JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
Selama 100 Hari


Minggu pertama, minggu kedua, minggu ketiga berjalan dengan baik. Bagi Gladys melepas semua harta benda yang memang bukan miliknya adalah kewajiban. Ya, karena Budi dan Wahyu sudah menceritakan dampak dari pesugihan serta kemungkinan adanya gangguan.


Setelah Wahyu datang ke warung kontrakan Gladys, beberapa hari kemudian mereka merenovasi bagian depan warung. Dibuat semenarik mungkin dengan memadukan usul Wahyu dan Sisca. Semua dengan biaya dari Wahyu. Lelaki itu sudah berjanji akan melindungi Gladys selama seratus hari ini. Efek pesugihan akan hilang setelah beberapa kali ruqyah. Wahyu pun membantu Gladys untuk ruqyah mandiri. Ya, ruqyah mandiri agar efek pesugihan itu menghilang.


Minggu keempat, terlihat warung juice dan ayam penyet milik Gladys mulai ramai. Meski dengan meja biasa dan bangku dari plastik, hidangan ayam penyet Bi Munah yang lezat membuat orang ketagihan kembali beli di sana. Gladys senang usahanya mulai berjalan. Uang modal usaha Gladys untuk membeli bahan mulai terkumpul kembali.


"Alhamdulillah ... kalau begini terus, labanya cukup buat kebutuhan bulanan dan memberi gaji Bi Munah. Terima kasih, ya, Allah," gumam Gladys mengucapkan syukur.


Gladys perlahan tapi pasti berubah menjadi gadis yang periang, bahagia dengan kehidupan sederhananya. Meski banyak hal buruk silih berganti, dia tak sedih.


Di kampus ....


"Tahu nggak si Gladys, sekarang jadi penjual juice, loh! Terus ... usaha bokapnya bangkrut. Dia juga ngontrak," kata salah seorang teman di kampus.


"Gladys yang super rich itu? Anaknya Pak Gunawan?"


"Iya, lah. Siapa lagi, coba?"


"Hah? Bangkrut ya?"


"Iya, dia nggak becus ngurus perusahaan bokap. Seminggu setelah bokapnya ga ada, nyokapnya nyusul karena syok bangkrut. Ngeri, kan?! Jangan deket-deket dia, deh. Ntar ketularan miskin."


"Huh, ngeri gitu, ya? Emang dasar Gladys bawa sial kalik, ya? Dulu, kan, dia suka jahat dan pilih-pilih teman. Sekarang ... mana ada yang mau temenan ama dia. Amit-amit, deh."


"Hissh ... masih ada yang mau temenan Ama dia. Tuh, orangnya! Si Sisca ...." cibir kawan Gladys yang bermulut kejam.


Sisca yang mendengar semua itu pun bangkit dari duduknya dan berjalan keluar. Dia tak mau mendengarkan perkataan jahat mereka soal Gladys. Baginya, Gladys sudah banyak berubah dan mulai bangkit dari kesedihannya.


Sebenarnya Gladys bekerja menjadi asisten dosen karena sangat pandai. Dia juga melanjutkan S2, tetapi karena orang tuanya meninggal, Gladys melepaskan semua itu. Dia down karena cibiran banyak orang. Sisca kasihan dengan Gladys dan mau menemani dia.


...****************...


Empat puluh hari ayah Gladys ....


Meski kepergian almarhum Gunawan sudah empat puluh hari yang lalu, rasa sedih masih hinggap di hati Gladys. Malam itu, Gladys dibantu Bi Munah menyiapkan untuk tahlilan. Wahyu, Alex, Ningsih, dan Lisa pun datang bersama Cahaya. Mereka ikut mendoakan Pak Gunawan agar tenang di sana.


"Gladys ... setelah ini, kamu akan lebih ringan. Tidak akan ada gangguan lagi. Kamu sabar, ya," lirih Wahyu sambil menatap mata Gladys.


"Terima kasih, Wahyu. Iya, aku tidak takut soal gangguan. Aku justru takut kalau tidak bisa menjadi pribadi yang terbaik." Gladys menunduk tanda malu pada diri sendiri.


"Jangan begitu ... kamu harus optimis. Sebentar lagi tahlilan untuk Mama kamu juga. Jadi, semangat. Oh iya, soal suara-suara itu apakah masih ada terdengar?" tanya Wahyu memastikan Gladys apakah masih diganggu atau tidak.


"Ah, udah tidak ada. Kalau ada suara minta tolong lagi, aku praktekkan doa seperti yang kamu ajarkan. Alhamdulillah ... suara itu tidak mengganggu lagi," ujar Gladys yang terlihat lebih sopan.


Wahyu pun tersenyum menatap Gladys. Lama kelamaan, ada rasa yang ada di hatinya. Rasa yang membuatnya semakin yakin memilih Gladys sebagai istrinya.


Ningsih melihat pancaran itu dari mata Wahyu saat memperhatikan Gladys. Bukan hanya soal kasihan, tetapi benih cinta sudah tumbuh di sana. Wahyu merasakan kesedihan Gladys dan paham betul rasanya sendirian.


Setelah tahlilan selesai, Wahyu dengan keluarga berpamitan pulang. Gladys dan Bi Munah membereskan kontrakan. Para tetangga pun sudah pulang lebih dahulu. Malam itu angin serasa berembus kencang dan membuat merinding tengkuk Gladys.


"Bi Munah ... ayo kita masuk. Kita segera tutup pintu. Sepertinya mau hujan," kata Gladys kepada Bi Munah yang sudah mau berkorban menjadi asisten rumah tangganya, meski gaji belum tahu berapa.


"Iya, Non. Masuk aja. Sepertinya mau hujan deras."


"Non, kita segera tidur aja. Takutnya ada apa-apa. Ini air bidaranya diminum dulu," ujar Bi Munah seakan sudah tahu siapa yang akan datang.


Ya, para makhluk mengerikan itu hendak mengambil Gladys. Namun Wahyu sudah antisipasi dengan memagari rumah kontrakan itu dan meminta Gladys meminum air bidara yang sudah didoakan. Wahyu menjaga Gladys dari kejauhan dengan berdoa menghalau mereka yang jahat.


"Terima kasih, Bi. Hampir aja aku lupa minum ini. Aku minum dulu, Bi." Gladys menghabiskan air di dalam botol itu.


Setelah itu, mereka tidur di dalam kamar yang luas hanya tiga kali tiga meter persegi. Kamar yang muat untuk dua kasur ukuran sembilan puluh centimeter, dua lemari kecil, dan sebuah meja. Gladys tidur sekamar dengan Bi Munah karena hanya ruangan itu yang tersisa. Dia harus bersabar menjalani kehidupan barunya. Terpenting dia tak sendirian. Memiliki Bi Munah membuat Gladys sangat bersyukur. Dia tidak sendiri dalam segala kesusahan ini. Bahkan ada Wahyu yang mau menerimanya apa adanya.


Malam itu, puluhan makhluk meraung-raung di depan kontrakan Gladys. Gadis berhidung mancung itu terlelap dalam damai. Wahyu melindunginya dengan doa. Bi Munah pun terlelap tanpa mendengar suara gangguan yang sebenarnya gaduh di depan kontrakan.


Wahyu di rumahnya duduk bersila di lantai sambil membaca doa-doa. Dia melawan para makhluk yang menuntut tumbal atas kesalahan Pak Gunawan. Sebenarnya hari ke empat puluh ini adalah kesempatan terakhir mereka untuk mendapatkan Gladys. Jika tidak dapat, maka Gladys bebas dari perbuatan dosa orang tuanya.


"Sabar, Gladys. Kamu bukan wanita yang jahat. Aku akan melindungi kamu," gumam Wahyu yang kemudian terbatuk-batuk.


"Uhuk ... uhuk ...." Wahyu mengusap bibirnya dan terkejut dengan darah yang mengalir. Luka dalam karena menggempur para makhluk gaib itu dengan doa. Wahyu menghirup napas dalam dan mencoba mengobati tubuhnya sendiri.


"Allahu Akbar! Allahu Akbar!" serunya di tengah malam dan memenangkan jiwa Gladys dari para makhluk gaib mengerikan itu.


...****************...


Sambil menunggu hari keseratus meninggalnya ayah dan ibu Gladys, Wahyu pun mulai mempersiapkan pernikahannya. Setelah mendapatkan restu dari seluruh keluarga, Wahyu pun mengajak Gladys untuk ke event organizer. Lebih mudah menyewa semua disatu tempat.


"Gladys, tak apa jika meninggalkan Bi Munah sendiri? Ini pas rame, kan?" tanya Wahyu pada Gladys yang hendak masuk ke mobil.


"Tak apa, Wahyu. Justru Bi Munah yang bilang tak apa ikut Wahyu ke wedding organizer. Beliau sangat pengertian," jawab Gladys sambil tersenyum lebar.


"Oh, begitu. Iya, beliau baik sekali. Kalau begitu, ayo kita berangkat!"


Wahyu dengan semangat mengajak Gladys pergi dari tempat usahanya. Bergegas ke daerah kota untuk memilih seperti apa kartu undangan, perencanaan wedding dari akad nikah hingga resepsi. Pakaian dan adat yang dipakai pun semua dipersiapkan.


"Sudah sampai. Ayo, Gladys. Kamu boleh memilih apa yang kamu inginkan untuk acara pernikahan. Aku harap, ini akan menjadi awal kebahagiaan kita," ucap Wahyu dengan yakin.


"Amin. Semoga semua berjalan lancar, ya," jawab Gladys.


Mereka masuk ke kantor tersebut dan menemui orang yang bertugas di sana. Gladys memilih dengan gaun dan jas saat resepsi, sedangkan kebaya untuk akad nikah. Wahyu menyetujui hal itu. Seakan yang diimpikan menjadi kenyataan. Gladys heran dengan hal itu. "Apakah benar ini karena Madame? Tapi ... sejak kepergian Papa, nomor Madame tidak bisa dihubungi. Ah ... lagi pula karena itu ada bukan, terpenting aku sudah mendapatkan Wahyu. Kalau aku menghubungi Madame akan sulit bagiku untuk membayar. Bahkan untuk menggaji Bi Munah pun ak belum sanggup," batin Gladys yang penuh teka-teki atas perlakuan Wahyu yang menjadi baik dan sangat peduli padanya.


Di balik itu, Gladys sebenarnya sangat bersyukur hendak menikah dengan lelaki yang diimpikan dirinya. Ternyata sampai meninggal pun, kedua orang tuanya selalu menuruti apa yang Gladys inginkan dan harapkan. Ya, karena meninggalnya kedua orang tua Gladys, terutama Lina, Wahyu jadi simpatik dan bahkan melamarnya untuk menjadi istri. Bahagia tak terkira di benak Gladys.


Wahyu pun senang. Dia merasa yakin memilih Gladys. Selain karena pesan terakhir almarhumah Lina, Wahyu juga mulai melihat segala sisi baik Gladys. Wanita yang sudah bangkrut, biasanya tak mau hidup susah. Beberapa di antaranya pun mengikuti keinginan diri sendiri untuk bisa mendapatkan yang diinginkan. Beda dengan Gladys yang langsung menjual rumah mewahnya untuk membayar pesangon kepada semua karyawannya. Wanita yang manja, seketika berubah menjadi mandiri. Wanita yang dulunya angkuh dan tak mau bekerja susah payah, akhirnya mau bekerja keras bersama Bi Munah. Sungguh, Wahyu tersentuh dengan segala perubahan yang dialami Gladys dan dia tak pernah mendengar wanita itu mengeluh.


Sesudah memilih, memesan, dan membayar DP untuk pernikahan, Wahyu dan Gladys pun pulang. Sebelum mengantarkan Gladys pulang, Wahyu mengajak Gladys ke rumahnya. Sekedar bercengkrama dengan Ningsih dan Alex serta Cahaya dan Lisa, begitu pikirnya.


Mobil HR-V itu masuk ke gerbang rumah Ningsih dan langsung parkir. Ternyata Alex dan Lisa berada di sana dan tak dengar jika Wahyu sudah pulang.


"Mama harus tegas, lah. Belum tentu wanita itu baik. Mama tahu, kan, ceritanya orang tua meninggal karena apa? Ma, Alex sangat khawatir dengan Kak Wahyu. Siapa tahu dia hanya kasihan dan tidak punya rasa khusus untuk menikah," ujar Alex yang terdengar telinga Gladys dan Wahyu yang sedang berjalan ke arah pintu masuk.


"Tapi gimana lagi, Alex. Kakakmu itu sulit jika diberi tahu soal seperti ini. Mama berharap Kakakmu benar-benar cinta dengan Gladys. Dari tatapan matanya pun sudah beda," jelas Ningsih yang tak ingin berburuk sangka.


"Mama, dibilangin ga percaya. Itu tanya si Lisa. Ternyata Lisa kenal sama Gladys sebelum dia bangkrut. Orangnya reseh. Pernah nglabrak Lisa karena ikut seminar dan ada senior yang suka sama Lisa. Makanya Lisa tak mau kuliah di Indonesia karena banyak hal seperti itu," imbuh Alex yang kesal.


Wahyu langsung masuk dan berdeham. Dia menggenggam erat tangan Gladys yang sebenarnya ingin berlari pergi dari situ. "Egehm ... ada apa ini?"