
Matahari mulai terbit dan menyinari Kota Yogyakarta. Perlahan tetapi pasti ... sinarnya menerpa masuk ke kamar Alex lewat celah-celah jendela. Lelaki dengan tinggi 178 cm dan bertubuh atletis itu menggerakkan tubuhnya, lalu menguap.
"Huamm ... sudah jam berapa ini?" katanya sambil melirik jam dinding yang berada di kamarnya. "Astaga! Jam tujuh?! Haduh, bisa kesiangan, nih!" serunya saat melihat jarum panjang jam di angka dua belas dan jarum pendek jam di angka tujuh.
Alex bergegas bangkit dari ranjangnya dan menata tempat tidurnya. Setelah rapi, dia bergegas mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Lelaki tampan dengan hidung mancung dan blue eyes itu melepas pakaiannya satu per satu, lalu memutar kran ke arah kanan untuk mandi air hangat. Shower itu mulai meneteskan air hangat dan suara gemericik itu membuat perasaan Alex semakin membaik. Air hangat membasahi rambutnya yang hitam agak cokelat, mengalir ke wajahnya, lalu membasahi sekujur tubuh hingga kaki.
Alex mengambil sabun cair yang ada di kanannya dan mengusapkan ke seluruh tubuh. Rasa segar dan bau maskulin menyeruak di hidung. Setelah selesai mandi, Alex langsung mengenakan handuk dan melilitkan di pinggangnya.
Lelaki tampan itu segera berjalan ke depan almari, membuka pintu kayu itu dan memilih pakaian yang akan dipakai. Celana jeans panjang berwarna navy dan kaos biru muda berkerah. Dia mengenakan pakaiannya dan memakai sepatu berwarna putih. Setelah itu, Alex keluar dari kamar.
"Loh, sudah bangun, Sayang?" sapa Ningsih pada Alex.
"Sudah, Ma. Ini malah kesiangan. Cahaya ama Kak Wahyu mana, Ma?" Alex menengok ke kanan dan ke kiri.
"Oh ... mereka baru ke taman. Tadi nunggu kamu. Mama takutnya kamu belum bangun, jadi Kakak dan Adikmu pergi ke taman berdua. Loh, kok sudah rapi? Mau ke mana, Alex?" Ningsih bertanya karena melihat Alex membawa satu kantong tas besar berisi oleh-oleh dari Australia.
"He he he he ... Alex mau main ke Kak Reno, Ma. Boleh, kan?" tanya Alex sambil tersenyum.
"Oh, mau ketemu Lisa? Ya udah, ga apa. Nanti siang makan bareng aja di luar. Nanti Mama bilang Kakakmu, ya. Mumpung weekend," kata Ningsih sambil tersenyum penuh arti. Dia tahu jika putranya menyukai Lisa. Meski usia terpaut jauh, mereka tetap dekat dan semakin dekat.
"Ide bagus, Ma. Alex berangkat dulu, ya. Dah, Mama!" Alex mengecup pipi ibunya, kemudian segera pergi.
Alex senang sekali karena hendak ke rumah Lisa. Sudah hampir setahun lamanya mereka tak bertemu. Waktu liburan sekolah, Lisa pernah minta izin Reno untuk berlibur ke Australia. Akhirnya Reno dan Lisa ke Sydney tempat Alex bekerja. Mereka bertiga berlibur bersama.
Alex mengenang semua itu dalam hati samb tersenyum riang. Dia meminta kunci mobil dan STNK di pos satpam. Memakai mobil CRV putih milik Ningsih yang sudah jarang dipakai. "Thanks, Pak!" Alex berterima kasih kepada satpam di sana.
Lelaki itu segera masuk ke mobil dan bergegas ke rumah Reno. Tentunya dengan membawa oleh-oleh yang sudah disiapkan untuk Lisa dan Reno serta untuk Syafira, Santi, dan Budi. Rencananya, Alex akan ke pesantren besok bersama Reno dan Lisa.
"You know i can't smile without you ... i can't smile without you ...." Sepanjang perjalanan Alex bernyanyi sambil membayangkan wajah Lisa yang hendak dia temui.
...****************...
Lisa bangun lebih awal dari biasanya. Dia mandi dengan sangat bersih dan wangi, lalu berdandan dan memakai pakaian terbaik yang bisa santai digunakan. Celana jeans 7/8 berwarna navy dan kaos biru muda menjadi pilihannya. Dia tak tahu jika Alex memakai warna yang sama. Feeling-nya sungguh tepat.
"Nah, poles tipis aja. Dah, bagus. Nggak kelihatan makeup, kan? Mmm... natural," ujar Lisa pada dirinya sendiri sambil menatap cermin.
Untung saja si hantu Oben tidak muncul tiba-tiba. Oben sering mengganggu Lisa apalagi saat make up. Lisa sering kesal dan uring-uringan jika diganggu Oben.
"I'm ready for this day! Yuhuuu!" seru Lisa sambil mengambil handphone nya. Dia pun keluar dari kamar.
"Pagi, Papa!" sapa Lisa pada Reno dengan riang.
"Pagi juga, putri Papa yang cantik. Semangat banget? Cie mau ada tamu spesial ...." Reno menggoda putrinya lagi.
"Ah, Papa mulai, deh! Papa ... Lisa lapar. Papa sudah makan belum?" tanya Lisa pada Reno.
"Papa belum makan. Ayo makan dulu. Bibi buat bubur ayam. Kamu mau?"
"Wah, mau banget, Pa! Yuk, sarapan."
Lisa dan Reno segera ke ruang makan dan menyantap masakan bibi. Bibi membuat bubur ayam yang sangat lezat. Setelah mereka selesai sarapan, tak disangka Alex datang. Bibi mempersilakan Alex masuk dan duduk di ruang tamu.
"Astaga ... Kak Alex datang pagi banget," kata Lisa yang bergegas mengelap bibirnya.
"Pagi apanya, Lisa? Ini sudah hampir jam sembilan," celetuk Reno yang berjalan di belakang putrinya. Mereka berjalan menemui Alex di ruang tamu.
"Kak Alex!" Lisa langsung berlari ke arah Alex.
"Lisa ... kamu tambah tinggi, ya. Tambah wangi juga." Alex mengecup pucuk kepala Lisa yang beraroma bubble gum karena tadi keramas dengan bersih. Lisa masih seperti anak kecil bagi Alex.
"Ih, Kak Alex mau ngejek, ya? By the way ... mana oleh-oleh buat Lisa dan Papa?" tanya Lisa sambil mendongakkan wajahnya menatap mata indah Alex.
Reno pun berdeham untuk memisahkan Lisa dari pelukan Alex yang sudah terhitung terlalu lama. "Egehm ...."
Alex pun melepaskan pelukannya. Merasa tak enak sudah memeluk Lisa terlalu lama, dia pun minta maaf. "Maaf, Kak Reno. Oh iya, ini oleh-olehnya." Alex langsung menyodorkan satu tas besar berisi oleh-oleh untuk Reno dan Lisa.
Reno pun tersenyum dan menatap Alex. "Thanks ya, Alex. Nah, begini dong sama calon mertua. Ha ha ha ...." ledek Reno pada Alex.
Wajah Lisa langsung merah merona karena malu. Dia tak menyangka ayahnya akan berkata seperti itu kepada Alex. Meski sebenarnya dalam khayalan Lisa ingin sekali menjadi istri Alex. Apakah mungkin terjadi?
"Eh, kok bilang gitu, Kak. Jadi nggak enak, kan?!" Alex menggaruk kepalanya dan tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang rapi.
Lisa tertunduk malu dan tam berkata apa pun. Pagi itu, mereka berbincang banyak hal di ruang tamu. Termasuk soal bisnis yang dijalankan Alex di Sydney serta rencana makan siang bersama oleh Ningsih. Mereka bercengkrama sambil menikmati secangkir kopi dan kudapan yang bibi sediakan.
...****************...
Wahyu sudah pulang dari taman dengan Cahaya. Dia pun menghampiri Ningsih yang duduk di teras. "Mama ... Alex sudah bangun, belum?"
"Oh, sudah. Dia ke rumah Reno. Nanti bagaimana kalau kita makan siang bersama? Sudah lama tidak makan siang bersama, bukan?" Ningsih memberi ide.
"Mau, Ma! Aya mau!" seru anak bungsu Ningsih sambil tertawa riang. Dia senang bertemu dengan Lisa. Karena selama ini saudaranya hanya lelaki, jadi bertemu dengan Lisa sebuah kebahagiaan bagi gadis kecil itu.
"Ide bagus, Ma. Kalau begitu, Wahyu dan Cahaya siap-siap dulu, ya, Ma. Sekarang sudah jam sebelas soalnya," kata Wahyu bergegas masuk ke rumah sambil menggandeng adiknya.
Ningsih sangat senang melihat keluarganya kembali akur. Hal yang pernah hilang dari bagian hatinya, perlahan mulai lengkap. Namun, apakah Bima akan kembali bersama mereka? Ningsih masih bertanya di dalam hatinya.
...****************...
Saat yang sama, Bima sedang mengikuti anggota dewan yang senang korupsi dan seenaknya menggunakan kekuasaannya. Bima membuat lelaki itu tersesat dengan ketamakan dan sebentar lagi tugas Bima selesai, yaitu menghancurkan lelaki itu dalam kehidupan rumah tangga maupun karirnya.
Meski Bima menyesatkan manusia, sesungguhnya dia masih merasakan apa yang Ningsih rasakan. Dia masih merindukan keluarganya melebihi apa pun. Tugas Bima sebagai iblis memang tak bisa dihindari. Dia harus mengabdi pada Tuan Abaddon--tuannya yang baru. Kalau tidak, dia takut keluarganya terancam lagi.
"Ningsih ... kamu sudah berjuang begitu keras untuk merawat dan membesarkan anak-anak kita. Terima kasih banyak. Kamu juga hidup sendiri, meski banyak lelaki yang ingin mempersuntingmu. Terima kasih ... Ningsih ... maafkan aku yang tak bisa bersamamu. Semoga kalian bahagia tanpa iblis sepertiku."
Bima selalu merasa tak pantas bersanding dengan Ningsih. Saat dahulu mereka bersama, hanya ada air mata duka dan juga banyak kesusahan menerpa. Bima merasa semua itu terjadi karena dirinya. Oleh karena itu, syarat Tuan Abaddon untuk tidak menemui keluarganya lagi, Bima lakukan sungguh-sungguh. Bima tak ingin membawa keluarganya dalam kesusahan lagi.
Hari ini, Bima akan membuat lelaki anggota dewan itu ketahuan selingkuh sekaligus ketahuan korupsi. Bencana sesungguhnya akan datang setelah semua kebusukannya ketahuan di mata publik. Bima tak sabar membuat pelajaran bagi orang seperti itu. Ada dua hal kemungkinan yang bisa terjadi ketika manusia diterpa masalah. Kemungkinan pertama yang akan membuat kaum iblis senang, yaitu murtad dan menyalahkan Tuhan. Itu hal yang yang Bima tunggu akan terjadi sebelum menyiksanya lebih lagi. Namun dalam kemungkinan kedua ketika manusia diberi pencobaan, yaitu bertaubat. Hal ini yang perlu iblis waspadai karena manusia bisa saja menyerah dan bertaubat. Kembali ke jalan yang Sang Pencipta tentukan.
Kali ini, apakah anggota dewan itu akan terpuruk seperti manusia lainnya yang Bima dan para iblis lainnya sesatkan? Atau justru lelaki itu akan berubah pikiran dan menjadi pribadi yang lebih baik, misalnya?
Bima belum tahu. Siang ini yang jelas lelaki itu akan berselingkuh di hotel bintang lima tempat janjian booking wanita bayaran kelas atas. Saat itu juga, korupsi yang selama ini dia lakukan akan ketahuan. Bima tersenyum menatap lelaki itu. Lelaki angkuh yang tidak takut dosa, tidak takut maut, dan tidak takut karma. Lelaki yang selalu mengatas namakan rakyat dan kepentingan bersama, padahal berdusta. Lelaki yang tak pantas disebut manusia karena mau melakukan hubungan badan ke sana ke sini dengan banyak wanita bayaran hanya demi kepuasan. Bima pun heran, banyak manusia yang diberi kesempatan bertaubat, tetapi tidak melakukannya. Justru tanpa mendengar bisikan iblis pun, manusia sudah sesat terlebih dahulu. Hal yang Iblis lakukan sebenarnya tidak begitu rumit saat ini.
"Hallo, bagaimana kabarmu?" Lelaki itu menelepon seseorang.
"Kenapa tak suka aku menelepon? Bukannya aku sudah menolongmu waktu salah satu swalayanmu terkena masalah hak milik? Ayolah bertemu denganku. Aku hendak ke Yogyakarta," imbuh lelaki itu lagi.
Bima merasakan ada hal yang aneh. Siapakah yang menjadi lawan bicara lelaki itu?
"Ah, alasan saja. Bagaimana kalau kita bertemu? Ayolah, Ningsih ...."
Deg!
Bima terkejut mendengar nama tak asing disebut oleh lelaki yang akan menjadi korbannya. Ningsih? Apakah itu Ningsihnya Bima? Bima langsung menatap lelaki itu yang berwajah mesum dan menyebalkan.