
π (BUKAN) ORANG BAIK π
Mentari pagi menerpa wajah Ningsih dari cela tirai di jendela kamarnya. Semalaman dia tidur dalam pelukan Bima. Tanpa melakukan apa pun karena suasana hati Ningsih dan Bima sedang tidak baik. Pagi ini, Ningsih bergegas mandi dan bersiap akan ke Pelabuhan Ratu, kampung halaman Pak Umar. "Bima, aku berangkat dulu. Aku titip resto kita, ya." ucap Ningsih sambil mencium suami gaibnya.
"Iya, Ningsih. Hati-hati di jalan. Segera kembali kalau semua sudah selesai," sahut Bima yang kemudian menghilang.
Ningsih segera turun dan keluar rumah. Pak Umar dan Joko sudah menanti di sana. Pak Umar sudah mengatakan ke Joko rencana hari ini. Mereka sudah bersiap sambil menunggu Ningsih, menyeduh kopi dan bercengkrama. "Nyonya, sudah siap, ya?" kata Pak Umar yang melihat Ningsih sudah dengan pakaian rapi dan tas.
"Sudah, Pak Umar. Loh, udah pada nungguin, ya," sahut Ningsih yang seolah tak ada apa-apa dengan Joko. Joko menatap Ningsih penuh kerinduan, sedangkan Ningsih menjadi jijik dengan pandangan Joko yang penuh napsu.
"Iya, Nyonya. Pak Joko sudah segera jemput ke sini dengan mobilnya Nyonya. Selamat, ya. Semoga dilancarkan sampai akad dan berbahagia." ucap Pak Umar pada Ningsih. Hal itu membuat Ningsih melotot ke Joko.
"Maaf, Ningsih sayang ... aku tak kuasa bercerita tentang hubungan kita yang akan ke pelaminan," lirih Joko yang menghampiri Ningsih. Ningsih langsung masuk ke mobil si kursi belakang. Dia sangat kesal dengan kelakuan Joko yang seenaknya saja mengatakan ke Pak Umar.
"Loh, Nyonya kok di belakang?" tanya Pak Umar yang tak enak hati.
"Nggak apa, Pak Umar di depan saja nunjukin jalan sama Joko. Saya mau di belakang aja," jawab Ningsih singat. Tak bisa dibantah, perkataan Ningsih langsung diiyakan oleh Joko dan Pak Umar.
Sepanjang perjalanan, Ningsih menggunakan headset mendengarkan lagu dan tak ingin berbicara apa pun. Joko merasa bersalah, sedangkan Pak Umar makin tak enak hati.
Ningsih justru berbincang dengan Bima dalam hati, "Bima ... bagaimana kondisi di restauran?"
Bima pun menjawab, "SEMUA AMAN. SUDAH KUBUAT CHEF HARI INI LEBIH HANDAL DARI BIASANYA. AKU MENYUSUL KE MOBIL, YA?"
"Ya, sayang. Aku mulai bosan dan muak dengan Joko. Bagaimanapun, aku tak menyukainya. Semua hanya pura-pura demi rencana kita," batin Ningsih yang kesal.
Tiba-tiba ... Bima berada di sini Ningsih. Dalam mobil, tanpa bisa dilihat orang lain. Ningsih pun tersenyum menatap suami gaibnya berada di sana. Beberapa jam perjalanan, sampailah ke daerah Pelabuhan Ratu. Agak jauh dari pantai, rumah Pak Umar sudah terlihat.
Rumah sederhana dengan cat biru muda. Terlihat di depan ada pekarangan yang entah milik siapa. Pak Umar pun mengatakan untuk berhenti di sana. "Sudah, Pak Joko. Berhenti di sini. Ini rumah saya."
Mobil Ningsih berhenti di sana, mereka pun turun dari mobil dan Pak Umar segera mengetuk pintu rumahnya. "Assalamualaikum, Bu. Bapak pulang!" seru Pak Umar dengan semangat dan rasa rindu menggebu pada keluarga kecilnya.
"Wa'alaikumsalam, Pak! Alhamdulilah ... Bapak pulang. Sini masuk, Pak." sahut istri Pak Umar yang segera membukakan pintu. Beliau pun terkejut melihat orang di samping Pak Umar. "Loh, Bapak sama siapa?" tanya istri Pak Umar yang bingung.
"Maaf, belum bilang. Ini Nyonya Ningsih, bosnya bapak. Kalau ini Pak Joko, calon suaminya Nyonya Ningsih." jelas Pak Umar memperkenalkan.
"Yaampun, pada ke sini. Silahkan masuk Pak dan Nyonya. Maaf, rumahnya seperti ini adanya." kata istri Pak Umar.
Mereka pun masuk. Berbincang-bincang banyak hal, terutama soal rencana Ningsih hendak mmebantu Pak Umar mendirikan panti asuhan serta toko kelontong. Semata-mata semua Ningsih lakukan untuk beramal tanpa menyinggung soal Pak Umar yang sakit atau menyuruh periksa. Ningsih sangat berhati-hati dengan ucapannya. Istri Pak Umar sangat bersyukur dengan kemurahan hati Ningsih. Mereka pun menganggap Ningsih sebagai wanita yang dermawan dan orang baik.
Lagi-lagi ... hati Ningsih terasa nyeri. Julukan sebagai 'orang baik' baginya sangatlah tak benar. Ningsih hanyalah manusia penuh dosa. Mengikuti Iblis demi mendapatkan harta secara pintas. Menumbalkan para suaminya demi sebuah perjanjian. Mencintai Iblis dan terhanyut dalam semua permasalahan yang ada. Apakah pantas Ningsih disebut 'orang baik' meski apa yang dia lakukan untuk Pak Umar adalah tulus ikhlas.
Ningsih segera menemui pemilik tanah yang dijual dekat rumah Pak Umar. Rumah di pinggir jalan persis yang sangat strategis untuk panti asuhan. Harga tanah di sana tidak semahal di Jakarta. Setelah tawar menawar pun, transaksi selesai Ningsih lakukan. Setelah itu, Ningsih menyewa kontraktor untuk menggarap panti asuhan itu. Semua sudah Ningsih bayar di muka dan dengan nama Pak Umar dan istrinya sebagai pemilik.
Malam hari menjelang, Ningsih pun meninggalkan Pak Umar di sana untuk menyelesaikan kepentingan membuat toko kelontong. "Pak Umar, lebih baik Bapak di sini dulu sampai semua selesai. Ini uang yang untuk membangun toko kelontong. Bapak dan Ibu sehat selalu, ya. Ningsih pamit dahulu," tutur Ningsih bersamaan menyodorkan uang lima puluh juta dalam amplop besar.
Ningsih dan Joko pun berpamitan dan segera bertolak kembali ke Jakarta. Joko merasa jika Ningsih marah dan memperlakukannya selayaknya sopir. Sepanjang perjalanan pun Ningsih hanya terdiam seribu bahasa.
"Sayang, kamu marah, ya? Maafin aku ...." lirih Joko yang mengharap Ningsih membalas ucapannya.
"Hmm ... pikir aja sendiri. Aku ngantuk. Mau tidur," jawab Ningsih ketus. Dia pun menyandarkan kepala di sandaran kursi dan memejamkan mata. Perjalanan dari Pelabuhan Ratu jam tujuh malam. Cukup jauh kembali ke Jakarta. Ningsih sangat lelah dan penat untuk berbicara manis dengan lelaki yang sebenarnya tak dia inginkan.
Masuk ke dalam alam mimpi, Ningsih tidur sangat pulas sampai tak menyadari jika Joko berbuat sesuatu terhadapnya. Sejam perjalanan, Joko menghentikan mobil di pinggir jalan. Merasa terangsang melihat Ningsih tidur di kursi sampingnya, Joko langsung menggunakan kesempatan untuk melakukan sesuatu terhadap wanita yang akan dinikahinya. "Tak apalah, sebentar lagi juga kunikahi. Suruh siapa marah padaku." batinnya sambil melakukan hal itu di mobil.
Ningsih yang merasa perih dan sesak pun membuka mata. Terbangun dari tidurnya, dia terkejut dan berteriak saat Joko menindihnya, "Tidak! Joko, jangan!" Ningsih mencoba meronta, tetapi Joko yang sudah dikuasai napsu justru semakin brutal dan menekan tangan Ningsih hingga tak bisa bergerak untuk memenuhi napsu Joko.
Ningsih menangis. Sekeji inikah kelakuan lelaki jika terkuasai hawa napsu? Jika Ningsih dalam kondisi sadar, hal ini bisa dilakukan dengan alasan suka sama suka. Namun, saat ini yang dilakukan Joko seakan pemaksaan atau pemerkosaan. Ningsih makin membenci lelaki yang ada di atasnya. Sudah selayaknya Joko menjadi tumbal ketujuh! Tak disangka kelakuannya seperti binatang.
Sesudah melepas kebutuhan syahwatnya, Joko segera merapikan pakaian. Dia pun meminta maaf berkali-kali dengan Ningsih. Berdalih dengan alasan sangat mencintai dan ingin segera menikah, Joko seakan mencari alasan pembenaran tindakannya tadi. Hal itu membuat hati Ningsih sangat terluka. "Maaf, sayang. Maafin aku, please ...."
Puluhan kali Joko mengucapkan kata maaf pada Ningsih. Namun, sepatah kata pun tak keluar dari mulut Ningsih. Ningsih kecewa, sakit hati, dan mendendam.
"Aku terpaksa diam demi bisa membunuhmu! Kau memang pantas dijadikan tumbal! Dasar lelaki menjijikan!" umpat Ningsih dalam hati.
Perjalanan itu berakhir dengan hal yang tak baik. Ningsih marah terhadsp perlakuan Joko. Saat Joko mengantar Ningsih pulang, dia hendak masuk ke rumah. Namun, Ningsih menutup pintu rumah dan menguncinya. Joko pun kesal dan segera pergi untuk ke rumah sakit menengok kondisi Abah meski sudah larut malam.
Sesampainya di rumah sakit, Joko saat berjalan ke bangsal VVIP tak sengaja berpapasan dengan lelaki yang pernah hampir saja membunuhnya. Lelaki yang menjadi ayah dari gadis yang direnggut kesuciannya oleh Joko. Luka lama terbuka kembali. Lelaki itu menatap tajam ke Joko. Bertahun-tahun kejadian itu berlalu, tetapi Brams masih mengingat wajah pemuda breng*ek itu.
Joko sebisa mungkin mengabaikan Bram. Dia pura-pura tak kejal dan melenggang ke bangsal tempat Abah dirawat. Melewati sebuah kamar VVIP yang saat itu pintu dibuka sedikit. Betapa terkejutnya, Joko melihat Tante Silvi berada di sana dengan infus menempel di tangannya. Bukannya segera ke Abah, Joko malah berhenti dan menatap Tante Silvi.
Brams sudah pergi dari rumah sakit. Dia mengira tadi bukan Joko karena dari segi penampilan jauh berbeda. Lagi pula, waktu itu Brams sudah menyuruh orang kepercayaan untuk menghabisi Joko. Tak mungkin itu mayat hidup, bukan?
Tante Silvi yang sendirian di kamar, hendak menutup pintu. Kemudian dalam beberapa detik, mata Tante Silvi bertemu pandang dengan tatapan Joko. Mereka terdiam. Bukannya pergi, Joko justru melangkah masuk ke kamar Tante Silvi.
"Jo-Joko?" lirih Tante Silvi tak percaya berondongnya yang dahulu dia campakanz dan justru merusk hidup putri semata wayangnya, saat ini berada di hadapannya.
Joko masuk ke ruangan Tante Silvi. "Kenapa kaget? Takut? Kenapa takut?" tanya Joko dengan nada menakutkan.
Tante Silvi yang merasa terancam pun mundur perlahan dengan membawa tongkat infusnya. "Jangan mendekat! Kamu harusnya sudah mati di tangan suamiku!" seru Tante Silvi yang ketakutan melihat Joko.
"Oh, jadi sekarang aku dikira hantu? Jadi pembunuhan itu juga direncanakan berdua?" kata Joko semakin mendekati Tante Silvi. Karena ketakutan, Tante Silvi pun mundur hingga pintu balkon. Dia membuka pintu balkon lalu menutupnya. Menahan agar Joko tak bisa masuk.
"Pergi! Jangan ganggu aku!" teriak Tante Silvi dengan nada gemetar.
Joko sebenarnya hanya ingin menggertak dan menakut-nakuti saja. Dia mendobrak pintu, membuat Tante Silvi terdorong ke belakang dan terjatuh dari balkon lantai tiga. "Tolong!" teriak Tante Silvi saat tangannya bergelantung di tongkat infus sebelum akhirnya terjatuh.
Joko yang melihat hal itu pun kaget dan segera keluar dari ruangan dan pergi ke tempat Abah. Untungnya, tidak ada barang atau apa pun yang Joko sentuh. Jadi tidak meninggalkan sidik jari. Melihat ada pasien jatuh, rumah sakit langsung gempar. Tante Silvi tak bisa diselamatkan. Benturan keras di kepala membuatnya pendarahan dan meninggal.
Bersambung ....