JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 118


πŸ€ RESAH πŸ€


Sinar matahari menyengat di kulit meski jam masih menujukkan pukul 09.00 saat itu Reno mengantar Wahyu berangkat sekolah sejak pagi tadi. Santi dan Mak Sri menyiapkan sarapan sederhana dan makan siang. Sedangkan Joko dan Budi membersihkan taman. Ningsih turun dari kamarnya dengan wajah pucat karena tidak tidur setelah bermimpi buruk.


"Tante Ningsih kok pucat sekali? Tante sakit kah?" tanya Santi sangat khawatir lalu memegang tangan Ningsih dan mengajaknya duduk di ruang tengah.


"Tante semalam mimpi buruk. Jadi kebangun jam tiga-an and nggak bisa tidur lagi. Dari tadi mau turun kok kepala Tante pening. Jadi ini baru turun. Hlo Mak Sri kok nggak antar Wahyu?"


Mak Sri mendekat ke arah Ningsih dan menyajikan teh hangat serta berkata, "Maaf, Bu Ningsih. Tadi Den Reno minta mau antar sekalian menemani Den Wahyu sekalian antar adiknya Joko mau pengumuman kelulusan. Ini minumnya Bu Ningsih. Teh hangat.


"Terima kasih, Mak Sri. Oh, begitu ya. Yaudah tak apa. Mak Sri buat istirahat saja. Ini aku juga agak ga enak badan," kata Ningsih sambil mengelus tengkuknya.


"Apa mau dikerokin Bu? Atau dipijat?" tanya Mak Sri khawatir.


"Nggak usah, Mak. Nanti biar Santi sama Joko antar ke klinik aja buat periksa. Paling kecapekan aja. Mak Sri setelah beres-beres dapur mending istirahat saja soalnya belum fit kan. Hari ini ada petugas cleaning servise yang datang rumah." jawab Ningsih yang juga mengkhawatirkan Mak Sri.


"Iya, Bu Ningsih. Terima kasih."


Mak Sri pun kembali ke dapur untuk beres-beres. Sedangkan Santi menemani Ningsih di ruang tengah.


"Apa mau periksa sekarang aja, Tante?" Santi mendekat ke Tante Ningsih yang lemas.


"Iya, boleh. Bilang Joko ya biar dia yang nyopir. Klinik dekat sini aja. Tante mau minta obat tidur."


"Tante semalam mimpi buruk apa emangnya? Siapa tahu kalau cerita jadi lega kan?"


Ningsih menghela napas panjang. Mimpi yang menyesakkan itu enggan diceritakan pada keponakannya. "Nggak apa kok. Cuma mimpi buruk aja, San. Tante mau siap-siap dulu ya. Kamu bilang Joko juga." kata Ningsih sambil meminum teh hangat yang dibuatkan Mak Sri.


"Iya, Tante. Santi ke depan dulu. Terus sekalian siap-siap." jawab Santi sambil berlalu ke parkiran mobil.


Santi merasa reaksi bubuk yang diberikan Mas Budi sudha mulai terlihat. Meski Tante Ningsih mengalami mimpi buruk, semoga hal ini menjadi pertimbangan untuk bertaubat.


"Bang Joko ...." panggil Santi kepada lelaki yang membuatnya terpana sejak pertama jumpa.


"Iya, Non Santi. Ada apa?" jawab Joko yang sudah selesai merapikan taman bersama Budi.


"Bang Joko siap-siap ya. Tante Ningsih minta diantar ke Klinik soalnya sakit. Aku ikut juga."


"Ya, Non Santi. Siap."


Sejak kejadian kecelakaan mengerikan di Yogyakarta, sikap Joko berubah dan seperti agak menjauh dengan Santi. Santi pun tak tahu apa yang terjadi hingga Joko begitu. Dia juga tak berani menanyakan karena takut terluka.


Santi masuk ke kamar dan berganti pakaian. Bersiap-siap mengantar Tante Ningsih ke Klinik. Setelah siap, dia pun keluar menuju parkiran mobil. Ternyata Tante Ningsih sudah di sana dan sedang berbincang dengan Joko.


"Ya tau sendiri, Jok. Memang belakangan ini jadi susah tidur dan kecapekan. Tapi semalam aneh banget mimpi buruk begitu," ucap Ningsih yang terdengar Santi.


"Jangan capek-capek dan banyak istirahat. Biar lekas pulih jiwa dan ragamu Ningsih. Ha ha ha ...." jawab Joko.


Santi merasa agak canggung. Tak seperti biasa Joko memanggil Tante Ningsih dengan namanya langsung. Biasanya memanggil Bu atau Bos atau Nyonya. Santi pun merasa resah, ah bukan rasa resah lebih tepatnya cemburu.


"Udah siap Tante?" kata Santi mengagetkan Ningsih dan Joko.


"Oh, iya Santi. Ayo berangkat."


Dalam mobil, Santi dan Ningsih duduk di kursi penumpang. Mereka terdiam cukup lama sampai suatu hal mengagetkan Ningsih. Dia seakan melihat Bima berjalan di samping wanita yang menggendong bayi.


"Bim ... Bima? Joko, berhenti dulu Jok." kata Ningsih secara tiba-tiba.


"Iya, Bu. Ada apa?" jawab Joko yang juga. kaget.


Ningsih keluar dari mobil dan berlari ke arah wanita yang menggendong bayi tersebut. Dia tanpa berpikir panjang langsung bertanya, "Mbak barusan jalan sama Bima?"


Wanita itu pun kaget dan bingung. Bayinya pun menangis. "Apaan sih? Buat kaget aja. Ini bayiku jadi takut."


"Mbak, aku tanya barusan kamu jalan sama lelaki tinggi blasteran Indo Belanda kan?" Ningsih mendesak wanita itu menjawab.


Bukannya menjawab, wanita itu mundur ketakutan karena sikap Ningsih yang aneh. "Wanita ini siapa kok tahu Tuan Bima? Duh gawat ini." batin Wati sambil menimang bayinya agar berhenti menangis.


"Tante, ada apa? Maaf ya, Bu. Sudah buat takut Ibu dan bayi Ibu," ucap Santi menengahi keadaan itu.


"Permisi ya. Saya sibuk," kata Wati sambil menghentikan taksi lalu pergi.


"Jangan pergi eh!" Ningsih mencoba mengejar tapi tak bisa karena lampu hijau mobil semua berjalan.


"Tante ada apa sih? Ayo masuk mobil cerita sama Santi." Santi mengajak Tante Ningsih kembali ke mobil.


"San, tadi Tante liat Om Bima di sana. Sama wanita yang gendong bayi itu. Beneran." kata Ningsih sesampainya di dalam mobil.


"Tapi Santi nggak lihat, Tan. Bang Joko lihat Om Bima nggak?"


"Kalian beneran nggak lihat Om Bima? Tante bener loh lihat Om Bima di samping wanita itu." Ningsih masih menyanggah dan yakin dengan apa yang dia lihat.


"Tante tenang dulu, ya. Mungkin Tante salah lihat soalnya Tante kan lagi nggak enak badan," ucap Santi menenangkan Tante Ningsih.


Ningsih merasa sangat aneh dengan hal ini. Apakah ada kaitannya dengan mimpi buruk semalam? Ningsih pun mencoba berkomunikasi lewat batin dengan Bima.


"Bima ... Bima ... Bima Prawisnu ... kamu di mana sayang?"


Bima langsung menjawab panggilan Ningsih. "ADA APA SAYANG? KAMU HENDAK PERGI KE MANA? AKU SEGERA MENYUSUL." kata Bima yang hanya bisa didengar Ningsih.


"Kamu sedang dengan siapa beberapa saat lalu?"


"MAKSUDNYA? AKU SEDANG BERKELILING. ADA APA SAYANG?" Bima segera menuju tempat Ningsih berada.


"Kamu bersama wanita yang menggendong bayi?"


Bima terdiam tak bisa menjawab. Bagaimana Ningsih tahu jika tadi dia berkeliling mengawasi Bagas yang sedang merayakan naik jabatan lalu menuju ke Wati yang sedang menggendong Rifai. Sebenarnya Bima hanya mengamati saja bukan dalam wujud manusia.


"Bima kenapa tak jawab pertanyaanku?" Ningsih mulai kesal dalam batinnya. Dia merasa ada yang disembunyikan oleh Bima.


"Sudah sampai klinik, Bu. Oh, lihat itu Tuan Bima di depan klinik." kata Joko membuat Ningsih kembali ke dunia nyata bukan pembicaraan batin.


"Ah, iya. Terima kasih Joko. Ayo Santi antar Tante masuk. Joko tunggu di parkiran aja ya," jawab Ningsih dengan sesantai mungkin.


"Ya, Tante." "Ya, Bu." ucap Santi dan Joko tak sengaja bersamaan.


Bima tersenyum menatap istrinya keluar dari mobil. "Selamat siang, Ningsih sayang. Maaf aku baru saja sampai di sini."


Ningsih tak menjawab, justru berlalu ke dalam klinik. Santi bingung dengan situasi itu lalu menyusul Tante Ningsih dari pada salah berkata. Bima mengikuti dari belakang dengan perlahan.


Segala hal berkecamuk di dada Ningsih. Dia bingung serta resah akan mimpi semalam dan hal yang tadi dilihatnya. Apakah benar Bima akan setia hanya dengannya? Atau justru rasa yang Bima tawarkan hanya sebatas hal biasa dengan wanita lainnya? Ningsih merasa makin sesak.


Bima tak ingin istrinya tersiksa dengan pikirannya sendiri. Dia pun menarik tangan Ningsih sebelum mendaftar periksa di klinik.


"Ningsih, ada apa? Kenapa mengabaikanku?" Bima memegang tangan Ningsih dan merasakan panas di tangannya. Sesuatu yang tak seperti biasa.


"Aku nggak enak badan. Aku mau periksa dulu ke dokter. Kamu tunggu sini aja," lirih Ningsih dengan pandangan kosong.


"Kau marah? Ada apa dan kenapa? Aku salah apa?" Bima tak ingin melepas tangan Ningsih.


"Tadi kuberi kamu pertanyaan tapi tak dijawab. Biasanya jika tak menjawab artinya benar." Ningsih mencoba melepas genggaman tangan Bima.


Santi mendaftarkan Tante Ningsih untuk berobat. Dia tak ingin terlibat pada pertengkaran sepasang kekasih itu. Santi sudah menduga hal ini bereaksi karena bantuan Mas Budi.


"Nyonya Ningsih. Silahkan masuk ke kamar pemeriksaan. Hanya satu orang yang boleh menemani, ya." ucap perawat dengan tegas.


"Baik. Ayo Santi temani Tante."


"Ya, Tante."


Bima termangu menatap istrinya yang marah tak jelas. Dia pun duduk di kursi. Jika dijawab iya dia tadi bersama Wati sebentar pasti Ningsih akan salah paham dan makin marah. Jika dijawab tidak, Bima akan merasa bersalah dengan Ningsih. Hal yang rumit bagi lelaki meskipun sudah menjadi Iblis tetap saja tak bisa menyelami hati wanita yang dicintainya.


Ningsih masuk ke ruang pemeriksaan bersama Santi. Dokter di sana pun mempersilahkan Ningsih dan Santi duduk.


"Keluhannya apa Saudari Ningsih?" tanya Dokter yang tak enak memanggil Bu atau Nyonya pada wanita yang terlihat masih muda.


"Semalam saya mimpi buruk, Dok. Terus terbangun dan tak bisa tidur. Badan lemas dan lelah. Belum ada sebulan ini saya sempat kecelakaan parah dan mengalami koma beberapa hari," jelas Ningsih kepada Dokter muda bernama Dewa.


"Silahkan berbaring di sana. Saya periksa dahulu."


Setelah pemeriksaan dengan seksama, Dokter pun menyarankan untuk banyak istirahat. "Ini resep obatnya. Bisa ditebus ke apotek. Ningsih jangan banyak pikiran yang berat ya karena trauma kecelakaan bisa berbulan-bulan bahkan tahunan untuk sembuh."


"Baik, Dokter. Terima kasih ya." ucap Ningsih lalu keluar bersama Santi.


Santi menuju ke apotek Klinik untuk menebus obat. Sedangkan Bima langsung menghampiri Ningsih. "Sayang, apa kata dokter?" tanya Bima perlahan takut jika Ningsih masih marah.


"Dokter bilang aku nggak boleh banyak mikir berat. Terutama mikirin suami yang bersikap aneh sepertimu," jawab Ningsih judes.


Bima menjadi resah dan serba salah. "Baiklah. Aku mengaku dan meminta maaf. Ya, tadi aku berkeliling dan sempat di samping Wati. Wanita yang menggendong bayinya. Tapi tolong jangan marah lagi Ningsih," kata Bima berharap Ningsih tak lagi mengacuhkannya.


"Oh, jadi namanya Wati? Baiklah."


Bima terdiam. Bicara salah. Tak menjawab makin salah. Saat ini berdebat bukan hal yang tepat karena Bima merasakan hal aneh di tubuh Ningsih. Mungkin hal itu yang membuat semakin banyak gesekan gaib dan Ningsih menjadi kalut. Bima pun menyentuh tangan Ningsih untuk melihat ke dalam tubuh Ningsih. Bima terbelalak.


Bersambung ....