JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 77


πŸ€ TAK INGIN KEMBALI? πŸ€


Sepanjang mata memandang... aneka bunga berwarna-warni terlihat indah menghiasi padang rumput berbunga. Hembusan angin yang perlahan membuat semakin syahdu hari itu. Ningsih merebahkan tubuhnya di samping Bima. Bahu Bima menjadi bantal yang empuk untuk kepala Ningsih. Mereka memandangi awan yang sangat banyak di langit biru. Sambil menunjuk satu per satu berandai-andai bentuk apa awan yang berjalan perlahan di langit.


"Bima... awan itu lucu sekali. Seperti kelinci..." ucap Ningsih, matanya membulat melihat bentuk awan yang mirip sekali dengan hewan kelinci.


"KAU SUKA TEMPAT INI?" tanya Bima menatap istrinya. Tangannya membelai lembut rambut Ningsih dan mengelus lembut ke belakang telinga wanita yang dicintainya.


"Suka... sangat suka... Kamu sering ke sini?" Ningsih menatap mata suami gaibnya.


Bima kembali menatap awan di langit dan menerawang jauh. Hal yang tak pernah dia bahas selama ratusan tahun akhirnya dia ungkapkan pada sang pujaan hati.


"INI ADALAH BUKIT BERBUNGA TEMPAT DI MANA ALMARHUM IBUKU SERING MENGAJAK AKU DAN DINDA SAAT KECIL. DAHULU... IBUKU SUKA KE BUKIT DAN MENANAM SATU DEMI SATU BUNGA SEBAGAI TANDA PENANTIANNYA TERHADAP AYAH. SAAT AKHIRNYA MEREKA HIDUP BERSAMA... JALAN HIDUP MENJADI BERBEDA. IBU SERING DIPERLAKUKAN KASAR OLEH AYAH. BUKIT INI MENJADI SAKSI TANGIS IBU YANG BERTAHAN DEMI AKU DAN DINDA. KAMI KEMBAR, TERLAHIR DENGAN JARAK SEPULUH MENIT SAJA. IBU MENYAYANGI KAMI HINGGA AKHIR HAYATNYA."


Hati Ningsih merasa pilu... mereasakan apa yang Bima katakan. "Jadi... sebenarnya kamu dahulu manusia?"


Bima memiringkan tubuhnya, memegang satu tangan Ningsih dan mengelusnya.


"YA... HANYA PADAMU KUCERITAKAN KISAH HIDUPKU. BUKIT INI HANYA PENGGALAN MASA LALU. AKU MEMBAWAMU MELINTASI RUANG WAKTU. DAHULU AKU JUGA MANUSIA BISA... AYAH YANG MEMBUATKU SEPERTI INI. DIA MENYIKSA IBUKU HINGGA AKU DAN DINDA MELIHAT IBU DIBUNUH DI DEPAN MATA KAMI. SESAL ITU SELALU ADA... HARI INI ADALAH HARI PERINGATAN KEMATIAN IBU. TANGGAL YANG SAMA SETIAP TAHUNNYA AKU SELALU KE BUKIT INI. BARU KAMU... NINGSIH... SATU-SATUNYA MANUSIA YANG KUAJAK KE TEMPAT INDAH INI."


Ningsih terenyuh. Matanya berkaca-kaca hendak menangis. Makhluk yang dibenci orang dan dikatakan Iblis ternyata masih mempunyai hati. Entah apa yang menyebabkan Bima menjadi Iblis, Ningsih tak mau mencari tahu. Dalam hatinya... yang jelas hanya Bima Prawisnu yang sanggup membuatnya bahagia.


Ningsih teringat tentang Mas Agus yang dahulu sangat baik sebelum mendapatkan hatinya. Lalu waktu dan keadaan berubah ketika mereka hidup bersama dan menikah. Rasa luka itu berdengung di hati dan kepala Ningsih. Sangat berbeda dengan kisah hidupnya bersama Bima yang awalnya menakutkan dan membuatnya ragu. Namun sekarang justru membuatnya tak berdaya jika hidup tanpa sosok gaib ini.


Cinta memang perkara yang rumit dan aneh. Bagaimana bisa dua makhluk ciptaan Allah yang berbeda derajat saling bertaut rasa? Mungkinkah suatu jalan tercipta untuk menjadikan bersama?


"Bima... aku ingin di sini bersamamu. Aku tak ingin pulang...." ucap Ningsih perlahan sambil bersandar di dada Bima.


"JANGAN... INI BUKAN DUNIA MANUSIA. KAMU TAK BISA BERTAHAN DI SINI LEBIH DARI SEHARI DUNIA ROH. TUBUHMU TIDAK AKAN BERTAHAN." Bima terkejut dan tak mengijinkan keinginan Ningsih.


"Maksudmu... kalau aku tetap di sini, aku akan mati?"


"IYA, NINGSIH. MAAF AKU TAK BISA. SELAIN ITU HANYA BANGSA GAIB ILMU TINGGI YANG BISA MELINTAS RUANG WAKTU."


Ningsih bangkit dari sandarannya. Lalu merangkak di atas tubuh Bima yang masih berbaring di rumput hijau.


"Kalau begitu... jadikan aku sepertimu. Aku mau..."


Perkataan Ningsih membuat Bima bingung dan serba salah. Angin berembus membuat rambut Ningsih tersibak. Mata mereka saling pandang. Sejenak keheningan menyita waktu. Bima memang menginginkan hal itu... tetapi memikirkan kembali soal hidup Wahyu, Bima tak ingin mengikuti ego. Ningsih memiliki anak yang harus diperjuangkan.


"Sayang... aku mau di sini... izinkan aku...." bisik Ningsih lalu seketika mengecup lembut bibir Bima yang masih tak sanggup berkata.


Bima memeluk erat istrinya. Bahkan saat berdua sekalipun rasa itu membuatnya makin menggila. Tak ingin kehilangan tetapi tak bisa memiliki seutuhnya. Bima sadar betul jika Ningsih menjadi kaum iblis justru akan membuatnya lebih sengsara dibanding menjadi pengikut saja.


"NINGSIH..." Bima melepaskan kecupan itu. "AKU SANGAT INGIN BERSAMAMU. LEBIH DARI APA PUN... HAL ITU SANGAT KUINGINI. NAMUN... AKU TAK SANGGUP MEMBUATMU MENANGGUNG SEMUA HAL YANG SUDAH KURASAKAN. HAL INI BUKAN PILIHAN YANG BAIK UNTUK MANUSIA. BAHKAN... MENJADIKANMU ISTRIKU INI SEBUAH KESALAHAN. HARUSNYA AKU BISA MELINDUNGIMU TANPA MENJERATMU DENGAN IKATAN INI. APA DAYA... AKU TAK BISA MENGGAPAIMU SEBELUM KAU MENJADI PASANGANKU."


Ningsih menatap suaminya. Mengerti dengan rasa cinta yang begitu menyiksa dan membingungkan ini.


"Sayang... aku tahu itu... kamu sangat mencintaiku. Bahkan sebelum ikatan ini terjadi. Itu yang membuatku ingin terus bersamamu. Bahkan di dunia ini... tak ada satu pun manusia yang sanggup menyaingi hatimu. Kamu... terlalu sempurna di mataku."


Bima tersipu mendengar perkataan Ningsih. Dia menduga Dinda mengatakan soal perasaan Bima sejak sebelum ikatan gaib itu terjadi. Bima tak bisa menutupi hal itu lagi karena memang begitu adanya.


"NINGSIH... AKU MENCINTAIMU."


Bukan hanya sekedar kalimat gombal belaka... Bima mengatakan dengan segenap hatinya. Apakah Iblis masih mempunyai hati? Entah... yang jelas, Bima masih merasakan hal itu. Setidaknya hanya dengan Ningsih.


***


Rumah sakit terlihat sangat ramai saat tubuh Ningsih di bawa dengan trolly ambulans. Ningsih pingsan di jalan dan belum sadarkan diri hampir sejam. Keluarga Ningsih yang tertera di nomor handphone segera di hubungi. Santi, Reno, dan Joko bergegas ke rumah sakit sedangkan Wahyu di jaga Mak Sri dan Budi di rumah.


Tubuh Ningsih belum memberikan respon apa pun. Hingga dokter membawanya ke ruang ICU dengan selang oksigen di hidung dan infus di tangannya. Dokter menyatakan Ningsih koma.


Sesampainya di rumah sakit... Santi menangis saat dokter menyatakan Tante Ningsih koma, kehilangan kesadaran secara tiba-tiba dan belum diketahui penyebabnya.


"Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Semoga segera membuahkan hasil," ucap dokter mengakhiri penjelasannya.


Santi merasa sesak. Tak menyangka Tantenya sakit secara tiba-tiba. Reno dan Joko mencoba menenangkannya.


"Sabar, Kak. Percaya tim medis pasti berusaha yang terbaik. Kita tunggu selanjutnya saja. Kakak sabar ya...." ucap Reno sambil mengelus pundak Kak Santi.


Santi masih terdiam, sedih. Joko menghampirinya dan berkata, "Sabar ya, Santi... Jangan bersedih. Kamu harus kuat sebagai anak paling besar. Bersyukurlah jika hal ini terjadi saat kamu di Jakarta. Bayangkan jika tidak... Wahyu dan Mak Sri pasti akan bingung."


Joko lebih realistis menerangkan. Memang jika Santi dan Reno tidak di Jakarta, semua hanya dipasrahkan pada Mak Sri. Sedangkan Joko dan Budi sekedar membantu tugas yang Ningsih perintahkan.


"Iya Mas Joko... Reno... terima kasih. Semoga Tante Ningsih segera sadar dari tidurnya. Tante Ningsih hanya kecapean, kan?" lirih Santi tak bisa membayangkan jika hal buruk terjadi pada Tante Ningsih.


Setelah Ratih meninggal dan sejauh ini selalu bersama Ningsih, Santi memang ketakutan jika harus kehilangan lagi. Dia belum siap dan tak akan siap.


Hari itu... mereka bersedih dan cemas menunggu Tante Ningsih. Hari berikutnya, mereka mulai bergantian menunggu Tante Ningsih di rumah sakit. Santi berjaga di sana pagi sampai sore sedangkan Reno menjaga dsri sore, malam hingga pagi. Joko mengantarkan mereka bergantian.


Lima hari berganti dengan sangat lambat. Setiap harinya belum ada perkembangan berarti pada Tante Ningsih yang seakan tertidur lelap di ruang ICU. Anehnya... segala pemeriksaan sudah dilakukan dan tak ada sakit terdeteksi. Sungguh kondisi itu seakan Ningsih tidur panjang. Tak bisa dijelaskan secara medis.


Santi dan Reno tidak menyerah begitu saja. Mereka memindahkan Ningsih ke rumah sakit pusat yang memiliki peralatan lebih canggih. Berharap ada kemajuan agar Tante Ningsih segera bangun.


***


Kembali ke Bukit Bunga....


"NINGSIH... KITA HARUS KEMBALI KE DUNIAMU." Bima menggenggam tangan Ningsih setelah berlarian di Bukit Bunga. Waktu yang berbeda di dunia itu dan dunia nyata membuat Bima resah.


"Kenapa? Bukankah belum ada sehari di sini. Aku senang di tempat ini... andai kamu membangun sebuah rumah sederhana untuk kita tinggal, pasti lebih menyenangkan," jawab Ningsih sambil membayangkan keinginannya.


"JANGAN... WAKTU DI SINI BERBEDA DENGAN DUNIAMU. HAMPIR LIMA HARI KAMU PERGI DARI DUNIAMU. AYO KITA KEMBALI. AKU TAKUT TUBUHMU TIDAK AKAN KUAT DITINGGALKAN SELAMA SEMINGGU."


"Kalau begitu... masih ada dua hari di dunia nyata... berapa jam di sini, masih bisa kan sayang?" goda Ningsih pada Bima dengan mengerlingkan mata.


Bima tersenyum menatap wanita yang dicintainya terlihat begitu bahagia. Sebenarnya Bima ingin Ningsih berlama di Bukit ini bersamanya. Mengenang semua hal indah yang Ibu lakukan bersama Bima dan Dinda.


"ANDAI IBUKU MASIH ADA... PASTI KUPINTA RESTU UNTUK MENIKAH DENGANMU. IBU PASTI AKAN SENANG MENDAPAT MENANTU SEPERTIMU, NINGSIH..."


"Lalu... di mana Ibu berada?"


Pertanyaan Ningsih membuat Bima tertegun. Ibu berada di tempat yang jauh lebih baik. Tempat abadi, kekal, yang menjanjikan kebahagiaan selamanya. Tempat yang bertolak belakang dengan kediaman Bima sekarang.


"ORANG MENYEBUT TEMPAT IBUKU BERADA DENGAN KATA SURGA... AKU TAK BISA MENEMUINYA LAGI... SELAMANYA."


Ningsih mengelus pundak suaminya. Seakan menyemangati dan memintanya untuk bersabar. Surga dan Neraka merupakan dua tempat yang tak akan pernah bisa bersatu. Bima sangat sedih tak bisa melihat Ibunya lagi. Pernah suatu ketika dia berjalan-jalan ke Neraka hingga ke ujung batas akhir. Tak ditemukan ibunya, justru dia bertemu pada orang yang dahulu dia sebut "ayah". Saat itu, wujud Bima yang menakutkan tak dikenali oleh ayahnya.


Ayah Bima disiksa pada Neraka Lapis Enam tempat perbudakan hawa nafsu. Ayah Bima selama hidup berbuat jahat, berhutang sana sini, berjudi, dan bermain wanita sampai tak bisa dihitung berapa puluh wanita yang ditidurinya. Hal itu membuat hati ibu terluka. Sesungguhnya ibu tahu perbuatan bejat ayah. Namun selalu saja ibu bersabar dan berdoa semoga ayah lekas sadar. Bukannya sadar, kelakuan ayah makin menjadi. Bima sakit mengingat hal itu.


Bersambung....