
...🔥DENDAM MEMBAWA PERMASALAHAN - 2🔥...
Nindy panik karena Gilang pingsan. Para asisten rumah tangga dan sopir pun segera masuk ke rumah untuk membantu menyadarkan Gilang. Nindy memegang tubuh Gilang yang dingin, seperti orang kehabisan tenaga.
"Pak, apakah kita bawa ke rumah sakit saja?" tanya Nindy yang bingung kepada sopirnya.
"Tidak perlu, Nyonya. Ini Mas Gilang kecapekan hingga pingsan. Sebentar saya beri mintak angin dan balsem. Bibi, bisa minta tolong buatkan teh hangat saja?" kata sopir karena Nindy tadi membuat es sirup di dalam gelas yang sudah diletakkan di meja.
"Iya, Pak," sahut bibi langsung ke dapur. Sedangkan Nindy masih khawatir. Mereka mencoba menyadarkan Gilang terlebih dahulu.
Beberapa saat kemudian, Reno dan Lisa terlihat sudah pulang dan turun dari mobil yang terparkir di depan rumah. Setelah itu, Reno dan Lisa terlihat masuk ke dalam rumah. Mereka terkejut melihat Gilang yang tergeletak di sofa. Gilang tak sadarkan diri?
Nindy masih terdiam, tidak menyapa suaminya karena malas berurusan dengan Reno. Namun, begitu Reno melihat Gilang pingsan, dia langsung menghampiri lelaki yang tergeletak di sofa ruang tamu itu.
"Astagfirulah ... Gilang, bangun Gilang. Ada apa?" tanya Reno mencoba membangunkan Gilang. Namun, Nindy hanya terdiam karena malas berbicara dengan Reno.
Lisa melihat sesuatu dan berucap, "Papa, Kak Gilang beri jaring-jaring di sekitar rumah dan di Mama. Kak Gilang capek dan pingsan." Gadis kecil itu berucap seolah orang lain bisa memahami apa yang dia ucapkan.
Reno mencoba memahami apa yang anaknya katakan. "Lisa lihat seperti itu? Oh, mungkin Kak Gilang sedang memagari rumah kita, ya? Ya sudah, Lisa ke kamar, ya sama Bibi. Papa Mama biar di sini menunggu Kak Gilang bangun," kata Reno agar gadis kecilnya tidak ikut khawatir dengan kondisi Gilang yang pingsan. Dia memerintah seorang asisten rumah tangganya untuk mengajak Lisa pergi ke dalam kamar agar tidak takut melihat Gilang yang pingsan.
"Iya, Papa. Mama, jangan marah lagi, ya. Papa sayang Mama," lirih bocah perempuan itu sebelum beranjak pergi ke kamar didampingi salah seorang bibi. Lisa masih khawatir orang tuanya akan kembali saling memaki lagi. Gadis kecil itu sangat menyayangi kedua orang tuanya.
"Nindy, aku minta maaf, ya. Jangan bersedih lagi. Aku menyayangimu. Tolong maafkan aku yang tadi sudah kasar," pinta Reno sambil mengusap wajah cantik istrinya. Tak kuasa menahan rasa, Nindy pun menangis. Dia juga meminta maaf pada suaminya.
"Iya, Reno. Aku juga minta maaf. Hiks hiks ...." Nindy mulai menangis dan menundukkan wajahnya. Dia tak ingin bermusuhan dengan suaminya. Dia merasa semua permasalahan yang terjadi berawal dari Tante Ningsih.
Reno pun memeluk Nindy dengan erat. Mereka langsung saling memaafkan, meski Budi tak tahu jika hal sakit masih bersarang di hati Nindy. Hal itu bersamaan dengan Gilang terbangun dari pingsan.
Melihat Gilang sudah sadar, Pak Sopir langsung memberikan secangkir teh hangat padanya. "Den, minum teh hangat dulu. Ini tehnya," ucap Pak Sopir sambil menyodorkan cangkir berusi teh hangat yang bibi buatkan.
Gilang yang merasa pening dan bingung pun meminum teh hangat itu untuk menambah tenaga. Dia pun bingung melihat Reno sudah di sana. Reno dan Nindy dengan kompak tanpa disengaja berucap, "Gilang, kamu baik-baik saja?"
Gilang pun menatap mereka dan tersenyum. "Nah, gitu. Kalian kompak kalau sudah saling memaafkan." Seakan tidak terjadi apa-apa, Gilang merasa harus menyembunyikan letihnya demi membuat mereka tak khawatir. Membuat pagar gaib menyita banyak energi.
Reno dan Nindy pun tersenyum. Padahal dalam hati Nindy masih luka akibat ditampar oleh Reno di depan umum. Reno mengira istrinya sudah memaafkannya. Setelah itu, Gilang berpamit pergi karena harus kembali bekerja. Sebelumnya, dia menasehati Reno dan Nindy agar berhati-hati karena ada makhluk gaib yang mengincar rasa sedih mereka.
Benar saja, dari kejauhan makhluk hitam itu menyeringai dan menatap rumah Nindy yang diberi pagar gaib. "Lihat saja, sampai kapan pagar gaib itu bertahan. Ketika kalian lengah, aku akan mengambil rasa sedih dan dendam di hati wanita itu. Ha ha ha ha ha ...."
...****************...
Malam harinya, saat Gilang dan Gio sudah selesai bekerja, mereka pun bersantai di kontrakan sambil meminum secangkir kopi dan makan tempe dan tahu goreng yang tadi mereka beli di warung sebelah kontrakan. Mereka berdua berkumpul karena hendak mengerjakan tugas tambahan yang sengaja dibawa pulang daripada lembur di kantor.
Gio mengambil tempe goreng dan memakannya perlahan. Sambil memegang secangkir kopi yang siap diminum, Gio pun bertanya, "Sebenarnya, tadi apa yang membuatmu khawatir dengan Mbak Nindy? Sepertinya ada bau-bau makhluk gaib, ya?"
Gilang menatap kawannya sambil tertawa. Gio terlihat lucu memakan gorengan sambil minum kopi seperti orang sudah tua. "Kamu itu lucu sekali. Ha ha ha ha .... Iya, Mbak Nindy sedang diincar makhluk gaib. Karena rasa dendam dan kesedihan di dalam dirinya menimbulkan aura yang membuat makhluk itu tertarik. Jadi, tadi aku beri pagar gaib di tubuh dan rumah Mbak Nindy."
"Ooh ... jadi itu yang buat kamu pingsan? Ha ha ha ha ...." ledek Gio pada kawannya. Dia tahu jika Gilang pingsan dari Reno saat berbalas pesan.
"Eh, dari mana kau tahu aku pingsan? Hadew." Gilang pun menyeruput kopinya. Percakapan dua sekawan itu terasa makin serius ketika membicarakan soal aura manusia.
"Sebenarnya, rasa dendam itu lebih kuat auranya dibanding kesedihan dan amarah karena dendam itu bersifat ingin membalas dan melukai orang lain. Maka dari itu, aura gelap dari rasa dendam paling disukai makhluk gaib karena energinya lebih besar. Sangat berbahaya kalau menyimpan dendam di dalam hati. Bisa-bisa tidak pernah merasakan bahagia karena ada makhluk gaib yang menempel dan membuat semakin banyak kegagalan dalam hidup. Begitu, Gio. Jadi, Mbak Nindy akan dalam bahaya jika masih menyimpan sakit hati dan dendam." Penjelasan dari Gilang membuat Gio manggut-manggut tanda paham. Mereka berusaha memperbaiki hal yang mungkin tak bisa diperbaiki. Soal hati dan pemikiran, benci atau dendam, tidak bisa diatur orang lain, bukan?
"Kalau begitu, kita harus menghibur Mbak Nindy agar tidak menaruh dendam. Bagaimana?" tanya Gio pada Gilang. Pemikiran yang singkat untuk sebuah solusi.
"Iya, tetapi sulit. Mbak Nindy marah mengingat almarhum Kakaknya yang meninggal karena diduga menjadi rumbal pesugihan Tante Ningsih. Ya, hal seperti ini memang sulit kita uraikan. Mbak Nindy tidak bisa membendung rasa amarah dan dendam karena melihat Tante Ningsih bertaubat dan mengubah penampilan," jawab Gilang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Terasa hal mudah tetapi sulit dilakukan. Memang seperti itu adanya. Tidak semua bisa dilakukan, bukan? Termasuk soal hati.
Mereka pun terdiam sejenak. Mencoba berpikir bagaimana cara menolong Nindy dari rasa dendamnya. Meski terlihat sulit, mereka tetap akan berusaha membantu sebisa mungkin. Gilang dan Gio tak sadar jika sedari tadi ada makhlum mengintai mereka. Makhluk gaib itu mengamati dan mencari celah untuk menyerang.
Setelah selesai makan gorengan dan minum kopi, Gio dan Gilang pun mengerjakan tugas kantor yang dibawa pulang. Mereka mengerjakan semua pekerjaan itu dengan serius. Pekerjaan itu menyita waktu yang cukup lama, hingga hampir tengah malam. Seusai mengerjakan semuanya, Gilang pun pamit kembali ke kamarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Keluar dari kamar Gio, lelaki itu merasa sangat dingin. Angin berembus perlahan membuat bulu kudu Gilang meremang.
"Duh, kenapa merinding, ya? Ada apa, ya?" gumam Gilang sambil memegang tengkuknya. Dia merasa ada sesuatu yang akan terjadi. Entah dari mana rasa itu datang, yang pasti feeling itu selalu benar. Memang sedari tadi ada makhluk yang memata-matai dirinya.
Makhluk hitam itu mendatangi Gilang secara tiba-tiba membuat Gilang terkejut. Dalam rencana makhluk itu jika ingin pagar gaib itu musnah, makhluk itu harus menyerang orang yang membuat pagar gaibnya. Jadi, dia tak perlu menghabiskan tenaga membuka pagar gaib yang sudah dibuat oleh Gilang. Hal itu yang akan dilakukan oleh makhluk hitam yang menginginkan Nindy. Mengganggu Gilang terlebih dahulu dan mengalahkannya agar pagar gaib menghilang dan dia bisa mengambil alih jiwa dan aura dendam di dalam Nindy.
"Ha ha ha .... Manusia bodoh yang sering menjadi pahlawan kesiangan. Ayo kita adu kekuatan!" gertak makhluk itu pada Gilang. Jelas saja Gilang terkejut. Dia langsung siaga. Tidak lupa laptop dan pekerjaannya diletakkan dalam kamarnya terlebih dahulu. Setelah itu dia menghadapi makhluk hitam di luar kontrakannya. Dia sudah berdoa dan bersiap menghadapi makhluk mengerikan itu. Tak ada pilihan lain selain menghadapi, meski Gilang tahu kekuatan makhluk itu lebih kuat darinya.
"Maju makhluk jelek! Aku tidak takut padamu!" seru Gilang yang berharap Gio mendengarnya dan keluar kamar untuk membantunya. Ternyata Gio tidak mendengar. Makhluk itu sangat licik, sudsh merencanakan hal lain sebelumnya.
...****************...
...Jika suka karya ini, jangan lupa VOTE ya guys^^...
...Jangan lupa baca karya Author Rens09 berjudul The Hunter (Gambar Lee Min Ho) Terima kasih^^...