JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 89


...🔥Keputusan Bima Melawan atau Musnah🔥...


Alex kembali ke neraka, tepat saat Tuan Lucifer mencari mereka berempat. "Untung saja kamu sudah pulang, Alex. Nanti kamu bisa cerita kalau sudah menghadap Tuan Lucifer," kata Bima memperingatkan anaknya agar tidak membahas soal ibunya.


"Iya, Pa."


Alex berjalan di belakang Bima. Evan dan Lily berada di belakang Alex untuk berjaga. Tuan Lucifer menunggu mereka berempat.


"Kenapa lama sekali para pasukanku? Kalian tidak mendengar aku memanggil?" Tuan Lucifer menatap mereka berempat.


"Maaf, Tuan. Kami sedang berlatih meningkatkan energi," jawab Bima sambil menunduk. Waktunya melarikan diri belum tiba, mereka terpaksa pura-pura tunduk. Padahal saat ini Bima sudah curiga dengan rencana buruk Tuan Lucifer. Terlebih lagi Alex yang baru saja menghadapi Servus.


"Baiklah. Kalian sudah bertemu dengan Baal? Dia menyetujui neraka dijadikan satu. Bagi yang tidak setuju, terpaksa kita gempur." Tuan Lucifer menatap keempat anak buahnya. Bukan turunan iblis murni. Tiga dari mereka adalah manusia yang bersekutu dengan iblis, mengorbankan jiwa untuk menjadi iblis. Sedangkan Alex, anak yang spesial. Lahir dari rahim jiwa manusia, hasil persekutuan Iblis dan berkembang di ruang hitam tempat dimensi yang berbeda. Tuan Lucifer mengincar energi milik Alex. Sengaja dia mengembangkan potensi Alex, untuk mengambil alih kekuataannya nanti.


Bima hanya bisa mengangguk dan tunduk saat di depan Tuan Lucifer. Padahal dalam dirinya memberontak atas hal itu. Bima tahu jika keluarganya sedang dipertaruhkan. Jika mengikuti perkataan Tuan Lucifer, hanya akan ada abu dan arang yang tersisa. Bima, Alex, dan Evan serta Lily tak mungkin bisa lolos dari pertempuran dengan panglima neraka itu.


Setelah memberi petunjuk, Tuan Lucifer pun pergi. Dia kembali ke singgah sana dan menikmati darah yang dia dapat dari memeras manusia yang takhluk dalam tipu dayanya. Iblis memang menyukai jiwa manusia berdosa dan menyukai darah. Beberapa perjanjian dengan iblis atau mengundang iblis datang, pasti menggunakan darah. Itulah kesukaan Tuan Lucifer Sang Penguasa Neraka.


Bima mengajak Alex ke tempat lain untuk menanyakan kondisi istrinya. "Alex, bagaimana Mamamu?"


"Tenang, Pa. Sekarang kondisi sudah kondusif. Sebenarnya, Tuan Lucifer menipu Papa. Iblis Servus hendak membalas dendam ke Om Budi, dia hendak memperalat Mama. Untung saja aku datang saat yang tepat. Sekarang, semua sudah kubebaskan dari pengaruh Servus. Papa tak perlu khawatir," jelas Alex tak ingin membuat Bima khawatir.


"Apa? Servus? Dia iblis pengikut Tuan Asmodeus. Kurang ajar. Kalau begitu, benar dugaan Papa selama ini. Tuan Lucifer menipu kita. Dia meminta kita di sini agar bisa menjadikan kita pengawalnya untuk menghadapi panglima neraka. Dia tidak memenuhi janjinya. Kalau begitu, kita harus segera kabur dari sini." Bima membulatkan tekad. Dia akan mengajak kabur Alex, Evan, dan Lily. Sebagai gantinya, Bima tak akan tinggal diam dengan kecurangan ini. Bima akan mencari iblis kuat di dalam salah satu samudera untuk datang ke neraka.


"Bima, jangan khawatir. Kami akan membantu semua rencanamu. Benarkan, Lily?" timpal Evan yang siap membantu Bima.


"Iya, Bima. Aku juga akan membantu. Tak perlu khawatir. Kasihan Ningsih dan anaknya di dunia manusia masih terus diganggu. Kita tak perlu berbaik hati lagi," imbuh Lily yang tersenyum menatap Bima.


"Ya. Keputusan yang berat, tetapi ini memang pilihan. Melawan atau musnah. Kita akan segera pergi. Aku akan mencari tahu nama iblis yang kita cari." Bima menyesal meninggalkan Ningsih dalam kesedihan. Namun, dia juga merasa beruntung karena kini kekuatannya jauh lebih besar dari sebelumnya.


...****************...


Beberapa saat kemudian ....


Abaddon, sosok iblis yang menjadi saudara Tuan Lucifer. Dia dahulu juga salah satu malaikat Tuhan yang disebut Muriel. Namun, karena terlalu bermegah dalam kekuatan , malaikat Muriel itu akhirnya murtat. Meski dahulu dia adalah penjaga, sekarang dia menjadi iblis yang disebut Abaddon atau Apollyon yang berarti kebinasaan atau si penghancur.


Kedatangannya akan menjadi kehancuran dunia. Dia saat ini berada di dalam salah satu samudera yang dalam dan gelap. Bertahta di kerajaan dan membawa jiwa-jiwa manusia berdosa pada lubang gelap yang dalam dan tak berujung. Bima mengambil risiko untuk menemukan Abaddon agar bisa membuat Lucifer berhenti mengusiknya. Jika Abaddon tahu neraka akan kembali digabungkan, pasti tidak akan semudah ini. Para panglima neraka pasti akan berpikir beribu kali jika Abaddon mau ke neraka. Mereka pasti memperhitungkan jika neraka dijadikan satu, akan ads perebutan tahta. Itu tidak akan menguntungkan bagi semua iblis.


Bima sangat pintar mencari informasi. Hari yang ditunggu tiba, Bima membawa Alex, Evan, dan Lily kabur dari neraka. Mereka segera mengembara mencari Iblis Abaddon untuk membawanya ke neraka. Dahulu, Abaddon tak ingin di neraka karena tak mau terikat pemerintahan. Dia lebih suka menyendiri dalam kegelapan yang dalam tak berujung.


Sebelumnya, Alex sudah membuat benteng pelindung untuk Ningsih dan Wahyu. Alex tahu jika akan ada iblis yang ke sana. Oleh sebab itu, Alex membuat benteng yang tak biasa. Dia akan tahu jika ada serangan, dan bisa segera ke tempat ibunya. "Alex, semua sudah beres, kan?" tanya Bima pada anak bungsunya.


"Lily, Evan, kalian sudah mencari petunjuk tempat Abaddon?" tanya Bima kepada dua kawannya.


"Sudah. Abaddon ada di Samudra Pasifik. Kita segera ke sana," jawab Evan dengan mantab. Mereka berempat langsung melesat ke Samudra Pasifik. Masuk menembus dalamnya perairan dengan bantuan Lily. Api biru miliknya bisa membungkus tubuh keempat iblis itu hingga sampai ke dalam tempat gelap yang terlihat kering.


"Bima, apakah semua ini nyata? Dalam laut terdalam ternyata daratan kering?" Evan takut jika hal itu hanya fatamorgana.


"Benar. Aku pernah mendengar percakapan Tuan Chernobog soal tempat ini. Kita cari kerajaan Tuan Abaddon segera." Bima pun meminta mereka untuk berpencar. Alex dan Bima ke Utara sedangkan Evan dan Lily ke Selatan.


Mereka segera mencari tempat kerajaan Abaddon berada. Tempat di mana tak ada cahaya dan hanya ada kesedihan tanpa harapan. Bima tahu jika kedatangannya sudah diketahui Abaddon. Saat Alex dan Bima melangkah mendekat, ada suara yang terdengar lantang dan besar.


"SIAPA KALIAN? MENGAPA DI SINI?" tanya suara menggelegar itu.


Bima langsung mengajak Alex tunduk. "Kami hanyalah iblis kecil yang mencari keberadaan Sang Penghancur Yang Mulia Tuan Abaddon." Bima menyanjung asal suara itu. Bima yakin suara itu berasal dari Tuan Abaddon.


"HA HA HA HA ... IBLIS YANG BERASAL DARI MANUSIA, YA? BERANI SEKALI KALIAN MENCARIKU. APA YANG KALIAN INGINKAN?" Sosok besar, kuat, mengerikan, muncul dari kegelapan. Matanya merah besar dengan gigi tajam di mulutnya yang lebar. Makhluk yang dahulu adalah malaikat itu sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Bukan lagi bentuk malaikat seperti Lucifer. Namun, bentuk dari pemberontakkan dan kehancuran.


"Maafkan hamba kalau membuat Tuan Abaddon terganggu. Hamba beserta tiga iblis lainnya, ke sini untuk mencari kebenaran Sang Penguasa Neraka. Saat ini, Tuan Lucifer akan menyatukan Neraka. Tanpa ada lapisan neraka dan meniadakan jabatan ketujuh Panglima Neraka," ujar Bima memberanikan diri.


"APA KAU BILANG? BERANI SEKALI LUCIFER MELAKUKAN ITU TANPA MEMBERI TAHUKU. AKU AKAN KE SANA!" Tepat sekali Tuan Abaddon terpancing emosi. Dia merasa tidak dihargai jika memang Tuan Lucifer akan melakukan hal itu.


"Tuan Abaddon, apakah boleh hamba meminta satu permintaan?"


"YA. AKU AKAN KABULKAN PERMINTAANMU. SAAT INI PULANGLAH. AKU AKAN KE NERAKA MEMBUAT PERHITUNGAN KE LUCIFER." Abaddon pun muncul. Evan dan Lily yang dari kejauhan melihat pun gemetar ketakutan.


Bima menggenggam erat tangan Alex agar tidak gentar melihat wujud Tuan Abaddon. Alex pun menahan diri meski dia sebenarnya ketakutan.


"Baik, Tuan Abaddon Yang Mulia. Kami akan pulang ke dunia manusia dan memikirkan satu permintaan. Terima kasih sudah bermurah hati kepada kami," ucap Bima sambil menunduk hormat. Dia tahu jika para pe penguasa gila hormat dan ingin disanjung-sanjung.


Bima dan Alex langsung menemui Lily dan Evan untuk segera pergi dari dalam samudra. Mereka segera ke tempat Ningsih dan Wahyu demi memberi tahu mereka kemungkinan yang akan terjadi.


Tuan Abaddon segera keluar dari Samudra Pasifik dan membuat gempa bumi dahsyat dan disusul tsunami besar di Bumi. Umat manusia tidak tahu jika makhluk itu pergi ke Neraka untuk membuat perhitungan pada saudaranya---Tuan Lucifer. Sekitar Samudra Pasifik mendapat bencana alam yang tak bisa dihindari. Beberapa pulau luluh latah karena dampak gempa bumi dahsyat. Pesisir pantai menjadi porak-poranda karena tsunami besar. Berita itu pun sampai ke seluruh dunia, termasuk tempat Ningsih berada.


"Mama, gempa dahsyat barusan ternyata dari Samudra Pasifik. Lihat berita terkini, terjadi tsunami dari dampak gempa itu, Ma," kata Wahyu yang mrlihat televisi.


"Wahyu, ayo kita berdoa. Semoga Allah melindungi kita semua. Semoga Allah menjauhkan kita dari segala bencana." Ningsih memegang erat tangan anaknya sambil menutup mata. Manusia yang tak ada apa-apanya dibanding kuasa Sang Pencipta. Tanpa seizin Sang Pencipta, bencana alam tak akan terjadi.


Ningsih menyadari satu hal. Cintanya kepada Bima selama ini adalah jalan terjal yang membuatnya jauh dari Sang Pencipta. Namun, saat dia bertaubat dan mencoba kembali kepada jalan Illahi, tetap saja dirinya mengingat dan mengenang Bima. Ningsih sadar jika cintanya ke Bima tak hanya cinta biasa. Seperti halnya yang Bima rasakan, meski berpisah jarak tak menjadi permasalahan. Cinta itu tetap bertumbuh dan makin besar. Cinta sejati yang berawal dari JERAT IBLIS. Apakah Sang Pencipta sudi merestui cinta mereka? Atau harus berakhir dengan luka?


Ningsih hanya bisa memanjatkan doa setiap harinya. Mungkin hal itu tak mungkin terjadi dan terasa mustahil, tetapi Ningsih percaya jika Allah merestui cinta mereka, pasti akan ada jalan. Ningsih tak akan menyerah begitu saja dengan kehidupan yang saat ini memisahkannya dengan Bima. Seperti halnya Bima yang tidak pernah menyerah meski terpisah dengan Ningsih.