JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 52


Ningsih berjalan-jalan bersama puteranya di mall. Joko menemani mereka dengan jarak tentunya. Sedangkan Mak Sri di rumah membantu Budi untuk membereskan mainan Wahyu yang sudah tidak di pakai. Ningsih berencana menyumbangkan pakaian dan mainan yang sudah tidak terpakai kepada panti asuhan.


"Ma, ini mobil bagus. Wahyu mau," celoteh lelaki kecil berusia tujuh tahun itu.


"Boleh, sayang. Mau yang warna biru atau merah?"


"Hallo, tak menyangka bisa bertemu di sini ya," ucap Lee menyela pembicaraan ibu dan anak itu.


"Lee? Kebetulan sekali bisa bertemu di sini," jawab Ningsih terkejut.


"Itu siapa, Ma?" tanya Wahyu dengan polos.


"Oh, ini rekan kerja Mama. Namanya Om Lee," kata Ningsih memperkenalkan lelaki berwajah tampan yang tiba-tiba muncul di Mall.


"Salam kenal, nama kamu siapa jagoan kecil?" tanya Lee sambil mengusap kepala Wahyu.


"Namaku Wahyu, Om."


Lee memang sejak tadi siang mengikuti kemana Ningsih pergi. Makan siang di restaurant, lalu pulang ke rumah, Lee mengikutinya secara diam-diam. Dia menginginkan wanita itu menjadi kekasihnya.


Lee membangun perusahaannya sejak sepuluh tahun yang lalu. Brand RoxieLee booming seAsia sejak tiga tahun terakhir ini. Wajah tampan, usaha yang sukses, dan kehidupan di Singapura membuat hidup Lee sangat mudah dan menyenangkan. Dia belum ingin menikah karena tak mau terikat oleh satu wanita.


Namun, semua itu terhenti saat bertemu langsung dengan Ningsih dalam rapat kemarin. Lee mengamati wanita cantik itu, elegan, kuat, sukses, dan bisa menutupi rasa membutuhkan kasih sayang. Dia menginginkan Ningsih menjadi miliknya.


"Ningsih, apakah kamu mau makan malam denganku?" tanya Lee kepada pujaan hatinya.


"Aku sudah makan malam. Ini mau beli mainan untuk Wahyu lalu pulang," ucap Ningsih menolak halus.


"Kalau begitu, biar kuantarkan ke rumah. Kamu mau, 'kan?"


"Maaf, Lee. Sopir pribadiku sudah menunggu di sana," jawab Ningsih sambil menunjuk Joko yang duduk sambil bermain smartphonenya.


"Baiklah. Hati-hati di jalan ya jagoan. Jaga Mamanya," kata Lee sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Bye Lee...." Ningsih melambaikan tangan.


Joko pun berdiri dan menghampiri Bosnya yang sudah selesai berbelanja. Dia bergegas mengambil beberapa kantong belanjaan di tangan Ningsih.


"Sudah selesai, Bu?" tanya Joko kepada wanita yang selama ini menjadi Bosnya.


"Ya. Kita pulang sekarang. Besok jangan lupa Wahyu masuk pukul 08.00 ya, Jok."


"Siap laksanakan, Bu."


Mereka pun berjalan menuju lift. Setelah di dalam lift, memencet tombol basement untuk ke parkiran mobil. Sedangkan Lee pergi mengambil mobil terlebih dahulu untuk menguntit Ningsih.


"Wanita ini sangat sulit didapatkan. Akan kubuat dia mengemis minta cintaku! Aku harus mendapatkan Ningsih segera," gumam Lee dari balik stang bundar mobilnya.


Terilihat mobil HRV merah milik Ningsih keluar dari parkiran. Dia memang memiliki beberapa mobil yang sering digunakan secara bergantian. Lee mengamatinya, lalu perlahan menginjak gas mobilnya, melaju hingga berada di belakang mobil Ningsih.


Joko merasa jika mobil yang dia kendarai diikuti orang. "Bu Ningsih, sepertinya mobil di belakang mengikuti kita."


"Iyakah?" Ningsih menoleh ke belakang, "Oh... biarkan saja Itu mobil Lee, rekan kerjaku yang tadi ketemu di Mall."


"Berarti dia mengikuti dari tadi siang, Bu. Mobil itu tadi sore ada di depan rumah. Apakah tidak apa?" tanya Joko.


"Ya, Bu. Mungkin naksir sama Bu Ningsih. He he he...."


Joko dan Ningsih pun tertawa, sedangkan Wahyu tertidur di pangkuan ibunya. Waktu menunjukan pukul 21.00 ketika mobil yang dikemudikan Joko sampai ke kediaman Bosnya.


"Maaf ya, nglembur sampai jam sembilan malam, Joko. Nanti orang tuamu mencari tidak?" Ningsih bertanya sambil keluar dari mobil menggendong Wahyu.


"Tenang saja, Bu. Saya 'kan sudah dewasa. Nggak mungkin dicariin. Saya bawakan belanjaannya ya," kata Joko sambil membawa beberapa plastik belanjaan ke dalam rumah.


Mak Sri bergegas membawa Wahyu dari gendongan ibunya ke gedongannya. Mak Sri membawa Wahyu yang tertidur nyenyak ke kamar.


"Terima kasih ya, Joko. Kamu boleh pulang, tapi kalau lelah bisa tidur di kamar tamu biar disiapkan Mak Sri," kata Ningsih.


"Iya, Bu. Besok ada jadwal jam berapa, Bu?"


"Besok ke bandara pagi jemput Reno dan Santi mau ke sini. Sekitar jam enam sampai sana. Kamu tidur sini aja, gimana? Biar sekalian and nggak mondar mandir."


"Baik, Bu. Kalau begitu saya menginap di sini saja."


Joko tersenyum memandang Bosnya yang cantik menawan. Ningsih pun memanggil Mak Sri untuk menyiapkan kamar. Lalu Dia pergi ke kamar untuk istirahat.


"Terima kasih ya, Mak Sri. Saya istirahat dulu."


"Ya, Bu. Selamat malam."


Ningsih membuka jaket dan rebahan sebentar di kasurnya. Lelah. Dia menarik napas panjang dan mengeluarkannya pelan-pelan. Lalu konsentrasi untuk berkomunikasi dengan Bima.


"Bima.... Maksudmu kemarin, Lee Min Hae itu? Pengusaha dari Singapura? Haruskah aku bersikap baik dengannya?"


Angin pun berhembus menerpa dalam kamar Ningsih. Sensasi dingin seketika menyentuh kulit tubuhnya.


"NINGSIH... BENAR YANG KAU KATAKAN. DIA YANG AKAN MENJADI SESAJI SELANJUTNYA. TETAPI KAU AKAN DINIKAHI OLEHNYA DI NEGARANYA. SEMUA SUDAH KUATUR DAN AKAN MENJADI AMAN NAMA BAIKMU DI JAKARTA. BESOK DIA AKAN KE KANTORMU. AJAK DIA MAKAN SIANG AGAR RENCANA BERJALAN SESUAI ALUR."


"Baik, Bima. Namun, aku merindukanmu. Malam ini tinggallah di sini. Bermalam dan membuatku semakin bersemangat menjalani hidupku."


"SESUAI KEINGINANMU, SAYANG...."


Meskipun Bima tak terlihat kasat mata, Ningsih sudah jatuh hati padanya. Mengabdi pada Iblis, entah diperbudak atau memperbudak diri. Mereka terhanyut dalam permainan dan rasa cinta yang tak lazim.


Tanpa di sadari, sepasang bola mata mengintip dari balik jendela. Melihat Ningsih seperti memuaskan dirinya sendiri. Joko diam-diam mengamati dan mulai berimajinasi. Dia sudah memendam rasa sejak awal bekerja dengan Bos cantiknya itu.


Joko menyayangkan Ningsih yang masih sendiri sehingga melakukan hal itu sendirian. Dia merasa ingin mendampingi dan memberikan kepuasan pada janda anak satu yang kaya raya itu. Namun, status sosial menjadi dinding yang tinggi dan kokoh, sulit ditembus.


Joko sadar diri siapa dirinya. Sopir yang mengabdi empat tahun lamanya. Pemuda yang dahulu pengangguran dan hampir frustasi ketika putus cinta. Dia merasa berhutang budi pada Ningsih yang memberinya pekerjaan serta menyelamatkan hidupnya dari kemiskinan.


Sejak bekerja menjadi sopir pribadi Ningsih, Joko bisa membantu bahkan menopang perekonomian orang tuanya. Menyekolahkan adik dan membangun rumah agar layak dihuni, Joko lakukan dengan bantuan Ningsih. Bosnya meminjami tanpa bunga dan bisa potong gaji tanpa memberatkannya.


Semua kebaikan Ningsih membuat Joko minder, malu, dan semakin tak percaya diri untuk mendekati Bosnya. Kecantikan, kebaikan, sifat yang hangat, dan kekayaan Ningsih terlalu menyilaukan bagi Joko. Bahkan beberapa orang kaya pun ditolak Ningsih, apa lagi si Joko yang Miskin?


"Kasihan Bos Ningsih. Masih muda, cantik, dan energik. Tapi menjanda lama dan takut menikah lagi. Ah, andai aku bisa menyandingnya," gumam Joko, tak berkedip melihat Ningsih di ranjang menggeliat.


Bersambung ....