
Hai guys! Sebelum membaca please LIKE + KOMENTAR + bagi tips/vote koin yakπ
Dukungan kalian sangat berarti untuk author bersemangat menulis π
Jika novel ini menarik, please klik favorit maupun share ke teman-teman kalian ya π
Thank you π
------------
"Reno ... Reno ... bertahanlah Nak." Ningsih di samping Reno yang dibawa ke IGD.
Santi menangis tak henti-henti. Dia mengira bahwa Reno sakit karena tamparan dan makiannya. Jelas sekali bukan karena itu!
Ningsih membalas pesan yang dikirim oleh Frans.
[Jangan ganggu Reno!]
[Oh, jadi sekarang kamu berani menyuruhku? Dasar wanita iblis! Membinasakan anakmu pun aku mampu! Hahaha]
[Biadap! Jika suatu hal terjadi pada Reno, atau keluargaku, akan kubunuh kau dengan tanganku sendiri!]
[Apa? Bahkan melihatku pun kau langsung mimisan. Sok jadi pahlawan mau membunuhku! Jangan ganggu Ceacil lagi atau kuhabiskan semua yang kau punya!]
Ningsih tersungkur lemas, tak menyangka penyelidikkannya tentang Ratih membahayakan nyawa Reno. Ningsih terpaksa benar-benar menghentikannya.
Ningsih paham betul betapa berharganya Reno dan Santi bagi Ratih. Demi janjinya, Ningsih akan mengikhlaskan tubuh Ratih yang dimanfaatkan Frans untuk membangkitkan Ceacil.
"Reno, bersabarlah Nak. Kamu pasti sembuh," gumam Ningsih lirih sambil memeluk Santi yang terus menangis.
--------------
Sehari berlalu dengan lambat, Reno belum sadar dan dokter memindahkan Reno ke ICU. Ningsih dan Santi setia menunggu Reno dari luar ruangan.
Tiba-tiba ada seorang yang menyelimutkan kain hangat ke tubuh Ningsih dan Santi. Mereka mendongakkan kepala bersamaan. Hampir tak dapat dipercayai, "Kau ..." belum selesai Ningsih berucap langsung disambut perkataan dari orang tersebut.
"Maaf Miss dan nona cantik jika saya mengganggu. Saya sangat khawatir. Tolong kali ini saja jangan marah terlebih dahulu."
Ya, orang itu Satria. Senyum lugunya seakan menutupi perasaan takut melihat ekspresi wajah Ningsih.
"Bagaimana bisa kau ke sini?" ucap Ningsih ketus.
"Maaf, saya bertanya pada seorang ibu pekerja di rumah Nona Santi."
"Lantas apa maumu ke sini?" Ningsih berdiri, melepas kain hangat di tubuhnya.
"Miss, mengapa kau begitu hate me? Membenciku sebesar itu?" Satria terlihat sedih.
"Satu, kamu lancang menciumku. Dua, kamu terlalu ikut campur. Tiga, aku tidak suka melihatmu." Ningsih terpaksa mengatakan hal itu dengan harapan Satria akan berhenti mengejarnya.
Perkataan Bima terus terngiang di benak Ningsih. Terlebih, Satria terlihat orang yang baik. Ningsih tak ingin nasib buruk menghampirinya.
"Oke kalau begitu menurut Anda. Saya membawa dua kotak makanan. Makanlah bersama nona itu. Anda bisa sakit jika tidak menjaga kesehatan. Saya juga membawa minuman dan dua jaket hangat. Saya permisi." Satria meletakkan barang bawaannya dan hendak pergi.
Ningsih tersentuh dengan perhatian Satria. Tangan Ningsih menarik lengan Satria.
"Maafkan aku."
Satria berbalik dan wajahnya tepat berhadapan dengan Ningsih. Bisa di rasakan hembusan napas Ningsih dan Satria beradu.
Tanpa isyarat, tanpa menyadari adanya Santi, mereka berpagut. Saling mencium mesra.
-----------
π΅You're the light, you're the night
You're the color of my blood
You're the cure, you're the pain
You're the only thing I wanna touch
Never knew that it could mean so much, so much
You're the fear, I don't care
'Cause I've never been so high
Follow me through the dark
Let me take you past our satellites
You can see the world you brought to life, to life
So love me like you do, lo-lo-love me like you do
Love me like you do, lo-lo-love me like you do
Touch me like you do, to-to-touch me like you do
What are you waiting for?π΅
Satria mendengarkan lagu itu berulang kali dengan headset terpasang di telinganya sepanjang perjalanan. Siang itu, Satria datang ke rumah sakit lagi.
Betapa bahagianya Ningsih dan Santi, akhirnya Reno melewati masa kritis dan siuman. Reno pun dipindahkan ke bangsal kelas VVIP.
"Tante, apa yang terjadi?" tanya Reno dengan suara lirih.
"Tidak apa Reno. Kamu hanya kelelahan. Istirahat dahulu. Tante akan tetap di Jogja sampai kamu benar-benar pulih." Ningsih membelai rambut Reno.
Santi sedang membeli makan siang untuknya dan Ningsih. Satria sampai ke ICU dan seorang perawat memberi tahu Reno pindah ke ruangan lain. Satria bergegas ke sana dengan senyum bahagia.
"Tante, aku takut." Reno memegang tangan Ningsih.
"Takut apa Reno?" Ningsih membungkukkan tubuhnya mendekat ke Reno.
"Reno takut nggak bisa lihat Tante lagi." Reno menggenggam erat tangan Ningsih.
Ningsih tersenyum. Lalu mengecup bibir Reno. Reno hendak membalas ciuman itu, tapi Ningsih menghindar.
"Duh, Reno kan belum sehat. Makanya lekas pulang ya. Mumpung Tante masih di sini." Ningsih memgerlingkan matanya dengan manja.
"Eghem. Saya datang di waktu yang salah?" ucap Satria membuat Ningsih dan Reno terkejut.
Ningsih dan Reno menatap Satria yang berdiri di ambang pintu.
Apakah Satria melihat kecupan Ningsih? Apakah Satria mendengar percakapan mereka?
Bersambung ....