
π GENDERANG PERANG π
"Sudah lama aku menunggu saat ini. Mengambil banyak jiwa kotor yang meraja rela di dunia. Manusia-manusia licik dan tak tahu malu, rakus serta buta kekuasaan, orang-orang yang mengatasnamakan cinta suci demi memeluk nafsu dunia, serta mereka yang penuh kesombongan maupun iri dengki. Aku menanti di sudut tergelap Neraka hingga akhirnya hari ini, sekali sentuhan pun mereka akan bertekuk lutut dan mati seketika. Dunia ini sangat menyenangkan. Aku suka berada di Bumi, meski dalam wujud manusia berparas seperti wanita. Putih, lembut, tak seperti diriku yang sesungguhnya. Tapi tak apa..." gumam Lee dalam hati sambil berjalan keliling kota bersama Lily.
"Lee... kamu mikirin apa?" tanya Lily sambil merangkul tangan kanan Lee.
"Oh... bukan apa-apa. Hanya aku jijik melihat orang-orang yang menyebalkan berlalu lalang di hadapan kita," jawab Lee tanpa mengalihkan pandangan tatapan lurus ke depan.
Lily pun menatap orang yang lewat dengan seksama, "Emang mereka kenapa? Biasa saja kok." Lily terlihat bingung.
Lee mengusap wajah Lily dengan telapak tangan kirinya. "Sekarang... see that!"
Lily terkejut dan seketika teresengal napasnya. "Lee... Lee.... apa itu?"
Lee tersenyum, "Itu adalah hal buruk yang paling sering mereka lakukan. Misalnya wanita tua yang berkaca mata itu, semasa hidupnya sering iri dengki pada orang lain oleh sebab itu ada sosok yang menggantung di kepala, wujudnya semacam kucing dengan muka meleleh. Lalu lihat lelaki dengan kemeja merah di sana, semasa hidupnya mengabdikan diri pada hawa nafsu dunia. Sosok yang menggantung di kepalanya semacam buaya dengan penuh sayatan."
Penjelasan Lee membuat Lily tersadar jika Lee memberinya kemampuan khusus. Dia tak ingin melihat semua itu, "Lee... ambil penglihatan ini. Aku tak mau. Jika kamu ingin aku melihatnya, cukup tanda aura atau warna tertentu saja," pinta Lily pada kekasih hatinya.
"Baik. Aku kabulkan," ucap Lee sambil mengusap telapak tangan ke wajah Lily lagi.
Lily merasa lega tak melihat hal buruk itu. Bukan hal yang baik melihat kejahatan orang semasa hidupnya. Namun, Lee mempunyai tugas lebih menantang dari pada itu.
"Lily... maukah kamu membantu mengambil nyawa orang-orang tak berguna itu?" kata Lee sambil mengesampingkan rambut Lily ke telinganya.
"Kenapa harus membunuh lagi, Lee? Kita kan sudah bersama dan bahagia?" selidik Lily yang merasa tak nyaman.
"Sebelum aku dibangkitkan, aku sudah membuat persetujuan untuk mengumpulkan jiwa berdosa. Oleh sebab itu aku harus memulainya sebelum genderang perang ditabuh," jelas Lee pada wanita di sampingnya. Tentu saja penjelasan itu palsu. Lee yang sekarang memang iblis yang menyamar. Hanya saja Lily tidak menyadarinya.
"Genderang perang apa? Aku belum pahan," tanya Lily memastikan informasi itu.
"Lily... musuh kita si Ningsih bukan wanita biasa. Di baliknya ada seorang Iblis utusan penguasa Neraka lapis ke tujuh. Sedangkan tuan kita adalah penguasa Neraka lapis ke enam. Hal ini akan menyebabkan peperangan pengambilan jiwa berdosa. Setiap lapisan Neraka berlomba untuk memenuhi kuotanya. Bukankah kamu juga sudah mengabdi pada Tuan Asmodeus?"
"Oh... iya Lee... kalau begitu pasti kulakukan. Semua demi kamu."
Mereka pun berkeliling menebarkan teror yang membuat banyak kasus kematian di Jakarta. Lily dengan kutukan lagu bunuh diri sedangkan Lee dengan ciuman mematikannya. Setiap wanita yang menerima ciuman maut dari Lee, mereka akan gila bahkan tak segan-segan mengakhiri hidup. Dalam waktu singkat sepertinya korban mereka akan bertambah drastis.
***
Curahan hati Nindy....
Malam kian larut. Semua orang tertidur lelap karena lelah bermain di water park seharian. Beda dengan Nindy yang masih tersipu malu memandang cincin yang melingkar di jari manisnya serta beberapa kali dia memegang bibir tipisnya.
Ponsel pun bergetar tanda pesan diterima. Nindy membukanya dengan semangat. Seperti yang diduga, pujaan hatinya menyapa.
Nindy: Hallo, Mas Reno... Nindy belum bisa tidur ini. Mas kok belum tidur?
Reno: Mas nggak isa tidur karena memikirkan kamu. Nindy kok belum tidur?
Nindy: Sama, Mas... Nindy sedang memikirkan Mas Reno. Tadi yang kita lakuan dosa ya, Mas?
Reno: Emang kita ngelakuin apa? Pasang cincin? Nggak dosa donk! Atau apa? Ciuman? Mmm... kalau ini entah. Nindy nggak suka? Mas minta maaf ya...
Nindy: Bukannya nggak suka, Mas. Maaf yaa, Mas jangan marah. Nindy hanya bingung saja karena ini first kis* jadi gugup dan terbayang terus.
Reno: Harusnya Mas Reno yang minta maaf. Tadi terbawa suasana sampai nggak sengaja mengecup sumber madu.
Nindy: Kok sumber madu, Mas?
Reno: Manis soalnya... lembut dan manis... membuat Mas nggak bisa tidur nih. Padahal sudah pukul 23.30...
Nindy: Dasar Mas Reno bisa aja! Udah bobi aja dah malam.
Reno: Iya... ini maunya tidur. Tapi inget Nindy terus. Besok kita mau pergi ke mana? Mas ajak pergi berdua, mau?
Nindy: Bukannya nggak mau, Mas. Tapi Nindy nggak enak ama yang lain. Apa lagi kata Bapaknya Tante Ningsih itu bener loh....
Reno: Soal apa? Soal belum muhrim dan jangan sering berduaan? Kalau gitu nikah aja yuk!
Nindy: Ngaco aja Mas! Nindy masih sekolah juga.
Reno: Yaudah nunggu lulus sekolah gimana?
Reno tertasa sampai perutnya kram. Nindy anak yang mudah bawa perasaan. Reno tak menyangka kalau isengnya sudah kelewat batas. Nindy tak menjawab chat Reno terakhir.
Sedangkan di kamar, Nindy merasa resah. Dia meletakan handphonenya di meja. Lalu berbaring di tempat tidur sambil menatap langit-langit. Rumah Santi memang memiliki banyak kamar karena sebelah juga digunakan untuk kost-kostan. Jadi semua mendapatkan kamar masing-masing.
"Mas Reno itu bercanda atau serius ya sama aku?" gumam Nindy menatap lampu yang bersinar di atas.
Nindy masih memikirkan pesan yang Reno kirim terakhir soal menikah. Reno memang sudah mapan secara materi tapi soal kesiapan mental menjadi kepala keluarga sepertinya masih jauh di bawah standart. Nindy memahami hal itu karena Reno kehilangan sosok ayah di usia kecil dan kehilangan ibu juga pada masa remajanya.
Andai saja Nindy yang mengalami itu, entah seperti apa rasanya atau bahkan harus menjalani hidup yang bagaimana. Nindy pun kembali teringat saat kedua bibir berpagut tadi. Rasa itu membuat jantung Nindy berdebar. Sepertinya benar-benar jatuh cinta di luar logika bahkan keinginan menolak pun lumpuh seketika di depan reno. Reno berkuasa telak atas hati Nindy.
"Sepertinya Mas Reno serius padaku. Semoga saja iya. Jadi aku bisa berkata pada Abah dan Ibu. Mereka berdua pasti senang jika Mas Reno hendak meminangku," lirih Nindy sebelum menutup matanya untuk beristirahat.
Bersambung....