
π NERAKA LAPIS KETUJUH π
Bima membawa Ningsih berjalan-jalan ke tempat yang selama ratusan tahun ini menjadi rumahnya. Neraka Lapis Ketujuh, yang dikuasai oleh Tuan Chernobog. Panglima ketujuh di Neraka yang menguasai perbudakan malam. Merengkuh semua obsesi manusia tentang harta, tahta, bahkan cinta.
Setelah Lucifer keluar dari Surga, dia membuat pasukan tersendiri. Bahkan, ketujuh panglima Neraka tidak bisa dianggap remeh. Manusia yang sejak awal mempunyai bibit sombong, dengan mudah terperosok dalam dosa.
Bima yang memilih untuk menyerahkan hidup dan jiwanya pada Tuan Chernobog ,membuat dirinya menjadi Iblis penghuni Neraka serta Iblis kepercayaan di Neraka Lapis Ketujuh. Dia pernah menang dalam pertandingan duel melawan Iblis lain di ketujuh lapis Neraka. Hal itu yang membuat Bima mempunyai kemampuan lebih dari Evan.
Bima menggenggam erat tangan Ningsih. Dia memperlihatkan semua yang ada di sana. Termasuk siksaan yang para tumbal alami. "Ningsih, inilah tempat yang kusebut rumah." kata Bima yang sudah dalam bentuk Iblis.
Ningsih merinding, merasakan kengerian yang luar biasa. "Bi-Bima ... apakah itu Jok-" Ningsih tak melanjutkan pertanyaannya karena Bima membisikkan sesuatu pada Ningsih.
"Jangan menyebutkan nama para tumbalmu. Anggap saja tidak kenal. Mereka akan meraung dan meminta tolong. Jika mereka tahu kau ada di sini, bisa berbahaya." bisik Bima yang kemudian menatap semua siksaan yang dialami ketujuh tumbal Ningsih.
Ningsih mengamati satu per satu lelaki yang pernah menjadi suaminya. Terbakar di kobaran api Neraka dengan berbagai hukuman yang mengerikan. Mulai dari Agus, berkali-kali jari tangannya dipotong oleh penghuni Neraka yang mengerikan. Agus terlihat kesakitan dan berteriak, "Ampun ... ampun ...." Namun, hukuman itu terus berlanjut, jarinya tumbuh lagi dan dipotong lagi. Berkali-kali dan selamanya siksaan itu nyata.
Lelaki kedua yang menjadi tumbal Ningsih adalah Tomi. Meski Tomi terlihat orang baik di hadapan Ningsih, ternyata selama ini dia ikut sindikat penjualan bayi karena dia tidak bisa memiliki anak. Tomi pun disiksa cambuk berkali-kali hingga darahnya yang menetes terbakar api dan membuat penghuni Neraka tertawa, girang.
Ningsih bersedih melihat Tomi kesakitan. Namun, Bima tetap melanjutkan perjalanan keliling Neraka dengan memegang tangan Ningsih. "Dia ... lelaki yang paling kau benci," bisik Bima saat melihat Rudi yang menjadi sampah masyarakat.
Ningsih menatap ke arah lelaki yang disiksa sangat mengerikan. Rudi dimutilasi secara hidup-hidup dengan golok besar di tangan penghuni Neraka dan mengalami kesakitan yang luar biasa, tetapi tubuhnya kembali menyatu dan bersamaan itu golok pun kembali memenggal-menggalnya lagi. Sakit yang abadi sampai Rudi sudah tak bisa berteriak karena lidahnya diambil oleh penghuni Neraka. Mengerikan.
Lelaki keempat yang menjadi tumbal yaitu Bayu. Dia direbus dalam tungku berisi air mendidih dengan kobaran api Neraka yang sangat panas. Tiada ampun dan keabadian dalam kesakitan yang tak terbayangkan manusia di bumi.
Lelaki kelima yang membuat Ningsih menderita yaitu Satria. Kali ini, siksaan lebih mengerikan karena Satria dan Sugeng juga bersekutu dengan Iblis. Dia menjadi pengganti kaki kursi. Harus menopang kursi singgahsana Tuan Chernobog meski tulangnya remuk dan hancur, mereka kembali pulih lagi dan tersiksa lagi. Merasakan kesakitan yang abadi.
Ketika Ningsih menatap ke Joko lagi, dia merasa bersalah dan iba. Tangan Joko diikat di atas tiang dan kakinya diikat di bawah, tubuhnya ditarik bersamaan hingga terbelah dan semua organ dalam tubuhnya keluar. Kemudian tubuhnya menyatu kembali, dan diperlakukan seperti itu lagi. Berulang-ulang, hingga rasa nyeri dan sakit itu terasa membuat bulu kudu Ningsih meremang.
"Kamu pasti hendak bertanya, di mana lelaki yang berasal dari Singapore yang kau tumbalkan menjadi tumbal keenam, bukan? Dia berada di penjara bawah tanah bersama jiwa berdosa lainnya yang juga masuk dalam kejahatan Neraka Lapis Keenam." jelas Bima melihat Ningsih menatap lelaki itu satu per satu.
"Berarti, dia jauh lebih parah dari keenam orang di sini?" tanya Ningsih yang belum begitu paham.
"Bisa dibilang begitu. Namun, apa bedanya manusia? Orang baik yang menyombongkan diri dan merendahkan orang lain, pantaskah masuk Surga? Orang jahat yang berpura-pura baik, pasti masuk Neraka, apalagi yang jelas jahat. Sepertinya tempat yang 'katanya' indah itu akan sepi penduduk," kata Bima yang memang bisa dilogika. Setelah itu Ningsih dibawa pergi dari Neraka.
Ningsih kembali ke dunia nyata, tepatnya di dalam kamarnya. "Bi-Bima? Ada satu hal yang belum kau perlihatkan. Apa yang akan terjadi padaku? Seperti pengikutmu sebelum-sebelumnya?" lirih Ningsih saat sudah mendapati dirinya di dalam kamar.
Bima terdiam sejenak. Dia menatap istrinya. Hal yang seharusnya tidak dia lakukan terhadap pengikutnya yang lain, adalah menunjukkan neraka dengan kengerian siksaannya. "Ningsih, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi padamu." ucap Bima yang tak bisa menjelaskan.
"Aku tahu itu. Namun, aku ingin tahu apa yang terjadi pada pengikutmu? Pengikut Tuan Chernobog. Pelaku pesugihan yang sudah mati?" selidik Ningsib yang tak akan berhenti sebelum mendapatkan jawaban.
"Mereka ... mereka menjadi pilar kerjaan, dinding, bahkan tangga dan jembatan. Hanya saja tubuhnya tak terlihat karena sudah disihir. Siksaan itu tak akan berhenti. Aku tak akan membiarkan kamu mengalaminya." tutur Bima yang hendak memeluk Ningsih, tetapi wanita itu menghindar.
"Lantas, apa yang terjadi terhadap keluarga pengikutmu?"
"Sama. Perjanjian itu berlanjut jika tidak diputuskan. Seperti Reno dan Santi yang selamat karena Darjo membantunya. Seperti Wahyu yang lepas karena Anwar dan santrinya ikut campur. Jika tidak, mereka sudah dibawa ke Neraka."
Bima terdiam, Ningsih juga tak sanggup berkata apa-apa. Baru dia sadari, hidupnya sudah jauh dari kata kemanusiaan. Meski harta yang Ningsih dapat juga untuk membantu orang lain, tetapi tidak bisa dibenarkan semua hal itu.
Ningsih menangis, meraung-raung menyesali perbuatannya. Dia tak tahu harus berbuat apa dan memilih jalan mana. Dia sadari jika cintanya kepada Bima membawa orang lain dalam kesengsaraan. Dia tahu jika cinta itu terlarang dan kemungkinan bersatu sangat kecil.
***
Bima pergi ke tepi danau ....
Sejak ratusan tahun lalu, sebelum banyak pembangunan, danau ini sudah menjadi tempat favorit Bima menyendiri dari segala kegiatannya menyesatkan manusia. Seperti saat ini, Bima terpaksa mengungkapkan semuanya ke Ningsih agar wanita yang dia sayangi bisa memilih jalan lain.
Hidup bersama Bima hanya akan membawa malapetaka dan luka. Ningsih berhak memilih terbebas jika manusia-manusia itu bisa menyelamatkannya. Itu yang Bima pikirkan. Tak peduli jika dirinya sendiri bisa saja mendapat hukuman keji dari Tuan Chernobog seperti waktu dahulu, bagi Bima: "Bahkan aku siap mati dan sirna selamanya, asal wanita yang kucintai hidup bahagia."
Bima menatap danau yang hening bersamaan mentari yang mulai meninggi. Dia hanya terdiam. Tak mengatakan apa pun. Tak melakukan apa pun. Mungkin perasaan kalut inilah yang sering dirasakan manusia sebelum akhirnya memilih jalan pintas untuk bunuh diri. Namun, jika Iblis merasakan itu bisakah dia mengakhiri hidup? TIDAK! Siksaan itu nyata. Perasaan yang seharusnya tak ada, mengapa hanya Bima yang merasakan? Iblis lain tak pernah bermasalah dalam menjalankan tugas. Tak pernah jatuh cinta pada pengikut ataupun korbannya. Mengapa Bima harus merasakan hal ini sekarang?
"Iblis, kamu ada di sana? Aku bisa merasakanmu," ucap seorang gadis yang pernah diselamatkan oleh Bima.
"YA." jawab Bima sambil menoleh ke arah Laurent yang ternyata bersama bodyguardnya.
"Daniel, ada iblis galau di sana. Dia yang membantu kita waktu itu. Mungkin kamu tak bisa melihatnya, tetapi dia Iblis paling baik yang pernah kutemui." kata gadis buta yang menunjuk ke arah Bima berdiri.
"Benarkah, Nona? Mengapa Nona bisa tahu Iblis itu? Jangan sering ke sini sendirian, ya." jawab Daniel yang tak melihat apa-apa.
"JANGAN GANGGU AKU. HARI INI AKU TAK INGIN BANYAK BICARA!" gertak Bima memberi larangan pada Lauren agar dia tak mendekat.
"Baiklah, kami akan pergi dari sini. Namun, perlu kamu tahu ... ada cara untuk mengelabui Tuanmu." celetuk Laurent sambil membalikkan badannya hendak pergi dan memegang erat tangan Daniel yang masih bingung.
"TUNGGU! APA ITU?" tanya Bima yang membuat Laurent tersenyum.
"Kembalilah ke sini besok. Aku akan menyiapkan hal itu," jawab Laurent yang kemudian pergi dengan Daniel.
Meski Daniel tak tahu apa dan siapa yang diajak bicara oleh Laurent, dia tetap harus menjaga nona mudanya. Sedangkan Bima semakin bertanya-tanya. "GADIS ITU ... BUKAN GADIS SEMBARANGAN. JANGAN-JANGAN ... DIA BUKAN MANUSIA? AH, PIKIRANKU MAKIN KACAU!" ucap Bima pada diri sendiri.
Sebenarnya, Bima bisa saja mengubah Ningsih menjadi Iblis dengan meminta Tuannya melakukan. Namun, setelah dipikirkan kembali, Bima tak tega membuat wanita yang harusnya dia lindungi malah menjadi sepertinya yang mengabdikan diri pada Tuan Iblis.
Bima memberi Ningsih pilihan karena cinta yang dirasakannya sangat nyata. Tak pernah dia merasakan hal itu sebelumnya. Mungkin, manusia tak bisa memahami rasa itu. Bahkan, Iblis akan menertawakan Bima jika mengetahui perasaannya. Namun, salahkah Bima berjuang?
Bima tahu jika semua ini tak akan mudah. Dia harus menghadapi Kyai Anwar, PakLek Darjo, Budi, serta kelima santri jika Ningsih memilih bertaubat atau dipaksa bertaubat. Sedangkan, jika Ningsih memilih bersama Bima, dia harus menghadapi manusia-manusia itu dan juga Tuan Chernobog. Nasib Bima saat ini bagaikan makan buah simalakama. Semua salah, semua benar tetapi salah. Entahlah.
Bersambung ....
***
"Ketika cinta menjadi luka, maka lepaskanlah. Menggenggam pasir tak akan bisa. Menggenggam duri hanya meninggalkan kesakitan. Cinta harusnya membawa kebahagiaan. Jika tidak, ada yang salah dengan caramu mencintai." ~Rens09~
Terima kasih sudah membaca. Jika pembaca penasaran ingin berkomunikasi dengan Author bisa masuk ke Grup Chat, ya^^