JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
Bab 65


Pagi harinya....


Lee membuka mata dan meraba ranjangnya. Tak diketemukan Ningsih. Lee langsung bangun dan mencari Ningsih. Ternyata wanita yang Lee cintai tertidur di sofa di sudut kamarnya.


Lee melangkah ke arah Ningsih dan mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Kepala Lee sangat pening.


"Sayang, kenapa tidur di sofa," lirih Lee sambil membelai wajah Ningsih.


Ningsih terbangun dan terkejut. Dia langsung duduk dan wajahnya memucat, ketakutan.


"A-ada apa, sayang? Maaf semalam aku merepotkan, ya? Sudah lama aku tidak minum seperti itu. Maaf, sayang... jangan takut padaku," ucap Lee memohon sambil memegang tangan Ningsih dan mengecupnya.


Ningsih mencoba baik-baik saja. Melupakan ucapan Lee kemarin saat mabuk dan mencoba tak mengingat tentang isi brankas di kamar Lee. Orang mana yang bisa tidur dengan seorang kanibal, psikopat, bahkan berkepribadian ganda.


"Iya... maaf aku hanya terkejut. Semalam aku tak bisa tidur karena bau alkohol yang sayang minum. Jadi aku tidur di sofa. Maaf ya, sayang," jelas wanita yang sedang membenarkan posisi duduknya.


Bagi Ningsih, berusaha tak terlihat tahu tentang sisi lain Lee adalah hal terbijak. Dia takut jika Lee berubah dan bisa jadi akan membahayakan hidupnya. Setidaknya harus berpura-pura sampai hari Sabtu. Bima berjanji semua akan selesai di hari Minggu, bukan?


"Maaf, sayangku Ningsih... aku tidak ingin mabuk lagi. Aku takut menyakitimu. Ayo sekarang kita mandi sebelum breakfast," kata Lee sambil menarik tangan istrinya.


Mereka pun mandi bersama di bath up penuh dengan busa sabun yang menyegarkan. Aroma wangi buah menyerbak di dalam kamar mandi. Ningsih menggosok setiap jengkal tubuhnya dengan scrub. Lee pun membantunya.


"Wangi bunga ini favoritku," bisik Lee di telinga Ningsih.


Sesaat Lee merasa lupa diri dan tak sengaja menggigit bahu Ningsih. Ningsih berteriak kesakitan dan membuat Lee tersadar lalu melepaskan gigitannya. Bahu Ningsih berdarah. Mereka mengakhiri permainan di bath up dan lekas memakai baju.


"Ayo kita ke klinik. Maafkan aku, sayang. Aku tidak sengaja." Lee terlihat panik ketika darah menembus pakaian Ningsih.


Luka yang Lee buat terlihat serius. Ningsih hanya merintih menahan perih dan sakit.


Sesampainya di klinik, Ningsih langsung mendapat perawatan. Bahunya harus dijahit. Lima jahitan menutup luka di bahunya. Rasa takut semakin menyeruak di hati Ningsih. Lee mulai sulit mengendalikan diri.


"Tuan, istri Anda mendapatkan lima jahitan di bahunya. Harap kembali dua hari lagi untuk perawatan luka. Baiknya jangan terkena air terlebih dahulu dan jangan banyak bergerak," jelas dokter yang menangani Ningsih.


"Terima kasih, Dokter."


Lee segera menyelesaikan administrasi dan kembali ke ruangan di mana Ningsih ditangani medis. Ruangan itu kosong.


Ningsih pergi dari klinik itu. Berjalan jauh menghindari Lee. Entah rasa takut menguasai pikirannya.


"Bima... please ke sini. Aku tidak bisa tinggal di sini lebih lama. Ambil saja dia. Aku takut disentuh oleh lelaki psikopat itu. Bisa-bisa justru aku dimakan olehnya," batin Ningsih bergejolak. Dipercepat langkah kakinya untuk kembali ke rumah Lee mengambil tas dan dompetnya.


"BAIKLAH JIKA ITU MAUMU. AKU AKAN PERCEPAT SEMUA INI. LEE SEDANG MENCARIMU, DIA AKAN MARAH BESAR JIKA TAHU KAMU PULANG TANPANYA. LEBIH BAIK MASUK KE FOODCOURT ITU DAN HUBUNGI DIA. KATAKAN JIKA KAMU TAK KUAT MENAHAN LAPAR. HANYA HARI INI NINGSIH. NANTI MALAM KUAMBIL DIA. SABARLAH...." jawab Bima diikuti hembusan angin yang menerpa tubuh Ningsih.


Ningsih mengikuti perintah Bima. Dia masuk ke foodcourt dan memesan fried french, kopi, dan sebuah beef burger. Saat memegang handphonenya, tiga panggilan tak terjawab dari Lee. Pasti Lee kebingungan.


"Hallo Lee sayang..." Ningsih menelepon balik suami yang mulai bingung mencarinya.


"Hallo! Sayang kamu di mana? Aku mencarimu di klinik tetapi tak ada," tanya Lee yang resah.


"Maaf sayang... aku lapar. Ini aku menunggu di foodcourt dekat klinik. Maaf sayang, tadi aku bingunh mencarimu," alasan Ningsih agar Lee tak marah.


"Ok, aku ke sana. Kamu jangan pergi ke mana-mana."


Tut... tut... tut....


Lee mematikan telepon dan bergegas mencari tempat yang Ningsih maksud. Ternyata benar. Ningsih berada di sana sambil menyeruntup secangkir kopi.


"Sayang... maaf aku tadi mencarimu dan panik," kata Lee terengah-engah.


"Iya... aku tadi mau pamit tapi Lee tak ada," lirih Ningsih menahan sakit di bahunya.


"Masih sakit, ya? I'm so sorry Honey. Aku terlalu gemas dan bersemangat."


Lee duduk di samping Ningsih. Dia menatap Ningsih yang terlihat ketakutan padanya. Lee merasa bersalah dan takut jika Ningsih pergi.


"Honey sayang, kamu takut padaku? Jangan tinggalkan aku, please. Aku bukan pemangsa manusia. Aku hanya gemas," ungkap Lee berbohong.


"Sepertinya aku nggak enak badan... Ayo pulang, Lee...."


"Baik, sayang."


Lee mulai menaruh curiga pada Ningsih. Apa mungkin saat dia mabuk mengatakan hal yang membuat Ningsih takut? Dalam perjalanan pulang, Lee menanyai Ningsih.


"Ningsih... apakah semalam ada sesuatu yang terjadi saat aku mabuk? Kamu terlihat berbeda...."


"Uhm... nggak ada, sayang. Kamu hanya mabuk dan tertidur lelap di kamar," jawab Ningsih berbohong.


"Benarkah? Kukira aku mengacau. Saat orang mabuk, terkadang hal konyol dilakukan tanpa sadar. Aku beruntung istriku tidak suka minum alkohol."


Mereka pun sampai di rumah Lee. Pengawal dan anak buah Lee sudah berjaga di depan menanti perintah dari Lee.


"Sudah, tak apa. Everything under control." Lee mengibaskan tangannya bertanda anak buahnya tak perlu khawatir atau berkumpul di depan rumah.


****


Ningsih bergegas meninggalkan kamar hotel yang dipesan Lee semalam dengan perlahan. Dia sudah memesan tiket pesawat secara online untuk kembali ke Jakarta. Dia juga sudah menelepon taksi untuk mengantar ke Changi International Air Port.


Sebelumnya, semua sudah seperti yang direncanakan. Setelah kejadian bahu itu, Ningsih meminta tidur di hotel berbintang lima yang bagus dan Lee menurutinya. Siang hari mereka pergi ke sana. Lalu menikmati malam yang panjang dengan bertukar hasrat. Selanjutnya menjadi bagian Bima mengambil tumbal sesuai perjanjian.


Ningsih pun pergi dari hotel dengan tenang. Tidak ada anak buah Lee yang mengawasi. Perjalanannya ke Jakarta sangat mulus. Bima membuat skenario yang rapi untuk kematian Lee agar Ningsih aman.


Bima mengubah wujudnya menjadi Lee setelah memangsanya. Dia pun kembali ke rumah agar anak buahnya tak curiga.


"Mulai hari ini, kalian harus mandiri. Tidak tergantung denganku. Bahkan wanita yang beberapa hari ini kukekang sudah kubebaskan," ucap Lee jadi-jadian pada anak buahnya.


Tidak lupa Bima membayar semua gaji pegawainya selama setahun penuh. Lalu dia bunuh diri. Membuat kesan Lee meninggal karena depresi dengan meninggalkan surat yang menyentuh hati.


Keesokan harinya semua menjadi heboh melihat Lee meninggal memotong nadinya. Mereka memakamkan Lee bersama brankas sesuai tulisan di suratnya.


Bima tertawa menyaksikan itu. Mereka tak tahu jika tubuh Lee yang asli sudah sirna. Setelah pemakaman, pabrik fashion RoxieLee kebakaran dan semua ludes seketika. Tentu, semua ulah Bima. Hanya ketiga rumah Lee yang tak dimusnahkan karena sebagai barang bukti mengungkap segala dosa Lee.


Dalam surat putus asa yang dibuat Bima, ditulisnya jika Lee meminta maaf dan membagikan hartanya kepada 66 orang tua dari ke 66 korban yang diculik dan dimakannya. Tentu hal ini menghebohkan kepolisian dan Singapura. Pebisnis tampan, muda dan terkenal ternyata kanibal pemangsa anak kecil. Mengakhiri hidup dengan bunuh diri adalah sebuah akhir dari keputus asaan menanggung dosa itu.


Skenario Bima sungguh epic. Manusia tak paham dengan segala tipu muslihat Bima. Mengambil pendosa seperti Lee merupakan kesukaan bagi Bima.


****


Sesampainya di Indonesia, Ningsih pulang rumah dan bergegas mencari anaknya. Setelah bertemu dengan Wahyu, Reno dan Santi, dia merasa tenang semua baik-baik saja. Hanya bayangan kejadian Satria tempo lalu membuat Ningsih ketakutan hal buruk membuntuti.


"NINGSIH... SEMUA SUDAH SELESAI. SOAL LEE KUTUTUP DENGAN BAIK. BUKA ALMARI SESAJI DAN NIKMATI KEKAYAAN YANG KUBERI. DUA MALAM LAGI AKU AKAN KEMBALI MEMELUKMU. SAAT INI AKU HARUS PERGI." kata Bima membuat Ningsih berbinar.


Serakus dan seserakah itu kah manusia? Bahkan di puncak kejayaannya, Ningsih masih menginginkan yang lebih.


Uang... uang... dan uang.... Ningsih tetap senang dengan kekayaan yang Bima beri dengan menumbalkan orang lain.


Dosa tetap lah dosa. Ningsih tak sadar semua itu semakin menjeratnya dalam tipu daya Iblis. Sisi kemanusiaan yang mulai hilang dengan segala kemudahan gaib. Ningsih hanya berpikir jika hal itu pantas didapatkan oleh lelaki berdosa. Menghakimi orang lain tanpa melihat dirinya pun bergelimang harta karena darah orang lain.


****


"Lee... kamu benar sudah meninggal, kan?" lirih seorang wanita yang mengenakan pakaian serba hitam dan topi hitam memandang makam Lee yang masih penuh dengan bunga.


"Maaf, bisakah Anda ikut kami ke kantor? Ada beberapa hal yang akan kami tanyakan terkait dengan kematian dan pengakuan Lee Min Hae," kata seorang petugas berseragam polisi menghampiri wanita itu.


"Baik, saya bersedia. Apakah polisi juga berpikir ini bukan bunuh diri?" jawab wanita itu menatap petugas kepolisian.


"Silahkan ikut terlebih dahulu. Kita bicarakan di kantor."


Wanita itu pun mengikuti kedua petugas polisi. Mereka melaju ke kantor. Siapakah wanita itu? Apakah ada sangkut pautnya dengan kematian Lee? Apakah Ningsih akan terseret dalam kasus kematian Lee?


Bersambung....