JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 102


πŸ€ KECEWA πŸ€


Lily terkejut melihat Lee berubah menjadi lelaki yang tidak dikenalnya. "Si ... siapa kamu? Ada apa sebenarnya? Dimana Lee sekarang?"


"Lily, maafkan aku. Aku bukan Lee yang asli. Aku adalah Evan yang diutus Tuan Asmodeus ...."


Belum selesai Evan menjelaskan, Lily menampar wajahnya. Marah, bingung, dan kecewa menjadi satu di dalam dada. Lily lantas berlari pergi meninggalkan Bima dan Evan.


"Bukankah aku sudah bilang, jangan ganggu Ningsihku!" gertak Bima pada Evan yang masih menatap ke arah Lily pergi.


Merasa marah karena Bima membongkar identitas aslinya, Evan pun menyerang membabi buta. Bima dengan mudah menghalau serangan itu. Mereka saling menyerang dalam kobaran api.


Bima mengubah wujud ke bentuk asli iblis agar kekuatannya maksimal. Disusul Evan pun juga mengubah wujud. Pertempuran itu membuat sekitar lokasi menjadi gempa bumi. Api warna merah menyala saling adu kekuatan dan menghanguskan sekitarnya. Kali ini, Evan sudah bersiap menghadapi kekuatan Bima. Termasuk jika dia kalah, semua sudah tak masalah.


***


Lily berlari tak tentu arah dalam tangis yang menderu. Dirinya kecewa karena selama ini merasa tertipu. Sesampainya di dekat hutan kecil tengah kota, Lily pun berhenti. Dia meluapan kemarahannya.


"Tuan Asmodeus, keluarlah! Mengapa kau menipuku? Siapa dia yang selama ini bersamaku? Penipu! Penipu!" teriak Lily di dalam hutan kota yang sunyi.


Hanya suara aneka burung yang menyahutnya. Lily menangis dan terduduk di sana. Menyesal sudah mengabdikan diri pada Iblis dan menukar kehidupan seusai kematian dengan hal terkutuk seperti ini. Mencari jiwa berdosa dan mengumpulkannya, manusia macam apa Lily ini? Bahkan untuk kembali menjadi manusia pun tak bisa.


Tiba-tiba ... asap keluar dari dalam tanah bersamaan nyala api yang membawa Asmodeus datang. Lily mendongakan kepalanya menatap Tuan Asmodeus yang sudah berada di hadapannya.


"Ada apa manusia pengikutku? Apakah sesal kau tuai? Ha ha ha ha ...." kata Asmodeus sambil tertawa dengan suara menggelegar.


Lily marah dan mencoba menyerang Tuan Asmodeus. Namun, jelas dengan mudah Tuan Asmodeus menghindar.


"Kau menjebakku! Kau menjebakku, Tuan Asmodeus! Iblis licik!" jerit Lily yang tak kuasa menahan amarah.


"Teruslah marah, terus! Hal itu akan membawa kekuatan untukmu. Aku memilihmu bukan tanpa sebab. Memang kuutus tangan kananku bersamamu untuk melatihmu menjalankan tugas dariku. Tak usah melawanku, jalani saja tugasmu! Evan lebih baik dari manusia kejam yang sudah diambil oleh Chernobog. Pujaan hatimu berada di bagian Neraka yang berbeda!" gertak Tuan Asmodeus membuat Lily berhenti menangis.


"A-apa? Lee berada di Neraka juga?" tanya wanita yang mengusap air mata dari wajahnya.


"Ya. Namun tidak berada di wilayahku. Aku tak bisa mengambilnya. Bukan milikku." jelas Tuan Asmodeus.


Lily terdiam lalu tertunduk. Mau bagaimanapun, dia tak akan berhasil melawan Iblis di hadapannya. Justru bisa sirna jika gegabah. Lily hanya bisa pasrah atas pilihannya yang salah.


"Tu ... Tuan ... maafkan aku ... bagaimana aku bisa membantu tangan kanan Tuan yang sedang bertempur melawan Bima?" lirih Lily yang pasrah dengan keadaan.


Asmodeus mengeluarkan cahaya api berwarna biru kecil dari kedua tangannya. Lalu dilekatkanlah cahaya api biru itu pada kepala Lily sambil berkata, "Kuberikan kekuatan ini padamu, kalahkan Bima yang menghalangi pekerjaan kita."


Lily pun mengejang mendapat kekuatan besar yang masuk dalam tubuhnya. Tuan Asmodeus pun menghilang, kembali ke Neraka. Lily kesakitan dan menggeliat di tanah. Kekuatan maha dahsyat itu sedang mengoyak tubuhnya. Menyesuaikan diri dengan tubuh ringkih Lily.


"Aaaa! Sakit ... sakit!" rancau Lily yang berguling ke kanan dan ke kiri.


Setelah beberapa saat penyesuaiaan, kekuatan itu sudah merasuk tubuh Lily. Lily bangkit dengan penuh percaya diri dan tersenyum. Matanya bersinar biru dan dia yakin bisa membantu anak buat Tuan Asmodeus mengalahkan Bima.


***


Kebakaran terjadi di sekitar tempat pertempuran Bima dan Evan. Tentu saja secara kasat mata, orang tak bisa melihat wujud Iblis Bima dan Evan. Beberapa unit pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan kobaran api yang tak henti-henti melalap semua yang disekitarnya.


"MENYERAH SAJA! ATAU KUBUAT KAU MATI KEDUA KALINYA!" gertak Bima pada Evan yang masih berusaha menyerang.


Evan tak mau mengalah begitu saja. Dia langsung menyerang Bima kembali dan ditangkis serta dibalas dengan kekuatan besar hingga Evan terpelanting jauh.


"K-kau ... tak sudi aku kalah seperti ini!" gumam Evan memegang dadanya yang terluka parah.


Bima mendekati Evan perlahan dan mengepalkan tangannya. Dia membentuk gumpalan api dari tangannya, api itu kian membesar. Bima sudah siap menghantam Evan. Saat hendak mengarahkan kepalan tangan berapi kepada Evan, seseorang menangkisnya dengan kuat.


Crassssh ....


Benturan antara api merah dan api biru membumbung tinggi ke angkasa. Membuat ledakan dahsyat.



"Li ... Lily ...." Evan terperangah melihat Lily di hadapannya menangkis serangan Bima yang dahsyat.


"Aku ... tak kan membiarkanmu kalah begitu saja. Setidaknya sampai aku bisa bertemu Lee yang sesungguhnya!" gumam Lily yang masih menahan tangannya beradu dengan serangan Bima.


"JADI KAU MEMINTA KEKUATAN PADA TUANMU, HA?" ucap Bima menebak apa yang terjadi.


Lily belum lama bersekutu dengan Iblis, tak mungkin dia mempunyai kekuatan sebesar ini untuk melawan Bima. Bima tahu jika kekuatan ini bukan milik Lily.


Lily sekuat tenaga melawan Bima. Evan yang terluka parah kemudian bangkit dan membantu Lily. Bima tak ingin kalah, dia memfokuskan tenaganya dan mengerahkan yang terakhir. Bersamaan dengan gabungan kekuatan Lily dan Evan. Ledakan dahsyat terjadi.


Bima, Evan, dan Lily terpental jauh. Mereka terluka parah. Dengan sisa tenaga yang ada, Evan mengajak Lily menghilang dan pergi. Bima yang susah payah bangkit pun menghilang.


Kebakaran semakin membesar dan membuat panik warga sekitar yang sejak tadi membantu petugas pemadam kebakaran. Ledakan terakhir membuat rumah sakit swasta di dekat lokasi itu rusak parah. Warga mengira ada bom di sana.


***


Bima kesakitan. Dia berada di tengah hutan tempat Bagas dan Wati memuja dan meminta pertolongan. Bima mencoba memanggil Dinda untuk memberinya sedikit tenaga pemulihan.


"DINDA, TOLONG KAKAK. SEGERA KE SINI."


Dalam gitungan menit, Dinda sudah datang ke sana. Dinda terkejut melihat kondisi Bima terluka parah.


"Kakak! Ada apa, Kak? Mengapa terluka separah ini?" Dinda panik melihat Bima yang bersender ke pohon keramat.


"KAKAK BERTARUNG DENGAN EVAN DAN LILY. SIALNYA, TUAN ASMODEUS MEMBERI LILY KEKUATAN TAMBAHAN. BISAKAH KAMU MEMBERI SEDIKIT TENAGA UNTUK PEMULIHAN?" jelas Bima yang menahan nyeri dan sakit.


"Iya, Kak. Baik. Dinda akan bantu sebisa mungkin."


Dinda membuat lingkaran dari energinya lalu mendorong lingkaran itu perlahan masuk ke tubuh Bima. Bahkan Iblis pun bisa terluka parah saat bertarung. Dinda membagikan energinya untuk Bima tanpa ragu.


"SUDAH. CUKUP." Bima menghentikan Dinda membagi energinya.


Bima tahu jika adiknya tidak bisa memberi lebih dari itu. Dinda pun berhenti dan menarik napas panjang.


"Maaf, Kak. Aku tak bisa memberi lebih," lirih Dinda menyesal.


"TAK APA. INI SUDAH LEBIH BAIK. LUSA, KAKAK AKAN MELAKUKAN RITUAL DI SINI DENGAN PENGIKUT BARU. TENAGA KAKAK AKAN PULIH SETELAH MENDAPATKAN TUMBAL BARU. TENANG SAJA." kata Bima menenangkan Dinda.


"Kakak mau menerima pengikut lagi? Bagus kalau begitu. Tuan Chernobog tidak akan marah lagi. Kakak istirahat saja di sini. Aku akan menemani Tante Ningsih dan keluarganya," ucap Dinda yang bangkit berdiri hendak pergi.


"YA. PASTIKAN NINGSIH TAK TAHU SOAL INI. AKU TERPAKSA MENGAMBIL PENGIKUT DAN MENERIMA TUMBAL LAINNYA DEMI NYAWA NINGSIH YANH DIINCAR TUAN CHERNOBOG."


"Baik, Kak. Sampai jumpa."


Dinda pun menghilang meniggalkan Bima. Bima sengaja berada di pohon keramat tengah hutan menunggu Bagas dan Wati datang melaksanakan ritual pada tengah malam purnama.


***


Tiga hari kemudian ....


Kondisi Ningsih dan Joko berangsur membaik. Mereka bisa dirawat jalan, pulang ke rumah. Dinda mengawasi dan ikut tinggal bersama keluarga Ningsih. Dia berjaga, takut jika serangan lainnya datang.


Sedangkan tadi malam, Bima sudah melakukan ritual dengam Bagas dan Wati. Tenaga Bima mulai pulih.


"Mas, kita sudah tak boleh berhubungan 'kan?" tanya Wati ragu-ragu.


"Iya. Kamu dengar sendiri kan syarat dari Tuan Bima? Sudah turuti saja," jawab Bagas dengan cuek.


"Terus ini Mas mau cari cewek?" selidik Wati yang masih menyimpan cemburu.


"Tentu! Syaratnya kan begitu. Wanita yang tidur denganku jadi tumbalnya. Mudah, bukan?" Bagas tersenyum memandangi wajahnya di cermin dengan bergaya dan mantab hati.


Sebelum ritual pun, Bagas sudah tak setia pada Wati. Terlebih saat ini ada alasan yang tepat untuk berjelajah wanita. Dari kejauhan, Bima mengamati dan menunggu tugas pertama Bagas.


Bagas berlalu dengan motornya. Menuju penginapan kelas melati, tempat temu janjinya dengan seorang wanita bersuami yang kesepian. Tak perlu waktu lama untuk mencari tumbal, Bagas sudah lihay dalam hal membual dan menggombal. Banyak wanita rela bersamanya dalam balutan peluh tanpa ikatan.


"MANUSIA BODOH! KALIAN MEMPERALAT DIRI SENDIRI PADA KEINGINAN SEMU." gumam Bima melihat Bagas masuk ke ruangan bersama wanitanya.


Saat eksekusi, Bima masuk ke tubuh Bagas. Menikmati hawa manusia wanita itu dan menghisap habis. Setelah selesai bergumul, wanita itu pun pamit pulang. Bagas yang tak sadar apa yang terjadi, lantas memberi uang ongkos pada wanita itu.


"Tadi aku ke sini jam satu. Sekarang sudah jam lima. Kenapa aku tak ingat saat menyentuhnya?" Bagas bertanya-tanya.


Tiba-tiba Bima muncul dengan wujud Iblis dan berkata, "HA HA HA HA ... SELAMA RITUAL INI BERLANGSUNG, AKULAH YANG MASUK KE TUBUHMU. HARI INI AKU TIDAK MEMBIARKANMU MERASA APA PUN. LAIN KALI, AKU AKAN BIARKAN KAU MENIKMATINYA!"


Bagas tertunduk dan mengiyakan saja perkataan Bima. Takut jika Iblis itu marah. Bima pun pergi. Kondisinya berangsur membaik saat wanita tadi mengalami kecelakaan tragis di perempatan jalan. Tumbal pertama didapatkannya. Bima yakin selanjutnya akan lebih mudah menyenangkan Tuan Chernobog karena pengikutnya kali ini seorang maniak wanita.


"NINGSIH, MAAFKAN AKU. SEMUA INI DEMI MENYELAMATKANMU." gumam Bima yang menahan nyeri di dada. Mengkhianati yang dicinta demi melindunginya.


Bersambung ...