JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 96


...🔥 Makan Siang Seperti De Javu 🔥...


Setelah selesai memilih buku yang akan dibeli, Wahyu pun menghampiri ibunya yang sedang memilih-milih buku novel di sebuah rak toko buku ternama tersebut. "Mama ... aku sudah mendapatkan semua buku yang aku perlukan. Sekarang mari kita bayar buku ini atau Mama mau mengambil beberapa novel untuk dibeli juga?" tanya Wahyu kepada ibunya.


"Iya, Sayang. Ayo kalau sudah selesai, kita ke kasir saja. Mama hanya baru melihat beberapa novel ini. Ada satu novel yang menarik menurut Mama. Lihat ini, judulnya JERAT IBLIS, mengisahkan tentang seorang manusia yang akhirnya jatuh cinta kepada iblis. Sepertinya menarik, bukan? Kira-kira bagaimana kelanjutannya? Mereka bisa bersatu atau tidak?" ucap Ningsih kepada anaknya setelah membaca sinopsis novel tersebut.


Mendengar ibunya berkata seperti itu, jelas Wahyu langsung tertawa. "Ha ha ha ha ... Mama ini lucu seperti anak kecil. Zaman modern seperti ini, mana ada dunia iblis? Mana ada yang namanya cinta beda dunia? Mama itu dasar ... Memangnya seperti film-film atau drama Korea? Mencintai seorang Goblin? Atau di serial anime? Cinta beda dunia seperti itu tidak mungkin, Ma. Tidak ada yang seperti itu di dunia ini. Sudah ... ayo kita ke kasir saja. Lebih baik membayar buku-buku pelajaran ini, daripada Mama membaca novel itu, lalu berkata yang tidak-tidak tentang cinta dua dunia," kata Wahyu sambil menertawakan ibunya.


Ningsih pun hanya terdiam dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Baginya, benar juga dikatakan Wahyu. Namun di sisi lain, saat membaca sinopsis novel tersebut, dia merasakan ada getaran di hati seakan merasakan itu memang nyata, ada, dan terjadi seperti itu. Ningsih merasa ada sesuatu hal yang yang pernah terjadi, lalu hilang dalam kehidupannya. Entah apa itu, dia belum mengetahui karena setiap mencoba mengingat hal itu kepalanya terasa sakit.


Wahyu dan juga ibunya segera menuju ke kasir untuk membayar berapa buku yang sudah dipilih oleh Wahyu. Setelah membayar buku-buku tersebut, mereka pun segera ke tempat prkir untuk masuk dalam mobil dan mengendarainya pergi dari toko buku tersebut.


Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang saat itu. Oleh karena itu, Ningsih dan juga putranya segera bergegas menuju ke tempat makan siang yang sudah dipesan oleh Reno tersebut. Tidak lupa sebelum sampai ke tempat makan siang itu, Ningsih berhenti di toko yang menjual cake untuk membeli bingkisan. Dia ingat untuk membawa cake untuk Lisa dan juga Syafira.


"Wahyu, kita berhenti di sini dulu, ya. Kamu tidak lupa, bukan? Untuk membeli bingkisan," ujar Ningsih kepada putranya yang sepertinya lupa.


"Oh iya, benar juga, Ma. Hampir saja Wahyu lupa. Ayo kita beli bingkisan cake yang enak dan lezat untuk Lisa dan juga Syafira. Pasti mereka akan suka!" Wahyu segera turun dari mobil mengikuti Ibunya dan masuk ke toko tersebut.


Beraneka macam roti, cake, pizza, dan juga kue kering disajikan di sana dengan berbagai bentuk, jumlah, dan juga harga. Wahyu memilih mana cake yang cocok untuk Lisa dan juga Syafira. Cake yang lucu dan mengemas. Mungkin karena Ningsih belum memiliki anak perempuan, oleh karena itu dia merasa sangat gemas terhadap kedua cucunya.


"Ini, Ma. Ini sangat cocok untuk mereka berdua. Ini sangat lucu dan terlihat lembut dan enak," kata Wahyu sambil memilih Japannese cheese cake yang sedang terkenal itu


"Kamu pandai sekali memilih, Wahyu. Cheese cake ini asli resep dari Jepang. Ini memang sangat lembut dan rasa kejunya nikmat, juga cocok untuk anak kecil. Kalau begitu, kita bungkus ini tiga sekalian. Satu untuk Lisa, satu untuk Syafira, dan yang satu untuk kita nikmati nanti bersama di sana, bagaimana?" tanya Ningsih kepada putranya.


"Wah, ide bagus, Mama. Ayo kita bungkus dan segera ke sana. Wahyu tidak sabar ketemu dengan yang lainnya!" Mereka pun segera meminta penjaga untuk membungkus tiga Japannese Cheese cake tersebut.


Setelah itu, mereka berdua segera naik mobil dan bergegas untuk pergi ke tempat makan siang yang sudah dijanjikan, yaitu di tempat all you can it. Ningsih merasa senang dan jantungnya berdebar saat akan ke tempat makan siang. Dia tak sabar bertemu pria tampan yang menjadi kenalan barunya, yaitu Bima serta anak lelakinya si Alex.


Sesampainya di sana, Ningsih melangkah bersama putranya ke arah meja yang sudah dipesan oleh Reno. Terlihat di sana sudah ada Reno, Lisa, Budi, dan Santi. Ningsih serta Wahyu langsung ke sana dan duduk di tempat yang sudah disediakan.


"Maaf kalau terlambat. Ini, ada cake untuk Lisa dan Syafira. Lalu yang satu lagi buat kita bersama," kata Ningsih sambil meletakkan kotak cake yang dia bawa di tengah meja. Sedangkan Wahyu membawa dua kotak cake itu di kursi pinggir dekat meja. Reno memilih meja oval karena hendak untuk bersantap delapan orang. Mereka menunggu kawan Ningsih datang sebelum memulai santap siang.


Beberapa saat kemudian, Bima pun datang bersama Alex. Semua orang menatap mereka. Ningsih pun tak berkedip melihat ke arah Bima. "Selamat siang ... maaf sedikit terlambat. Ini bunga mawar putih dan merah hitam, untuk kamu, Ningsih. Dan ini bingkisan untuk kalian. Perkenalkan namaku Bima dan ini adalah putraku, Alex," kata Bima dengan mantab sambil memberikan bucket bunga ke Ningsih dan meletakkan beberapa kotak berisi cokelat di atas meja.


"Terima kasih, Bima. Silakan duduk," jawab Ningsih seakan terhipnotis menatap betapa tampannya lelaki di hadapannya.


Saat Bima dan Alex duduk, mereka yang menatap pun merasakan sesuatu. De Javu, begitu kata orang-orang. Seakan pernah mengalami kondisi seperti itu sebelumnya. Seakan pernah melihat dan mengenal Bima dan Alex.


Mereka pun makan siang bersama sambil berbincang banyak hal. Lisa yang sedari tadi menatap Alex pun mulai teringat sesuatu. Bukan hanya teringat, memorinya mulai kembali. Lisa tahu apa yang terjadi karena energi yang dia miliki bergesekan dengan kemampuan Alex yang saat ini diredam karena menjadi manusia selama setahun.


"Pa, Papa ... aku tahu kenapa kita merasakan seperti ini," bisik Lisa pada Reno.


"Merasa apa, Sayang? Kamu tak suka hidangannya?" tanya Reno kembali.


"Bukan, Pa. Merasa soal Paman Bima dan Kak Alex, seperti pernah melihat atau mengenal," lanjut Lisa membuat Reno bingung.


"Iya, Papa merasa begitu. Memangnya Lisa merasa hal yang sama?" Reno jadi penasaran.


Jelas saja Reno tak percaya pada ucapan gadis kecil, anaknya. Dia pun meminta Lisa menyelesaikan makan siangnya saja dan berhenti berbicara hal yang melantur. Meski rasanya mungkin saja terjadi, Reno tetap merasa tak ingin ambil pusing dengan hal itu.


"Huss ... Lisa jangan bicara yang tidak-tidak, ya. Nanti bisa menyinggung orang lain," lirih Reno menjawab sambil mengisyaratkan anaknya untuk diam.


Mereka berdelapan menyantap makan siang sepuasnya. Berbagai hidangan barbeque, steamboat, dan juga seafood pun tersaji dan mereka habiskan bersama. Bima merasa senang berada di tengah kebahagiaan keluarga besar Ningsih. Meski mereka belum sadar soal siapa Bima dan Alex, hal itu sudah membuatnya cukup bahagia.


Dalam hati Ningsih pun bertanya-tanya. Apakah ini seperti mimpi? Atau benar pernah mengalami makan siang bersama mereka seperti ini? Seakan De Javu, hadirnya Bima dan Alex di tengah keluarga besar Ningsih seakan memang pernah terjadi. Ningsih pun menatap Bima tanpa henti. Dia menyukai pria itu dalan hati.


Bima berharap dengan pertemuan ini, mereka akan segera menyadari suatu hal dan ingatan mereka akan kembali. Terutama bagi Ningsih dan Wahyu. Bima dan Alex sangat rindu ingin memeluk Ningsih dan Wahyu bersamaan. Mereka mencoba menahan diri agar tidak membuat takut atau curiga terhadap tindakan mereka. Tidak ada hal yang mustahil, bukan? Termasuk soal ingatan mereka yang hilang, bisa saja kembali lagi.


"Silakan di makan, Bima dan Alex. Kami senang jika Tante Ningsih punya kawan baru," ucap Reno denhan bahagia. Sudah lama tantenya menyendiri. Mungkin dengan adanya teman, akan ada harapan tantenya memulai hidup baru.


"Iya, Reno. Terima kasih banyak. Kami senang bisa berkumpul dengan keluarga besar dari Ningsih. Terima kasih kesempatan makan siang bersama kalian," jawab Bima dengan mantab.


Ningsih pun bertanya pada Bima, "Memang mamanya Alex sudah lama pergi kah? Meninggal atau ...."


"Lupa ingatan. Mamanya Alex lupa ingatan hingga lupa dengan kami," jawab Bima memutus perkataan Ningsih yang belum selesai.


"Kenapa bisa begitu? Terus, bagaimana akhirnya? Mama Alex mengenali kalian lagi?" tanya Ningsih makin penasaran.


"Karena suatu hal ... kami masih mencoba mengingatkan dia agar ingat semua tentang kami. Tentang perjuangan bersama, tentang cinta, tentang janji, tentang kebahagiaan dan ... tentang keluarga," ucap Bima sambil menatap ke semua orang sekaligus.


Mendengar itu, Ningsih merasa bingung dan seakan merasakan sesuatu. "Aw! Aduh kepalaku pening," lirih Ningsih sambil memegang kepalanya.


"Mama, Mama kenapa?" tanya Wahyu dan Alex bersamaan karena khawatir. Sontak saja Ningsih langsung menata mereka yang memang duduk bersebelahan di sisi kirinya.


"Wahyu ... A-Alex?" Ningsih pun pingsan seketika. Sesuatu terjadi. Sempalan ingatan seperti mimpi itu menerjang pikirannya. Hal itu membuat Ningsih tak kuat dan langsung pingsan.


"Tante Ningsih!" seru Reno dan Santi bersamaan.


"Omaa!" Lisa ikut panik.


"Ningsih!" Budi langsung berdiri dan hendak menolong.


Bima langsung memegang punggung Ningsih agar tidak terjatuh dari kursinya. "Ningsih ... bangun, Ningsih. Bangun, Ningsih ...." bisik Bima berkali-kali.


"Pa, bagaimana ini?" tanya Alex yang khawatir.


"Sebentar ... jangan panik," ujar Bima mencoba menenangkan.


Wahyu pun segera mengambil minyak angin dari tasnya. Dia selalu membawa itu untuk jaga-jaga jika pusing atau mual. "Pakai ini, Pa, eh, Om," kata Wahyu sambil memberikan minyak angin pada Bima.


Entah mengapa, Wahyu merasa dua lelaki itu sangat tak asing. Dia merasa jika Bima dan Wahyu seakan orang yang pernah dia kenal. Ternyata apa yang dirasakan Ningsih, juga dirasakan keluarganya yang lain. De Javu atau memang kenyataan yang pernah ada?