JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 38


Ningsih melaju dengan kecepatan sedang. Membawa buah hatinya ke tempat yang lebih aman. Tak pernah disangkanya perkenalan dengan Satria membawa petaka. Lelaki itu seperti memiliki kepribadian ganda.


'Syukurlah semua selesai. Aku harus lebih waspada," batin Ningsih sambil sesekali melirik anaknya.


"Ma, lapar," ucap Wahyu lirih.


"Ya sayang, ayo cari tempat makan yang masih buka."


Ningsih mencari fast food yang buka 24 jam. Malam kian larut meski dalam pelarian, perut lapar anaknya tak bisa diabaikan. Terlihat dari kejauhan McD masih buka. Ningsih masuk ke jalur drive true. Melambatkan laju mobilnya.


"Selamat malam, mau pesan apa, Bu," ucap petugas dengan ramah.


"Paket kids 1, paket dewasa 1, extra fried french dan pepsi, ada?" Ningsih memesan sambil menengok ke belakang.


Rasa takut masih hinggap di hatinya. Terlebih setelah kejadian mengerikan yang berturut-turut menimpa hidupnya.


"Total seratus delapan puluh ribu lima ratus rupiah, Bu," kata petugas.


Ningsih mengambil dua lembar warna merah dan menyerahkan kepada petugas, "ambil saja kembaliannya."


Mobil Ningsih maju ke arah penerimaan pesanan. Setelah diambilnya pesanan itu, Ningsih pun bergegas mencari tempat yang aman untuk singgah bersama anaknya.


"NINGSIH, TAK USAH KAU KHAWATIR. SUDAH KUBERESKAN LELAKI ITU. ISTIRAHATLAH SEJENAK." suara Bima mengagetkan serta membuat Ningsih lega.


Entah sejak kapan, Bima semakin perhatian dengannya. Ningsih lupa terakhir kali sentuhan Bima. Hal itu membuat Ningsih merindukan suami tak kasat matanya.


"Ma, aku makan dulu ya," ucap Wahyu membuyarkan lamunan Ningsih.


"Ya, sayang, silahkan makan," Ningsih stabil menyetir dengan kecepatan rendah.


Berharap putranya bisa menikmati makanan dengan nyaman. Ningsih pun membelokkan stang bundarnya ke arah hotel berbintang lima di sudut jalan. Sudah masuk perbatasan Kota Semarang, bukankah aman?


"Wahyu, kita tidur di sini ya malam ini. Besok kita jemput Mak Sri," ucapnya memberi pengertian ke Wahyu yang mulutnya dipenuhi makanan McD.


Wahyu hanya mengangguk tanda setuju. Ningsih pun masuk ke tempat parkir. Menunggu anaknya selesai makan lalu mereka berjalan ke lobby hotel. Menyewa sebuah kamar deluxe dengan fasilitas lengkap. Malam ini hanya tinggal beberapa jam hingga fajar datang, mereka tidak menyia-nyiakan waktu untuk memejamkan mata.


"Hallo, Santi," ucapnya saat telepon diangkat.


"Alhamdulilah Tante nggak apa kan?"


"Harusnya Tante yang bertanya begitu. Santi dan Reno nggak apa kan?"


"Iya, Tante. Kami baik-baik saja. Namun, berita duka, Ibu meninggal Tante."


"Maksud Santi?"


Percakapan di telepon itu menjadi haru ketika Santi menceritakan semua yang terjadi. Ningsih gemetar dan bersedih. Air mata tak mampu ditahannya. Menyelamatkan dirinya sendiri saja tak bisa, apalagi orang lain? Suatu hal yang konyol menjadi pahlawan kesiangan.


"Mama kenapa nangis?" Wahyu bertanya seraya menarik baju Ningsih.


"Nggak apa, sayang. Wahyu sudah lapar? Kita makan dulu yuk," bujuk Ningsih sambil mengusap air matanya.


Ningsih menyayangi anaknya melebihi nyawa dan hidupnya. Tak ingin terlihat bersedih di hadapan putra kecilnya.


Ningsih berencana akan ke Salatiga menemui Santi dan Reno terlebih dahulu. Lalu memikirkan kembali langkah apa yang akan diambil. Ningsih pun mengirim pesan untuk Mak Sri agar membereskan pakaia. dan barang yang penting.


'Terpaksa harus pindah lagi. Aku yakin Satria tidak akan melepasku jika dia masih hidup,' batin Ningsih sambil berjalan menuju tempat breakfast bersama anaknya.


Bersambung ....


***


Hai guys harap dukungan LIKE yaa. Bab awal sampai ke 37 sudah Author perbaiki. Semoga bisa masuk kontrak. Amin.


Bagaimana kabar kalian di rumah saja? Mulai jenuh atau malah senang?


Author berdoa untuk kalian yang membaca dan mendukung karya Author ini diberi kesehatan dan kemudahan rezeki. amin amin