
π NINDY - Part 1 π
Nindy segera memulai perjalanannya ke Yogyakarta setelah menitipkan kedua orang tuanya pada pegawai baru yang bekerja di rumah kontrakannya. Nindy naik travel karena takut naik pesawat sendirian. Dia tak tahu nama daerah rumah Reno dan Santi, tetapi dia berusaha mengingat jalan ke sana. Travel yang Nindy gunakan, berhenti di pusat Kota Yogyakarta. Nindy sampai di sana pagi hari pukul 06.00.
Nindy turun dengan tas punggung yang sengaja dia pakai di depan agar tidak kecopetan. Nindy mencari taksi dan menanyakan sekitar daerah sana. Sopir yang menyetir taksi mengerti daerah yang Nindy maksud. Sesampainya di daerah rumah Santi dan Reno, Nindy pun tersenyum.
"Pak, berhenti di sini. Ini sampai rumahnya. Betul sini, Pak." kata Nindy dengan girang. Dia pun segera membayar ongkos taksi dan turun dari mobil.
Saat hendak menuju rumah Reno dan Santi, Nindy teringat untuk menelepon Evan. "Oh, iya, telepon Tuan Evan dahulu."
Nindy menunggu beberapa saat hingga teleponnya tersambung pada orang yang ditujunya.
Nindy: "Selamat pagi, Tuan Evan. Saya sudah sampai Yogyakarta dan hendak ke rumah keponakan Ningsih."
Evan: "Kerja yang bagus. Kamu memiliki ATM? Jika sudah mulai bekerja, aku akan menambah uangmu dengan seratus juta."
Nindy: "Wah, benarkah? Ada, Tuan. Kalau bisa, aku minta upahnya dua ratus juta diawal agar bisa membeli rumah untuk Abah dan Ibuku."
Evan: "Tentu bisa. Namun, pastikan keponakan Ningsih memberi info terlebih dahulu. Nanti siang aku akan menelepon kembali. Ok."
Nindy: "Baik, Tuan Evan."
Nindy pun tersenyum dengan mata berbinar. Secerca harapan membahagiakan orang tuanya pun bisa terwujud. "Bang, andai masih ada Bang Joko, tentu tidak akan seberat ini beban yang kupikul." gumam Nindy dalam hati. Dia masih teringat kedua orang tuanya yang sangat terpukul karena kepergian Joko.
Nindy pun melangkahkan kaki ke depan rumah Santi dan Reno. Membuka kembali luka yang coba Nindy pendam ketika Reno memutuskan hubungan begitu saja. Sebenarnya, sangat sulit untuk Nindy menemui Reno lagi. Namun, semua demi uang yang akan dia peroleh ketika menjalani tugas itu. Nindy pun mengesampingkan rasa hatinya yang luka.
Nindy sudah sampai depan gerbang rumah Reno dan Santi. Dia segera memencet bel. Beberapa saat kemudian, Santi keluar rumah karena kebetulan dia berada di rumah.
"Assalamualaikum, Kak." seru Nindy membuat Santi terkejut.
"Wa'alaikumsalam. Ya ampun, Nindy!" sahut Santi yang segera mungkin membuka pintu gerbang.
"Kak Santi apa kabar?" tanya Nindy sambil memeluk Santi.
"Alhamdulilah, baik. Kak Santi coba hubungi kamu sudah beberapa bulan ini tak bisa nyambung. Nindy ganti nomor handphone, kah? Bagaimana kabar Abah dan Ibu?" ucap Santi yang langsung mengajak Nindy masuk ke ruang tamu rumahnya.
Terlihat di samping rumah Santi-tempat kost-kostan, para penghuni kost melihat Nindy dengan senyum di wajah mereka. Ada seorang pemuda yang sudah setahun kost di sana, bernama Rifaldi, memperhatikan Nindy yang masuk ke rumah Santi.
"Abah dan Ibu di rumah kontrakan, Kak. Sedang sakit, tetapi sekarang sudah membaik, Kak." jawab Nindy yang agak malu mengungkapkan.
"Kontrakan? Loh, kenapa ngontrak? Rumah yang lalu kenapa, Nin? Kok, nggak bilang Kak Santi kalau ada apa-apa?" kata Santi yang sedikit panik. Terlebih tubuh Nindy makin kurus dan terlihat lelah.
"Ada siapa, Kak? Tumben ada tamu ...." kata Reno yang berjalan ke ruang tamu dan berhenti bicara saat melihat Nindy duduk di sofa.
"Reno ... sini, ada Nindy jauh-jauh dari Jakarta ini." Santi mencoba mencairkan suasana. Meski dia tahu Reno dan Nindy sudah tak menjalin hubungan, tetapi dia tetap ingin mereka akur.
"Nindy ... lama tak bertemu. Kamu baik-baik saja?" tanya Reno yang kemudian duduk di dekat Santi.
"Alhamdulilah ... seperti ini keadaanku. Maaf kalau Nindy tiba-tiba ke sini. Mau mengabari juga nggak bisa karena handphone dicuri orang tempo lalu. Baru bisa punya handphone kemarin. Maaf, ya," jawab Nindy berusaha baik-baik saja.
Terlihat jelas dari wajah Nindy bahwa dia tidak baik-baik saja. Santi pun merangkul Nindy agar dia merasa lebih baik.
"Maafkan Kak Santi, ya? Kak Santi lalai sampai tidak mengunjungi Abah dan Ibu juga Nindy. Abah dan Ibu sakit apa?"
"Kak Santi nggak salah, kok. Lagi pula nggak enak kalau ngrepotin Kak Santi dan Kak Reno terus-terusan. Nindy juga harus segera dewasa. He he he he ...." Nindy mencoba tertawa meski Santi lihat banyak duka di garis wajahnya.
Nindy terdiam dan menundukkan wajahnya. Tak kuasa menatap lelaki yang ada di hatinya selama ini. Reno menyadari kesalahannya yang tiba-tiba memutuskan hubungan. Namun, apakah bisa dia mengelak dari takdir pertemuan ini?
"Nindy ... kamu marah sama aku?" tanya Reno perlahan.
"Nggak, Kak. Ngapain marah? Kak Reno terlalu baik untuk membuatku marah." Jawaban Nindy membuat Reno semakin merasa bersalah.
"Nindy, apa yang terjadi selama ini? Maafkan aku kalau justru berlari. Aku mencarimu saat nomor handphonemu sudah tidak aktif. Aku ke Jakarta dan rumahmu sudah dijual. Pembelinya tak tahu kamu dan Abah serta Ibu pindah ke mana. Aku berusaha, tetapi ... aku tak bisa menemukanmu," lirih Reno dengan menyesal.
Nindy terkejut mendengar pengakuan Reno. Selama ini Nindy mengira Reno mengakhiri hubungan dan tidak memedulikan kehidupan Nindy lagi. Nindy terenyuh. Seketika bulir-bulir air mata jatuh menetes di pipi.
"Selama ini ... aku mengira Kak Reno sudah tak sudi mengenalku dan orang tuaku. Saat handphoneku hilang dicuri orang, aku sudah tak peduli karena terlalu banyak hal pahit yang terjadi. Setelah itu, Abah dan Ibu sakit-sakitan sampai opname. Karena tak ada biaya, Abah minta rumah dijual saja dan mengontrak. Uang untuk bertahan hidup akhirnya habis dan aku bekerja serabutan demi bisa merawat Abah dan Ibu," jelas Nindy bersamaan air mata yang makin deras.
"Maafkan aku, Nindy ...." Reno langsung memeluk Nindy dengan erat. Dia tak bisa berkata apa pun lagi. Terlalu berat hal yang Nindy arungi sendirian. Sedangkan Reno tak tahu dan seakan tak mau tahu dengan hal itu.
Reno merasa bersalah. Terlebih saat ini, Nindy menangis tersedu-sedu mengingat kesulitan dan segala pesakitan yang ia rasakan sendirian. Merawat Abah dan Ibu seorang diri, bekerja ke sana ke sini demi bisa makan setiap harinya, serta terpaksa berhutang jika uang tak mencukupi untuk berobat. Hal itu Nindy tanggung sendirian di usianya sembilan belas tahun.
Reno menyesal telah mengatakan putus pada Nindy waktu itu. Andai waktu bisa diputar, lebih baik Reno tetap bersama Nindy. Bukannya justru memikirkan soal perasaan oramg lain. Reno baru menyadari tindakannya menghancurkan hati Nindy.
"Nindy, maafin aku, ya? Nindy mau nikah dengan Reno? Mungkin ini terlambat, tapi dari pada tidak sama sekali dan membuat Reno menyesal." bisik Reno kepada Nindy yang masih dalam pelukannya.
Jelas saja hal itu membuat Nindy terkejut. Nindy pun membalas pelukan Reno sambil berkata, "Mau. Aku mau, Kak. Jangan tinggalkan Nindy lagi, please. Bang Joko sudah pergi selamanya, Kak Reno jangan tinggalin Nindy lagi."
Santi datang disaat tak tepat. Dia sedih melihat Reno dan Nindy yang terpaksa terpisah hanya karena permasalahan hati. Santi tahu jika Reno mencintai Nindy. Namun, karena Joko menikah dengan Tante Ningsih, dan membuat Santi sedih, Reno memutuskan untuk menjauh dari Nindy. Santi sadar semua itu pengorbanan mereka hanya demi Santi dan Tante Ningsih. Saat ini, Santi sudah mengikhlaskan Joko. Dia tak ingin mengungkitnya lagi.
"Reno ... Nindy ... minum teh hangatnya dulu, ya. Setelah itu Nindy istirahat dulu, ya. Kak Santi sudah siapkan tempat tidur di kamar dekat Kak Santi. Kalian tenangkan pikiran dulu, ya." ucap Santi sambil meletakkan tiga cangkir berisi teh hangat yang berada di nampan pada meja ruang tamu.
Reno segera melepaskan pelukkannya dari Nindy. Begitu pun sebaliknya, Nindy juga melepaskan pelukkannya dari Reno. Mereka segera mengusap air mata yang terlanjur membasahi pipi. Santi tersenyum menatap Reno dan Nindy yang akhirnya bersatu lagi.
"Kak, izinkan Reno menikahi Nindy. Reno mohon, Kak. Ini tulus dari hati Reno. Reno tak ingin Nindy sendirian lagi," kata Reno dengan tegas membuat mata Santi berkaca-kaca.
"Alhamdulilah jika Reno mempunyai niat baik itu. Akhir minggu kita segera ke Jakarta untum melamar Nindy, ya. Nindy setuju?" Santi menanggapi keinginan Reno dengan baik.
"InsyaAllah setuju, Kak. Abah dan Ibu pasti senang kalian datang," jawab Nindy dengan senyum manis di wajahnya.
"Kalau begitu, sekarang Nindy istirahat, ya. Kak Santi akan membicarakan ini pada Tante Ningsih juga. Agar lamaran berjalan dengan baik, harus minta restu kepada yang dituakan," jelas Santi membuat Nindy ingat tujuan utamanya ke Yogyakarta.
"Tan-Tante Ningsih? Sebenarnya Tante Ningsih ada di mana, Kak?" Nindy penasaran di mana sosok wanita yang menikahi Bang Joko lalu menghilang setelah Bang Joko meninggal..
"Ceritanya panjang. Besok Kak Santi ceritakan semuanya. Sekarang Nindy istirahat dulu, ya." lirih Santi dengan senyuman membuat Nindy tak enak bertanya lebih.
Mereka pun minum teh hangat dan berbincang santai, lalu Santi mengantar Nindy ke kamar untuk istirahat sejenak.
"Nanti siang kalau sudah istirahat, kita makan siang keluar, ya?" kata Reno saat Nindy hendak masuk ke kamar.
"Iya, Kak Reno. Terima kasih." lirih Nindy sambil tersenyum.
Reno merasa senang. Hal ini bukan mimpi. Nindy benar-benar ada di hadapannya. Berada bersama Reno lagi. Santi pun menyikut adiknya.
"Senang, ya? Besok kita bilang Tante Ningsih dulu. Minta restu. Reno semangat, ya. Mengejar cinta dan cita-cita. Kak Santi akan mendukungmu selalu," kata Santi pada adiknya.
Reno bersyukur memiliki kakak sebaik Santi. Belum tentu, orang lain bisa memahami apa yang Reno rasakan. Padahal Kak Santi sudah sakit hati pada Bang Joko yang menikahi Tante Ningsih secara diam-diam. Namun, Kak Santi akhirnya mengikhlaskan dan merestui hubungan Reno dan Nindy saat ini. Santi hanya ingin adiknya semata wayang bisa hidup bahagia dan menjadi keluarga yang normal dan utuh. Tidak seperti Santi yang masih sendiri, melawan segala rasa yang berkecamuk di hati dan pikirannya, serta mengikhlaskan setiap penggalan kisah yang sudah berlalu dalam kenangan. Santi belum bisa membuka hati untuk lelaki lain karena takut kecewa atau terluka lagi. Seperti saat Bang Joko menikahi Tante Ningsih