
π COME BACK π
Setiap manusia pasti pernah melakukan dosa. Baik yanh disengaja maupun tak disengaja. Lantas, jika seseorang terjerat dalam dosa dan menikmatinya, pantaskah dia terbebas? Atau justru semakin masuk dalam tipu daya iblis?
***
Bima mencari ke segala arah. Semakin resah karena pujaan hatinya tak kunjung kelihatan. Bima mencoba meningkatkan konsentrasi dan mencari keberadaan Ningsih. Namun, dalam dimensi ini sulit sekali menemukan tanda keberadaan Ningsih kecuali mereka tertaut komunikasi batin.
"NINGSIH ... KAU DIMANA?"
Berkali-kali Bima memanggil tetapi tak ada respon. Lalu ada sesosok roh yang duduk di bawah pohon kresen. Bima mendekati roh itu dan mencoba berkomunikasi.
"WAHAI ROH, TAUKAH KAU SEORANG WANITA YANG BELUM LAMA BERADA DI SINI?" tanya Bima kepada sosok roh itu.
"Ke sana ... dua iblis membawanya pergi," jawab roh itu sambil menunjuk ke suatu arah.
"TERIMA KASIH WAHAI ROH ATAS PETUNJUKNYA," ucap Bima lalu segera menyusuri jalan ke arah yang ditunjukan.
Dimensi berbeda, membuat tempat berubah dengan cepat. Sosok mengerikan banyak di sana. Bima takut jika Ningsih menghadapi masalah. Dia sama sekali tak berpikir Evan di balik ini semua.
Bima terus menyusuri jalan yang berubah antara tempat maupun waktu. Lalu dia berhenti dan terdiam sejenak.
"MUSTAHIL! RUMAH ITU ...." seketika Bima mengubah wujud menjadi manusia.
Bima berjalan tertatih ke rumah gubug di depan matanya. Rasanya ingin melihat lebih dekat dan masuk ke sana. Namun kenangan buruk masa lalu membuatnya tak bisa lebih dekat ke gubug itu.
Gubug yang menjadi saksi luka batin Bima dan adiknya, melihat Ibunda meninggal karena kesalahan ayahnya yang kejam. Bima pun teringat saat pertama kali menyerahkan jiwanya kepada kuasa kegelapan. Mengambil tawaran yang membuat jalan hidupnya berbeda. Sempalan kenangan pahit itu masih lekat di pikirannya.
"Mangapa harus melihat tempat ini? Aku ...." belum selesai gumaman Bima, dia melihat Evan keluar dari gubug itu.
Evan dalam rupa Lee, bersama Lily keluar dari dalam gubug dan kemudian menghilang. Bima pun mengepalkan tangan. "Jika kamu dalang dari semua ini, tak akan ada ampun kali ini!"
Bima pun berjalan ke gubug itu perlahan. Membuka pintu yang seperti dahulu Bima sering sentuh. Kenangan tentang Ibu Bima pun muncul. Perempuan keturunan Sunda Belanda itu melahirkan dua anak kembar di gubug ini.
"Hmm ... hmm ...." gumam seorang wanita yang sangat Bima kenal.
"Ningsih! Apa yang terjadi?" Bima segera menggendong Ningsih yang memeluk kedua lututnya di sudut ruang.
"Bim ... Bima ...." lirih Ningsih yang terlihat ketakutan.
Bima menggendong Ningsih keluar dari gubug itu. Lalu Bima segera memusatkan tenaganya dan segera keluar dari dimensi roh itu. Membawa Ningsih segera mungkin kembali ke tubuhnya. Karena waktu di dimensi roh dan dunia nyata itu berbeda, Bima takut jika kondisi tubuh Ningsih makin lemah.
"Tenang, Ningsih. Aku akan bawa kau kembali ke tubuhmu. Tak akan kubiarkan hal buruk ini terjadi," ucap Bima melihat wajah istrinya yang seperti orang bingung.
***
Ruang ICU ....
"Dok, denyut jantung pasien melemah," kata perawat di kamar ICU tempat Ningsih dirawat.
"Segera siapkan kejut jantung. Selamatkan pasien ini," tegas Dokter yang berusaha terbaik.
Ruang ICU mendadak menjadi ramai karena perawat dan dokter berusaha menjaga kesadaran Ningsih. Seminggu Ningsih belum sadar setelah kejadian kecelakaan tersebut. Sedangkan hanya Joko yang masih dirawat intensif pada bangsal pasien. Bapak, Ibu, Mak Sri dan Wahyu sudah rawat jalan dan berada di rumah.
"NINGSIH ... SADARLAH." kata Bima yang memasukan roh Ningsih ke tubuhnya.
"Kejut jantung sudah siap, Dokter."
"Baik. Lakukan. Satu ... dua ... tiga," ucap Dokter bersamaan roh Ningaih kembali ke tubuhnya.
BZZTTT
Kejut jantung membuat denyut jantung Ningsih stabil lagi. Ningsih perlahan membuka mata.
"Pasien bereaksi. Denyut jantung mulai stabil, Dokter."
Dokter dan perawat merasa lega. Ningsih membuka mata dan memberikan respon saat dipanggil. Meski belum bisa berbicara.
Setelah pemeriksaan menyeluruh, Dokter memutuskan Ningsih pindah ke bangsal biasa. Lukanya pun sudah membaik.
"Dokter, apakah kami boleh masuk ke ruangan?" tanya Reno saat Dokter keluar dari ruang ICU.
"Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke bangsal biasa. Saudara silahkan ke administrasi bagian bangsal untuk memesan kamar. Bu Ningsih sudah sadar dan melewati masa kritis koma. Namun kondisinya belum stabil. Mohon dukungan semangatnya."
"Baik, Dokter. Terima kasih."
Reno, Santi, Dinda, dan Nindy yang sedari lalu menanti di luar menjadi lega. Mereka bergantian menunggu Ningsih dan Joko yang berada di ruang berbeda. Lelah pun tak terasa. Tertutup rasa khawatir yang makin hari makin besar. Ketika tahu Ningsih sadar, khawatir itu seketika lenyap.
Bima pun mengubah wujud ke bentuk manusia dan datang ke rumah sakit. "Bagaimana keadaan Ningsih?" tanyanya pada Dinda.
"I'm ok. Tenang saja." Bima tersenyum agar adiknya tak khawatir.
Mereka pun menemani Ningsih sampai pindah ke bangsal rawat inap. Setelah itu, Bima mengajak bicara Dinda.
"Dinda, Ningsih terlalu lama di dunia roh. Kondisinya mungkin akan lama untuk pulih. Dia membutuhkan hawa manusia," lirih Bima dengan hati-hati. Percakapan yang tak akan dipahami orang lain atau justru riskan jika orang curiga?
"Lalu bagaimana Kak?"
"Bisakah kau buat seorang lelaki mengecup Ningsih? Agar hawa manusianya tersalurkan pada tubuh Ningsih yang lemas," pinta Bima dengan berat hati.
"Ha? Ba-baiklah. Bisa Kak. Tetapi kondisi di rumah sakit, siapa yang akan kupengaruhi?" Dinda pun berpikir keras. Tidak mungkkn dia membuat orang yang tak dikenal melakukan hal itu meski dengan paksaan magic.
"Reno. Ponakan Ningsih itu, ada rasa dengannya. Buat saja Reno yang mengecup bibirnya untuk menyalurkan hawa manusia. Jalan satu-satunya agar Ningsih segera pulih.
"Reno? Kakak yakin?" Dinda terkejut karena dia sempat mengincar Renl juga.
"Iya. Laksanakan saja secepatnya."
"Ya, Kak."
Dinda pun merapalkan sesuatu dan menggosok kedua tangannya. Setelah itu, dia mendekati Reno.
"Reno!" panggil Dinda membuat Renk menengok ke arahnya.
Dinda pun mengusap wajah Reno dengan tangannya. Seketika Reno menjadi menurut perkataan Dinda.
"Reno ... berikan hawa manusiamu pada Tante Ningsih," perintah Dinda.
"Baik. Bagaimana caranya?" Reno menurut dan mengangguk.
"Kecup bibirnya dan ucapkan mantra ini," bisik Dinda pada Reno.
Reno pun menjalankan tugasnya. Santi dan Nindy sedang di bangsal Joko untuk mengabari berita Ningsih sudah sadar.
Bima melihat saat Reno membagi hawa manusianya. Entah kenapa, perasaan Bima menjadi terluka. Namun, semua dia lakukan demi menyelamatkan Ningsih. Termasuk mencari pengikut lainnya. Meski Bima pun meragu, purnama yang tinggal beberapa hari lagi akan membuatnya memiliki pengikut Bagus dan Wati.
Setelah Reno membagikan hawa manusianya, dia pun pergi ke taman rumah sakit menemui Dinda. Lalu di sana, Dinda menyadarkan Reno kembali. Sedangkan Bima bergegas menemui Ningsih.
"Ningsih, bagaimana keadaanmu? Apa yang kamu rasakan sekarang?" tanya Bima perlahan.
"Bima, kenapa baru saja Reno men ...."
"Tak apa ... aku yang menyuruhnya. Dia membagikan hawa manusia untuk pemulihanmu. Ini satu-satunya cara agar kamu lekas membaik," kata Bima dengan senyum di bibirnya.
Ningsih pun terenyuh dan matanya berembun hendak menangis. Melihat Bima yang sangat amat mencintainya.
"Bima, terima kasih."
"Jangan menangis. Aku akan lakukan apa saja untuk menyelamatkanmu," ucap Bima sambil mengusap air yang menetes dari sudut mata Ningsih.
***
Tiga hari kemudian ....
"Evan! Kau ingkar janji!" gertak Bima saat menemukan Lee sedang bersama Lily.
"Lee, apa maksudnya?" tanya Lily bingung.
"Abaikan saja perkataannya. Kamu pergi dulu. Biar kuselesaikan urusan ini," kata Lee.
"Manusia bodoh yang menyerahkan jiwanya untuk membangkitkan manusia yang sudah mati. Kau pikir lelaki di sampingmu itu Lee asli? Dia itu iblis sepertiku, bodoh!" bentak Bima pada Lily.
"Diam! Kau tak berhak mengatakan itu!" teriak Lee tersudut.
"Apakah benar yang Bima katakan?" Lily menatap Lee.
"Jangan percaya dia. Dia hanya ingin memisahkan kita," bisik Lee mencoba meyakinkan.
Bima yang muak, lantas menyemburkan api penyucian ke arah tubuh Lee yang perlahan berubah menjadi wujud Evan.
"Jika aku bukan Lee yang kamu sukai, apakah kamu akan tetap menemani setiap aku membuka mata dan hendak menutup mata kembali?" batin Evan menatap Lily yang terperanga melihat sosok orang yang dicintainya berubah.
Bersambung ....