
π SESAL π
"Bima ...." ucap Ningsih melihat suaminya di depan pintu bangsal.
Joko pun pergi meninggalkan kamar tempat Ningsih dirawat. Merasa tak enak dengan Bima yang datang meski terlambat.
"Ningsih ... mengapa kamu berkata begitu dengan Joko? Apakah kamu ingin ...."
"Maaf ... maaf Bima. Aku hanya bingung. Tahukah kamu apa yang tadi hendak menimpaku? Kamu di mana ketika aku meminta bantuan?" kata Ningsih memenggal kalimat Bima yang belum usai.
"Aku di sana. Aku hendak menolongmu. Kau tahu, pagar gaib yang Budi pasang terlalu kuat untuk kutembus. Aku berusaha menolong tetapi aku tak mampu," sesal Bima yang melangkah mendekati istrinya yang duduk di ranjang pasien.
"Bima, bahumu berdarah?" Ningsih panik melihat kucuran darah yang membekas di pakaian Bima.
Ternyata bekas luka saat Bima berkali-kali mencoba menembus pagar gaib tadi terlihat bahkan saat Bima berwujud manusia.
"Nggak apa. Ini lukaku tadi saat hendak menembus pagar gaib di rumahmu. Aku tak apa, Ningsih. Justru aku minta maaf tak bisa selalu bersamamu, tak bisa melindungimu, tak bisa ...."
Ningsih memeluk Bima dan menangis. "Maaf, Bima. Maaf ... aku terlalu jahat untuk berpikir kamu meninggalkanku. Aku terlalu jahat dan berpikir kamu membiarkan hal buruk terjadi padaku. Maaf ... maaf ...." Ningsih terisak dan menyesal telah berpikir buruk tentang Bima.
Ningsih takut jika Bima meninggalkannya karena telah memiliki pengikut lainnya. Ningsih takut jika dicampakan seperti saat hidupnya bersama Agus.
Bima memahami hal itu. Dia tahu jika Ningsih tak sungguh-sungguh menginginkan Joko.
"Kamu nggak salah, Ningsih. Semua salahku. Mulai saat ini, aku akan lebih berusaha keras untuk melindungimu." Bima membelai halus rambut istrinya.
"Aku salah, Bima ... aku nggak tahu kalau kamu sampai terluka hanya mencoba menyelamatkanku." Ningsih mengelus luka di bahu Bima.
"Aku baik-baik saja. Ini hanya luka kecil. Sebentar lagi juga sembuh." Bima melihat wajah Ningsih yang penuh air mata. Matanya sembab dan terlihat pucat. "Ningsih, kamu tak apa, kan? Alex dan Hartono sudah kumusnahkan."
Ningsih menatap suaminya tanpa berkedip. Sesal menyakitkan hatinya. Hampir saja dia berpaling hanya karena salah paham.
"Bima ... maafkan aku."
Bima tak menjawab, karena dia tak merasa Ningsih berbuat salah. Justru Bima merasa tak becus tak bisa melindunginya.
Sepasang kekasih beda dunia itu terdiam dan saling pandang.
πΆ πΆ Jujur kukatakan kepadamu
Bahwa kamu yang paling mengerti
Takkan ada yang lain
Menggantikan dirimu lagi
Berulang kali telah ku coba
Membuka hati untuk yang lain
Namun semua berakhir
Kar'na cintaku hanya untukmu
Salahkah diriku yang tak bisa
Menepikan dirimu dalam hatiku
Aku t'lah mencoba, terus ku mencoba
Namun tak bisa
Mungkin memang aku yang bersalah
Tak bisa menjadi yang kau minta
Andai dulu ku tahu
Pasti kita masih 'kan bersama, wo-ho
Salahkah diriku yang tak bisa
Menepikan dirimu dalam hatiku
Aku t'lah mencoba, terus ku mencoba
Namun tak bisa
Kar'na hanyalah dirimu yang s'lalu ada
Di hati ini hingga akhir bersamaku
Aku t'lah mencoba, terus ku mencoba
Namun tak bisa
Melupakanmu πΆπΆ
***
Keesokan harinya, dokter mengijinkan Ningsih, Budi, dan Mbak Rahma untuk pulang. Mbak Rahma syok dan orang tuanya meminta untuk pulang.
"Bu, maaf kalau saya pamit pulang. Orang tua meminta saya berhenti kerja," Mbak Rahma pamit dengan Ningsih.
"Maaf Mbak Rahma, kalau hal ini terjadi. Nanti akan kutransfer uang gaji bulan ini dan uang pesangon." kata Ningsih tak bisa berkata banyak.
Setelah itu Mbak Rahma pergi bersama orang tuanya. Ningsih dan Budi pulang bersama dengan Bima dan Joko.
"Biar Ningsih ikut mobilku," kata Bima kepada Budi dan Joko.
"Baik, Tuan."
Ningsih pun masuk ke mobil Bima. Bima pun melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
"Bima ... kasihan Mbak Rahma. Tadi aku mendengar kabar dari pihak medis, ternyata Hartono membuatnya kehilangan keperawanannya. Dahulu Mbak Rahma pernah hampir dinikahi Hartono, tetapi setelah tahu Hartono banyak istri Mbak Rahma undur diri. Hingga saat ini belum mau menikah karena trauma. Aku benci sekali kelakuan Hartono," kata Ningsih mengeggam erat ujung bajunya.
"Iya kasihan sekali. Namun Hartono sudah mendapatkan balasan setimpal. Bahkan tubuhnya yang jatuh dari lantai tujuh tidak ditolong malah diinjak-injak orang yang berebut uangmu." Bima tersenyum menengok ke Ningsih dan menenangkannya.
"Terima kasih, sayang. Maaf aku sempat meragukanmu," ucap Ningsih mengusap lengan Bima yang masih fokus menyetir mobil.
"Iya, sama-sama. Oiya, tadi Joko bilang kalau Mak Sri sudah kembali bekerja karena khawatir denganmu dan Wahyu. Beliau sudah menunggu di rumah. Lalu, aku belum bisa masuk ke rumahmu karena Budi menanam pohon bidara di setiap ujung rumah dan memberi pagar gaib. Jangan marah kalau aku tidak ke sana," jelas Bima sambil tersenyum.
"Kalau pohon bidaranya kucabut? Berefek nggak, sayang?" Ningsih pun tersenyum menatap suaminya.
"Tak tahu sayang. Tapi tak apa. Kita masih bisa bertemu di luar. Biarkan saja Budi mungkin ingin melindungimu ...."
"Melindungi dari apa? Justru menjauhkan dari suamiku sayang. Huh," dengus Ningsih kesal.
"Yaudah jangan marah, sayang. Setelah semua membaik, kita beli sebuah villa di puncak saja."
Bima dan Ningsih pun bercakap-cakap membahas segala hal indah yang mereka rencanakan. Perjalanan ke rumah terasa singkat. Padahal satu jam mereka lalui karena jalanan macet.
"Ningsih, aku pamit dahulu. Kamu istirahat di rumah, ya." Bima mengecup kening istrinya dan mengusap pipi wanita cantik yang menakhlukan hatinya.
"Iya, Bima. Terima kasih."
Ningsih pun turun dari mobil dan masuk ke rumah. Dia disambut oleh Mak Sri, Budi, Joko serta Nindy dan Wahyu.
"Wah, ramai sekali ...."
"Iya, Bu. Saya langsung ke Jakarta dengan travel semalam saat dengan Bu Ningsih kena musibah. Maafkan saya ya, Bu. Saya akan menjaga Bu Ningsih dan Wahyu." Mak Sri merasa bersalah dan khawatir dengan keadaan Ningsih.
"Mak Sri nggak salah kok. Namanya musibah itu kita tak tahu. Oh iya, Mak Sri istirahat dulu saja pasti capek ya. Budi juga istirahat saja, kondisimu belum pulih. Nindy dan Joko terima kasih banyak, ya. Sudah menjaga Wahyu juga," kata Ningsih sambil memeluk puteranya.
Hari itu berlalu dengan penuh canda tawa. Ningsih mencoba melupakan kejadian yang terjadi semalam. Lalu tak lupa dia menransfer beberapa puluh juta untuk Mbak Rahma sesuai nomor rekening yang dia beri tadi pagi.
***
Di Yogyakarta ....
"Kak, gimana kondisi Tante Ningsih dan Wahyu?" tanya Reno khawatir sejak tadi jalan mondar mandir.
"Udah pulang dari rumah sakit kata Bang Joko. Tapi anehnya pelaku kejahatan itu meninggal semua dan dengan cara mengenaskan. Jangan-jangan perbuatan suami gaib Tante Ningsih ya?" jawab Santi sambil berpikir.
"Memangnya suami gaib Tante Ningsih tu seperti apa Kak? Lagi pula Tante Ningsih di sini juga baik-baik saja. Malah punya suami Om Bim ...."
Perkataan Reno terhenti. Santi dan Reno saling pandang. Sepertinya mereka mempunyai pemikiran yang sama.
"Mungkin nggak sih kalau Om Bima itu Iblis?" bisik Santi yang curiga.
"Nggak tahu, Kak. Tapi misal iya, berarti Dinda adiknya Om Bima juga Iblis dong."
"Oh, benar. Sepertinya mereka memang mencurigakan. Kita harus selidiki ini. Jangan sampai Tante Ningsih berakhir seperti Ibu kita," tegas Santi yang membuat Reno sedih mengingat Ratih, ibunya.
Bersambung ....