JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 87


...🔥 Wahyu Kecewa 🔥...


Wahyu menatap nanar Budi dan ibunya yang sedang berdebat. Dia tak menyangka jika Budi---sosok lelaki yang selama ini menjadi kawan, saudara, dan gurunya selama ini ternyata menyukai ibunya. Lantas, apakah semua perhatian dan kebaikan yang Budi lakukan semata-mata hanya untuk mencari perhatian pada Ningsih? Wahyu merasa kecewa.


"Om Budi, apakah benar yang aku dengar baru saja? Soal hati? Perasaan? Apa ini, Om?" tanya Wahyu yang tak terjawab. Keadaan menjadi canggung.


Wahyu menatap lelaki di hadapannya dengan rasa kecewa. Jika selama ini Om Budi menyukai ibunya, lantas bagaimana dengan Kak Santi dan Safira? Apakah selama ini Om Budi hanya menganggap mereka sebagai formalitas saja? Bagaimana bisa seorang lelaki yang berkeluarga menyukai wanita lain di hatinya?


Budi pun mendekati Wahyu. "Biar aku jelaskan. Wahyu, nanti kita berbicara bersama, oke? Kita kembali dulu, Santi dan Reno pasti sudah menunggu," ucap Budi yang mencoba menenangkan.


Wahyu pun langsung balik ke tempat di mana Reno dan Santi menunggu. Ningsih mengikuti anaknya, meninggalkan Budi yang masih terdiam di sana. Rasanya Wahyu ingin marah karena merasa tertipu. Orang yang dia yakini menjadi guru yang baik, tidak lain dan tak bukan hanya seorang lelaki yang tak setia. Mendua dalam hati sudah merupakan wujud tidak setia, bukan?


Reno melihat perubahan raut wajah Wahyu dan Tante Ningsih. Sedangkan beberapa detik kemudian, Budi datang dan duduk di samping Santi. Mereka pun menyantap makanan yang sudah disajikan oleh pelayan. Reno merasa jika soal hati Budi, akan menjadi permasalahan serius.


Setelah selesai santap siang, mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah Reno terlebih dahulu. Santi sepanjang perjalanan membahas betapa bahagianya dia mrlihat adiknya kembali ceria seperti dahulu.


"Mas, terima kasih, ya. Aku senang sekali lihat Reno kembali semangan dan mau tersenyum lagi. Terima kasih, Mas sudah mau antar aku mondar mandir kr Yogyakarta, ya," ucap Santi dengan senyum manis di wajahnya.


"Iya, sama-sama, Santi. Kamu juga jangan bersedih lagi, ya," jawab Budi seadanya. Dia masih tidak konsentrasi karena Wahyu mendengar percakapannya tadi dengan Ningsih. Bagaimana jika Wahyu marah? Bagaimana jiwa Wahyu tidak ingin melanjutkan pendidikannya di pesantren? Almarhum Kyai Anwar berpesan jika Wahyu akan dijadikan penerus di pesantren mendampingi Budi.


"Budi ... kenapa kau bimbang soal anak ingusan itu? Hal itu bukan masalah besar. Lihat tadi, Ningsih pasti lama kelamaan mau denganmu. Dia sebenarnya ingin menanggapi, tetapi hanya malu saja," bisik Servus yang makin menyesatkan hati dan pikiran Budi sebagai budak cinta. Cinta yang seperti apa? Budi hanya memikirkan perasaannya sendiri.


Sesampainya di rumah Reno. Mereka masuk ke ruang tamu. Meski Wahyu hanya diam, Reno merasakan ada hal yang aneh. Budi pun mengajak Wahyu pergi sebentar dengan alasan mau membeli sesuatu. Wahyu pun mengikuti Budi pergi. Ningsih hanya terdiam dan berdoa semoga tidak terjadi permasalahan.


"Wahyu, maaf kalau aku mengajak keluar dengan mobil. Tak enak jika menjelaskan di dalam rumah Reno," kata Budi mengawali pembicaraan. "Kamu marah?"


Wahyu hanya menatap jalanan yang dilalui dengan pandangan kosong. Bagaimana mungkin dia tak marah atau kecewa? "Iya. Wajar, kan?" pungkas Wahyu.


Budi menghela napas. Bagaimanapun dia harus memberitahu yang sesungguhnya terjadi. "Wahyu, kau sudah besar sekarang. Mungkin kamu akan marah atau kecewa. Tapi ini yang sesungguhnya terjadi ... sejak aku bekerja di rumahmu waktu membantu Budhe Sri, aku sudah jatuh cinta pada Ningsih--Mamamu. Rasa itu ada dan tumbuh seiring berjalannya waktu." Budi menyetir mobil ke arah jalanan yang sepi. Dia mengulur waktu untuk bisa berbincang dengan Wahyu.


"Kalau cinta pada Mamaku, mengapa menikahi Kak Santi? Om tahu, kan, Kak Santi dulu juga patah hati gara-gara lelaki yang dicintai suka dengan Mamaku. Kalau Om melakukan ini, apakah tidak memikirkan Mamaku yang akan terkena imbasnya?" hardik Wahyu yang kesal dengan pemikiran Budi.


"Aku tahu ini salah. Tapi pernikahanku dengan Santi hanya karena pesan dari mendiang Bapak. Aku bisa apa kalau menyangkut pesan Bapak? Lagi pula, sebelum dengan Santi, aku sudah mencoba meminta izin Bapak. Tapi Bapak tidak merestui jika bersama wanita yang aku sebutkan. Meski tidak menyebutkan nama, beliau tidak merestui dan bersikeras menjodohkan dengan Santi. Aku tak kuasa ketika tahu bertahun-tahun berjalan dan rasa itu tetap ada," jelas Budi yang merasa sedih dan bimbang.


"Hmm ... Om, kalau aku minta simpan saja rasa itu jangan kembali ungkapkan ke Mamaku dan jangan sampai Kak Santi tahu, apakah Om mau melakukannya? Kumohon ... jaga perasaan mereka. Kak Santi pasti akan marah dan menyalahkan Mamaku, bukan? Tolong, Om. Kumohon jangan seperti tadi lagi. Jangan buat Mamaku serba salah di sini. Mamaku sudah berusaha bertaubat dengan susah payah," ujar Wahyu mencoba menyadarkan Om Budi atas rasa yang salah.


Budi pun terdiam. "Astagfirullah ... apa yang sudah kulakukan? Benar juga kata Wahyu. Kalau Santi tahu, pasti dia akan menyalahkan Ningsih. Aku tak ingin membuat mereka bersedih. Ampuni perasaan dan pikiran hamba, ya Allah," batin Budi sambil menatap jalanan. Dia pun berhenti di depan penjual lotis buah.


"Iya, Wahyu. Terima kasih sudah mengingatkan dan menyadarkan. Maaf jika aku juga manusia lemah yang mudah jatuh dalam dosa. Hmm ... kita beli lotis, bagaimana? Mereka pasti menunggu kita di rumah, bukan?" Budi tersenyum berharap Wahyu tak lagi kecewa padanya.


"Iya, Wahyu. Maaf. Aku janji tidak akan seperti itu lagi. Anggap saja ini khilafku."


Budi pun keluar dari mobil dan memesan lotis buah untuk dibawa pulang. Dia merasakan hal yang aneh di hati. Seakan gejolak dan rasa bimbang. Ada perasaan yang saling menentang. Antara cinta dan logika yang berlawanan.


"Budi ... iyakan saja perkataan bocah itu. Dia tahu apa soal cinta dan perasaan? Nanti kau menginap di tempat Ningsih. Cari celah untuk bersamanya," bisik Servus kembali membuat Budi goyah.


Budi pun istigfar dalam hati. Dia merasa ada yang aneh dalam dirinya. Apakah ini yang dinamakan godaan iblis?


...****************...


Malam harinya ....


Reno tidak tahu jika Budi dan Santi menginap di rumah Ningsih. Saat sore hari mereka berpamit pulang, Reno mengira kakaknya langsung pulang ke pesantren. Ternyata Santi meminta menginap di rumah Ningsih. Dia belum tahu jika suaminya menyukai Tante Ningsih.


Mereka bergegasnke rumah Ningsih. Mandi dan berganti pakaian. Tak lupa salat Maghrib bersama. Setelah itu makan malam di ruang makan dengan aneka makanan yang Bibi buat untuk mereka.


Setelah makan malam bersama di rumah Ningsih, Wahyu pun menunjukkan kamar tamu untuk tempat Budi dan Santi menginap. "Ini, Om Budi dan Kak Santi. Bisa istirahat di sini. Wahyu mau ke ruang tengah, ya. Kalau ada apa-apa bilang aja," ujar Wahyu sambil tersenyum.


Lelaki yang beranjak dewasa itu ingin melindungi ibunya. Ya, Ningsih yang sudah bertaubat adalah hal paling terindah bagi Wahyu. Wahyu terlalu memikirkan ibunya hingga dia tak ada waktu memikirkan hal lain. Termasuk soal cinta atau masa depannya. Satu hal yang Wahyu yakini yaitu masa depannya akan indah karena Sang Pencipta sudah menggariskan kehidupan umat-Nya yang selalu berharap pada-Nya.


Setelah selesai salat Isya, Ningsih pun keluar ke taman belakang rumah. Dia menghela napas dan menatap bintang yang sinarnya paling terang. "Bima ... apakah kau merasakan yang kurasa saat ini? Bima ... apakah mungkin kau kembali dan bersamaku lagi? Banyak hal berubah dan banyak hal terjadi. Namun masih saja aku merasa kesepian tanpa hadirmu. Bima ... apakah kau merindukanku?" gumam Ningsih yang bersedih menatap langit malam. Ningsih merindukan suami gaibnya. Dia juga merindukan anak bungsunya.


Budi tak sengaja melihat Ningsih dari kejauhan. Wanita itu terlihat dari jendela kamar Budi. Saat itu, Budi sedang membuka gorden jendela. Sedangkan Santi sudah tertidur ksrena lelah perjalanan. Budi merasa tak tega melihat wanita yang dia cintai bersedih. Pasti Ningsih memikirkan suaminya yang pergi menghilang, itu yang Budi pikirkan.


"Budi ... ini kesempatanmu. Kesempatan bagus untukmu mendekati Ningsih. Dia merasa kesepian dan merindukan suami gaibnya. Jika aku membuatmu tak terlihat, apa yang akan kau lakukan? Menjamahnya?" bisik Servus kembali menggoda dan memberi penawaran kepada Budi.


Budi pun bimbang. Jika benar dia bisa menghilang, tentu dia bisa menghibur Ningsih dan tentunya bisa menyentuh Ningsih. Pasti Ningsih akan mengira dirinya adalah Bima. Pemikiran itu menari di benak Budi. Tawaran Servus sungguh menggiyurkan bagi Budi yang mudah goyah iman karena cinta.


"Astagfirullah ... kenapa aku berpikir seperti itu? Lebih baik aku tidur saja," gumam Budi yang tak mau melakukan bisikan Servus meski sebenarnya dia juga menginginkan.


Budi pun berbaring di samping Santi. Dia memejamkan mata dan terlelap. Tanpa diketahui, Servus akan membuat jebakan yang menghancurkan Budi. Ketika Servus bertekat menyesatkan manusia, dia akan berupaya sampai manusia itu benar-benar jatuh dalam dosa.


Wahyu segera tidur karena rasanya sangat mengantuk, padahal waktu baru menunjukkan pukul sembilan malam. Hal yang sama dirasakan Ningsih juga. Tiba-tiba dia merasa mengantuk. Wanita itu berjalan masuk ke dalam kamar setelah menatap bintang di langit. Dia segera berganti pakaian dan tertidur lelap. Semua orang di rumah Ningsih tertidur lelap karena ulah Servus. Dia sengaja membuat mereka terlelap agar lebih leluass bertindak.


"Budi ... Budi ... kau kira aku akan dengan mudah melepaskanmu? Tidak. Aku akan membuat sesuatu yang tidak akan kau sesali. Lihat saja nanti. Ha ha ha ha ...." Servus tertawa menatap Budi yang terlelap.