JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 24


...🔥 AWAL PERUBAHAN 🔥...


Seminggu kemudian ....


Setelah kejadian Nindy pingsan di kamar saat tengah malam, sifatnya menjadi berubah. Lisa sebagai anaknya pun tak ingin dekat dengannya selama seminggu ini. Reno yang sibuk mengurus investor, jadi tidak terlalu memperhatikan perubahan istrinya.


"Lisa, nanti kamu berangkan ke sekolah sama Bibi aja, ya. Mama mau ada urusan," kata Nindy yang mulai cuek dengan anaknya.


"Ma, Mama kenapa? Itu ada Om menakutkan di belakang Mama," lirih Lisa coba memberi tahu Nindy.


"Udah berkali-kali Mama bilang, jangan mengada-ada! Awas saja kalau banyak berkhayal lagi!"


Lisa pun bersedih karena mamanya tidak percaya dengan apa yang dia katakan. Padahal terlihat jelas ada sesosok makhluk mengerikan di belakang mamahnya sejak beberapa hari yang lalu. Tepatnya seminggu yang lalu, setelah Nindy melakukan perjanjian dengan cenayang itu.


"Mengapa Mama tidak mempercayaiku? Padahal Lisa berkata yang jujur. Oh iya, Lisa ingat Kakak Gio dan Kakak Gilang pasti mereka lebih mengerti apa yang yang sedang terjadi. Lisa akan minta Papa untuk menghubungi mereka," gumam Lisa yang kemudian berlari ke bibi.


"Non Lisa, berangkat sekolahnya sama Bibi dulu, ya. Mama mau pergi katanya. Non Lisa, jangan sedih, ya. Bibi akan menemani sampai nanti Non pulang," kata bibi mencoba menjelaskan kepada Lisa.


"Iya Bi, tak apa, kok. Oh iya, Bibi punya handphone tidak? Lisa mau pinjam, dong, untuk telepon Papa," celoteh Lisa sepanjang perjalanan menuju ke mobil.


Sopir pribadi sudah menunggu di depan dengan mobil yang sudah disiapkan. Sedangkan Nindy sudah pergi menggunakan taksi.


"Ada, Non, ini kalau mau dipakai. Kebetulan sudah isi pulsa, jadi bisa menelepon Papanya Non." kata bibi sambil memberikan ponselnya ke Lisa.


Lisa meraih ponsel yang diberikan oleh Bibi, lalu segera menelepon Reno.


"Halo, Papa. Pa, ini Lisa. Lisa berangkat sekolah sama Bibi. Papa lagi apa? Lisa mau tanya, Pa. Papa nyimpan nomor handphone-nya kakak Gio dan Kakak Gilang, tidak?" tanya Lisa saat panggilan ponsel sudah terhubung dengan Reno.


"Halo, Lisa sayang. Iya, ini Papa baru saja selesai meeting. Oh iya, tempo lalu Papa menyimpan nomor handphone mereka. Siapa tahu hendak mengajak mereka untuk makan malam lagi. Emang ada apa Lisa menanyakan mereka? Apakah Lisa rindu pada kakak-kakak itu? Kalau iya, bagaimana kalau nanti siang kita ajak mereka makan bersama?" kata Reno memberi ide cemerlang.


Jelas saja Lisa senang dengan tawaran dari Reno. "Wah, asyik itu. Bagus, Pa. Papa tolong bilang kalau hubungi mereka, Lisa ingin bertemu dengan kakak-kakak itu. Terima kasih, Papa," ucap Lisa yang kemudian mematikan panggilan di handphone itu dan menyerahkan kembali handphone kepada bibi.


Lisa pun bersekolah dengan senang. Sedangkan bibi menunggunya di depan gerbang. Tidak sedikit pun meninggalkan Lisa, karena takut zaman sekarang banyak terjadi penculikan anak.


...****************...


Dinda sudah kembali ke rumah Ningsih sejak beberapa waktu yang lalu. Tepatnya sejak seminggu yang lalu, setelah kejadian Nindy menyiram muka Dinda dan Rino di cafe. Dinda sengaja tidak menceritakan hal itu kepada Bima maupun Ningsih, apalagi kepada Boy. Namu n, tentu saja dia tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang marah dari Boy


Lelaki tampan itu mengetahui hal-hal dalam diri Dinda dengan cepat.


"Dinda, sebenarnya apa yang terjadi? Kalau kamu mau, ceritalah kepadaku. Jujur, aku bisa merasakan jika kamu marah sejak pulang dari Surabaya waktu itu. Sepertinya kamu sudah bertemu dengan seseorang dan hal itu membuat kamu kesal, bukan?" selidik Boy kepada Dinda saat Bima dan Ningsih sedang pergi berbelanja. Sedangkan Alex berada di depan, sedang bermain di taman luar rumah.


"Tidak ada apa-apa. Aku baik-baik saja. Emangnya ada apa, sih? Oh iya, Boy, apakah kamu senang di sini hidup bersama aku dan Kakakku, maksudku bersama keluarga Kakakku juga?" tanya Dinda mengalihkan pembicaraan.


"Aku senang di mana pun itu, asal bersamamu. Namun, jika kamu merasa kurang nyaman di sini bersama keluarga Kakakmu, kita bisa membeli sebuah rumah di dekat sini. Tenang saja, usahaku tetap berjalan lancar, karena Park Kim mengusahakan yang terbaik di Korea selama aku di sini," ucap Boy yang selalu menenangkan Dinda.


Boy memanglah pengusaha yang kaya raya. Dia mewarisi harta milik orang tuanya dan bisa mengembangkan jauh lebih maju daripada sebelumnya. Tentu saja semua itu dengan bantuan dan dukungan Park Kim, teman-sahabat-sekaligus keluarga satu-satunya yang Boy miliki setelah kepergian kedua orang tuanya.


"Aku lupa kalau mempunyai kekasih yang kaya raya. Ha ha ha ... oke, baiklah. Jika kamu menginginkan membeli rumah, aku pun ingin," ucap Dinda yang kemudian tertawa.


Boy pun tertawa melihat tingkah laku Dinda. Jelas saja, dia bisa menuruti permintaan Dinda itu. Membeli sebuah rumah di Yogyakarta bukanlah hal yang sulit bagi pengusaha kaya raya dari Korea. Manusia separuh malaikat itu, mempunyai banyak cara untuk bisa meluluhkan hati Dinda. Bukan hanya soal materi, tetapi dia juga memperlakukan Dinda dengan baik. Meski dia tahu, bahwa wanita yang dia cintai adalah iblis penghuni neraka. Hal itu tak menjadi penghalang.


Alex pun masuk ke rumah setelah selesai bermain di taman. "Om ... Tante ... kalian lagi asik ngobrolin apa, nih?" tanya Alex yang penuh rasa penasaran.


"Ini ... Om dan Tante baru membicarakan akan memberi rumah di sekitar sini. Jadi, Alex bisa bermain di rumah Om dan Tante juga. Bagaimana menurut Alex?" kata Dinda meminta pendapat pada anak tamlan itu.


"Oh, begitu, tapi Alex lebih suka kalian tetap di sini. Bersatu, maka kita akan kuat. Kita tidak pernah tahu kapan musuh akan datang, bukan?" kata Alex yang membuat Dinda dan Boy berpikir kembali tentang keputusan mereka.


"Alex melihat sesuatu di masa depan?" tanya Dinda yang penasaran.


"Bukan penglihatan, sih, tapi Alex merasakan akan ada sesuatu yang datang. Lebih tepatnya datang untuk membuat masalah dengan kita. Entah siapa dan apa itu. Hal itu sepertinya tidak lama lagi akan terjadi. Tante diam dulu, ya. Alex belum bilang ke Papa Mama. Alex takut mereka khawatir lagi karena banyak hal yang sudah kami lewati beberapa tahun ini. Menghadapi beberapa anak buah dari neraka lapis keenam," jelas Alex kepada Boy dan Dinda.


Boy pun menatap Alex dan Dinda secara bergantian. Dia merasakan juga sepertinya perkataan Alex itu adalah benar. Boy juga merasakan hal itu. Akan ada sesuatu hal yang terjadi. Mungkin beberapa hari lagi.


"Baiklah, lebih baik kita di sini dahulu. Betul juga kata Alex," kata Boy sambil tersenyum.


...****************...


Nindy naik taksi online pergi ke sebuah tempat yang lumayan jauh. Dia menyewa hotel untuk menemui Za. Iblis yang menemaninya beberapa hari ini. Dia tak ingin bertemu Za di rumah karena rawan untuk Reno tahu. Tentunya hal ini salah satu syarat karena malam ini purnama pertama perjanjian yang Nindy ikuti.


"Mengapa aku harus seperti ini? Justru sekarang Reno makin menjauh dan Lisa juga," gumam Nindy yang menyesal. Hal itu terdengar oleh Zatan.


"Jangan khawatir. Setelah malam ini, kupastikan Reno akan tunduk padamu. Asalkan darahmu untukku. Serta layani aku dengan baik. Satu hal lagi, tubuhmu akan menjadi perantara mencari tumbal. Setiap lelaki yang bukan suamimu ketika berhubungan denganmu, akan menjadi tumbal untukku." Zatan menjelaskan hal itu seakan dia berbisik di telinga Nindy.


"A-apa? Aku tak mau seperti itu. Jangan mempermainkanku. Aku tidak minta perjanjian seperti itu!" batin Nindy menolak penjelasan Zatan.


Zatan tak menjawab. Dia tahu jika wanita itu mudah berubah pikiran. Sesungguhnya, Nindy sudah memiliki Reno beserta hatinya. Hal yang dia lakukan justru sia-sia dan membawa dirinya beserta keluarganya ke jurang maut. Zatan sesungguhnnya mengincar tubuh Lisa.


Lisa lahir saat malam satu suro, bertepatan Jumat kliwon. Waktu yang spesial dan jarang terjadi. Lisa pun memiliki kemampuan yang luar biasa. Namun, orang tuanya belum menyadari anaknya memiliki indera keenam. Justru mereka menganggap Lisa sedang berimajinasi seperti anak-anak lainnya.


Sejak pertama mengikuti Nindy ke rumah, Zatan langsung merasakan aura kekuatan Lisa yang cukup besar. Tubuh anak itu bisa Zatan gunakan untuk masuk ke dunia manusia secara utuh dan melukai lebih banyak orang lagi. Bukankah orang dewasa tak akan tega melukai anak kecil? Itulah yang Zatan rencanakan. Merusak keluarga kecil itu.


Sesampainya di hotel, Nindy langsung bergegas check in dan masuk ke kamar. Dia pun memanggil Zatan dan bertanya apa maksud dari semua ini. Dia seperti orang bodoh yang bermain dengan hal gaib tetapi tak mengetahu risiko dan apa yang akan dia hadapi. Nindy yang terlalu emosi masuk dalam perangkap Susan.


"Hei! Makhluk dari cenayang, apa yang kau inginkan? Apa yang akan aku dapatkan dalam perjanjian ini?" tanya Nindy memberanikan diri.


"Ha ha ha ... ternyata cenayang gila itu belum bilang padamu? Kamu akan jadi budakku. Melayaniku. Memberiku darah tiap purnama. Lalu, aku akan membuat suamimu patuh padamu. Selain itu, setiap aku memakaimu untuk mencari tumbal lelaki yang penuh dosa hawa nafsu, aku akan memberimu harta sebagai gantinya. Harta untukmu saja. Kau bisa menabungnya. Bukankah selama ini kau tidak memiliki apa pun kecuali pemberian suamimu?" kata Zatan yang membuat Nindy memikirkan kembali hal itu.


Memang selama ini, Reno yang bekerja keras. Semua kemudahan dan kemewahan yang Nindy dan kedua orang tuanya rasakan adalah hasil perjuangan Reno. Nindy tidak memiliki uang sendiri atau tabungan pribadi. Jika sewaktu-waktu ada pemasalahan, tentunya Nindy akan kesusahan karena bergantung pada Reno. Tanpa berpikir panjang, dia mengikuti kata Zatan.


"Baiklah. Aku pikir hal ini bagus untuk masa depanku dan anakku. Namun, jangan lukai aku dan keluargaku, ya," lirih Nindy memastikan bahwa Reno, Lisa, dirinya, beserta Abah dan Ibu akan baik-baik saja.


"Ya. Tentu!"


Nindy tak pernah belajar dari pengalaman. Semua hal gaib, iblis tak akan pernah menepati janjinya. Mahluk kegelapan itu hanya ingin menguasai manusia dan memperbudak mereka dalam cengkraman maut. Tak mungkin jika tidak melukai. Mereka akan membuat manusia semakin senang hidup dalam dosa dan akhirnya terjerat hingga mati. Nindy lupa jika hal itu yang menyebabkan Joko meninggal. Atau lebih tepatnya, karena Reno tak bercerita yang sesungguhnya soal kematian Joko hingga Nindy tak mengerti semua karena kuasa iblis merajarela.