
🔥 BALAS DENDAM - Part 2 🔥
"Ketika api beradu dengan api, apakah yang akan tersisa selain abu dan arang? Seperti halnya amarah, jika beradu dengan amarah, tak akan ada yang tersisa kecuali pesakitan." ~Rens09~
***
Pengunjung memadari tempat makan siap saji itu. Santi masih menunggu pesanan jadi, sedangkan Reno asyik berbincang dengan Tante Ningsih. Nindy masih berada di kamar mandi.
Bima menatap Reno yang sejak tadi antusias mengajak bicara istrinya. "Dasar, nih, bocah suka apa suka? Ningsih, jangan terlalu menanggapinya. Aku tak suka." kata Bima yang tentunya hanya bisa didengar Ningsih.
Bukannya menjawab, Ningsih tertawa karena Bima cemburu. Hal itu membuat Bima kesal. Dia pun jail kepada Reno. Saat Reno hendak meminum soda, Bima menepuk punggung Reno hingga lelaki itu tersedak.
"Uhuk ... uhuk ... uhuk ...." Reno tersedak dan batuk-batuk.
"Reno, kamu nggak apa?" Ningsih langsung menyodorkan tisu pada keponakannya. Dia pun menatap tajam ke Bima, seakan mengisyaratkan untuk tidak jail lagi.
Bima hanya tertawa. Puas jail kepada lelaki yang sepertinya masih menyimpan rasa pada Ningsih. Santi pun datang, membawa nampan berisi satu set menu kentang goreng dan burger kesukaan Tante Ningsih dengan minuman soda tanpa es.
"Maaf, lama. Antrinya banyak, Tante. Eh, Nindy mana?" ucap Santi yang meletakan nampan ke meja di hadapan Tante Ningsih.
"Tadi bilang ke kamar mandi, Kak. Antri juga mungkin. He he he ...." celetuk Reno menjawab kakaknya.
Santi duduk di samping Reno. "Kok jadi panas gini, ya? Perasaan tadi sejuk," kata Santi sambil mengibaskan tangannya berulang kali.
Bima pun makin kesal, karena dia berada di dekat Reno. Mungkin Santi merasakan kehadirannya di sana. Ningsih justru tertawa.
"Iya, Kak. Tadi seger, sih. Tapi tiba-tiba jadi sumpek dan panas. Macam di Neraka aja!" imbuh Reno yang membuat Bima kembali menepuk lelaki itu. Kali ini di kepalanya. "Aduh! Apaan, sih?" seru Reno sambil menengok ke arah Bima, tetapi dia tak bisa melihat siapa pun di sana.
"Sudah, sudah. Kalian jangan ribut sendiri. Justru itu yang buat jadi makin panas. Mending santai sambil makan minum. Oh, iya, Tante mau tanya, kok, Nindy bisa di sini? Apa selama ini mereka sering komunikasi?" kata Ningsih menengahi agar Bima tidak kembali jail.
"Emm, begini ceritanya, Tante." Santi mulai menjelaskan sebelum Nindy datang. "Sudah lama Santi dan Reno kehilangan komunikasi dengan Nindy. Ternyata handphone Nindy hilang dicuri orang. Nah, entah kenapa, dia ke sini mencari kami, jadi ini kali pertama bertemu setelah kejadian lelayu itu. Sebelumnya Reno pernah ke Jakarta sendiri, tapi rumah Nindy sudah dijual dan nggak tahu pindah mana. Lalu, nanti Reno dan Nindy mau bicara sesuatu ke Tante."
Santi menatap Reno. Reno justru garuk-garuk kepala. Seakan niatnya menikah belum mantab.
"Kasihan sekali. Terus Abah dan Ibunya Nindy bagaimana?" Ningsih terenyuh karena selama dia tak sadarkan diri, ternyata keluarga Joko pun tersiksa. "Kalian tidak membantu mereka?" tanya Ningsih lagi.
Santi dan Reno terdiam sejenak. Lalu, mereka menjelaskan kembali. "Tante, aku sudah mencoba. Tapi sejak rumah mereka pindah dan handphone tak bisa dihubungi, aku menyerah. Maaf ...." lirih Reno.
"Maaf, Tante. Kami pun fokus pada kondisi Tante dan Wahyu yang di pesantren. Maka dari itu, kami minta bertemu Tante karena Reno ingin menikahi Nindy." imbuh Santi membuat mata Ningsih mulai mengembun.
"Kasihan sekali mereka. Padahal, dahulu segala sesuatu selalu dipenuhi oleh almarhum Joko. Kalau begitu, setelah Tante membuka kelontong nanti, Tante akan usahakan mengirim uang untuk Abah dan Ibu setiap bulannya." ucap Ningsih yang merasa bersalah.
"Maaf, Tante. Oleh sebab itu, Reno ingin bertemu karena mau meminta restu untuk menikahi Nindy. Jika Tante mau, bantu Reno melamar Nindy kepada Abah dan Ibu. Biarlah setelah ini, Reno yang menafkahi mereka, menggantikan almarhum Bang Joko. Tante tak usah memikirkan hal itu." kata Reno dengan tegas. Belum pernah sebelumnya, Reno seserius ini. Reno mengusap lengan Tante Ningsih perlahan. Membuat perasaan Ningsih kembali tenang.
Santi menatap penuh harap ke Reno dan Tante Ningsih. Semua hal yang terjadi, tidak bisa terelakkan. Tidak bisa mengulangi dan memperbaiki masa lalu, tetapi masih ada hari ini dan masa depan yang bisa diperbaiki.
Nindy terlihat mendekat ke meja mereka. Sengaja, Santi langsung mengalihkan pembicaraan. "Eh, nanti antar Tante Ningsih belanja di mana? Sekalian mau beli steamboat, ya." kata Santi dengan riang. Dia tak ingin Nindy tersinggung karena pembahasan itu.
Ningsih yang paham pun langsung menyahut, "Mau ke Indo*rosir atau ke mana? Terserah aja. Eh, Santi sekarang, kok, makan terus, sih?"
"Iya, tuh, Kak Santi sekarang makannya banyak!" inbuh Reno sambil tertawa.
Nindy duduk di samping Tante Ningsih sambil tersenyum. "Wah, pada ngobrolin apa ini? Nindy ketinggalan, ya?" tanya Nindy menyambung pembicaraan.
Hal itu membuat Nindy terharu dan matanya berbinar-binar. Dia pun menjawab, "Iya Reno, Nindy setuju dengan semua yang Kak Reno rencanakan. Abah dan ibu juga pasti setuju. Mereka senang dengan Kak Reno. Kata Abah dan Ibu waktu itu, Kak Reno pemuda yang sopan dan baik. Kalau begitu, kapan kita beritahu Abah dan Ibu atas rencana baik ini?"
"Kalau soal memberitahu itu, sekalian untuk lamaran saja. Bagaimana Kak Santi dan Tante Ningsih?" tanya Rino sambil menatap Santi dan juga tante Ningsih.
Tante Ningsih dan Santi mengangguk bersamaan, menandakan mereka setuju dengan perkataan Reno. Lalu, Tante Ningsih pun menambahkan sesuatu. "Kalau begitu, sudah ditentukan apa yang akan menjadi mahar dan kesepakatan antara Reno dan Nindy. Lebih baik, kita tentukan juga tanggal. Kapan untuk lamaran dan pergi ke Jakarta menemui Abah dan Ibu. Selain Tante Ningsih, kalian juga harus mencari Wali. Mungkin bisa meminta bantuan Mas Budi atau Pak Anwar jika tidak keberatan."
Tante Ningsih menatap Santi dan Reno bergantian. Reno pun menjawab.
"Nah, bagus itu Tante. Minta tolong sama Pak Anwar saja dan juga Mas Budi. Mereka 'kan calon mertua dan calon kakak iparku." celetuk Reno sambil tersenyum dan tertawa kecil membuat Santi malu.
"Apaan, sih, kamu, Reno! Nggak jelas banget! Mereka 'kan belum bilang apa-apa, tidak usah membuat gosip. Kalau mereka belum bicara yang sesungguhnya dan kami belum tahu apa yang mereka bicarakan, hal itu bisa menjadi fitnah, loh!" sahut Santi yang pipinya mulai memerah karena malu membahas soal perjodohan yang belum pasti itu.
"Loh, kalau misalnya benar. Itu sangat bagus, Santi. Mereka orang yang cocok untuk mendampingi hidupmu. Kamu wanita yang solehah, mendapat suami yang sholeh dan juga mertua yang soleh dan juga baik itu sangatlah luar biasa. Kamu beruntung Santi, tidak perlu malu jika hal itu sungguh-sungguh terjadi. Tante Ningsih sangat bersyukur dan juga almarhumah Ibumu pasti senang di sana" kata Ningsih begitu saja.
Nindy hanya ikut tersenyum. Menatap mereka yang berbicara seakan tak terjadi apa pun pada keluarga Nindy setelah Bang Joko meninggal.
Sesuatu yang ada dalam hati Nindy, membuat Evan dengan mudah memperalatnya. Dia menyimpan dendam. Dendam yang sepertinya ingin dia lupakan, tetapi begitu terasa nyata ketika mengingat Bang Joko sudah tiada.
Terlebih, saat ini, wanita yang membuat Bang Joko menikah dan meninggal diusia muda ada di samping Nindy. Ya, Nindy dendam pada Tante Ningsih yang meninggalkan keluarganya begitu saja setelah Bang Joko meninggal.
Meski Nindy rapuh dalam langkah, sesungguhnya dia hanya ingin yang terbaik untuk Abah dan Ibunya. Dia pun mencintai Reno, tetapi entah, apakah Abah dan Ibu mampu menerima mereka sebagai bagian keluarga lagi setelah semua yang terjadi.
"Eh, sayang, kok, melamun? Sudah dihabiskan makanannya?" ucap Reno membuyarkan pikiran Nindy.
"Emm, iya. Sudah. Ini Nindy minum dulu, ya. Terima kasih, Kak Reno, Kak Santi, dan Tante Ningsih. Nindy beruntung memiliki kalian saat ini," kata Nindy yang terpaksa selalu tersenyum.
"Maafkan bila hati dan bibir berkata hal berbeda. Maafkan kalau Nindy terpaksa seperti ini. Abah dan Ibu butuh kehidupan lebih layak," batin Nindy.
Tante Ningsih segera berberes dan hendak ikut pergi. Dia sudah selesai makan. Reno dan Santi pun sudah berdiri. Dia tak tahu Nindy berucap dalam hati seperti apa, karena kemampuannya menghilang seiring dia berada dalam ruang gelap waktu itu.
"Ma ... Mama hati-hati dengan Kakak yang itu. Dia menelepon sesuatu untuk segera ke sini." kata Alex mengingatkan.
"Sesuatu? Seseorang mungkin. Ada apa, Alex?" batin Ningsih menjawabnya.
"Sesuatu karena bukan manusia. Mama dan Papa kenal yang namanya Tuan Evan?" tanya Alex membuat Ningsih dan Bima langsung saling menatap dalam terkejut.
"Apakah Nindy membahas Evan yang dahulu itu?" tanya Ningsih pada suaminya.
"Kemungkinan. Tapi dari mana dia kenal?" Bima pun bingung.
Dalam perjalanan di mobil, Ningsih terlihat pucat, mengingat Evan. Jika yang dimaksud adalah Evan dan Lily, Ningsih rasa akan terjadi pertempuran lagi. Apakah Bima sanggup?
"Tante, Tante Ningsih kenapa? Kok, tiba-tiba pucat sekali? Tante mau istirahat dulu?" tanya Santi yang khawatir.
"Tante nggak apa, kok." lirih Ningsih menjawab.
"Ini, Nindy ada minyak angin. Tante pakai saja. Tante jangan sampai sakit, ya," kata Nindy sambil menyodorkan minyak angin kepada Tante Ningsih.
Di sisi lain .... Evan dan Lily hampir tiba di Yogyakarta. Mereka tersenyum menyeringai. Sebentar lagi waktunya balas dendam tiba.