
"Abah apaan sih? Malu tahu," ucap Ibu.
"Abah kan ngomong yang Abah rasakan, Bu."
"Iya, tapi kan malu atuh, Bah."
"Nggak apa kok Ibu, Abah. Santi dan Reno senang jika dianggap bagian keluarga. Bener kan, Reno?" sela Santi agar tak ada pertengkaran.
"Eh, iya, Kak." jawab Reno sambil menggaruk kepala dan tersenyum menatap Nindy
"Non Santi sama Den Reno, orang tuanya di mana?" tanya Ibu dengan polos.
Seketika suasana menjadi hening sejenak dan canggung. Bibis Santi serasa terkunci, tak bisa berkata. Reno pun menjawabnya.
"Papa Mama kami sudah meninggal, Bah, Bu. Jadi... Papa meninggal sekitar tujuh atau delapan tahun yang lalu sedangkan Mama meninggal empat tahun yang lalu. Sejak lulus SMA, Kak Santi langsung meneruskan usaha keluarga. Dia nggak sempat kuliah demi membiayai sekolah Reno. Jadi Tante Ningsih keluarga kami satu-satunya. Itu pun karena Tante Ningsih sahabat Mama kami," jelas Reno sambil meneguk segelas teh setelah makan.
"Maafkan Ibu ya, Non Den. Ibu tak tahu. Jangan sedih ya. Pantas saja kalian baik sekali dengan Ibu dan Abah. Sudah, anggap saja kami orang tua kalian," ucap Ibu yang jadi serba salah.
"Terima kasih Ibu... Abah..." lirih Santi menatap keluarga Joko.
Meskipun Ningsih sudah menjadi keluarga mereka, tetapi kehadiran Ningsih yang sibuk membuat Santi dan Reno merasa kurang perhatian. Merasa bukan keluarga yang wajar. Malah justru Mak Sri yang selalu menemani Reno, Santi, dan Wahyu.
Setelah selesai sarapan, mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah keluarga Joko. Berada di pinggiran Kota Jakarta.
***
Sementara di rumah Ningsih....
"Mak, jangan keluar rumah dulu, ya," ucap Budi.
"Ada apa, Bud?"
"Bawa masuk Wahyu saja sambil berdoa. Budi lihat di depan rumah ada sosok astral wanita yang sedari tadi mengamati rumah ini. Mak yang kuat ya. Jangan lengah. Budi juga akan berjaga dari luar," jelas Budi.
Sudah empat tahun Budi bekerja dengan Ningsih. Dalam diam, Budi mengawasi semuanya. Terlebih Budi ini anak pemilik pesantren terbesar di Wonosari. Hanya saja, dia tidak mengeluarkan atau memakai ilmunya. Budi mengamati Ningsih, sejak awal dia tahu perbuatan Ningsih yang melenceng iman. Namun, belum waktu yang pas untuk menyadarkannya. Terlebih Mak Sri ikut Ningsih sudah lama dan berhutang budi kepadanya.
Budi bekerja sambil menjaga Budhe nya. Dia berharap semua akan baik-baik saja. Hingga hari ini ada sosok astral yang mengamati rumah Ningsih. Sosok wanita itu memiliki kekuatan yang tinggi. Terlihat dari auranya. Beda dengan suami gaib Ningsih yang tak terlihat, wanita misterius ini justru menampakan wujudnya.
"Mak sama Wahyu di kamar saja, ya Bud. Takut jadinya. Apalagi Bu Ningsih baru pergi, Non Santi dan Tuan Reno juga baru pergi ke rumah sakit bantu Abahnya Joko pulang rumah."
"Iya, Mak di kamar dulu saja. Sampai wanita itu pergi," ucap Budi sambil keluar rumah. Dia berjaga di pos satpam sambil melantunkan doa, membawa tasbihnya.
Terlihat sosok wanita itu mulai tak nyaman dan menatap Budi dengan tajam. Budi paham siapa dia. Budi tak mau melihat mata wanita itu.
"Masya Allah... ternyata legenda Nyai Pelet benarlah nyata. Sosok itu yang sering disebut Nyai Pelet."
Sosok wanita misterius itu perlahan menghilang. Namun Budi tetap waspada.
"Mak... tadi di depan ada perempuan bermata api," celetuk Wahyu sambil mewarnai.
"Wahyu lihat? Sudah biarkan saja. Wahyu berdoa biar Allah melindungi kita semua," ucap Mak Sri, mengusap pundak anak Ningsih.
"Mak, sebenarnya Mama sering ke mana sih? Kenapa jarang ada waktu untuk Wahyu? Mama itu sebenarnya sayang Wahyu tidak, Mak?" tanya lelaki kecil itu dengan lugu.
Mak Sri merasa terenyuh dan memeluk anak yang sudah diasuhnya sejak usia setahun.
"Le, tole, Den Bagus... Wahyu anak tampan, anak baik... Bu Ningsih memang sibuk bekerja. Namun kasih sayang Bu Ningsih selalu untuk Wahyu. Jangan berpikir seperti itu. Mamanya Wahyu itu berjuang buat masa depan Wahyu," jelas Mak Sri.
"Iya, Mak..."
***
Di dekat pelabuhan....
Suara gulungan ombak yang menghantam batu karang terdengar seperti alunan instrumen yang menggebu. Seperti leguhan seorang wanita yang merasa sensasi setiap sentuhan suami tak kasat mata. Ningsih bergumul dengan Bima. Beradu keringat meski salah satu tak berwujud, kedua pasangan beda dunia itu bisa menemukan jalan untuk bersatu.
"NINGSIH... APAKAH KAU MENCINTAIKU?" tanya Bima kepada istrinya.
"Tentu... bukankah isi hatiku kau tahu? Mengapa kamu bertanya, Bima?" ucap Ningsih sambil menatap nanar atao rumah. Tak dilihat kasat mata pasangan yang sudah memuaskannya.
"NINGSIH... APAKAH KAU MENCINTAIKU? MAU BERSAMAKU HINGGA DUNIA BERAKHIR?" tanya Bima kembali.
Ningsih pun mengambil selimut dan menutupi tubuhnya hingga leher. Dingin terasa bersama pertanyaan Bima.
"Bima sayang, kamu tahu isi hatiku. Aku sudah memasrahkan diri padamu seutuhnya. Bahkan kejadian bersama Lee adalah keterpaksaan demi menyenangkanmu."
Ningsih menarik nafas panjang, lalu mengeluarkan perlahan. Kepalanya mulai pusing memikirkan kenapa Bima bertanya seperti itu.
"NINGSIH... AKAN SEGERA TIBA WAKTU DI MANA AKU HARUS MEMBAWAMU PERGI. BUKAN KARENA TAK CINTA TETAPI SESUATU AKAN TERJADI. ENTAH KAPAN WAKTU ITU."
Andai Bima menunjukan wujudnya, pasti Ningsih sudah memeluknya. Baru kali ini suami gaibnya terdengan resah dan bimbang. Entah apa yang akan terjadi. Namun Ningsih sudah memilih jalan hidupnya.
"Aku bersedia jika kamu membawaku. Namun, izinkan Wahyu hidup bahagia. Dia tak ada sangkut pautnya dengan apa yang kita lakukan. Paling tidak, biar Mak Sri merawatnya. Please, Bima...."
Ningsih memohon dalam hati. Dia hanya ingin kebahagiaan anaknya. Tak ingin putera satu-satunya ikut terseret dalam Jerat Iblis, Ningsih justru memberikan dirinya seutuhnya kepada Bima.
Satu hal yang Iblis suka, manusia yang pasrah dan menyerahkan diri dengan ketakutan dan putus asa. Menjadi santapan yang lezat bagi penghuni Neraka yang menanti jiwa-jiwa berdosa.
"KAU YAKIN AKAN BERSAMAKU? BAHKAN JIKA AKU MUSNAH, KAU AKAN BERADA DI DALAM NERAKA JAHANAM. KAU SADAR APA YANG KAU SEPAKATI DAN KAU PILIH, NINGSIH?"
Bima kembali menguji istrinya. Bisakah manusia menepati janjinya?
"Ya, aku mau. Aku sepakat dan aku sadar. Namun lepaskan anaku serta Mak Sri. Mereka tak tahu apa-apa."
Ningsih serasa pasrah pada takdir. Jika memang harus mati atau pergi saat ini, paling tidak dia sudah berusaha yang terbaik. Melindungi keluarga yang dia punya. Hanya ketakutan akan keselamatan anak yang membuat Ningsih tak konsentrasi.
Seketika... Bima menampakan wujud aslinya, membuat Ningsih terkejut.
"BAHKAN DALAM WUJUDKU SEPERTI INI APAKAH KAU AKAN MENCINTAIKU?"
Matanya yang merah, kedua tanduk, badannya yang kekar dan besar... sangat berbeda dengan wujud manusia tempo lalu. Ningsih mendekat ke arah Bima. Menyentuh kedua tanduknya. Meraba wajah Bima. Bima menatap Ningsih tajam. Bertanya dalam dada apakah Ningsih akan takut padanya.
Di luar perkiraan Bima, wanitu itu meraba wajah dan mengecup bibir Bima. Rasa panas itu terasa. Ningsih pun bergumam, "Jangan pernah tak menampakan wujud lagi. Tetaplah seperti ini. Aku tidak takut padamu. Aku menginginkanmu... Bima."
Kembali gelora asmara itu memburu. Ningsih dan Bima menyatu dalam rasa. Kali ini berbeda, Ningsih bisa memegang dan melihat wujud asli Bima. Itu membuatnya sangat bersemangat.
Tak pernah disangka, Bima berwujud seperti itu. Selama ini Ningsih takut jika wujud Bima seperti Genderuwo atau jin pada umumnya. Ternyata berbeda.
Perasaan yang salah... Bima memilih Ningsih sebagai istri satu-satunya. Meskipun Tuan Chernobog beberapa kali memanggil Bima untuk menyelesaikan tugasnya, Bima tak bergeming. Baginya cukup membawa Ningsih dan tak mau menyentuh wanita lain untuk menjadi pengikutnya. Bukankah cinta itu pembodohan?
Malam pun tiba... suasana pelabuhan menjadi hening dari hiruk pikuk manusia. Hanya suara debur ombak bersautan. Dinginnya malam menusuk hingga ke tulang. Ningsih menyeduh kopi dan meminumnya perhalan. Bima sedang pergi saat hal buruk itu terjadi.
Sejak dua hari yang lalu, ada empat pemuda yang mengamati Ningsih menempati rumah di pinggir pelabuhan itu sendirian. Sebenarnya mereka tak berniat jahat, awalnya. Namun saat mendengar rintihan dan suara desah Ningsih di malam hari membuat keempat pemuda yang bekerja di dermaga itu berencana untuk menyantroni Ningsih.
Bersambung....