
...🔥 NEED HELP 🔥...
Hari itu, Alex membantu mengubah aura dan identitas Dinda agar para iblis neraka tidak bisa mendeteksi mereka. Alex melakukan hal yang sama pada Bima dan Ningsih. Maka dari itu, beberapa tahun belakangan ini, mereka tidak mendapat gangguan dari makhluk neraka. Namun, siapa sangka jika hal ini tetap berdampak buruk suatu hari nanti.
Dinda bangga sekali memiliki keponakan yang sangat luar biasa. Mereka berbincang banyak hal, hingga senja mulai datang. Tak ada habisnya mereka berbicara tentang apa yang terjadi hampir sembilan tahun ini. Boy pun tak menyangka, anak spesial yang dilahirkan dalam portal gaib, bisa memiliki kekuatan yang luar biasa seperti itu.
Namun, tiba-tiba Dinda ingat jika ada satu tugasnya belum selesai. Dari sekian pengikutnya yang meninggal maupun menumbalkan orang lain sebagai tanda mengikuti Nyi Pelet, hanya Fani-Mama Lukas- yang masih hidup. Dinda memberi dia waktu lebih banyak untuk merasakan pesakitan. Namun, besok waktunya sudah berakhir.
"Boy, besok aku harus pergi sejenak. Kamu di sini saja dulu. Ada hal yang harus kuselesaikan." kata Dinda berpamit terlebih dahulu pada Boy.
"Aku ikut. Jangan bilang kalau kamu akan mengambil jiwa manusia. Dinda, hentikan itu. Kakakmu saja bisa berubah. Meski kalian iblis, kalian masih bisa memilih jalan yang berbeda." Boy memegang tangan Dinda. Berharap dia mau mendengarkan nasehat Boy.
"Boy, kamu tidak tahu hal ini. Kalau aku berhenti mengambil jiwa manusia berdosa yang masuk dalam jerat kegelapan neraka lapis ketujuh, pasti Tuan Chernobog akan curiga. Aku takut jika akhirnya kehidupan Kak Bima juga terancam lagi. Tolong, mengertilah." jelas Dinda yang sesungguhnya mulai merasa terpaksa melakukan semua itu.
"Kalau begitu, kamu harus bilang ke Bima dan Alex. Jika ada suatu hal, mereka pasti bisa membantu." Boy selalu bijaksana dalam menyikapi segala sesuatu hal.
Dinda pun mengikuti nasehat dari Boy. Dia menghampiri Bima dan mengajaknya bicara secara pribadi. Alex pun ikut mendengarkan. Sedangkan Ningsih berbincang dengan Boy sejenak.
"Ada apa Dinda?" tanya Bima. Alex hanya mendengarkan terlebih dahulu.
"Kak, aku minta izin akan ke tempat pengikutku. Ada urusan yang harus aku selesaikan." ucap Dinda pada kakaknya.
"Urusan? Jangan bilang kalau kamu masih mengambil jiwa manusia untuk Chernobog!" terka Bima yang jelas benar.
"Iya, meski ada iblis pengganti Kakak di neraka lapis ketujuh, aku tetap tak bisa berhenti. Jika aku juga berhenti, mereka pasti curiga dan mengejarku juga." jawab Dinda, bersedih.
"Tante, selesaikan saja urusan Tante. Kali ini, memang harus dituntaskan. Setelah itu, jangan lakukan lagi. Aku sudah mengubah aura Tante. Mereka tak akan menemukan kita," sela Alex mencoba menenangkan tante dan papanya.
"Baiklah, jika ada apa-apa langsung minta bantuan. Kami pasti menolong." Bima memeluk adiknya. Dia berharap semua baik-baik saja.
Dinda pun berpamitan. Tak lupa dia juga berpamit kepada Ningsih dan Boy. Dia tahu jika hal inj menjadi rumit. Namun, tetap harus diselesaikan. Fani harus diambil karena sudah melakukan perjanjian dengan wanita iblis seperti Dinda.
...****************...
Di sisi lain ....
Fani hidup sendiri selama beberapa tahun ini. Tanpa suami dan anak. Lukas meninggal dengan mengenaskan karena perjanjian pengasihan dengan Nyi Pelet. Sedangkan suami Fani sudah meninggal beberapa tahun setelah menikah dengan Fani. Hal itu karena efek pelet yang Fani tempuh pada Dinda.
Wanita iblis itu menjerat kehidupan Fani dalam keterpurukan dan kesedihan. Beberapa tahun yang berat dia lalui setelah Lukas meninggal. Gio masih sering mengunjungi, tetapi sejak Gio lulus kuliah dan mendapat pekerjaan di Yogyakarta dia tak lagi bertemu dengan mama Lukas.
Saat ini, Fani sedang menjalin hubungan dengan lelaki misterius. Dia mulai terjebak dalam hubungan tanpa status. Lelaki itu memiliki pesona yang luar biasa. Beberapa kali, hampir saja Fani tergoda untuk melakukan kontak fisik. Namun, Fani masih bisa menghindar. Meski usianya yang sudah tante-tante, pesona Fani karena ikatan dengan Dinda tetap membuatnya terlihat cantik dan bersinar.
Sesampainya di daerah Fani tinggal, Dinda merasakan ada kekuatan gaib lainnya. Kekuatan itu menekan kehadiran Dinda seakan tak memperbolehkan dia mendekati Fani. "Sial! Kutinggal terlalu lama, ada iblis lain mengincarnya. Jiwa penuh dosa itu memang rasanya manis dan baunya sungguh menggoda. Ternyata ada makhluk lain yang hendak mengambil jiwa Fani," batin Dinda yang merasa hal itu tak beres.
Belum selesai menerka apa yang terjadi, Dinda melihat dari kejauhan Fani datang dengan mobil hitam. Seorang lelaki, bukan, tepatnya iblis yang menyamar menjadi manusia sedang mengantar Fani pulang. Dinda memperhatikan Fani.
Lelaki itu menatap Dinda yang berada dikejauhan dan menyeringai. Dia memeluk Fani dan masuk ke rumahnya.
Dinda merasa kesal. "Sial! Kalau dia berhasil, kacau rencanaku! Dia iblis milik Tuan Asmodeus. Dia akan memikat dengan nafsu. Jika Fani terjebak, mau tak mau aku haru berebut jiwa berdosa dengan iblis itu!" umpat Dinda dalam hati.
Dinda menghampiri ke rumah Fani. Namun, iblis itu sudah memberi perlindungan di rumah itu dan sulit untuk di tembus Dinda. Hal itu membuatnya makin marah dan frustasi. Dinda mengeluarkan ilmu yang dimilikinya untuk menembus perlindungan dari iblis itu. Namun, tetap tak bisa. Sulit ditembus.
Lelaki itu membujuk Fani untuk melakukan hubungan badan. Fani yang terhanyut dengan perkataan manis lelaki itu pun akhirnya menyerah.
"Za ... jangan." Fani mencoba menghindar. Namun, lelaki itu terus mendesak.
"Fani, mau sampai kapan seperti ini? Aku tahu kau juga menginginkan ini," lirih lelaki iblis itu menggoda.
Dinda mencoba mencegah, tetapi tak bisa. Fani jatuh dalam pelukan iblis itu. Saat ini, jiwa Fani akan menjadi rebutan dua lapisan neraka. Iblis lelaki itu bernama Za dengan nama panjang Zatan.
"Sebentar lagi, mau tak mau harus bertarung dengan Iblis baru itu! Dia pasti pengganti Evan!" geram Dinda. Tugasnya kali ini harus diselesaikan. Kalau tidak, bisa menimbulkan kekacauan yang lebih lagi. Tuan Chernobog dan Tuan Asmodeus sedang tidak bersahabat sejak masalah Bima dan Evan. Hal ini tetap berlangsung meski keduanya sudah menjadi iblis buangan neraka.
Manusia dengan mudahnya menyerahkan jiwa mereka dalam genggaman iblis. Mereka memilih dosa yang mereka sukai. Meski berdalih demi kebaikan atau justru menyalahlan orang lain, dosa tetaplah dosa, bukan? Iblis berebut jiwa berdosa dan segera akan menggiring ke dalam kobaran api neraka.
Meski Sang Pencipta mencoba mencegah, pada dasarnya manusia suka akan dosa. Mereka bertaubat jika sudah terpojok, tetapi jika ada kesempatan lagi, dosa pasti akan terulang. Ironi, bukan?
Fani terlelap setelah bertukar keringat dengan Za. Lelaki iblis itu pun memantrai Fani agar dia bunuh diri setelah sadar nanti. Saat itu juga, Dinda menembus perlindungan yang Za.
"Lancang kau iblis baru! Dia mangsaku! Aku sudah menjeratnya hampir dua puluh tahun!" gertak Dinda pada Za.
"Ha ha ha ... bukankah pepatah mengatakan siapa cepat dia dapat, bukan? Bodoh! Iblis lama sepertimu harusnya paham. Jiwa berdosa seperti ini incaran iblis dari penjuru neraka. Jangan merasa direbut. Kau saja yang tak cepat memanennya!" Za semakin membuat Dinda emosi.
Dinda pun memulai peperangan. Dia menyerang Za. "Ayo adu kekuatan! Siapa yang menang mendapatkan jiwa Fani!" tanyang Dinda pada lelaki iblis itu.
"Wanita tangguh dan tak mau menyerah. Ha ha ha ... kau pasti Dinda. Adik dari sampah neraka yang bernama Bima. Musnah karena mencintai manusia. Produk gagal dari neraka lapis ketujuh." ejek Zatan mempermainkan emosi Dinda.
Dinda pun bertubi-tubi menyerang Za. Lelaki itu dengan gesit menghindari serangan Dinda. Tak bisa dipungkiri, lelaki iblis itu terlihat kuat. Dinda hanya sebatas nekat dan menggertak. Dia tahu jika Za lebih kuat darinya. Bahkan menembus pelindung itu pun menunggi Za mengeluarkan energi untuk memberi mantra ke Fani, saat energi itu lengah, Dinda langsung menembus.
"Sudah. Menyerah saja daripada kau terluka, cantik." kata Za kembali menggoda Dinda. Bukannya menyerah, Dinda semakin marah.
Mereka bertarung dalam dunia gaib. Sedangkan Fani perlahan membuka mata. Dia bingung apa yang terjadi. Dia berada di ranjang rumahnya dan tak berpakaian. Fani langsung memakai pakaian dan melihat ke sekitar. Mencari di mana lelaki yang bersanding dengannya tadi. Dia mencoba mengingat kejadian apa sebelumnya.
"Za ... kamu di mana? Arrgg ... kepalaku pening sekali." lirih Fani yang tak menemukan Za di dalam rumahnya.
Dinda masih menyerang Zatan. Namun, serangannya selalu dapat dihindari dengan mudah. Dinda pun geram. Dia merasa dipermainkan. "Apa maksudmu, ha!" teriak Dinda yang mulai lelah.
Zatan pun tertawa dan mendekati Dinda. Dia memegang dagu Dinda dan berkata, "Aku akan membiarkanmu membawa jiwa itu asal ... jadilah kekasihku."
Dinda jelas menolak. "Dasar gila! Iblis tak boleh jatuh cinta! Tak boleh mempunyai hubungan dengan sesama Iblis sekalipun!"
Zatan kembali tertawa menatap Dinda. "Kekasih belum tentu dengan rasa cinta, bukan? Aku hanya ingin merasakan malam-malam hangat bersamamu," kata Za tak tahu diri.
"Iblis mesum! Cari saja wanita yang mau jadi korbanmu! Aku tak sudi!" gertak Dinda.
Zatan pun memegang bahu Dinda dengan kedua tangannya yang mencengkeram kuat. Dia menatap Dinda dengan tajam. "Bukankah pengikut Tuan Asmodeus semuanya sepertiku? Hawa nafsu menjadi hal utama. Jangan berpura-pura tak tahu. Kita ini sesama Iblis. Pikirkan kembali tawaranku. Aku tahunkau akan mendapat masalah serius jika tidak mengambil jiwa berdosa ini."
Dinda pun terdiam sejenak. Apa yang dikatakan Za adalah benar. Namun, mengapa dia harus melayani iblis mesum seperti itu? Dinda tak sudi. Dinda pun mencuri kesempatan dan langsung melepaskan diri dari Za.
Dinda ke Fani dan langsung mencabut nyawanya. Membawa jiwa Fani yang berdosa untuk pergi. Za merasa tertipu dan malu.
"Wanita iblis yang licik. Aku makin suka." guman Zatan melihat Dinda pergi dengan jiwa Fani menuju ke neraka lapis ketujuh.
Fani meninggal di rumahnya. Dia diperkirakan terpeleset dan jatuh terbentur meja. Pelipisnya mengeluarkan darah segar. Warga sekitar yang mengetahui langsung panik dan menyiapkan untuk proses pemakaman. Orang tua Gio yang tahu pun langsung ke sana.