
π BUKAN DIRIKU π
Ningsih terbangun dari tidurnya. Serasa pemerkosaan semalam hanyalah mimpi belaka. Namun, mata Ningsih menatap ke kamar yang berantakan. Dia mencoba mengingat kejadian semalam. Kepalanya terasa nyeri dan sakit seperti tertusuk-tusuk jarum.
"Semalam itu ... bukan mimpi?" gumam Ningsih.
Belum sempat dia mencerna apa yang terjadi karena ada noda darah di beberapa sudut kamarnya, suara keramaian di depan rumah membuat Ningsih bertanya-tanya. Dia menutup rapat kamar itu dan berganti pakaian untuk segera pergi keluar rumah.
"Kenapa banyak darah di sini? Aku harus mengganti pakaianku."
Belum sempat keluar rumah, terlihat dari jendela ada polisi lewat. DEG!
Ningsih mengurungkan niat keluar rumah. Dia bergegas menata kamarnya. Menghapus bekas darah dengan cairan pembersih lantai. Bau amis itu menyeruak, Ningsih menyemprotkan pengharum ruangan begitu banyak.
Setelah beres, Ningsih menghela nafas. Dia pun keluar rumah. Berusaha sebiasa mungkin, seakan tidak terjadi apa pun, karena memang dia tak ingat apa yang terjadi setelah dirinya dibekap.
"Maaf, Pak. Ada apa ya kok ramai-ramai?" tanya Ningsih kepada salah seorang warga.
"Oh, Mbak yang menyewa rumah, ya? Apa belum dengar ada empat mayat ditemukan di laut. Kondisinya mengerikan, Mbak. Itu polisi sedang melakukan penyidikan. Aneh loh Mbak, banyak sayatan di mayat korban," jelas bapak tua sambil menunjuk ke kerumunan yang terlihat walau agak jauh.
"Mayat? Pembunuhan, Pak?"
"Kurang tahu, Mbak. Iya mayat empat lelaki. Padahal salah satunya mau menikah bulan depan. Itu keluarganya nangis-nangis. Tadi calon istrinya pingsan," terang bapak itu.
"Astaga ... ngeri banget ya, Pak. Padahal semalam dingin sekali. Apa mereka cari ikan di laut? Bisa jadi kan Pak ... terus jatuh gitu?" selidik Ningsih.
"Bisa jadi, Mbak. Tadi juga dengar-dengar ada kapal hancur di sebelah utara tebing. Kemungkinan mereka lagi main di laut pas semalam tiba-tiba pasang air. Nanti menunggu penjelasan penyelidik, Mbak. Mbak jangan keluar malam-malam, ya. Lagi seperti ini takut kan."
"Iya, Pak. Terima kasih."
Ningsih pun tak ingin melihat lebih lama. Dia yakin ada hal aneh terjadi. Tapi apa?
"Bima... apakah semalam kamu menolongku?" batin Ningsih mencari jawaban atas kebingungannya.
Bima belum menjawab, tetapi justru ada seorang wanita mendekat. "Ningsih ... ikut sebentar ... ada yang ingin kusampaikan."
Seakan terhipnotis, Ningsih mengikuti wanita itu ke tempat yang sepi. Padahal belum pernah dia melihat wanita itu sebelumnya.
"Namaku Dinda Pratiwi... secara manusia, aku ini adik kembarannya Bima. Jangan takut... aku tidak akan melukaimu," lirih wanita cantik dengan sorot mata tajam.
"Din... Dinda? Bima itu Iblis... mana mungkin punya adik?" ucap Ningsih terbata, bingung.
"Ha ha ha ha... kamu kira aku ini manusia? Ini memang bentuk manusiaku. Aku pun sudah menjadi pengikut Iblis sejak ratusan tahun yang lalu. Belum saatnya aku bercerita hal itu, aku hanya ingin menyampaikan... Bima menyuruhku menemanimu sementara."
"Bima? Ada apa dengan Bima?"
"Iblis yang mencintai manusia adalah kesalahan fatal. Saat ini Bima sedang menjalani hukuman. Tenang saja... dia kuat. Semua akan baik-baik saja."
"Bima... Apa yang harus aku lakukan?"
"Ningsih... tak perlu khawatir. Tetap di sini sampai hari Minggu. Setelah itu kita bisa kembali ke rumahmu. Namun, penjaga rumahmu orang yang berilmu, aku tak bisa menembus rumahmu dengan mudah. Kekuatanku masih jauh di bawah Bima."
"Orang yang menjaga rumahku? Siapa? Joko dan Budi tidak berilmu apa-apa. Hanya saja Budi taat ibadah. Dia tak pernah lewat sholat maupun dzikir," kata Ningsih, dia tak menyangka iman Budi yang kuat bisa menghalau makhluk astral.
"Budi... dia anak pemilik pesantren terbesar di Wonosari. Kamu tak tahu? Dia berbahaya untuk kaum kami," bisik Dinda.
"Tak mungkin! Budi hanya keponakan Mak Sri. Dia orang biasa. Tidak memiliki ilmu apa pun, setahuku. Selama ini Bima sering bersamaku di rumah. Tak ada apa-apa," elak Ningsih.
"Baiklah jika kamu tak percaya... tetapi aku tak bisa ke rumahmu," kata Dinda, gak kesal.
Ningsih pun kembali ke rumah, mengajak Dinda bersamanya. Semua sorot mata warga tertuju pada Dinda. Tak bisa dipungkiri pesona Dinda sangat menggiurkan semua orang. Jangankan lelaki, wanita pun melihat Dinda pasti merasa iri dan takjub.
Sesampainya di dalam rumah, Ningsih ingat sesuatu. "Nyai Pelet? Kamu itu Nyai Pelet, ya?"
"Ha ha ha ha... baru sadar?"
"Astaga! Pantas saja semua orang terkagum-kagum. Kukira itu hanya legenda saja. Oiya, soal semalam..."
"Ya. Aku bunuh mereka berempat dengan merasuki tubuhmu. Kemarin nafasmu sudah hampir habis dibekap. Kalau aku tidak masuk, bisa dead kamu. Lain kali jangan bodoh, harus waspada," jelas Dinda sambil duduk di sofa.
Ningsih terkejut. Jika dia membunuh empat orang itu... bisa jadi sidik jarinya ada dan terkena urusan hukum.
"Hih! Siapa yang bodoh? Aku tertidur karena ngantuk. Lalu sidik jariku? Aku bisa kena kasus hukum kalau membunub orang."
"Ngantuk? Kamu itu dibius pakai asap. Itu kalengnya... dan soal sidik jari, tak mungkin ada. Aku yang membunuh mereka," cicit Dinda sambil menunjuk kaleng kecil yang tergeletak di bawah kolong meja.
Lagi-lagi tingkah Dinda membuat Ningsih sebal. "Untunglah itu adik Bima. Menyebalkan sekali." batin Ningsih.
"Eh... aku bisa dengar batinmu, ya. Jangan menggerutu! Kamu nggak ada pilihan lain, harus bersamaku. Bima bilang kalau ada orang kepercayaan Lee yang hendak mencarimu. Maka dari itu aku harus menemanimu. Mau tak mau... aku tetap menemanimu," gumam Dinda.
Ningsih pun pasrah. Adik Bima memang menyebalkan. Namun hal yang aneh, kenapa wujudnya manusia? Tidak seperti Bima?
***
Singapore....
"Josh... bagaimana harta itu? Ada di rumah tempat Tuan Lee memangsa korbannya?" tanya Lily saat lelaki yang beberapa hari bersamanya turun dari mobil.
"Ada... brankas besar di dalam basement tapi tak ada kuncinya. Kuncinya berupa kartu. Aku curiga sesuatu..." jawab Josh.
"Apa, sayang?"
"Kuncinya dibawa wanita iblis dari Indonesia itu," gumam Josh.
"Wanita Iblis? Siapa?"
"Oh, bukan... maksudku wanita yang menikah dengan Tuan Lee dan menghilang setelah Lee bunuh diri," jelas Joshua, tubuhnya dihempaskan ke sofa. Duduk bersantai sambil menarik tangan Lily.
"Ningsih ya? Aku tahu rumahnya. Aku pernah mencari info tentangnya," lirih Lily sambil duduk di pangkuan Josh.
"Kalau begitu... segera bersiap untuk perjalanan ke Indonesia. Kamu mau harta itu, bukan?" bisik Joshua kepada wanita yang dipeluknya.
"Baiklah... nanti aku pesan tiketnya," Lily pun mengecup bibir Joshua perlahan. Mereka bertautan dan semakin berbalas ci*man.
"Segera... aku akan dapatkan wanita yang mengabdi pada anak buah Chernobog. Akan kukalahkan dia dalam pencarian jiwa berdosa." batin Asmodeus dalam tubuh Josh.
Asmodeus Sang Penguasa Nafsu Birahi, tak pernah akur dengan Chernobog. Meski mereka sama-sama penghuni Neraka dan berkewajiban mencari jiwa-jiwa berdosa untuk memenuhi kuota. Pernah mendengar soal pembantaian besar-besaran oleh orang yang merasa tak membunuh? Seperti itulah perbuatan Iblis yang brutal. Terlihat langsung dengan merasuki seseorang dan membunuh banyak orang secara langsung.
Namun, pekerjaan Iblis yang elegan adalah menyesatkan hidup manusia hingga terjerat dan tak bisa lepas dari kegelapan. Seperti kehidupan Ningsih, banyak orang yang terjerat seperti Ningsih. Tak hanya wanita, lelaki pun ada. Itu semua perbuatan yang tak kasat mata tetapi menarik banyak orang untuk berbuat dosa.
Bersambung....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Seru nggak? Jangan lupa like + Vote yaa... kalau ada koin Tips boleh bagi donk hehehe biar Author makin semangat^^ Terima kasih menjadi pembaca setia. Update lagi nanti malam yaa... tengah malam biar seru^^