan tentang mimpi dan firasat buruknya.


Setelah Ningsih membuat segelas minuman untuk Wahyu, dia pun duduk di samping Bima. Wahyu pun mulai menceritakan apa yang dia rasakan.


"Wahyu, kenalkan ini namanya Om Boy. Calon suami Tante Dinda," kata Bima membuat Dinda sebal. Mereka belum ada komitmen pasti. Bahkan memikirkan menikah pun Dinda belum bisa.


"Oh, Om Boy, ya namanya. Maaf Om. Tapi memang Om itu tampan. He he he ... bersayap juga," jawab Wahyu yang tersenyum.


"Nggak apa, Wahyu. Santai saja. Ayo lanjutkan apa yang kamu ingin sampaikan." Boy pun ingin mendengarkan kelanjutan perkataan Wahyu.


Wahyu pun menghirup napas perlahan dan menghembuskan segera untuk menenangkan diri sebelum melanjutkan pembicaraan. Suasana menjadi tegang menanti apa yang akan Wahyu katakan.


"Begini ... tadi malam Wahyu bermimpi seakan firasat nyata. Lisa, anaknya Kak Reno dan Kak Nindy dalam bahaya. Dia mempunyai keistimewaan yang tidak disadari oleh orang tuanya. Sedangkan ada beberapa makhluk gaib yang ingin menginginkan tubuh Lisa untuk digunakan perantara menyeberang ke dunia manusia. Wahyu tidak tahu tepatnya seperti apa, tetapi Kak Nindy juga dalam bahaya. Dia masuk perangkap iblis yang mengincar tubuh Lisa," jelas Wahyu yang membuat mereka terkejut kecuali Alex.


"Li-Lisa? Kita harus selamatkan dia. Sayang, kamu akan membantu, kan?" tanya Ningsih segera karena panik. Lisa adalah cucu pertama Ningsih. Terlebih gadis kecil itu sangat cerdas dan pemberani.


"Iya, sabar sayang. Pasti kami akan membantu. Biar Alex coba menerawangnya dulu," jawab Bima sambil mengelus tangan isterinya agar sedikit tenang.


"Apa yang Kak Wahyu katakan adalah firasat yang sudah berlangsung dan akan terjadi. Alex juga merasakannya. Bahkan iblis yang mengganggu mereka pun Alex tahu. Iblis jelek bernama Zatan. Utusan Tuan Asmodeus dari neraka lapis keenam. Ada kesalahan terbesar yang Ibu Lisa lakukan karena menyetujui perjanjian dengan Zatan. Sepertinya Tante Dinda sudah kenal sama si Zatan, bukan?" Alex menatap Dinda yang terkejut karena Alex mengetahui hal itu dengan tepat.


"Umm, iya. Sebenarnya saat mengambil jiwa Fani di Surabaya, aku bertemu Zatan dan melawannya karena berebut jiwa Fani yang berdosa pada dua tingkatan neraka." Dinda pun mengingat kembali kejadian itu.


"Kenapa nggak bilang, Dinda? Bukankah aku bilang jika ada masalah segera bilang," lirih Boy yang khawatir dengan wanita pujaan hatinya.


"Nggak apa. Itu bukan masalah serius. Aku bisa menanganinya. Lalu, bagaimana rencana kita Kak Bima?" Dinda menatap kakaknya penuh arti.


Mau tak mau, Bima muncul dihadapan iblis yang mengusik kehidupan keluarga Reno. Padahal selama ini Bima menyembunyikan dirinya agar neraka tak bisa menemukannya setelah Alex mengubah aura dan identitas Bima.


"Kita hadapi dia. Jika dibiarkan, semua akan semakin sulit. Semakin lama Zatan menguasai Nindy, semakin sulit juga memisahkan mereka. Karena incaran Zatan bukan Nindy. Melainkan Lisa. Hal ini akan berpengaruh kepada kehidupan di sekitar mereka juga. Jangan sampai Zatan mengambil banyak jiwa manusia. Namun, jika kita menghadapi Zatan, mau tak mau Tuan Asmodeus akan tahu di mana kita. Kemungkinan akan terjadi peperangan lagi. Dia menginginkan Alex," jelas Bima penuh pertimbangan yang berat.


"Alex tidak takut, Pa. Kita harus selamatkan Lisa dan orang tuanya," jawab Alex meyakinkan Bima apa yang dipilih adalah jalan terbaik.


"Tenang, Alex. Kakak akan menbantu," ucap Wahyu sambil menepuk bahu adiknya.


"Tante juga akan membantu dan Om tampan. Ha ha ha ...." imbuh Dinda.


Mereka sepakat akan membantu Lisa. Malam ini, akan menjadi malam yang panjang karena mereka akan mencari keberadaan Zatan dan menjebaknya. Mereka melanjutkan percakapan untuk siasat yang akan diambil. Tentunya dengan pertimbangan yang matang agar tidak kalah.


Sedangkan Zatan, sudah mengetahui hal itu akan terjadi cepat atau lambat. Iblis yang licik itu sudah memiliki rencana cadangan. Ya, Zatan sudah mempersiapakan lima iblis yang bersedia membantunya. Mereka iblis dari neraka lapis keenam dalam naungan Tuan Asmodeus.


Lagi pula, hal itu menjadi keuntungan bagi Zatan karena selain mengincar Lisa, Zatan pun tahu Tuan Asmodeus mengincar Alex. Zatan sudah mempersiapkan semuanya dengan baik dan yakin akan menang dan bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Akankah Bima beserta keluarganya mampu menyelamatkan keluarga Reno atau justru sebaliknya, Zatan bisa mengalahkan mereka?


Kali ini, pertempuran sengit akan terjadi. Hadirnya Zatan dan anacaman bahaya sangat nyata bagi Bima dan keluarganya. Apalagi Alex yang menjadi incaran karena energinya bisa membuat penguasa neraka lebih kuat. Mampukah Bima melindungi keluarganya?


...****************...


...🔥Holla^^ Tak terasa sudah 200 episode JERAT IBLIS Author Rens tulis dan kalian baca. Bagaimana kisah ini, menarik atau tidak? Lanjut atau tidak? Yuk, ungkapkan cinta kalian dengan VOTE dan berbagi Koin lewat Tip serta Like, Komentar, dan share agar lebih banyak lagi kawan-kawan yang bisa menikmati cerita JERAT IBLIS ini. Author sangat berterima kasih atas dukungan dan kesetiaan kalian dalam mengikuti JERAT IBLIS. Semoga Author bisa memberikan tulisan dan hiburan yang membuat para pembaca terhibur. Terima kasih dan love you all 💙...