JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 60


Lee mendengarkan lagu kesukaannya sambil mengemudikan mobil. Ningsih duduk di sampingnya, mengamati lelaki tampan yang entah mengapa mengejarnya.


~~I used to believe


We were burnin' on the edge of somethin' beautiful


Somethin' beautiful


Selling a dream


Smoke and mirrors keep us waitin' on a miracle


On a miracle


Say, go through the darkest of days


Heaven's a heartbreak away


Never let you go, never let me down


Oh, it's been a hell of a ride


Driving the edge of a knife


Never let you go, never let me down


Don't you give up, nah-nah-nah


I won't give up, nah-nah-nah


Let me love you


Let me love you


Don't you give up, nah-nah-nah


I won't give up, nah-nah-nah


Let me love you


Let me love you


Oh baby, baby


Don't fall asleep


At the wheel, we've got a million miles ahead of us


Miles ahead of us


All that we need


Is a rude awakening to know we're good enough


Know we're good enough


Say go through the darkest of days


Heaven's a heartbreak away


Never let you go, never let me down


Oh it's been a hell of a ride


Driving the edge of a knife


Never let you go, never let me down


Don't you give up, nah-nah-nah


I won't give up, nah-nah-nah


Let me love you


Let me love you


Don't you give up, nah-nah-nah


I won't give up, nah-nah-nah


Let me love you


Let me love you


Oh baby, baby


Never let you go


Never let you go


Never let you go


Never let you go


Never let you go


Never let you go


Never let you go


Never let you go


Never let you go


Never let you go (oh no no no no)


Never let you go (yeah yeah)


I'll never let you go


Don't you give up, nah-nah-nah


I won't give up, nah-nah-nah


Let me love you


Let me love you


Don't you give up, nah-nah-nah


I won't give up, nah-nah-nah


Let me love you


Let me love you~~


"Lagunya udah?" tanya Ningsih menyita perhatian Lee.


"Eh, iya. Ada apa?" jawab Lee sambil mematikan player mobilnya.


"Nggak apa ... aku nggak mudeng lagunya. He he he ...." kata Ningsih, tertawa lepas.


"Kamu itu nggemesin, ya. Cantik, mandiri, sukses, tapi nggak bisa bahasa inggris," ledek Lee pada pujaan hatinya.


"Dih, siapa bilang aku nggak bisa? Aku bisa, ya. Little little i can," celetuk Ningsih sebisanya.


"Ha ha ha.... iya deh. Nanti kalau Ningsih ikut ke Singapura, Lee ajarkan bahasa inggris agar ahli."


Tatap mata Lee membuat Ningsih gerogi. Meski awalnya Ningsih tak suka pada lelaki berwajah mirip aktor Korea terkenal, lama-lama dia mulai merespon terlebih Lee membelikan apartemen mewah. Selain itu, Ningsih ingat pesan Bima dan tak bisa menolak perintahnya.


Sesampainya di Meikarta, Lee mengajak Ningsih ke ruang utama kantor pemasaran. Menandatangani serah terima dan penyerahan kunci serta kartu akses VIP. Semua atas nama Ningsih Sukmasari.


"Ningsih sayang, ini tanda bukti cintaku padamu. Semoga kamu menerimanya dan juga mau lebih dekat denganku," kata Lee sambil berlutut. Dia menyodorkan kotak kecil berwarna silver yand dibuka, berisi cincin dengan batu permata yang mengkilap.


Ningsih terkejut dan terharu. Dia pun menyuruh Lee berdiri. Tak enak jika orang-orang melihatnya.


"Lee, ayo berdiri. Jangan begitu. Nggak enak dilihat banyak orang," kata Ningsih.


"Aku tidak akan berdiri, sebelum kamu menerimanya."


Orang-orang yang tadinya berlalu lalang biasa, mulai berhenti melihat Lee berlutut. Mereka pun menyoraki Lee dan Ningsih.


"Wah, so sweet banget!"


"Terima aja, Sis. Terima!"


"Wow keren banget ngelamarnya, so sweet."


"Ciyee... romantis banget."


Sorak sorai kerumunan orang membuat Ningsih semakin tak enak hati. Takut menjadi tontonan lebih lama lagi, dia pun terpaksa menerima Lee agar pertunjukan itu usai.


"I... iya Lee... aku mau. Udah sekrang kamu berdiri," lirih Ningsih.


"Really? Ningsih mau menikah denganku?" seru Lee, senang.


"Aku belum berpikir sampai menikah, tetapi kita bisa dekat dulu. Ayo berdiri Lee," bisik Ningsih pada lelaki yang masih berlutut di depannya.


"Aku akan berdiri jika kamu berjanji ikut aku ke Singapura agar kita bisa mengenal satu dengan yang lainnya," ucap Lee lantang.


Lelaki ini tak mudah menyerah atau bahkan keras kepala. Ningsih pun mengiyakan. Semua sesuai apa yang diprediksi Bima.


"Ya, Lee. Aku mau," jawab Ningsih


Lee pun tersenyum bahagia. Dia berdiri lalu memeluk Ningsih. Merasa berhasil mendapatkan hati wanita yang mencuri perhatiannya pada pandangan pertama. Lee tidak tahu jika hal yang dia yakini dengan cinta, membawanya ke dalam jerat kegelapan yang tiada ujungnya.


****


Tiga hari kemudian....


[Sayang, hari ini ada acara kah?]


Lee mengirim pesan kepada kekasihnya.


Ningsih membalas pesan itu, dia sedang bermain di Dufan dengan Reno, Santi, dan Wahyu ditemani Joko dan Mak Sri. Sedangkan Budi menjaga rumah seperti biasa.


[Maaf, Lee. Aku baru saja masuk ke Dufan dengan anak dan keponakanku. Next time, ya?]


[Dufan? Kok nggak bilang? Aku susul, ya?]


[Kamu mau main dengan anak-anak?]


[Tentu. Aku senang bisa menghabiskan waktu bersamamu, sayang.]


Ningsih tertawa dan meletakan ponselnya di tas.


"Ada apa, Tante? Kok senyam senyum sendiri?" selidik Santi sambil menepuk pundak Ningsih.


"Ah, nggak. Ini loh, ada cowok kok bucin banget," kata Ningsih.


"Cowok mana? Pacar Tante yang waktu itu?"


"Ih, apa sih. Tante nggak pacar-pacaran tahu. Itu dia suka sama Tante. Namanya Lee. Nanti mau nyusul ke sini," ucap Ningsih dengan santai.


"Serius, Tante? Bagus dong ada pendamping Tante di sini," kata Santi agak berteriak sambil melirik Reno, menyindirnya.


"Siapa yang mau nyusul?" tanya Reno terpancing emosi.


"Ya calonnya Tante Ningsih lah. Kenapa? Cemburu?" sindir Santi membuat Reno makin geram.


"Aku nggak ngomong sama kamu! Siapa yang mau nyusul, Tante?"


"Sudah jangan emosi. Itu Lee teman Tante. Rekan bisnis Tante yang tempo lalu itu. Reno jangan marah-marah, ya," ucap Ningsih menenangkan Reno sambil mengandeng lengannya.


Reno merasa senang Ningsih mau menyentuhnya. Jantungnya berdetak lebih kencang dan gugup seketika. Terlebih aroma tubuh Ningsih yang membuatnya selalu ingat kejadian masa lalu.


"I... iya Tante. Aku nggak marah kok," kata Reno memelankan suaranya.


"Nah, gitu dong. Reno 'kan keponakan kesayangan Tante," ucap Ningsih meredam amarah Reno.


Santi mencibir Ningsih, "Iyaa percaya, Reno kesayangan Tante Ningsih. Aku mah apa atuh...."


"Duh... kok cemburu-cemburuan semua... Dah ayo main, itu Wahyu sama Mak Sri udah sampai sana. Joko, ini ajak Santi main sana biar nggak manyun mulu," kata Ningsih membuat Santi malu dan memerah pipinya.


Santi sejak awal memang tertarik dengan Joko. Namun perasaannya bertepuk sebelah tangan. Joko selalu memperhatikan Ningsih. Santi tak tahu perasaan Joko lebih dari sekedar sopir dan bos. Dia berharap bisa dekat dengan Joko.


"Baik, Bu. Ayo Non Santi mau main ke mana biar Joko temani," ucap Joko mendekati Santi yang terlihat merah merona.


"Main Tornado aja, yuk." ajak Santi.


"Baik, ayo. Bu Ningsih ikut?"


"Kalian duluan aja, aku mau nyusul Wahyu," kata Ningsih yang tahu isi hati Santi.


Reno pun senang jalan dengan menggandeng tangan Ningsih. Santi sudah pergi dengan Joko dan tidak mengganggunya.


"Tante...." lirih Joko.


"Ada apa?"


"Beneran nanti si Lee itu ke sini?"


"Nggak tahu sih. Kenapa emang?"


"Reno nggak suka sama dia."


"Cemburu?"


"Emm... Tante kenapa lupain aku begitu aja?"


Ningsih terdiam, mencoba mengalihkan perhatian. Wahyu dan Mak Sri naik bianglala. Lalu Ningsih menarik tangan Reno naik perahu cinta.


"Naik ini, yuk!"


"Iya... Tante baru mengalihkan perhatian ya? Nggak mau jawab pertanyaan Reno?"


Mereka pun naik ke kapal di atas air dan masuk ke gua yang remang-remang nan romantis.


"Reno... bukannya Tante menghindar. Kamu tahu kan hubungan ini nggak akan berhasil. Kamu itu anak dari sahabatku dan sudah kuanggap keponakan sendiri. Maafin Tante ya...." jelas Ningsih berhati-hati dalam berucap.


"Terus? Kalau Tante bilang begitu... kenapa dulu Tante mengajakku dengan mudah seperti itu?"


"Maaf, Reno... itu murni kesalahan Tante. Maafin Tante, ya? Kamu masih muda. Lanjutkan hidupmu. Temukan calon istri yang baik untuk masa depanmu kelak. Jangan berharap lagi dengan...." belum selesai Ningsih berbicara, Reno mencium Ningsih dan memeluk erat tubuhnya.


Ningsih mencoba melepaskan diri tetapi sangat sulit dan tak bisa. Lalu dia pun pasarah. Mungkin Reno butuh pelepasan rindu kepadanya.


Setelah beberapa saat, Reno melepaskan pelukan dan ciumannya.


"Tante tahu? Segitu tersiksanya aku empat tahun ini. Tetapi Tante seakan lupa padaku begitu saja."


"Maafkan Tante ya, Reno...."


Mereka pun terdiam saat kapal mencapai ujung. Mereka turun dari kapal dan menghampiri Wahyu serta Mak Sri.


Melanjutkan jalan-jalan dengan segala kecanggungan yang ada. Ningsih mencoba mengendalikan perasaannya sendiri. Sebenarnya Ningsih kasihan dengan Reno, tetapi jika menanggapinya lagi akan membuat situasi semakin sulit.


Reno pun terdiam, merasa cintanya tak berbalas. Entah karena Ningsih tak suka atau karena keadaan, yang jelas hal itu membuat Reno semakin tersiksa.


Sedangkan Santi dan Joko menghabiskan waktu bersama. Santi sangat senang bisa dekat dengan Joko sedangkan Joko hanya menuruti mata Ningsih, dia tidak menaruh hati pada Santi.


"Mas Joko sudah lama ikut Tante Ningsih?" tanya Santi membuka percakapan.


"Oh, kira-kira hampir empat tahun. Sekitar itu. Non Santi beneran keponakan Bu Ningsih?"


"Ehm... sebenernya Ibuku dan Tante Ningsih sahabatan. Jadi bukan keponakan sedarah sih. Kenapa, Mas?"


"Oh, pantes saja. Soalnya wajahnya berbeda, Non. He he he...." jawab Joko sambil menggaruk kepalanya.


"Iya kah? Cantik mana, Mas?" selidik Santi ingin tahu pendapat Joko.


"Hmm... cantik semua, Non. Namun Non Santi kan masih lebih muda," kata Joko berhati-hati. Padahal baginya Ningsih jauh lebih menarik


"Benarkah? Padahal banyak orang menyukai Tante Ningsih. Oiya, Mas Joko panggil aku Santi aja deh. Nggak enak kalau dipanggil Nona. He he he...."


"Wah, nggak bisa Non. Nanti kesannya nggak sopan. Maaf ya, Non Santi...." tolak Joko dengan sopan.


Bagi Joko, dalam pekerjaan harus sopan dan mementingkan tata krama. Terlebih saat ini semakin susah mencari pekerjaan, dia mempertahankan menyopir untuk menopang kehidupan keluarganya.


"Mas, ayo ke wahana itu...." ucap Santi sambil menunjuk wahana rumah hantu.


"Waduh, Non, ampun. Nggak berani," jawab Joko sambil nyengir. Dia memang penakut soal hantu dan hal mistis.


"Ya ampun, Mas. Penakut banget sih! Ayo lah


..." pinta Santi.


"Ya udah ayuk. Tapi kalau ketakutan dan teriak-teriak, jangan diketawain yaa, Non...." Joko pasrah.