JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 7


...🔥 JALAN GELAP TAK BERUJUNG 🔥...


Pernahkah kalian membuat satu kesalahan dan kesalahan itu mengakibatkan kesalahan-kesalahan lainnya yang semakin menumpuk dan menjadi banyak? Lalu, ketika kalian hendak keluar dari kesalahan dan permasalahan tersebut, jalan terlihat gelap. Tak ada cahaya sedikit pun dan ketika kamu berjalan, kamu tidak pernah menemukan ujung dari jalan gelap tersebut. Itulah yang dinamakan kubangan dosa.


Gio terbangun dari ketidak sadaran nya. Dia pun terkejut ketika membuka mata dan melihat seisi ruangan penuh dengan makhluk gaib mengelilingi Lukas. "Aaaaa!" teriak Gio yang tak kuat dengan aura magis itu dan segera berlari keluar.


Orang tua Gio pun segera menyusul anaknya. "Maaf, Fani. Kami menyusul Gio, ya," pamit mama Gio sebelum menyusul papa Gio yang terlebih dulu mengejar putranya.


Lukas dan Mama Fani makin bingung apa yang terjadi. Mama Fani pun menceritakan bagaimana Lukas diketemukan karena firasat Gio yang mengantarnya ke tempat kejadian. Meski semua yang dikatakan Gio di luar logika, bagaimana mungkin mereka tak percaya? Sedangkan soal Dinda pun mereka percaya.


"Gio gimana, Ma? Mama coba susul dia saja. Lukas hanya ingin mengucapkan terima kasih," kata Lukas menatap pintu kamar yang terbuka lebar, tetapi belum ada tanda-tanda Gio dan kedua orang tuanya kembali.


"Iya, Lukas. Mama coba cari mereka, ya." jawab Mama Fani yang kemudian pergi meninggalkan Lukas seorang diri.


Setelah Mama Fani pergi, Dinda pun datang tiba-tiba di samping Lukas. "Aku tak suka kawanmu itu. Dia terlalu ikut campur." bisik Dinda ke telinga Lukas.


Membuat Lukas kaget dan merinding. "Bagaimana aku bisa mencegahnya? Lagi pula jika dia tidak menemukanku, pasti aku sudah tewas." jawab Lukas yang tak ingin Gio dalam masalah.


"Kalau begitu, suruh dia jangan dekat kamu lagi. Kamu milikku, Lukas. Perjanjian ini tidak akan bisa berakhir." lirih Dinda yang yakin Lukas akan mengikuti perkataannya. Dinda pun menghilang ketika Mama Fani masuk ke kamar bangsal.


"Lukas! Lukas!" seru mama dengan panik.


"A-ada apa, Ma?" tanya Lukas yang langsung duduk di ranjangnya.


"Gio ... dia menunggu kamu di taman. Dia tak bisa ke sini karena sesuatu. Ayo Mama antar ke taman menemui Gio. Dia hendak bicara denganmu." jelas Mama Fani pada Lukas.


Antara ingin dan tidak, Lukas pun bingung. Dia sudah diperingatkan oleh Dinda. Namun, dia juga ingin bertemu dengan Gio


"Ya, Ma. Ayo ke sana. Tolong bawakan tongkat infusku, Ma." lirih Lukas yang mencoba turun dan berdiri dari ranjangnya.


Lukas dan Mama Fani berjalan dari lorong bangsal menuju ke taman. Mereka berdua penasaran dengan apa yang akan Gio katakan. Padahal matahari masih terlihat bersinar dan hampir berada di tempat sempurna, tengah hari. Namun, mengapa Gio melihat hal tak kasat mata?


Sesampainya di taman, terlihat Gio dan kedua ortunya duduk di bangku tepi taman. Orang tua Gio menepuk-nepuk pundak anaknya. Terlihat Gio masih takut, tak seperti biasanya.


"Gio ... terima kasih sudah menolongku." kata Lukas saat mendekati Gio.


"Lukas ... aku hanya bisa menolongmu sekali. Maafkan aku ... aku tak bisa menolongmu lebih lagi. Andai kata Iblis wanita itu melepasmu, sudah menanti puluhan makhluk gaib yang hendak mengambilmu gara-gara kamu koma selama tiga hari. Maaf, Lukas. Aku dan orang tuaku pergi dulu." kata Gio sambil berdiri dan pergi, diikuti kedua orang tuanya.


"Maaf, Fani. Kami sudah membujuk Gio, tetapi dia bersikeras menyerah karena di luar kemampuannya." ucap mamanya Gio. "Kami pamit pulang. Lekas sembuh Lukas." imbuhnya.


"Iya, terima kasih sudah peduli dengan kami," jawab Mama Fani dengan wajah sedih.


Kali ini, seakan semesta menjauhi mereka. Saat Lukas terjatuh dalam dosa, segala kebaikan mulai pudar dan menghilang. Bahkan orang disekelilingnya pun meninggalkan.


...****************...


Bella menunggu Lukas yang belum memberi kabar apa pun hingga detik ini. Wanita itu berjalan ke sana ke sini karena bingung harus mencari Lukas di mana.


"Arrgh! Hilang tiga hari. Kamu ke mana, sih, sayang? Buat aku stress lama-lama bisa gila!" teriak Bella dengan tangan menghamburkan apa saja yang berada di meja riasnya.


Mendengar kegaduhan itu, Bi Sumi masuk ke kamar Bella. "Non, ada apa? Non baik-baik saja?" tanya Bi Suma dengan hati-hati.


"Bi ... Bella kecewa dengan pacar Bella. Dia sudah tiga hari tidak bisa dihubungi dan media sosialnya tidak aktif. Rumahnya juga kosong. Bella harus gimana?" tanya Bella yang mula meneteskan air mata.


"Pacar Non itu yang selebgram ganteng itu?"


"Iya, Bi. Bibi tahu? Namanya Lukas." Secerca harapan ada di benak Bella saat Bi Sumi seakan mengetahui informasi tentang Lukas.


"Iya, Non. Lukas namanya. Itu di televisi tadi ada berita selebgram Lukas diserang orang asing dan dibuang ke jurang. Selamat berkat ditolong pemuda indigo yang melihat petunjuk dengan mata batinnya. Coba Non lihat si berita handphone siapa tahu ada," jelas Bi Sumi kepada Bella.


Bella langsung mengusap air matanya. "Be-benarkah, Bi? Iya. Iya. Bella akan cari info berita. Kalau Lukas beneran, Bella akan ke rumah sakit langsung. Bi Sumi tolong teleponkan Tama biar jemput Bella, ya." perinta Bella yang kemudian panik mencari handphone dan browsing berita.


Tama adalah mantan kekasih Bella yang akhirnya menjadi crew sekaligus sahabat baiknya. Bella memutuskan hubungan dengan Tama semenjak melihat Lukas di mall bersama Angel. Bella terhipnotis dengan pesona Lukas dan lupa akan ketulusan Tama.


Setelah browsing berbagai berita online, Bella pun menemukan jawabannya. Dia bergegas bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Tentunya menunggu Tama datang.


"Non, Den Tama sudah di depan. Dia tahu di mana Den Lukas dirawat dari salah seorang wartawan yang Den Tama tanya." ucap Bi Sumi.


"Terima kasih, Bi. Bella pergi dulu." Bella bergegas turun dan ke depan rumah di mana mobil Tama terparkir dan pemiliknya berada di kursi sopir.


Bella masuk ke dalam mobil, tepat di samping Tama, kursi depan. "Kau sudah lihat berita?" selidik Bella pada Tama.


"Baru saja. Setelah Bi Sumi menelepon dan menjelaskan, aku segera mencari berita dan menghubungi salah satu wartawan yang kukenal. Ada apa, Bella?" jawab Tama sambil mengenakan kembali sabuk pengaman dan bersiap menginjak gas mobil untuk melaju perlahan.


"Yakin? Atau kamu sudah tahu tetapi hanya diam? Bukankah Tama serba tahu, serba bisa?" kata Bella yang menatap lurus ke depan.


Tama merasa tak enak hati dengan perkataan Bella yang seakan menuduhnya. Dia tidak menjawab dan melaju kecepatan mobilnya ke 60km/jam menuju rumah sakit di mana Lukas dirawat. Sebenarnya, Tama sudah curiga sejak awal kalau perpisahan hubungan Tama dan Bella karena Lukas.


"Kenapa diam? Apa benar yang aku pikirkan?" tanya Bella memecahkan keheningan dan lamunan Tama.


"Bella ... please, stop. Kalau menuduhku terus tanpa alasan yang jelas, lebih baik pergi saja sendiri. Aku sudah cukup bersabar dengan semua ini. Aku membantu mencari informasi karena peduli padamu. Bi Sumi bilang kamu tak mau makan dan mengamuk di kamar. Apa aku salah mencari informasi tentang pacar barumu itu? Tentang di mana dia dirawat?"


Tama menghirup napas panjang dan menghempaskan begitu saja. Mencoba tetap bersabar menghadapi mantan kekasihnya yang lama kelamaan makin keterlaluan.


"Jadi, sekarang mengancamku? Oke. Turunkan aku di sini. Beri tahu saja di mana Lukas dirawat. Aku bisa ke sana dengan taksi. Jangan merasa terpenting hanya karena aku meminta tolong! Kukira kamu itu tulus menjadi sahabatku setelah kita putus, ternyata sama saja!" gertak Bella membuat Tama tak habis pikir mengapa mantan kekasihnya itu tergila-gila dengan Lukas.


Tama pun menepikan mobilnya. Dia langsung menatap tajam ke Bella. "Oke. Silahkan lakukan apa yang kau mau Tuan Putri. Aku ini hanya budakmu, tapi mulai sekarang jangan sangkut pautkan aku lagi." tegas Tama yang sudah emosi.


Bella pun marah dan mengerutkan dahinya. "Tak bisa kupercaya! Oke nggak apa. Jangan temui aku lagi! Rumah sakit mana tempat Lukas di rawat?"


"Rumah sakit depan itu. Jalan saja sampai. Menurut berita, dia baru saja sadar dari ICU." ucap Tama yang kemudian menatap ke depan seolah meminta Bella lekas pergi.


"Ok!" Bella langsung keluar dari mobil dan membanting pintu mobil saat menutupnya. Kesal dengan tindakan Tama.


Tama pun segera meninggalkan Bella yang masih di pinggir jalan. Bella pun kesal dan berjalan dengan derap langkah yang berat. Bella pun mengumpang sepanjang perjalanan.


"Katanya tulus, nyatanya modus! Dasar lelaki! Nyesel banget udah pacaran lima tahun ama orang sepertimu! Beraninya ninggalin di pinggir jalan siang hari begini!" gerutu Bella yang hampir sampai di rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit pun Bella langsung mencari keberadaan Lukas di bagian rekam medis. Ternyata Lukas sudah berada di bangsal kelas satu. Bella langsung ke sana. Dia sampai lupa membelikan sesuatu untuk Lukas. Dalam pikiran Bella hanya ingin segera bertemu Lukas.


Bella mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam bangsal kamar tempat Lukas dirawat. "Permisi ...." lirih Bella dan bersambut dengan mamanya Lukas membukakan pintu.


"Iya, silahkan. Siapa ya?" tanya Mama Fani.


"Sa-saya Bella, Tante. Apakah benar Lukas dirawat di sini?" tanya Bella kepada Mama Fani.


"Oh, iya. Benar. Saya mamanya Lukas. Itu Lukas di dalam. Sini, masuk. Lukas ... ada Bella datang." kata Mama Fani.


"Ha? Bella?" jawab Lukas yang terkejut.


"Hai, Lukas. Maaf, aku baru tahu sekarang kalau kamu mengalami musibah. Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Bella yang kemudian mendekat ke ranjang Lukas.


"Iya, Bella. Maaf pasti membuatmu khawatir." kata Lukas mencoba duduk di ranjangnya.


"Nggak apa, kok. Aku justru khawatir sama kamu. Apa benar yang berita tulis? Kamu berarti diserang orang saat mau ke rumahku?" Bella megusap tangan Lukas yang masih diinfus.


"Iya, Bella. Besok ada polisi yang akan melanjutkan penyidikan. Maaf kalau aku tidak bisa mengabarimu. Aku baru saja sadar dari ICU."


Tanpa merasa malu, Bella justru langsung memeluk Lukas dengan erat. "Tak usah minta maaf terus. Terima kasih sudah bangun dari tidur panjangmu di ICU. Aku bersyukur bisa melihatmu lagi." ucap Bella yang membuat Mama Fani bingung.


Bukankah Lukas masih berduka dengan kepergian Angel yang belum genap empat puluh hari? Mengapa putranya sudah bersama wanita lain? Mama Fani pun menatap ke arah Bella yang memeluk Lukas. Seakan mereka sudah kenal lama, tetapi Lukas menyembunyikan sesuatu dari Mama Fani. Apakah itu efek dari pengasihan dari Dinda?