JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 35


...🔥 BAHAYA 🔥...


Alex meminta Gio dan Gilang mengajaknya masuk ke rumah Lisa. Namun, belum sampai masuk gerbang, suara gemuruh pun terdengar. Zatan datang karena sudah mencari di seluruh neraka lapis keenam tetapi tak menemukan Alex. Dia pun langsung ke rumah Nindy.


"Dasar manusia bodoh dan tak berguna! Kenapa kalian ikut campur urusan ini! Mau setor nyawa, ha!" gertak Zatan yang muncul dengan kobaran api menyala-nyala.


Alex tahu hal itu ancaman dan bahaya bagi mereka semua yang ada di situ. "Panggil bantuan di dalam," seru Alex memerintah Gio. Sedangkan Gilang langsung membuat pagar gaib untuk melindungi seisi rumah. Dia khawatir dengan Lisa.


"Manusia bodoh! Jangan ikut campur atau kumusnahkan kau!" Zatan langsung melemparkan bola-bola api ke arah Gilang dan Alex. Alex menangkis membabi-buta karena penglihatannya tidak berfungsi. Zatan pun menyerang terus menerus. Sedangkan Gilang tetap konsentrasi dalam pertahanan.


Gio masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa. "Tolong Alex! Ada penjahat di depan!" teriak Gio membuat Boy langsung sigap berdiri dan terbang ke depan.


Lauren pun langsung membuat kubah pertahanan untuk yang berada di sana. Dinda tak bisa meninggalkan Boy bertarung sendirian. Dia langsung menyusul. Lauren masih melanjutkan menyembuhkan luka Bima yang mulai pulih. Bima pun terbangun.


"Di mana Alex?" lirih Bima yang masih lemah.


"Dia ada di depan. Tenang sajam Fokus sembuh dari luka dulu." kata Lauren yang khawatir.


Keadaan benar-benar kacau. Boy menghadapi Zatan dengan pertempuran yang sengit. Zatan sudah muak dengan mereka yang menghalangi rencananya. Jika Tuan Asmodeus tahu Alex terlepas, pasti dia akan mendapatkan masalah yang serius.


"Mati saja kau!" Zatan murka dan menghempaskan Boy hingga terjatuh meski sudah menangkis dengan pedangnya.


Zatan langsung mengambil Alex dan membuat Gilang terpelanting karena kekuatan Zatan dikeluarkan maksimal. Alex mencoba melawan, tetapi tidak ada penglihatan membuatnya kesulitan.


"Om Boy, jangan susul aku. Sembuhkan Papa dulu!" seru Alex yang kemudian segera dibungkam oleh Zatan. Iblis itu membawa Alex kembali ke neraka. Kali ini, dia tidak akan main-main dalam penjagaan. Alex sudah ditetapkan untuk menjadi tambahan energi Tuan Asmodeus.


Zatan pun membawa Alex pergi dan menghilang. "Jangan lagi! Jangan!" seru Boy yang mencoba mencegahnya dengan terbang secepat mungkin ke sana, tetapi api membara itu membawa pergi Alex dan Zatan.


Keadaan sangat menegangkan dan kacau. Melawan pun percuma karena kondisi Bima dan keluarganya sedang terpojok. Seperti yang Alex katakan, mereka harus menyembuhkan Bima terlebih dahulu. Karena Bima dahulu adalah iblis kepercayaan di neraka lapis ketujuh, dia lebih paham seluk beluk neraka.


Boy menolong manusia yang tersungkur itu. "Kau baik-baik saja? Terima kasih sudah membantu," ucap Boy yang segera membantu Gilang berdiri.


"Namaku Gilang. Aku baik-baik saja. Baru kali ini, aku melihat malaikat. Kamu bukan malaikat pencabut nyawa, 'kan?" tanya Gilang sambil menatap Boy.


"Tidak untuk saat ini. Ha ha ha ...." ujar Boy sambil tertawa. Dia pun membawa Gilang masuk ke rumah.


"Bima, jangan panik. Alex dibawa kembali oleh Zatan. Kita harus membuat rencana yang matang sebelum pergi ke neraka mengambil Alex kembali," jelas Boy saat Bima menatapnya penuh harap. "Alex bilang untuk menyembuhkanmh dahulu. Pasti Alex punya rencana terhadap masalah ini," imbuh Boy.


Lauren pun tersenyum. "Iya, dia pasti punya alasan dan rencana. Baik. Kita fokus memulihkan energi Bima. Setelah itu, kita bisa memulai menjalankan strategi penyelamatan Alex. Sebelumnya, lebih baik kita ke rumah Ningsih. Kosongkan rumah ini dahulu," ucap Lauren yang membuat mereka memiliki ide cemerlang.


Hari sudah hampir subuh. Lauren, Daniel, Boy, Dinda, Wahyu, dan Bima membawa Ningsih serta keluarga Reno ke rumahnya. Mereka sengaja mengosongkan rumah Reno. Reno pun menelepon pembantu dan sopirnya untuk mengungsi sejenak dengan membawa Abah dan Ibu. Gio dan Gilang pun mengikuti ke mana mereka pergi. Semua demi keselamatan mereka.


Setelah sampai di rumah Ningsih, Lauren mengajak Dinda membuat pagar gaib yang kuat. Sedangkan Gio dan Gilang membantu Wahyu memulihkan energinya. Boy pun membantu memulihkan energi Bima. Hari itu, menjadi hari yang tak pernah terbayangkan umat manusia. Manusia, iblis, penyihir, bahkan malaikat menyatukan kekuatan demi menyelamatkan satu dengan yang lain. Sisi baik menutupi segala sisi jahat yang pernah ada. Tidak ada lagi dinding pemisah di antara mereka.


Nindy pun sadar dari pingsannya. Dia menangis menyesali perbuatan bodohnya. "Maafin aku ... aku sudah salah mengikuti perkataan Susan. Maafkan aku ...." Isak tangis kembali terdengar.


Reno langsung memeluk erat istrinya. Dia tak ingin Nindy merasa bersalah terus menerus. Lisa pun ikut memeluk orang tuanya. "Nindy, jangan menangis lagi. Aku memaafkanmu, Sayang. Kita hadapi semua bersama," ucap Reno menenangkan istrinya yang menangis tersedu-sedu.


Lisa pun menghapus air mata di wajah mamanya. "Mama tidak boleh menangis. Allah saja Maha Pengampun, apalagi kita. Mama jangan menangis lagi."


"Kak Nindy, ini awal yang baik. Setelah ruqiyah ini, Kakak akan mengalami rasa mual dan muntah yang wajar. Nanti Wahyu akan bantu doa semoga Allah senantiasa melindungi kita. Amin." ucap Wahyu yang memulai ruqiyah.


Sedangkan energi Bima sudah mulai pulih. Waktu menunjukkan pukul satu siang. Gio dan Gilang sudah membeli makanan dan membawa ke rumah Ningsih. Para manusia juga butuh makan, bukan? Gio dan Gilang juga mempersiapkan tenaga untuk pertempuran nanti malam merebut kembali Alex.


"Kita akan mengambil Alex nanti malam. Tak hanya itu, kita gempur neraka lapis keenam. Buat Zatan menyesal sudah berbuat onar dengan kita," kata Bima kepada yang lainnya.


"Apa rencana kita, Kak?" tanya Dinda yang belum paham harus berbuat apa.


"Rencana yang sama liciknya dengan iblis neraka. Kali ini mereka akan saling bertarung memperebutkan sesuatu yang tak akan bisa mereka ambil. Aku akan pergi sejenak. Jaga mereka semua. Boy, aku percayakan padamu. Sampai ketemu nanti jam sembilan malam," jelas Bima yang kemudian hendak pergi.


"Sayang, kamu yakin tak apa pergi sendiri?" tanya Ningsih yang khawatir.


"Justru aku harus sendirian. Percayalah semua akan baik-baik saja. Alex akan baik-baik saja," ucap Bima meyakinkan istrinya. Dia pun memeluk Ningsih dan kemudian pergi menghilang. Ada suatu hal yang harus Bima lakukan dan selesaikan sebelum menantang bahaya.


Beberapa jam kemudian, ruqiyah sudah berhasil dilakukan. Nindy sudah jauh lebih baik meski badan menjadi lemas tak berdaya. Reno menjaga Lisa dan Nindy. Lauren, Boy, dan Dinda bersemedi sejenak untuk memilihkan energi dan memusatkan tenaga. Sedangkan Gio dan Gilang berbincang banyak hal dengan Ningsih dan Wahyu.


Mereka mendengarkan cerita soal Ningsih masuk dalam dunia kegelapan saat menikah secara gaib dengan Bima. Setelah itu, banyak hal yang disesali, salah satunya adalah menumbalkan manusia. "Aku akhirnya sadar, seberapa buruk pun kelakuan manusia, kita tidak berhak saling menghakimi apa lagi menumbalkan untuk kepentingan diri sendiri. Hanya Sang Pencipta yang berhak mengatak makhluk itu baik atau buruk. Aku menyesali itu beberapa tahun ini setelah banyak hal buruk terjadi." kata Ningsih sambil menerawang jauh segala hal yang telah terjadi.


"Tak apa, Ma. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Mama sudah mengetahui kesalahan, jika Mama bertaubat, Allah dengan tangan terbuka menerima Mama kembali," ucap Wahyu sambil tersenyum mengusap tangan Ningsih.


Ningsih terharu melihat Wahyu yang jauh lebih dewasa dalam berpikir dari pada dirinya. Gio dan Gilang pun terharu, sampai menangis. "Sedih banget ceritanya. Berarti Om Bima itu ...." lirih Gio belum selesai berucap.


"Iya, suamiku adalah Iblis yang paling baik. Sejak dia kembali di sisiku dan adanya Alex, kami tidak pernah mencari tumbal untuk neraka lapis ketujuh. Bima dan aku benar-benar memulai hidup dari nol. Hingga ahirnya sukses kembali.," jelas Ningsih menatap Gio dan Gilang.


Mereka menghabiskan waktu menyiapkan tenaga agar prima serta menanti Bima kembali. Mereka tak tahu ke mana Bima pergi dsn bertemu dengan siapa. Ningsih percaya jika Bima mempunyai rencana yang baik.


...****************...


Di Neraka ....


Bima berlutut memberi hormat. Dia sudah lama tak mengunjungi neraka, terlebih bertemu dengan Sang Penguasa. Bima mengucapkan salam. "Salam Sang Penguasa Neraka Yang Mulia Lucifer. Hamba adalah Bima, iblis yang dahulu pernah Yang Mulia beri kekuatan karena menang pertempuran. Mohon maaf jika hamba lancang ke sini. Hamba perlu bantuan," kata Bima yang masih berlutut dan menunduk.


"HA HA HA HA ... BANTUAN APA, BIMA? KAU SUDAH MENGHILANG BEBERAPA TAHUN INI. BERJELAJAH KE MANA KAU?" jawab Yang Mulia Lucifer penguasa neraka.


"Ampun, Yang Mulia. Hamba mohon ampun dan belas kasihan. Hamba menyukai dan menikahi manusia. Hamba sudah memiliki anak yang lahir di ruang gelap dan saat ini menjadi incaran penguasa neraka lapis keenam. Hamba minta bantuan, Yang Mulia. Jika Yang Mulia mau membantu, hamba tidak akan lagi bersinggungan dengan neraka." jelas Bima mencoba mencari bantuan.


Sudah dalam kondisi tersudut, hanya pilihan menemui Tuan Lucifer lah yang menjadi option terakhir. Antara dibantu atau dimusnahkan, Bima mengambil risiko itu demi anaknya, demi keluarganya. Lucifer menatap tajam ke Bima. Dia melihat apakah Bima bersungguh-sungguh dalam perkataannya.


"BAIKLAH. AKU AKAN MEMBANTUMU. ANAKMU ITU, AKAN DIMAKAN OLEH ASMODEUS, YA? APAKAH DIA HENDAK MEMBERONTAK DENGAN MENGHIMPUN ENERGI TAMBAHAN? MENARIK SEKALI. AKU AKAN MEMBANTUMU, BIMA." tegas Lucifer yang di luar perkiraan Bima.


"Terima kasih, Yang Mulia. Terima kasih banyak," kata Bima langsung berkali-kali bersujud syukur di hadapan Lucifer.


"TAPI ADA SATU SYARAT. TINGGALKAN KELUAGAMU DAN MENGABDI PADAKU SETELAH SEMUA INI USAI. AKU AKAN PASTIKAN TIDAK ADA IBLIS MANA PUN YANG MENGGANGGU KELUARGAMU ASAL KAU MENGABDI." Lucifer menegaskan hal itu. Bima terdiam sejenak. Pilihan yang sulit. Dia tidak bisa egois dalam memilih. Semua demi kebaikan keluarganya.


Bima pun menatap Yang Mulia Lucifer dan menjawab dengan mantab, "Ya. Hamba bersedia. Pastikan keluargaku selamat dan tidak mendapat masalah lagi. Hamba akan mengabdi selamanya."